
-The Gangstar King-
.
.
.
"Skylight high school"
.
.
.
“Mampus aku terlambat! Bisa mati dihajar Green nih aku!”
Suara derap langkah terdengar memenuhi ruangan, gadis semampai dengan wajah jelita itu nampak tak terlalu memperdulikan penampilannnya, manik onyxnya menatap resah pada jam tangan yang melingkar anggun ditangan putihnya, dimana jam itu telah menunjukan angka 7.50 menit yang artinya sekitar 10 menit lagi ia akan terlambat, kau dengar itu? TERLAMBAT!
Dengan buru buru ia menggendong tas putih dan menggigit sepotong roti tawar tanpa selai kacang. Walaupun sejujurnya ia membenci rasa hambar yang kini menggulati lidahnya namun untuk sekarang ia jauh lebih benci jika nanti ia terlambat dan diejek oleh Green habis habisan.
Sejurus kemudian ia berlari secepat yang ia bisa, hingga pada jarak 20 meter itu ia dapat melihat gerbang megah dengan ukiran mewah berwarna emas, berukir 'Skylight' dengan desain sayap kebebasan di kedua sisinya. Konon katanya bahannya menggunakan emas murni. Dengan dahi bercucuran keringat ia mempercepat langkah kakinya.
“C'mon Van!sebentar lagi kamu akan sampai!” jeritnya dalam hati.
CPRAT!
Seketika Vania menghentikan langkahnya, dirinya membeku melihat sweter hijau kesayangannya itu telah basah oleh lumpur. Hey! Sweter ini merupakan pemberian Green pada ulang tahunnya yang ke 16 tahun lalu. Sweter mahal seharga 5 juta dolar itu telah kusut dan basah, padahal selama ini ia telah menjaga sweter itu dengan segenap jiwa dan raga, bahkan Vania rela tidak makan demi melaundry satu-satunya baju termahal yang ada dilemari pakaiannya.
“BRE*GSEK!” Maki Vania dengan wajah memerah menahan amarah, lalu ia mengambil satu batu besar dan melemparnya penuh rasa balas dendam ke mobil Lamborghini hitam yang merupakan pelaku utama kotornya sweter mahal favoritnya.
Namun sungguh disayangkan lemparannya meleset, dan itu membuat Vania nyaris saja menjerit dan mengamuk, ia berusaha mengendalikan dirinya, anak baik ga boleh ngamuk ngamuk dijalan kan?:)
“AGH AKU TERLAMBAT!”
Kembali ia memacu langkah, 10 detik lagi gerbang akan ditutup. Disana sang satpam nampak menyeringai lebar, menikmati penderitaan Vania.
10
9
8
7
6
5
4
KRIET
Oh tuhan apa suara decitan gerbang memang sehoror ini?
3
__ADS_1
2
1
BRAK!
“YAH PAK KOK DITUTUP?!”
“Yah salah kamu datangnya telat.”
Satpam tersebut hanya mengangguk angguk, tangannya sibuk mengunci gembok gerbang. Vania menarik narik gerbang kasar, mengabaikan dirinya yang basah kuyup oleh keringat atau nafasnya yang berhembus tidak beraturan, terengah-engah sebab berlari sejauh 2 km. Beruntung ia bisa menumpang pada orang lain sejauh 10 meter sebelum akhirnya manusia yang penuh rasa pertolongan itu menangis sebab ban sepedanya bocor.
“Duh ayolah pak! Kasih tolerasii pliss! Cuma telat 1 detik juga!” Vania mengantupkan kedua tangannya, memohon dengan wajah memelas. Namun nampaknya satpam SHS itu memiliki keimanan sekuat baja.
“Tidak ada tolerasi, sekali terlambat ya terlambat.”
“Itu kan tidak sepenuhnya salah saya, bapak ga liat sweter kesayangan saya jadi kotor karna orang ga punya mata tadi?!”
Nyaris saja Vania akan membuka sweternya dan menggelarnya didepan satpam, kalau saja ia tidak melihat motor hitam yang berhenti tanpa bersalah didepan gerbang-terlambat seperti dirinya.
