
-The Gangstar King.-
.
.
.
"William dan kepingan masa lalu."
.
.
.
Semburat jingga berpadu pada hamparan langit biru berkelabu, menemani kembalinya mentari, yang kemudian akan hilang digantikan dengan kegelapan seraya menanti munculnya sang dewi malam, bulan.
Semilir angin menerpa, menerbangkan surai hitam sesosok gadis yang tengah berjalan gontai. Fikirannya tak jauh dari kejadian beberapa saat yang lalu. Saat dirinya serasa ditenggelamkan oleh tatapan dingin dan lontaran kata menyakitkan.
Gadis sial katanya?
Vania tidak pernah meminta dirinya untuk ada didunia. Tidak pula mengharapkan adanya belas kasih ataupun pengertian orang lain. Ya, Vania tahu bahwa dirinya merupakan gadis sial. Karenanya banyak sekali kejadian buruk menimpa orang-orang terkasih. Mungkin takdir begitu membencinya hingga seisi dunia mengarahkan tombak itu pada dirinya.
Kaki jenjangnya ia biarkan berjalan semaunya. Melewati taman hingga kemudian berakhir pada daerah yang dikenal rawan pemerkosaan, sejenak ia merasa takut dan gelisah. Namun mengingat daerah ini merupakan rute tercepat untuk mencapai rumahnya. Ia sedikit terburu karena hari telah sore dan sebentar lagi 'ibunya' akan pulang.
Ditemani dengan cicitan tikus dan benda persegi pemberian Leon, Vania membuka pagar besi dan melangkahkan kakinya untuk memasuki daerah itu. Papan peringatan ia abaikan, Vania harus cepat-cepat pulang ke rumah sebelum 'ibu' nyalah yang sampai duluan.
Netra legamnya menelisik daerah kumuh itu. Bangunan-bangunan yang ditinggalkan, putung rokok bersebaran dimana-mana, beberapa toko kecil diseberang jalan. Ini benar-benar tempat yang buruk-walau masih banyak orang tinggal disini.
"Tinggal belok kanan, kan?"
Vania nyaris memekik kaget kala pinggangnya dipeluk oleh sebuah lengan. Ditolehkan kepalanya dan mendapati sesosok preman dengan luka wajah tengah menyeringai jahat. Sementara itu dibelakang preman itu ada segerombol orang-orang dengan seringaian sama jahatnya.
"Mainlah dengan kami, nona."
__ADS_1
Pupil mata Vania membesar kala tangan preman itu mengusap perutnya. Refleks dirinya menyikut si preman dan menjauhkan diri. Mengundang kekesalan dari si preman.
"Dasar ******!"
Orang-orang dibelakang preman itu merengsek maju, menahan kedua lengan Vania seraya menekan badannya untuk berbaring. Dengan agresif mereka meraba-raba tubuh Vania dan berniat membuka pakaian yang tengah ia kenakan.
Vania memekik ketika celana jeansnya ditarik kebawah. Bersamaan dengan itu terdengar suara erangan kesakitan dan tubuh preman dihadapannya ambruk. Menampilkan sesosok lelaki jangkung dengan manik biru langit, tak jauh darinya terdapat koper pink. Ah, Vania melupakan koper itu ketika memasuki daerah ini, pasti lelaki itu tidak sengaja melihatnya. Ah, tunggu... wajah laki-laki itu sedikit familiar. Apa Vania pernah melihatnya, ya?
"William?!" Akhirnya Vania ingat.
"Oh! Kau adalah gadis yang membantuku saat tersesat bukan? Wah, senang bisa bertemu denganmu lagi," William menarik senyum manis. "Ah... bisa tutup matamu nona? Ini tidak akan lama."
Vania mengangguk dan menutup matanya. Kemudian terdengar erangan kesakitan yang diiringi suara benda terbanting dan... sesuatu yang retak? Entahlah, Vania tidak terlalu mengerti, namun kini ia merasa tangan-tangan menjijikan itu telah berhenti menggerayangi tubuhnya.
Lalu semuanya menjadi hening dan tiba-tiba Vania merasa ada sesuatu yang tersampir dibahunya, disusul dengan celana jeansnya serasa ditarik lagi keatas.
"Sekarang boleh buka mata."
Hal pertama yang Vania lihat adalah senyum manis William dan yang kedua adalah pemandangan mengerikan dibelakang pemuda itu.
Ugh, jadi suara retakan tadi adalah suara tulang yang patah?
"Maaf membuatmu kaget, lebih baik saya antar non-errr...."
"Vania."
"Ahh, biar saya antar Nona Vania ke rumah."
Vania menangguk singkat dengan sorot mata yang terfokus pada pemandangan dihadapannya. Ia merasa takjub dengan laki-laki Inggris itu. Bagaimana mungkin ia bisa membuat mereka terkapar dalam waktu kurang dari 5 menit? Vania tidak tahu cara William dalam memukuli pria itu hmm.
William terkekeh pelan seraya mengulurkan tangan putihnya pada si gadis, "Mari," ucapnya lembut, mengundang semburat merah dipipi Vania.
Ugh, dirinya benar-benar lemah dengan pria lembut.
Dengan sedikit tenaga yang tersisa, Vania menerima uluran tangan pemuda itu. Ia berusaha bangkit walau kakinya terasa lemas. Ia masih syok dengan kejadian beberapa menit yang lalu. Nyaris saja dirinya diperkosa andai William tidak datang menolong.
__ADS_1
Dengan lembut pemuda itu membersihkan tanah yang ada dibaju Vania lalu membersihkan debu yang menempel diwajah si gadis dengan sapu tangan putih bergambar mahluk yang cukup aneh. Setengahnya manusia, setengahnya kaki kuda.
"Bukankah itu Centaur?"
"Ah, iya. Ini Centaur."
Vania hanya terdiam melihat bagaimana William melihat sapu tangan itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Kemudian tanpa disadari semuanya serasa mengalir selayaknya air. Berjalan dibawah fajar seraya melempar beberapa obrolan ringan yang diselingi candaan sudah cukup membuat Vania merasa akrab dengan William. Dalam fikirnya begitu banyak pertanyaan tentang mengapa dirinya bisa merasa nyaman dan aman saat bersama William? Entahlah... mungkin Vania hanya perlu menikmatinya, bukan?
"Wah, sebentar lagi musim dingin-"
"-apa... nona menyukai salju?"
Tiba-tiba Vania merasakan sesuatu tak kasat mata menghantam kepalanya, seketika otaknya dibanjiri dengan kepingan-kepingan memori tak beraturan. Saling menetapkan diri dan berikatan satu sama lain selayaknya potongan puzzle yang menemukan letak tempatnya.
"Vania! Lihat! Salju pertama sudah turun!"
Sosok anak kecil menatap girang serbuan salju diluar jendela, diraihnya tangan mungil gadis bersurai hitam disampingnya.
"Ayo kita keluar dan bermain salju!"
Blizzztt
Latar tempat yang semulanya sebuah kamar luas terganti oleh hamparan salju. Tepat 5 meter dari hadapan Vania ada dua sosok anak berlainan gender tengah duduk. Salah satunya memegang pelipisnya yang bercucuran liquid merah kental.
"Hiks... maaf, karenaku kamu jadi berdarah...hiks... apa itu sakit?"
"Ah... tidak kok! Ini bukan masalah besar! Aku tidak apa-apa. Ayo pulang!"
Cengiran lebar si anak menjadi penutup memori singkat itu sebelum akhirnya pandangan Vania sepenuhnya gelap.
.
.
.
__ADS_1
Tbc