THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 17 The appearance of the devil


__ADS_3

-**The Gangstar King-


.


.


.


"The appearance of the devil**."


.


.


.


Istirahat siang telah tiba, kini saatnya Vania untuk melayani cacing diperutnya dengan hidangan yang berisi olahan daging—yah seharusnya sih skenarionya seperti itu. Tapi sialnya kenyataan tidak berjalan semulus pah—maaf maksudku adalah semulus ekspentasi. Jam istirahat yang berharga ia korbankan demi menemui Green. Gadis itu sudah meluncur duluan dan bolos dijam istirahat pertama. Baiklah, itu cukup mencurigakan. Walaupun Green itu serampangan, gadis itu tidak akan mengabaikan urusan pendidikan. Baginya pendidikan adalah utama dan peraturan sekolah berada diurutan 25.


Hm.


Oh astaga, Vania juga nyaris melupakan kehadiran Ino yang sudah absen selama 2 hari. Katanya sih, baru katanya ya. Gadis manis itu harus menghadiri kontes biola di kota S. Vania menghela nafas, sepertinya hanya dirinya yang benar-benar tidak bertalenta dan tidak punya kerjaan.


Ga kok nak, talentamu itu nge-harem:)


“Hoi.”


Kelereng hitamnya bergerak ke ujung mata, ia mendapati 3 sosok senior—yang mungkin kelas 2 itu tengah menatapnya dengan raut wajah yang seakan berkata, ‘ewh, gadis kampung.’ Vania menelisik penampilan ketiganya; kemeja sekolah yang ketat, rok yang dinaikan lagi hingga 20cm diatas lutut— jika sedikit saja mereka membungkuk, sudah dipastikan celana dalam akan terpampang, pin perak tersemat didasi ketiganya. Oh hei kau kemanakan jas sekolah kita yang ada logo mahal itu?!


Ck, sebenarnya kemana sih penegak keadilan sekolah yang sering dijadikan tokoh dalam novel remaja.


Ketua Osis.


“Hm?” sahut Vania singkat.


“Jauhi 5P.”


Sontak alis Vania menukik, “5P? Apa itu nama brand minuman?” ujarnya asal


“5P itu singkatan 5 prince yang berisi Rangga, Graha, Leon, Virgo, dan Senior Raihan kyaa!”

__ADS_1


Lah si cabe malah fangirl’an sendiri dong.


“Ekhem, jadi jauhi mereka, dasar anak dungu!”


Vania mengangguk khimat. Tentu saja dengan senang hati dirinya akan menjauh sejauh mungkin dari kelima pemuda aneh itu. Jika bisa ia ingin mengobrol dengan kelima remaja itu dengan posisi dirinya berada di cafetaria sekolah dan mereka semua di Argentina.


Kalian fikir enak bersama mereka? BIG NO!


Sungguh demi apapun, kewarasan itu hanya formalitas belaka. Di balik aura charming itu mereka benar-benar mahluk abstrak. Hanya saja wajah mereka yang sialnya tampan itu membuat mereka terselamatkan dari tendangan maut Vania.


Ngomong-ngomong Vania ingin sekali tertawa mendengar sebutan itu. sungguh 5 prince itu jauh lebih menggelikan dibandingkan 5 boys, Pfftt.


PLAK!


“Kau menertawai kami ya?!”


Bekas tamparan berwarna merah nampak membekas dipipi putih Vania, rupa-rupanya cab—em maksudku gadis-gadis itu merasa murka sebab melihat Vania cekikikan diam-diam. Ketara sekali dia sedang menertawai anggota gengnya ini. Ia merasa sangat puas karna bisa ‘mengajari’ adik kelasnya yang kurang ajar ini. Memang angkatan sekarang harus banyak-banyak diajari sopan santun pada senior supaya mereka lebih tahu diri.


Namun mereka tidak menyadari akibat dari apa yang telah mereka lakukan.


“Hey senior….”


“Siapa yang mengizinkanmu menyentuh wajahku?”


—iblis.


.


.


.


SRETT


BRAK!


Kekacauan dimana-mana didampingi dengan liquid merah yang menggenang. Puluhan mayat bertumpuk hingga menggunung. Dipuncaknya terdapat sesosok manusia dengan baju bersimbah darah—yang tentunya darah milik orang-orang dibawahnya. Kegelapan yang kontras dengan kulitnya tak membuat dirinya meringkuk ketakutan selayaknya sesosok lelaki paruh baya disudut gang. Jemarinya bergerak membersihkan senjata yang berlumuran darah dengan sapu tangan berlambang chimera.


“Benar-benar tidak berguna.”

__ADS_1


Netra kelamnya bersinar dalam gelap. Begitu menakjubkan sekaligus mengerikan diwaktu bersamaan. Bibir tipis yang telah ternoda darah membentuk kurva lengkung mempesona.


“Ku dengar Dia harus hidup melarat karena kalian.”


Gelegar tawa yang keluar dari mulutnya cukup membuat pria paruh baya itu makin bergetar ketakutan. Ditemani dengan Desert Eagle Mark XIX yang menyempurnakan tittle-nya sebagai malaikat pencabut nyawa.


“Oh, kalian ingin bermain petak umpet ya?”


TAP


TAP


TAP


“Let’s play hide and seek, Bastard,”


DOR!


“Aish! adikku itu memang manis dan imut, itulah kenapa orang kaparat seperti kalian hobi sekali mengambilnya dariku.”


.


.


.


Tbc


[A/N]


O iya sedikit informasi, jika ada dialog yang bold/tebal itu artinya si tokoh sedang berbicara dengan aura yang menekan/intimidasi.


Sementara kalau text tebal tanpa tanda petik ("....") itu artinya ada efek spesial (sfx)


Q : Note author tebal tuh


A : Ehehe iya supaya note author dinotis readers:v


Ya sekian infonyaa, tetap ikut cerita author ya dan Makasih telah membaca

__ADS_1


__ADS_2