THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 15 First day living together


__ADS_3

-The Gangstar King-


.


.


.


"First day living together"


.


.


.


Esoknya Vania harus menderita pegal-pegal, jam 5 pagi ia mengerang kala bahunya dipijat oleh Raihan. Sementara itu ke-empat lelaki lainnya hanya berlalu, kembali melanjutkan tidur dikamar masing-masing. Sialan sekali mereka menutup mata usai membuat badannya kram luar biasa.


“Apa sudah baikan?” tanya Raihan seraya memijat lembut.


Vania mengangguk, ia mengucapkan kata ‘terimakasih’ sebelum akhirnya naik ke lantai 3 menuju kamarnya—yang belum ia lihat sama sekali. Dalam perjalanan ia membayangkan betapa enaknya memiliki kakak lelaki seperti Raihan.


Ting.


Pintu lift terbuka, tanpa basa-basi lagi Vania melangkahkan kaki jenjangnya menuju kamar putih disebelah kiri—ingat disebelah kiri. Akan sangat menyebalkan kalau kejadian kemarin terulang.


Cklek.


Nuasa peach menyambut pandangan kala pintu putih itu terbuka. Ranjang putih yang empuk yang menunggu untuk ditiduri nampak sangat manis disana. Gorden berwarna putih bersih tersingkir, menampilkan taman yang terawat. Dari jendela besar itu Vania bisa melihat mawar putih yang mendominasi taman, pohon sakura yang begitu kokoh—oh Vania menunggu musim semi, pasti kelopak bunga sakura yang berterbangan akan sangat indah.


Vania menghempaskan badannya pada ranjang, menatap langit-langit ruangan seraya memikirkan banyak hal. Saku roknya bergetar, ia mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menelfon.


“Dimana kau!” hardik seseorang diseberang telfon.


Vania mendengus, mendengar suara itu membuat dirinya muak sekaligus jijik. “Dirumah teman,” jawabnya asal.


“Apa kau bilang?! Kau harus bekerja dibar tapi kau malah bersenang-senang dirumah teman?! Kau tahu tidak kalau kemarin rentenir mendatangi rumah?!  Dasar anak tidak tahu diuntung!”


Rahang Vania mengeras, ia merubah posisi badannya yang mulanya terlentang menjadi duduk.


“Aku akan pergi ke luar kota selama 3 hari. Sebelum pulang kau harus sudah berada dirumah. Anak *******!”

__ADS_1


Genggaman tangan pada ponsel mengerat. Pandangan matanya lurus kedepan, mengabaikan ocehan-ocehan orang diseberang sana. Manik jelaganya berkilat kala mendengar kata,


“Dasar anak sial!”


Panggilan ditutup begitu saja, ponsel hitam itu meluncur sebelum akhirnya jatuh menyentuh tanah. Vania menggigit bibir bawahnya seraya mencengkram lengan kirinya yang bergetar hebat. Peluh membasahi pelipis, kelereng hitamnya tertutupi oleh kelopak mata dengan bulu mata lentik. Sementara itu bibirnya nampak menghembuskan nafas berulang kali—Vania terus berusaha menenangkan diri.


“Haa….”


Beberapa menit kemudian telapak tanganya berhenti bergetar, usahanya berhasil. Kini ia merasa tenang sekaligus lega. Bibir tipisnya mengeluarkan umpatan pelan sebelum akhirnya Vania memilih untuk bangkit dan menuju ke kamar mandi. Mengguyur kepalanya dengan air dingin mungkin akan membuatnya lebih baik.


.


.


.


“Selamat pagi.”


Kali ini Vania memilih kelantai bawah menggunakan tangga, alasannya adalah menghindari Rangga—entah kenapa ia merasa aneh jika didekat lelaki itu. Jantungnya terasa berdegub 3 kali lebih cepat dan itu membuat Vania risih.


“Wah, Vania-chan. Ohayou!”


