
-The Gangstar King-
.
.
.
"with 5 boys...."
.
.
.
"Apa yang kau lakukan disini."
Suara baritone yang terkesan dingin membuat mata Vania terbuka lebar. Sontak ia mendudukan dirinya dan jelalatan mencari asal suara. Selang beberapa detik netra legamnya langsung menangkap sesosok lelaki yang hanya mengenakan handuk kecil setengah paha untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Tatapannya merambat keatas, terpampanglah abs--yang Vania yakin merupakan hasil dari gym rutin. Air menetes dari surai hitamnya yang basah, kemudian turun menyelusuri badannya yang atletis.
Sialan, pagi-pagi sudah bikin tegang.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, dasar gadis mesum."
Lamunannya buyar, Vania menatap sengit lelaki itu. Menunjukan aura permusuhan yang ketara.
"Mesum?! Yang benar saja! Ini salahmu karna keluar hanya memakai handuk kecil begitu!" sanggahnya dengan wajah memerah sempurna. Hal itu mengundang smirk evil dibibir lelaki itu. dengan santai lelaki itu mendekati Vania yang tengah panik seraya memundurkan badannya. Seringaiannya melebar kala mendapati Vania tidak bisa kemanapun karena terpojok oleh tembok.
Vania merasa déjà vu.
"Menikmati apa yang kau lihat heh."
Sontak wajah Vania memerah hingga telinga, ia memalingkan wajahnya seraya berusaha keras mengelak. Ribuan fantasi liar kini bersiuran dikepala. Vania meruntuki otaknya yang telah tercemari oleh Graha. Apa semua laki-laki se-agresif ini?fikirnya seraya menahan debaran yang kian menggelora.
"Apa yang kau lakukan dikamarku?"
Seakan tersambar petir di siang bolong, Vania sontak berdiri. Menatap horror lelaki didepannya yang mengernyitkan dahi tanda bingung--ohh jangan lupakan tatapan aneh nan menusuk yang dilayangkan untuk Vania.
__ADS_1
"Hah?! Kamarmu?! Ini kamarku bodoh!" jelas Vania mutlak
Kernyitan didahi lelaki itu bertambah. "Apa kau tidak hadir saat pembagian otak? Lihat tulisan didepan pintu, bodoh."
Tanpa basa-basi Vania memacu langkah kaki demi mendekati pintu yang dimaksud. Pupil matanya melebar kala mendapati dua kata terjejer manis didepan pintu.
'Rangga's room'
Detik ini juga, Vania ingin menenggelamkan dirinya.
"Hei!" Tubuh mungilnya berbalik, menghadap kearah lelaki yang masih setia berdiri dibibir pintu kamar mandi seraya mengeringkan surai hitamnya dengan handuk kecil.
"Maaf!"
Usai mengatakan kalimat singkat itu, Vania langsung ngacir keluar dari kamar. Kaki jenjangnya memacu langkah hingga mendekati lift. Lantas menekan tombol dan masuk kesana. Vania menghela nafas panjang seraya menunggu lift ini berjalan turun. Ia meruntuki Green yang lebih memilih pergi ke Kanada untuk melakukan meeting daripada menemaninya kesini-kesarang 'serigala'.
Ting!
Pintu lift terbuka dan memperlihatkan ruangan super duper luas yang tadi telah ia lewati bersama Graha. Ini merupakan ruangan yang akan kau temui ketika memasuki mansion.
Vania terkesiap, sontak saja ia berbalik dan mendapati sesosok gadis dengan pakaian hitam putih khas maid ala Prancis tengah tersenyum.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah.
Vania menganggukan kepala. "Ya, dimana Graha."tanyanya seraya menatap sekeliling ruangan. Mencari keberadaan sang Casanova.
"Tuan muda ada di ruang tengah."
Sejurus kemudia Vania kembali memacu langkah ke tempat yang dimaksud. Ia tidak menyadari tatapan aneh yang dilayangkan untuknya.
.
.
.
"Pasti pelacurnya tuan muda lagi."
__ADS_1
.
.
.
"Hoi Graha!"
Graha terkesiap, cangkir kopi yang niatnya akan menempel pada bibirnya ia urungkan. Bibirnya mengembang kala melihat Vania yang tanpa malu duduk disampingnya. Ia menelisik penampilan gadis cantik itu. Nafas yang memburu, wajah memerah, keringat yang turun menyusuri leher jenjangnya, dan dua kancing atas yang terbuka-- Graha yakin kancing itu terbuka sebab berlari, dan gadis itu tidak menyadarinya sama sekali.
Graha meruntuki penampilan Vania yang sukses membuatnya tegang.
"Kenapa ada Rangga?!" Vania mengoceh. "Bukankah hanya kita berdua yang akan tinggal disini?!"
Senyum Graha melebar, apakah Vania hanya ingin tinggal 'berdua' bersamanya?
"Ah, awalnya sih seperti itu. Tapi tiba-tiba saja Rangga sudah ada dimension ini 1 jam sebelum kau datang." Jelas Graha seraya mendengus sebal. Sejujurnya ia merasa kesal dengan Rangga yang mengganggu keberlangsungan acara PDKT. Susah-susah Graha menyiapkan mansion agar ia bisa mantap-man-- er ralat... maksudnya adalah bisa bersenang-senang dengan gadis favoritnya.
"Dia juga bilang akan tinggal disini sementara."
Rahang Vania seakan jatuh dari tempatnya, pupil matanya melebar mendengar ucapan Graha. Astaga yang benar saja, bersama 1 anggota 5 boys saja sudah membuatnya gila! Apalagi kalau sampai 2 anggota. Seandainya seluruh anggota 5 boys menetap disini, sudah dipastikan Vania lebih memilih pindah planet. Merepotkan!
"Graha!"
Kedua remaja itu menoleh, mulut Vania menganga kala mendapati 3 sosok lelaki tengah mendekati tempatnya berada.
"Raihan bilang kamu dan Vania-chan akan tinggal bersama! Kalau begitu kami juga akan tinggal disini!"
Ingatkan Vania untuk berbenah dan meluncur ke mars.
.
.
.
Tbc~
__ADS_1