The Ghost Writer

The Ghost Writer
Dukaku


__ADS_3

Pelangi yang sepertinya mulai bosan, akhirnya mendatangiku dan Bapak dengan wajah cemberut. Kusambut gadis manis berwajah lucu itu lalu kupangku.


"Udah capek mainnya?" tanya Bapak seraya mencolek dagu Pelangi.


Siapa sangka, gadis kecilku seperti paham yang diucapkan Bapak karena mengangguk. Pelangi mengucek matanya, dan itu pertanda jika ia lelah minta ditidurkan.


"Bawa ke kamar dulu aja. Nanti sambung lagi ceritanya. Bapak juga mau istirahat," ucap Bapak dan kuangguki dengan senyuman.


Kami beranjak dari sofa dan pergi ke kamar masing-masing. Padahal hari masih terbilang pagi, tapi Pelangi tampak lelah. Aku malah khawatir jika dia sakit karena kurasakan badannya sedikit panas.


"Pelangi sakit?" tanyaku saat membaringkan tubuh puteri kecilku di atas kasur.


Pelangi menggeleng dan hanya memintaku untuk memeluknya. Kutidurkan dia seraya mengelus punggungnya. Namun kali ini, aku cukup yakin jika anakku sakit.


Hal yang paling kutakutkan setelah berumah tangga adalah anggota keluarga jatuh sakit. Lebih baik aku yang sakit karena tahu harus bagaimana agar cepat sembuh ketimbang anak kecil yang masih sulit untuk mengutarakan perasaan dan keinginannya.


Aku yang selalu menyediakan berbagai jenis obat menempelkan kompres demam portabel ke dahi Pelangi.


Namun, entah apa yang membuatnya lucu karena Pelangi tertawa cekikikan saat benda itu menempel di dahinya.


"Eh, jangan dilepas. Ini obat biar Pelangi cepat sembuh," ucapku karena tangan jahil Pelangi seperti ingin mencongkelnya.


Alhasil, Pelangi tak tidur dan malah tertawa. Mungkin dikira aku mengajaknya bermain. Namun, aku yang sudah hafal kebiasannya, mencoba cara lain untuk menidurkan.


"Mama ceritain kisah ya," ucapku seraya menopang kepala dengan posisi tubuh miring ke arah Pelangi.


"Dongeng?" tanya Pelangi menatapku lekat dengan mata bulat seperti kelereng.


Aku tersenyum. "Ya dongeng," jawabku sembari mengelus perutnya yang sedikit buncit mungkin terlalu banyak minum susu formula. "Pada suatu ketika, ada seorang gadis cantik kebingungan ketika bukunya hilang," ucapku mulai bercerita. Kulirik Pelangi dan kulihat dia seperti fokus mendengarkan. "Gadis cantik itu bersedih karena buku tersebut sangat berarti untuknya. Buku itu menyimpan semua idenya."


Pelangi menatapku dengan mata berkedip. Aku jadi tak yakin jika puteriku memahami yang kukatakan.


Namun, karena tujuanku agar si manis menggemaskan ini tertidur, aku lanjutkan saja. Sebenarnya, dongeng itu adalah kisah nyata saat bukuku hilang.


Saat itu, aku mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali kuletakkan. Aku sampai membongkar dan membuat kamarku berantakan karena tak ditemukan. Buku itu selalu kubawa dan rasanya konyol jika sampai tak ada.


"Masa dicuri orang sih?" gerutuku mulai kesal.


Aku mencoba menenangkan diri dengan meneguk segelas air putih dari galon dispenser yang tersedia di kamar kos tempat tinggalku kala itu.


Kuatur napas dan memejamkan mata sejenak seraya memegang gelas kosong dalam genggaman. Kuajak ingatanku kembali beberapa jam lalu sebelum tiba di kos.


"Tadi bukunya aku masukin tas ransel ini," gumanku pelan seraya memegang tas yang tadi kugunakan. "Lalu pulang kerja aku ke halte nunggu bus. Seharusnya, buku itu masih ada di dalam karena gak aku keluarin. Terus, bus datang dan aku duduk di bangku belakang sopir. Lalu dapat ide karena lihat cowok cewek berantem di trotoar. Kemudian, aku buka tas dan nulis di buku itu. Setelahnya ...," ucapku pelan seraya mengingat-ingat kejadian sore tadi. "Ya ampun! Bukunya ketinggalan di bus! Aduh, gimana sih teledor banget!" gerutuku kesal.

__ADS_1


Tentu saja, kecerobohanku membuat hati seperti diterjang badai topan di lautan. Aku tak yakin bisa menemukan buku itu lagi meski menaiki bus yang sama.


Namun, aku tak putus asa sebelum dicoba. Kusegera beranjak dari kasur di mana jam masih menunjukkan pukul enam sore. Pikirku, belum terlalu gelap mengingat Jakarta adalah kota yang sibuk.


Kukeluar dari kamar kos dan tak lupa mengunci pintu. Kali ini, aku bergegas menuju ke halte dekat tempatku tinggal di mana biasanya kumenunggu bus untuk berangkat ke kantor.


Ya, begitulah kelanjutan hidupku. Usai lulus SMA dengan nilai memuaskan, aku sempat kerja magang di salah satu supermarket menjadi SPG.


Saat itu, jalan untuk menjadi seorang penulis naskah masih tergolong sulit tak seperti sekarang.


Jadi, aku realistis dengan mencari pekerjaan yang sesuai dengan jenjang kelulusanku dan sedang dibutuhkan segera.


