
-The Gangstar King-
.
.
.
"That's Onyx"
.
.
.
“Green!”
“Ah ini dia nona Vania kita~” kerah baju Green nampak kusut oleh genggaman begitu kuat. Bibirnya menyunggingkan senyum manis dan matanya menyipit. Berbanding balik dengan lawan bicara yang nampak penuh amara. Perempatan siku imajiner menghias pelipisnya, matanya tajam, wajahnya memerah. Menggemaskan dan mengerikan diwaktu bersamaan.
Jari tengah diberikan kepada gadis dengan rambut blonde sepinggang itu.
“Sialan kau!” ujarnya sembari melotot ganas.
Dengan lembut Green menepis tangan yang persis berada didepannya. Perempatan siku imajiner mulai nampak dipelipisnya namun bibirnya masih mengulas senyum—err… senyum terpaksa lebih tepatnya. “Sst jangan buat aku nampak tidak berkharisma kawanku,” ujarnya sembari memelankan suara, “bantu aku jaga image!” kalimat terakhirnya ia bisikan ditelinga gadis yang ada dihadapannya.
“P-permisi.”
Refleks keduanya menghentikan pertengkaran mereka. Saling memandang sebelum akhirnya Green melempar senyum tipis pada gadis mungil didepannya seraya berkata, “Ada apa?”
“A-ano… apa aku boleh duduk bersama kalian?”
Nampaklah seorang gadis dengan surai biru pucat yang mengukir senyum gugup dibibir mungilnya. Namun sedetik kemudian dia menunduk, menyembunyikan wajah mungil nan imut miliknya “M-maksudku, maaf bukan maksudku untuk sok dekat, aku hanya ingin duduk.” Gadis itu setengah mati menahan kegugupanya. Lihatlah, pipi putihnya merona. Imut sekali.
“Aku tidak dapat tempat duduk….” lanjutnya pelan dengan wajah yang makin memerah.
__ADS_1
Vania dan Green dibuat gemas olehnya. Gadis ini begitu mungil dan chubby. Benar-benar pipi yang minta dicubit. Tapi tahan diri dulu… tahan….
“Ah tentu saja!” Green tersenyum riang usai tersadar dari keinginan untuk mencubit pipi chubby yang sedang merona. Sementara gadis mungil itu nampak menangguk dan bergumam ‘terima kasih’ sebelum akhirnya menarik kursi kosong didepan Green.
“Ngomong ngomong namaku Green!” pekik Green tiba-tiba, mengundang dengusan dari sahabat disampingnya. Yang kemudian dijawab oleh gadis mungil itu.
“Aku Ino. Um… Ino Chaotsya,” ujarnya seraya mengangguk dan tersenyum kecil.
“Chaotsya ...Chaotsya….” Green bergumam pelan, telapak tangannya menyangga dagu. Pose kala ia sedang berfikir keras. “Rasanya pernah dengar” imbuhnya pelan.
Manik emerald jernih milik Ino menangkap sosok disamping Green yang tengah menatap pemandangan diluar jendela, entah apa yang menarik atensi gadis yang menurut Ino begitu menawan itu. Ino mengangumi wajah tegas gadis itu, benar-benar menggambarkan gadis yang tangguh.
“O iya! kalau gadis nakal disampingku ini merupakan sahabat karibku. Namanya—hei bodoh, perkenalkan dirimu.“
Green mengerling, mendapati sosok disampingnya tengah menyangga dagu sembari melamun. Tanpa ragu ia menyikut perut ramping itu dan membuat dirinya dihadiahi pelototan tajam yang khas.
“Hah… aku Vania An—“
“Wah wah lihat ini.” nada rendah nan meremehkan menusuk telinga Green dan Vania, tak lupa dengan senyum sinis yang membuatnya terlihat seperti sosok peran antagonis. “Rupa rupanya pergaulan calon CEO muda kita mulai rendah ya~” sindirnya tanpa ragu.
Green dan Vania nampak menaikan alis mereka, saling memandang sebab merasa heran mengapa ada sekawanan **** betina yang nyasar ditempat mereka. Lain halnya dengan Ino yang nampak bergerak gelisah dengan pelipis yang bercucuran keringat. Selang beberapa menit keduanya memahami situasi, Green tersenyum remeh sembari mengelap tangannya. Sementara itu Vania kembali pada kegiatannya yang sebelumnya—menatap keluar jendela.
