THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 22 WAR!


__ADS_3

-The Gangstar King-


.


.


.


"War"


.


.


.


Segelas champage terogok dimeja putih, disampingnya berdiri sesosok lelaki muda dengan penampilan acak-acakan. Di jari telunjuk dan jari tengahnya terselip sebatang rokok yang telah tersisa setengah. Dirinya ingin berterima kasih pada angina malam yang ikut adil dalam menenangkan frustasi yang menggumul dikepala.


Bibirnya mendecih kesal kala bayangan si gadis kembali memenuhi isi kepala. Sia-sia saja dirinya berdiri dibalkon apartemen berjam-jam jika gadis itu terus menghantui. Terkutuklah Vania, karenamu aku tidak bisa tidur. Aneh, bukan? Padahal tubuh gadis itu tidak seksi seperti para model yang pernah mengajaknya kencan, dia juga tidak bermartabat atau elegan selayaknya wanita-wanita yang pernah ayahnya kenalkan. Dia malah cenderung urakan, sok kuat, aneh, dan menyebalkan. Tapi entah kenapa hanya Vania yang bisa membuat seorang Rangga Wijaya pratama berantakan.


Manik onyxnya memincing, dibawah tempatnya berada terdapat sesosok bertudung hitam. Tengah mematung dengan seringaian lebar, alarm tanda bahaya dalam diri Rangga serasa meraung-raung. Apalagi ditangannya terdapat senjata api, dipandangi sosok itu lamat-lamat. Sebisa mungkin Rangga harus mengetahui ciri-ciri sosok itu secara terperinci. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang. Selang beberapa menit sosok itu berbalik, refleks Rangga mengambil benda persegi disaku celana. Mengetik beberapa suku kata lalu menempelkan smartphone itu ke telinga.


“Raihan, sepertinya kita mendapat masalah.”


.

__ADS_1


.


.


“Kenapa kau pergi seenaknya, hah?!”


Senyum miring terukir dibibir tipis itu, dibukanya tudung hitam yang menyembunyikan surai gelapnya.


“Hanya menemui si bayi.” jeda sesaat, lelaki bertudung itu mengulas seringaian mengerikan "Oh, tapi sekarang dia sudah besar."


Seosok tinggi besar bersurai merah terang nampak menarik kerah si tudung hitam dengan mata memerah sebab menahan amarah. Sementara itu sosok lain dengan sniper ditangannya nampak tak peduli—ia sibuk membidik ribuan orang dihadapan mereka secara akurat,


One shoot one kill.


“Lihat itu! karenamu misi terakhir kita gagal!” serunya.


Atau...


Membiarkan badan mereka dilubangi peluru hanya untuk tugaskah? Uangkah? Jabatankah?


Tidak, itu tidak lagi penting. Manusia berseragam itu sudah jelas berusaha mencegah berlayarnya kapal berisi ribuan narkotika menuju tenggara. Sementara itu para penyeludup pun tidak tinggal diam, secuilpun mereka tidak akan membiarkan sumber uang mereka diambil begitu saja.


DOR!


Tembakan mengudara, disusul dengan asap merah pertanda keadaan makin runyam. Bunyi sirine terdengar tak jauh dari tempat pertempuran itu berada. Pelabuhan kini hampir menyamai medan perang.

__ADS_1


“Menyerahlah!”


Pria berseragam itu mendecih kala seruannya tidak ditanggapi oleh musuh. Dengan liar ia menembaki lawan dihadapannya, mendekati 3 sosok manusia bertudung dengan topeng yang membalut setengah wajah mereka.


“Itu dia! Tangkap 3 sosok bertudung disana! Mereka adalah pasukan elite The Gangstar King!”


Sementara itu ketiga sosok yang dimaksud hanya menampilkan wajah datar—minus dengan sosok tinggi besar pemarah itu.


“Polyphemus, majulah. Kau itu tank kami, kan."


“Jangan panggil aku dengan nama aneh itu, Gold!” balas si ‘polyphemus’, usai itu ia melompat turun dari tempat mereka berdiri, menyerang lurus seraya menembaki mereka dengan M134 Minigun yang memuntahkan puluhan peluru. Korban makin berjatuhan olehnya.


"Padahal nama itu cocok untuk kau yang tinggi besar." ujarnya seraya mengendikan bahu.


Sosok yang dipanggil Gold itu menyeringai, dengan santai ia mengisi 2 Glock ’20 handguns tanpa susah payah. Manik jelaganya mengerling dan mendapati ruang disampingnya telah kosong. Sudah dipastikan Black telah pergi mencari posisi baru. Mengingat kubu mereka telah didesak oleh jumlah musuh yang makin bertambah. Ia menyeringai, bersiap mengotori tangannya dengan darah.


“Dasar anjing pemerintah.”


Manik merahnya berkilat dalam gelap, dengan kecepatan luar biasa ia mendekati musuh selayaknya singa, ribuan rencana tersusun di otaknya selayaknya kecerdikan kambing, katakanlah dia selicik ular.


The grim reaper spreading terror again.


.


.

__ADS_1


.


Tbc


__ADS_2