THE GANGSTAR KING

THE GANGSTAR KING
Part 18 Worry


__ADS_3

**Hallo, mohon maaf sekali author baru up. Mengingat kemarin author abis tepar terserang flu plus demam. Dan terima kasih untuk reader yang sudah menunggu.


Enjoy!


-The Gangstar King-


.


.


.


"I'm just... Worry...."


.


.


.


“Ugh sial kepalaku….”


Vania menyadari ada perban didahinya kala dirinya sedang menyentuh kepalanya yang terasa berdenyut menyakitkan. Manik jelaganya mengedarkan pandangan. Ruangan luas dengan dinding putih bersih, sofa dipojok ruangan, infus yang menjulang disamping badan, dan bau khas obat-obatan yang menusuk indra penciuman.


Ceklek.


“Aku datan—eh…?” jeda sesaat. “Minna! Vania-chan sudah bangun!”


Rasa-rasanya telinga Vania berdenging mendengar suara toa itu. Ugh, sakit dikepalanya makin menjadi-jadi kala mendengar suara pintu yang dibuka paksa disertai dengan derap langkah kaki orang-orang.


“Vania! Akhirnya kau bangun! Sudah 2 hari kau tidak sadar.”


Dekapan hangat melingkupi tubuhnya.


“Green?”


“Dasar bodoh! Harusnya kalau kau dibully seperti itu lapor pada kami!”


Ah, tiba-tiba Vania merasa bersalah. Benar apa kata Green, seharusnya ia menghubungi salah satu dari mereka atau minimal dia akan melaporkannya saat pembullyan usai. Dengan begitu Green atau 5 pr—ralat, kelima pemuda itu bisa melakukan sesuatu pada mereka.


Tepukan lembut mendarat disurai hitamnya. “Bagaimana kondis—“


Brak!

__ADS_1


“Vania!”


Derap langkah terburu-buru menggema, sesosok lelaki dengan surai cokelat dikuncir tengah mendatangi ranjang Vania. Ditangannya terdapat suatu benda yang mirip gedget namun sangat tipis—yang Vania tebak merupakan hasil merampas si cebol genius.


“Bagian mana yang sakit?!” ujarnya seraya menyentuh seluruh tubuh si gadis. “Apa paha cantikmu tak apa?!”


Sontak wajah Vania merah padam, melihat si lelaki mesum tengah menyententuh—err lebih tepatnya mengelus pahanya. Oke cukup, ini pelecehan seksual.


“Graha, merah atau biru?”


Si pemilik nama bergidik ngeri, cepat-cepat ia melepaskan tangannya dari tempat yang bukan seharusnya. Jika Raihan sudah mengatakan kata sakral itu sudah pasti Graha tidak akan berakhir baik-baik saja. Sebenarnya Graha menyukai warna merah, tapi itu bukan opsi bagus untuknya. Warna merah artinya dirinya akan dipukuli oleh Raihan hingga bersimbah darah. Namun memilih warna biru juga bukan opsi bagus, karna itu artinya lehernya akan dicekik hingga wajahnya membiru.


Ah, sial. Membayangkan Raihan melakukan keduanya seraya tersenyum membuat bulu kuduk berdiri.


“Vania, kau ini bisa bela diri?”


Alis Vania menukik, ia menatap Rangga seraya mengingat-ingat beberapa hal. Hmm, bela diri? Seingat Vania, dirinya pernah mengikuti klub karate saat di junior high school. Tapi kemudian ia dikeluarkan dari sana karna dirinya mematahkan lengan seniornya.


“Memangnya kenapa?”


Hening sesaat sebelum akhirnya Rangga kembali membuka mulutnya. “Tidak, lupakan,” ujarnya.


Aneh.


Ah, lebih aneh dirinya yang bisa membaca raut dingin Rangga.


“Ngomong-ngomong kapan aku boleh pulang?”


“Besok.”


Menurut penuturan Green, sudah 2 hari dia terbaring dirumah sakit dengan kondisi yang cukup menyedihkan. Jika dihitung dari terakhir kali telfon si tit—Celaka! Vania baru ingat jika besok ‘ibu’ nya akan pulang!