Gentleman sekali.


Vania tersenyum kecil dan berterima kasih pada seniornya itu, kemudian atensinya berpindah pada Virgo. “Ohayou?” tanyanya dengan nada heran.


“Ohayou itu sapaan selamat pagi dalam bahasa Jepang, bodoh,” ledek Rangga.


Ck, ingin sekali rasanya Vania melemparkan garpu ditangan hingga menancap pada pelipis lelaki itu. Kemudian darahnya akan ia taruh di toples selai strawberry dan rencananya mayatnya akan Vania lempar ke iguana peliharaan Green.


“Mm... Rangga benar.” Perkataan Virgo kembali menimbulkan pertanyaan baru dikepala cantik Vania.


“Kau ini orang Jepang?”


Virgo tersendak, buru-buru ia menenggak minumannya. Sementara itu Graha malah tegelak mendengar pertanyaan yang dilayangkan gadis favoritnya itu.


“Apa Vania-chan tidak pernah lihat berita ditelevisi?”


Vania menggeleng.


“Kalau artikel?”

__ADS_1


Vania menggeleng lagi.


“Majalah?”


Gelengan yang ketiga membuat Virgo menggebrak meja makan seraya menatap Vania dengan manik hazel yang menampakan sorot mata kesal luar biasa.


“Aish! Aku itu lahir di Jepang. Ayahku adalah orang Jepang dan ibuku adalah orang Amerika.” Virgo terdiam sejenak “Ku fikir seluruh orang dinegri ini tahu, karna hal ini sering ditayangkan dimana-mana.”


“Singkatnya Virgo ini half-Jepang, half-Amerika.”


Tawa Graha kembali pecah kala mendengar kalimat yang dilontarkan Rangga, lelaki itu tergelak seraya memegangi perutnya. Ia merasa kasihan sekaligus senang melihat Virgo tidak bisa melakukan sesuatu padahal dia begitu kesal setengah mati. Beberapa menit kemudian Raihan mengulurkan gelas berisi air putih pada Graha yang ternyata tersedak ludahnya sendiri akibat terlalu banyak tertawa.


Sementara itu Virgo mengabaikan ejekan si pemuda coklat. Ia berkutat pada gedget canggih yang entah sejak kapan telah berada ditangannya. Sorot matanya begitu fokus dan jemarinya menari diatas keyboard hp—begitu cepat sekaligus membuat Vania pusing mengikuti gerakan jarinya.


“Virgo jangan terus berkutat pada layar ponsel dan Vania makanlah sarapanmu, ” omel Raihan


Tanpa diperintah dua kali Vania melahap roti yang tersaji dihadapannya. Ia tidak menyadari tatapan gemas yang terpancar dari ke-5 pemuda disana kala melihat Vania susah payah mengunyah dengan mulut penuh.


Hening meliputi meja makan panjang sebelum akhirnya deheman singkat terdengar. Sesosok pria paruh baya dengan pakaian khusus kepala pelayan itu tengah berdiri tak jauh dari tempat mereka berada. Senyum ramah ia tampilakan seraya berkata,


“Tuan muda Virgo. Laptop dan 2 Ai-phone yang anda pesan telah sampai. Ingin ditaruh dimana?”


Senyum Virgo mengembang. “Oh, taruh saja dikamar Vania-chan. Dan suruh pelayan untuk membereskan semua barang-barang dikamar Vania-chan ya.”


selang beberapa menit si cebol itu menaikan satu alisnya dengan kening yang berkerut samar. “Mm bukankah aku hanya membeli laptop untuk Vania.”


“Kalau begitu siapa yang membeli sisanya?”


Seluruh atensi dimeja makan langsung beralih pada kedua lelaki yang sedari tadi nampak tidak perduli dengan keadaan yang ada.


“Aku miris melihat ponselnya yang ketinggalan jaman.”


R u fucking kidding me, bro?


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2