Si piggy ngajak baku hantam rupanya.
“Wah wahh lihat ini—” Green terkekeh, ia menatap gadis beserta kawanannya yang menjulang tinggi disampingnya.
“—sejak kapan peliharaanku ini jadi tidak tahu diri ya~”
Gadis itu menggertakan bibir. Sejurus kemudian telapak tangannya melayang, menampar Green yang masih nampak mempertahankan senyum miring dengan tatapan remeh.
“Apa jabatan baru yang diberikan kepada ayahmu itu membuat otak kecilmu itu makin tumpul?” Sekali lagi Green berujar, membuat amarah Sasha membuncah
PLAK!
Berkat suara nyaring dari tamparan yang dilayangkan, Kini seluruh tatapan langsung tertuju pada meja mereka. Mayoritas dari seisi kantin hanya diam mengamati, mereka takut terlibat sebab hal itu hanya akan menimbulkan kerugian. Lagipula orang bodoh mana yang mau mencari masalah dengan seorang Green Al? Anak tunggal pemilik perusahaan Al-Corp yang merupakan salah satu perusahaan terbesar dinegara tercinta?
__ADS_1
Detik itu juga seluruh bodyguard yang sedari berjaga dibelakang Green langsung merengsek maju, berniat memberi pelajaran sebab berani menampar nona muda mereka. Namun gerakan mereka ditahan oleh rentangan satu tangan Green. Pipinya memerah, namun ia nampak Sangat santai.
“Bersujud.”
Suasana hening seketika,semua orang nyaris tak ada yang berani membuka suara.
“Kubilang SUJUD!”
BRUGH
DEG
DEG
DEG
Keheningan melanda penjuru ruangan putih yang luas itu. Tak ada yang berani berbicara, hal itu membuat keheningan yang ada serasa mencekik leher dan menghentikan pernapasan. Banyak diantaranya yang menganga kala menyaksikan fenomena didepan mata mereka. Sejenak melupakan makan siang dimeja demi melihat Sashana Latte—anak bungsu dari direktur perusahaan besar tengah bersujud. Iya, gadis angkuh itu bersujud dengan wajah bercucuran keringat. Sekali lagi, ruangan itu terlalu hening untuk disebut sebagai kantin. Sampai-sampai mereka bisa mendengar detak jantung mereka atau mungkin detak jantung Sasha yang tengah menggila. Sebelum akhirnya Green membuka mulutnya usai terdiam dengan senyum penuh kemenangan beberapa menit yang lalu.
“Oh astaga… kok disuruh sujud nurut sih? Kalau gini mana nona manja yang 3 menit lalu menampar pipiku?”
Green menyunggingkan senyum sinis, ia mendekati gadis itu seraya berbisik,
“Kau membangunkan singa yang tertidur.”
Disana, ya disana. Onyx itu berkilat dalam gelap, memancarkan kebengisan, meraung raung- membuat segala mahluk meringkuk dalam ajal akan level yang ditunjukan. Kobarannya mampu membuat dada bergemuruh dan jantung berdetak 3 kali lebih cepat. Kompak seisi ruangan menunduk, merasa terbebani dengan tatapan bengis serta aura intimidasi yang tersuguhkan. Pancaran mata itu membuat semua orang yakin bahwa—
—Tak ada setitikpun rasa belas kasihan dalam mata legam yang penuh akan kengerian itu.
Mereka hanya bisa menelan ludah sebab merasa takut sekaligus gelisah dengan aura yang ada, sementara itu Sasha nampak gemetaran hebat dengan rok yang basah. Green tergelak dan Ino tertunduk sebab tak kuasa memandang manik onyx gadis didepannya. Seisi ruangan dibuat merinding sekaligus takjub dengan tatapan mengerikan gadis tangguh itu.
“Biar ku ajarkan kalian tentang sesuatu yang jauh lebih mengerikan dari kekuasaan dan kedudukan yang aku punya!”
.
.
__ADS_1
.
Tbc~