“Bisakah aku pulang sekarang?” jeda sesaat, si gadis nampak berfikir keras dengan alis yang menukik tajam. “kalau kembali besok bisa-bisa cambuk yang menyambutku,” gumamnya sangat pelan.


“Tidak."


Tegas sekali. Vania tidak menyangka bahwa ia akan menerima penolakan dari Rangga, jelas sekali kalau pemuda dingin itu enggan membiarkan Vania beranjak satu langkahpun dari ranjang rumah sakit. Luka sayatan dan memar yang membiru membuat si gadis nampak terlihat tidak baik-baik saja.


“Apa-apaan kau melarangku seperti itu.”


Tidak terima, Vania benar-benar tidak terima dengan penolakan yang ada. Hal itu terlihat lewat manik onyxnya yang menajam ketika bersiborok dengan manik senada. Tau apa dia soal posisi Vania, dirinya akan dikurung dan dibuat kelaparan selama berhari-hari jika tidak kembali sebelum si titan tua itu pulang dari perjalanan bisnis kotornya itu.


“Berhenti bertingkah.”

__ADS_1


“Oi Rangga, jangan terlalu keras padanya.”


“Duduk dan diamlah. Jangan membuat kami repot lebih dari ini, dasar gadis sial.” 


Hatinya terasa diremas oleh tangan tak kasat mata. Begitu menyakitkan sekaligus menyesakan kala mendengar kalimat yang terlontar dari Rangga. Ah, rasa itu merambat hingga ke mata, membuat matanya panas dan ingin mengeluarkan air mata. Vania tidak suka ini, sungguh rasa yang tidak menyenangkan.


“Rangga kau kelew—“


“Kau… kau fikir siapa yang membawaku kemari,” jeda sesaat, Vania menarik nafas walau lehernya terasa tercekik. “Dan kau fikir kau siapa berani mengatakan itu padaku, hah!”


Hening meliputi ruangan VVIP itu. tidak ada yang berani melontarkan sebaris kalimat untuk menenangkan baik melerai. Sementara itu manik legam Rangga nampak menajam, pemuda itu mengeraskan rahang serta mengepalkan tangan untuk menahan amarah yang meletup-letup. Didalam benaknya ia tidak pernah berfikir bahwa akan ada seseorang yang lancang seperti ini, terutama dia adalah seorang gadis.


“Kalau begitu pergilah sesukamu.”


Brak!


Tubuh jangkung Rangga telah hilang dilahap pintu. Lain halnya dengan Vania yang memilih untuk menyelimuti badannya dari ujung kaki hingga kepala seraya menenggelamkan wajahnya pada bantal. Ia sudah memutuskan untuk tidak memperdulikan pemuda dingin itu walau batinnya menjerit ingin memukul Rangga. Agh, menyebalkan.


Usapan lembut terasa dibalik selimut yang membungkus kepalanya. Lalu disusul dengan suara baritone lembut yang menenangkan.


“Kami pergi dulu, jangan terlalu memaksakan diri ya.”


Tangis Vania pecah begitu pintu putih itu tertutup, ia tidak tahu kenapa rasanya begitu menyesakan seperti ini. Padahal Rangga bukan siapa-siapa, bukan pula orang yang harus Vania dengarkan perkataannya, tapi…ini benar-benar menyesakan.


Sementara itu diluar kamar nampak 6 remaja yang kompak menghela nafas bersamaan. Mereka merasa jengkel pada Rangga, tapi mereka sangat memahami perihal makna sebenarnya dari perkataan Rangga. Pemuda dingin itu sebenarnya khawatir Vania akan terluka lagi. Hal itu bisa dibuktikan saat Rangga langsung berlari mendekati Vania dan menggendongnya kala melihat si gadis tengah berdiri berdiri tegap dengan luka sayat dan memar sana sini.


Dan kau tau kata terakhir yang ia lontarkan di detik Vania kehilangan kesadaran?


.


.


.


“Jangan mati.”


.


.


.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2