“Buka gerbangnya.”
Hanya dengan satu kalimat pak satpam tadi langsung membuka gerbang dan mempersilahkan pria mistrerius yang sok bossy itu masuk. Tentu saja langsung dihadang oleh rentangan tangan Vania.
“Tunggu tunggu tunggu! Kenapa orang ini boleh masuk sementara saya tidak!” oceh Vania seraya menunjuk nunjuk lelaki misterius tersebut dengan jemari lentiknya yang. Lelaki itu mendegus, nampak jengah.
“Apa saya harus membawa mobil Lamborghini Veneno atau motor MV Agusta supaya bapak bisa mengizinkan saya masuk?!”
Satpam tersebut hanya berdiri kaku. Pria paruh baya itu meringis sebab tertohok akan ucapan Vania.
Sementara itu si gadis kembali berujar, “Oh ayolah! Aku tau ini sekolah super elit tapi agh apa kalian tidak ada toleransi bagiku yang hanya remah remah uang kalian itu!”
Namun bukan itu yang menarik perhatian Vania. Manik legam bagai langit malam itu menyedot selutuh atensinya. Membuat Vania terhipnotis selama beberapa detik. Warna mata itu begitu kontras dengan kulit putihnya.
“Jika kau ingin masuk, masuk saja nona, tak perlu menghalangi jalanku,” ungkapnya datar nan dingin.
Vania mengerjap, tersadar akan kelakuan konyolnya beberapa detik yang lalu. Bagaimana mungkin ia bisa terpe—tidak tidak siapa pula yang terpesona dengan manik hitam itu. Menyebalkan. Begitu fikirnya seraya memasuki sekolah dengan kaki dihentak hentakan- pertanda ia masih kesal.
“Sudah cakep, jenius dan gitu kaya raya pake banget lagi! Kenapa hidup ga adil sih?!”
Ya benar, lelaki misterius tadi merupakan salah satu anak jenius yang memenangkan olimpiade sains tingkat internasional, salah satu ceo termuda dan terkaya, salah satu most wanted di negara ini, salah satu orang yang masuk jajaran lelaki tertampan.dan dia juga mendapat banyak gelar yang beawalan 'salah satu'. Benar kata Vania, dunia tidak adil.
-Our kings.-
Dalam lautan manusia dengan seragam khas yang sama; jas hitam dengan rok kotak kotak merah dan dasi pita dengan warna senada, sementara untuk laki laki adalah jas hitam dengan celana kotak kotak merah. Pada jas bagian dada mereka terdapat logo khas sekolah berwarna emas dengan ukiran SHS ditengahnya. Tak lupa ada pin khusus yang menunjukan dimana mereka akan 'berada’, tersemat rapih pada dasi yang mereka kenakan.
“Shit, dimana gadis ceroboh itu sih.”
Gadis dengan kulit seputih salju itu nampak bergumam, sekilas kerutan kesal nampak diwajah ayunya. Ia menggigit bibir pinknya sembari menatap sekeliling, hingga kemudian manik safirnya menangkap sesosok gadis dengan penampilan berantakan nampak sedang berjalan mengendap-endap dibarisan paling belakang.
Refleks ia berteriak, “VAN!—” Sedetik kemudian Green menutup bibirnya, menyesali pekikannya yang lolos begitu saja. “—ups….” Gumamnya seraya kembali mengigit bibirnya, menyesal telah membuat sahabatnya menjadi pusat perhatian semua orang dilapangan luas ini. Ia meringis kala mendapati sahabat sehidup-sematinya tengah membeku dengan wajah pucat pasi—
—Ah tidak tidak, dia tidak pucat karna takut pada kepala sekolah yang kini menatapnya tajam sebab mengganggu upacara penerimaan siswa baru yang beberapa detik lalu terlaksana begitu khidmat. Melainkan ia takut uangnya tidak akan cukup untuk melaundry sweternya.
“Green sialan.”
Terkutuklah sahabat pirangnya itu.
