
-The Gangstar King-
.
.
.
"Stray."
.
.
.
.
“Hey Green! Ini letak kelasnya dimana sih?!”
Derap langkah nampak mengiringi perjalanan dua gadis remaja yang nampak sedikit gelisah.
“Ya aku juga gak tau! Aku juga sudah lihat peta!”
“Terus kenapa kita nyasar?!”
“Mana ku tahu! Arahnya bener kesini kok!”
“Agh siapa sih yang bikin sekolah sebesar ini?nyusahin!” Vania mengacak rambutnya gemas, sekolah ini terasa seperti labirin. Sudah 5 kali mereka menjumpai papan pengumuman, rasanya mereka hanya berputar-putar saja. Sementara itu Green mengerucutkan bibirnya sedikit menggerutu, sembari beberapa kali mencoba untuk kembali membaca peta.
“Dasar orang kaya sialan! Hambur-hamburin uang buat gedung sebesar ini! Saking besarnya sampai harus pake peta loh! Dan sialnya walau udah pake peta, kita tetep aja nyasar!”
Terkutuklah para arsitek beserta para orang kaya yang membuat gedung sebesar ini.
“Jangan mengumpat sekolah ini didepan pemiliknya, bodoh.”
__ADS_1
Vania mendengus, mengabaikan ucapan sahabat karibnya itu. Tiba tiba Green tertawa “Berasa lagi cari harta karun” ucapan Green membuat Vania mengalihkan pandangannya.
“Pas kecil kan kita sering main permainan ‘cari harta karunnya’. Kamu yang buat peta, nanti aku yang umpetin kotak harta karunnya. Sayangnya sekarang petanya udah hilang. Alhasil, barang barang kita yang ada didalem kotak ga bisa di ambil lagi deh” imbuhnya sembari terus menerus mencoba memperkirakan dimana mereka berada.
“itu karna kamu **** sih. Padahal isinya cincin berlian mamamu yang harganya sampai 10 juta dollar.”
Segulung kertas tebal menjitak manis dahi putih Vania, sang pelaku penjitakan hanya bersunggut sunggut kesal. mengabaikan Vania yang nampak mengaduh kesakitan.
“Grukk… krukk” suara aneh memecah konsentrasi Green
“Duh, sumpah sih aku perlu ke toilet dulu nih. Daahh!”
“eh—van! HEYYY!!”
Terlambat. Vania sudah lari dengan kecepatan max, ia nampak berkeringat akibat menahan panggilan alam yang tiba tiba menyeruak saat dewi fortuna sedang tidak berpihak pada mereka.
“Suara perutnya kaya monster, emang dasar anak setan.” maki Green dengan kekesalan tiada tara.
“Permisi, Green bukan?”
“Uahh leganyaaaa.” Vania menepuk perutnya, sejurus kemudian ia berjalan kembali ketempat dimana terakhir kali ia bersama Green.
“Sorry, tadi aku ga—Green?!” sedetik kemudian Vania melongo melihat tempat seharusnya Green berada telah kosong melompong, menyisakan tanda tanya besar dikepala vania.
“Masa iya Green dibawa kalong?”
.
.
.
“Kemana sih Raihan? Kenapa coba tadi ga ikut ke markas.” Virgo nampak memanyunkan bibir tipisnya, jemarinya mengutak atik gadget canggihnya.
“Curang, mobil mewah dia tidak jadi diambil sama mata duitan Graha deh huh!”
__ADS_1
Sejurus kemudian wajahnya memerah,
“Damn! robotku pasti dirusak oleh si jangkung itu, cih, aku jadi tidak bisa tau dimana keberadaanya… padahal aku membuatnya sampai seukuran bayi nyamuk.” Gadget canggih itu hampir akan remuk oleh genggaman tangan virgo.
“inilah kenapa aku benci orang orang yang otaknya sedikit melebihiku!”
Sejenak Virgo mendongakan kepala, rehat sejenak dari gadget yang membuat matanya pegal. Ia mendengus dan menoleh ke kanan kiri.
“Hei, ada yang bisa ku bantu?”
Suara baritone khas mengagetkan Virgo, matanya jelalatan mencari sumber suara familiar itu.
“Suara Raihan.” Gumam Virgo sembari bersembunyi dibalik pilar, matanya dengan tajam mengamati eksitensi lelaki jangkung yang nampak sedang mengobrol dengan seorang gadis yang akhir akhir cukup terkenal.
“Nope,thanks”
Virgo terkikik mendengar jawaban dingin gadis podium itu, Vania.
Mata coklat terang itu nampak melirik pin berbentuk persegi panjang yang tersemat di dasi Vania. “Mm aku tau kelasmu, biar kuantar,” ucapnya dengan senyum lembut.
Gadis cantik itu mendesah pelan, dengan loyo ia mengangguk dan mengekor dibelakang lelaki jangkung didepannya.
“Berdiri disampingku nona, kamu bukan pembantuku.”
“Hm.”
Virgo mengerling, sejurus kemudian dia meninggalkan tempatnya bersembunyi setelah memikirkan banyak rencana.
“Wah, Raihan udah ngambil langkah duluan nih.” Ungkapnya dengan senyum licik.
.
.
.
__ADS_1
Tbc