Mesin ketik yang kusimpan hingga saat ini adalah kenang-kenangan dari Mas Tulis ketika aku lulus SMA.


Tentu saja aku terharu ketika mendapatkannya. Oleh karena itu, kurawat dan selalu kugunakan setiap waktu agar tak lupa dari mana asal mula aku belajar ilmu penulisan.


Namun, Ayah ibuku menyayangkan hal tersebut karena katanya, aku anak yang berbakat.


Mereka berharap agar aku bisa mendapatkan pekerjaan mapan dan uang pensiunan saat tua nanti sehingga tak perlu lelah bekerja seperti mereka.


Akan tetapi, untuk melanjutkan ke bangku kuliah memerlukan biaya yang banyak. Orang tuaku, bahkan aku sendiri tak memilikinya.


Aku saja masih tak tahu jurusan apa yang tepat untuk dipilih mengingat banyak hal yang ingin kulakukan sebagai tambahan pengalaman.


Hanya saja, penyesalan terbesar ketika aku sedang berusaha untuk mewujudkannya, orang tuaku sudah dipanggil oleh Yang Maha Kuasa sebelum melihat anak gadisnya berhasil.


Orang tuaku meninggal akibat kecelakaan saat menghadiri acara pernikahan teman kantor Ayah yang berada di luar kota. Mereka berdua pergi mengendarai bus bersama karyawan lainnya.


Naas, sopir bus yang mengantuk tak melihat pembatas jalan dan kendaraan besar itu terperosot ke dalam jurang.


Nasib buruk berpihak kepada dua orang tuaku karena mereka dinyatakan tewas di tempat berikut beberapa penumpang lainnya. Hanya segelintir orang yang selamat dari tragedi itu.


Berita itu sempat menjadi trending topik selama beberapa bulan dan membuat kesedihanku semakin meluas.


Tentu saja aku berduka. Aku sangat dekat dengan kedua orang tuaku bahkan hampir tak pernah berselisih.


Aku menjadi yatim piatu di mana kedua orang tuaku juga anak tunggal sehingga tak memiliki saudara.


Banyak teman-teman bahkan Mas Tulis datang ke rumah sebagai wujud bela sungkawa termasuk pihak sekolah.


Hanya saja, kedatangan mereka seolah hanya seperti angin berbisik. Hatiku tetap terasa dingin seolah kehilangan matahari dan indahnya pelangi.


Beruntung, kantor tempat bekerja Ayah memberikan tunjangan meski sekolah juga memberikan santunan.

__ADS_1


Hanya saja, semua uang itu tak cukup untuk melanjutkan hidup. Uang dari jaminan asuransi kematian juga tak memadahi untuk menghidupiku selama beberapa tahun ke depan.


Aku yang terpuruk dalam kesendirian akhirnya pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib saat salah satu kawan kerja Ayah mengatakan jika ada lowongan di perusahaan tempat isterinya dulu bekerja.


Ia yang meminta isterinya untuk menjadi Ibu rumah tangga, ternyata diminta mencari pengganti sebelum mengundurkan diri oleh pihak kantor.


Iming-iming gaji yang lumayan setara dengan UMR Jakarta, aku pun menerimanya. Aku lolos tes dan akhirnya diterima bekerja pada sebuah perusahaan periklanan swasta.


Kini, kamar kos berukuran 3m x 3m adalah tempat tinggal sementara saat kuputuskan menjual rumah peninggalan Ayah Ibu di Yogyakarta.


Aku tak bisa menempati rumah itu lagi karena meninggalkan duka cukup mendalam termasuk orang-orangnya.


Aku tak sanggup untuk tinggal di sana lagi karena terlalu banyak kenangan bersama kedua orang tuaku.


Jujur, pikiranku yang sedang kalut dan sempit saat itu, menjadikanku nekat untuk meninggalkan Yogyakarta.


Saat itu yang kurasakan hanya ingin pergi sejauh mungkin agar kesedihan itu tak lagi datang.


Beruntung, bos dari tempat Ibu bekerja sebagai tukang masak sebuah wedding organizer bersedia membelinya.


Aku yang tak tahu harga pasaran saat itu menerima saja ketika beliau membeli rumahku seharga 350 juta rupiah.


Kata para tetangga, harga itu termasuk tinggi walaupun rumahku sederhana, tapi terdapat barang-barang serta tanah kosong pekarangan yang cukup luas.


Aku bahkan tak mengecek sertifikat tanah dengan saksama karena hatiku kacau, tapi yang jelas, semua dokumen itu sah dan ada nama Ayah di sana sebagai pemiliknya.


Pengakuan dari bos Ibu kala itu, beliau akan menghadiahkan rumah itu untuk anaknya yang akan menikah meskipun harus direnovasi. Aku hanya mengangguk saja karena itu bukan urusanku lagi.


Aku dibuatkan buku tabungan oleh bos ibuku untuk menyimpan uang hasil penjualan rumah.


Kantor Ayah juga membuatkan buku tabungan dari bank berbeda yang menyimpan uang santunan kematian berikut uang duka dari teman kantor dan para tetangga.


Aku sangat berterima kasih di mana saat itu masih awam dengan hal perbankan.


Para tetangga menyayangkan aku pergi meninggalkan Yogyakarta, tapi itu sudah keputusanku.


Dan sekarang, di sinilah aku. Di kota metropolitan yang berada di Jakarta. Mengadu nasib sebagai anak perantauan.


***



wah ada yg tips😍 tengkiyuw lele padamu❤️ namanya sama, Alia😆

__ADS_1


__ADS_2