__ADS_1
“Wahh lihat itu. Gadis yang sangat rajin ya, saking rajinnya jam segini baru berangkat. Dasar Koala.” senyum sinis nampak terlukis dibibir seorang gadis dengan surai merah, mata tajammnya menatap Vania dari atas sampai bawah, seperti yang biasanya dilakukan semua orang untuk menilai penampilan.
Catty namanya.
Gemuruh tawa membaha dalam lapangan luas itu, banyak diantaranya yang mengejek, memaki atau mengumpat Vania. Sementara itu Green yang merupakan alasan ketahuannya Vania hanya terdiam, matanya menatap tajam sosok Catty beserta antek-anteknya yang sedang menertawakan sahabat karibnya.
“Yang boleh ngejek Vania cuma aku!” batin Green tanpa melepaskan tatapan tajamnya.
“Diam!”
Hening seketika saat kepala sekolah yang dikenal penuh wibawa dan anggun membuka mulutnya.
”Kamu kemari.”
Vania menghela nafas kasar, dengan santai ia maju kedepan podium. Namun seketika itu bibirnya kelu saat melihat banyak pasang mata yang menatapnya dengan tatapan yang berbeda beda.
Hey, bisakah sekarang vania menenggelamkan dirinya ke Sungai Nil? Ah, mungkin dia akan melakukannya usai memukuli sahabat pirangnya itu.
“Siapa namamu?”
“Vania.”
Manik violet itu menelisik penampilan berantakan dari gadis yang nampak cuek sembari mengunyah permen karet. Apa-apaan sifat tidak tahu sopan santun itu?
“Ini merupakan perilaku yang sangat tidak patut kalian contoh. Jika sampai ada yang melakuian ini, maka saya pastikan kalian akan mendapatkan brosur sekolah lain sebelum kemudian angkat kaki dari sekolah saya.” kepala sekolah itu bersuara lantang. “Karna ini hari pertama, aku memaafkanmu. Kembalilah ketempat.” Ujarnya dengan intonasi yang sedikit turun.
Setelah itu Vaniapun kembali dibarisan belakang, tetap memandang datar kepala sekolah yang kembali melanjutkan ceramahnya. walaupun ia tau, dari samping kanan kiri banyak komentar negatif tentangnya. Sejujurnya ia tidak peduli, ocehan dari anak-anak manja itu tidak ada keuntungannya sama sekali dan tidak berbobot. Vania tegaskan, ia sangat tidak perduli.
Someone POV
”Kamu kemari!”
Suara lantang wanita tua itu menarik perhatianku, refleks mataku yang sedari tadi menatap layar handpone langsung terpaku pada gadis dengan baju berantakan dan sweter kotor yang tersampir dibahunya. Sejenak aku menatap wajahnya yang datar dan nampak tak peduli.
Badgirl huh?
“Wah, gadis itu benar benar tipeku ya~” aku mendengus, mendengar perkataan yang terlontar dari lelaki disampingku yang sialnya merupakan salah satu teman masa kecilku, yang selalu begitu kerap kali melihat gadis cantik.
“Hm.” timpal lelaki cebol dengan gumaman seadanya, namun yang mengejutkan adalah ia nampak tidak lagi tertarik dengan gadget canggih yang berada ditangan kanannya. Wow, itu momen langka. Mengingat si cebol dan gedgetnya itu bagaikan pasangan sehidup-semati.
“Siapa namamu?”
“Vania.”
Seluruh siswa nampak berbisik bisik begitu suara gadis yang diketahui bernama vania itu mengalun dingin nan datar. Dan bahkan sedari awal bibirnya tidak menyunggingkan senyum. Baru kali ini menemukan gadis yang sedikit menyaingi kedataranku.
“Wah, bahkan suaranya pun secantik wajahnya. Sial, harus aku dapatkan!” lagi-lagi dia mengoceh, membuat kepalaku sakit saja.
“Ah, tapi apa dia tidak memiliki marga?”
Kalimat yang terlontar dari si cebol membuatku tersentak, sekali lagi aku menatap wajah tanpa ekspresi gadis itu, hingga tanpa kusadari senyum iblis terlukis dibibirku,
“Menarik.”
.
.
__ADS_1
.
Tbc~