
-The Gangstar King-
.
.
.
"Bibi...."
William’s POV
“—apa… nona menyukai salju?”
Tiba-tiba gadis itu terhenti, sejenak ia menatap mataku dalam diam.
Ah… iris matanya legam sekali.
Usai membuatku tenggelam dalam onyxnya, dia malah menundukan wajah cantiknya. ia nampak tenggelam dalam lamunannya. Ku tatap lamat-lamat wajah mungil itu, bibirnya yang tipis, bola matanya yang menatap lurus aspal jalan, hidungnya yang mancung. Tanpa sadar ku elus sapu tangan yang beberapa menit lalu menyentuh wajah cantik Vania. Demi tuhan, gadis ini benar-benar membuat dirinya penasaran dan kecanduan.
“Nona?”
Dengan hati-hati kusentuh bahunya, dan hei, tiba tiba dia ambruk! Refleks ku tangkap badannya sebelum wajah cantiknya menyentuh tanah. Apa pertanyaanku tadi menggali memorinya, ya?
Ah… biarlah, lebih baik ku antar ia kerumahnya.
.
.
__ADS_1
.
BYUR!
“Bangun!”
Seember air dingin telak membasahi tubuh Vania, kaus putih ia kenakan basah kuyup—menampilkan lekuk badan si gadis. Dihadapannya menjulang sesosok wanita gembrot dengan pakaian minim, diwajahnya terpoles riasan tebal dengan lipstick merah yang mencolok. Matanya menatap nyalang Vania yang dilanda kebingungan.
“Apa yang kau dapat dari lelaki muda tampan tadi hah?! Apa kau sudah melayaninya dengan baik?” tanyanya geram.
“Lelaki muda?”
Tangan gempal wanita itu melayang, sepersekian detik kemudian mengenai pipi putih si gadis. Menimbulkan bekas tangan kemerahan disana.
“Lelaki muda tadi itu salah satu pelangganmu, bukan?!”
Kepala Vania serasa berdengung sesaat, perlahan ia menyentuh bekas tamparan wanita dihadapannya. Bibirnya membentuk kurva datar dengan manik jelaga yang menatap kosong ubin yang ia pijak.
Tiba-tiba Vania merasa kepalanya tertarik kebelakang, helaian surai hitam berjatuhan ke lantai. Sementara itu si empu pemiliki surai indah itu mendesis kala kulit kepalanya terasa terbakar.
“Jangan bilang kau tidak mendapat uang sepeserpun darinya?!”
Ditepisnya cengkraman wanita itu dengan sekali hentakan. Sontak hal itu membuat iris hazelnya melebar. Ia tidak menyangka bahwa anak sialan yang telah ia urus sedari lahir akan menjadi kurang ajar seperti ini, benar-benar anak tidak tahu diuntung!
“Dia bukan pelangganku, bi. Lagipula aku tidak pernah melayani laki-laki manapun. Aku tidak seperti bibi!”
PLAK!
“Panggil aku ibu, anak sial! Beraninya kau membangkang pada ibumu ini?!”
__ADS_1
Dihempaskan badan Vania hingga kepalanya membentur tembok, bau amis darah menusuk indra penciuman Vania. Bisa ia lihat darah yang mengucur didahinya lewat cermin disudut kamar.
'Hah... Sepertinya besok aku harus menyembunyikan ini dengan poni.'
"Nanti malam kau harus menghasilkan uang! Atau kau akan ku jual pada pelangganku!"
Bantingan pintu menjadi akhir pembicaraan mereka. Selang beberapa detik kemudian terdengar getaran pada smartphone pemberian Leon. Vania memilih mengabaikan panggilan itu. Kaki jenjangnya melangkah mendekati lemari, membuka pintu lemari yang telah termakan rayap.
"Sepertinya aku harus menjualnya."
Disentuhnya sebuah kotak berwarna putih bersih. Dalam diam Vania ingin sekali mengutuk perempuan tua itu.
Sudah 17 tahun bersama namun 'bibi' nya tidak pernah sekalipun memberikan kehangatan yang ia dambakan. Setiap hari Vania menyaksikan pria yang keluar masuk dari kamar wanita itu.
Pernah sekali Vania bertanya tentang hal itu namun yang ia dapatkan hanyalah tamparan telak di pipi.
.
.
.
.
Tbc
[A/N]
Hallo, maaf sudah membuat kalian menunggu. Author memutuskan untuk double update sebagai permintaan maaf
__ADS_1
Terima kasih sudah membaca