
Setibanya di kantor polisi. Aku, Agatha dan Permaisuri harus menjalani beberapa prosedur yang salah satunya adalah memberikan keterangan kepada pihak kepolisian. Aku yang lelah dan lapar karena aksi tak terduga, diizinkan untuk menikmati hidangan dari pemberian Sahabat Pena. Kubagikan pada Permaisuri dan Agatha karena mereka juga sudah bekerja keras. Hanya saja, saat keluarga Ningrat akan dihubungi oleh pihak polisi, Permaisuri menolak.
"Telpon dua anak saya saja, jangan ayah, paman atau siapapun. Jangan libatkan mereka," pinta Permaisuri yang membuat kening para polisi di ruangan tersebut berkerut.
Kami bertiga sepakat termasuk Robby yang tak ingin menyebutkan nama Ningrat dalam kasus kali ini karena akan berdampak jangka panjang. Bukannya ingin berbohong atau menutupi fakta, hanya saja kasus ini lebih ke lingkup keluarga. Robby melirikku dan kujawab dengan kedipan mata. Tampaknya suamiku paham dengan isyarat itu karena ia tersenyum tipis.
"Ya, itu benar. Telepon dua anak Nyonya Permaisuri saja. Mereka keluarga inti. Biarkan Nyonya Permaisuri yang menjelaskan sendiri kepada Tuan Ningrat dan anggota keluarga lainnya. Mereka memiliki cara khusus untuk menghadapi hal-hal seperti ini," jawab Robby tenang yang membuat senyumku terkembang.
"Hem, baiklah kalau begitu," jawab petugas yang menuliskan semua laporan dari kesaksian kami bertiga. Para polisi dan para saksi hanya mengetahui kami diserang oleh sekelompok orang tak dikenal.
"Kalian diizinkan pulang. Hanya saja, jika sewaktu-waktu dibutuhkan informasi lanjutan, kalian harus siap memberikan keterangan," tegas polisi lainnya yang berdiri menatap kami bertiga.
"Ya, Pak," jawabku, Agatha, dan Permaisuri serempak meski kami tak janjian.
"Mobilku gimana?" tanya Agatha.
"Masih dilakukan pemeriksaan lanjutan. Akan kuusahakan secepatnya selesai agar bisa kauambil nantinya. Namun, penyok itu, sebaiknya dibawa ke bengkel. Sayang, mobilmu masih baru," ucap Robby menatap kawanku saksama.
"Aku bakal minta ganti rugi ke yang bersangkutan," jawab Agatha melirik Permaisuri dari tempatnya duduk.
Mantan isteri Aksara Roma berwajah tegang seketika. Beruntung, para polisi seperti tak menyadari jika lirikan Agatha adalah sebuah kode jika penyerangan itu ulah anak buah Tuan Ningrat.
"Aku antarkan kalian pulang. Hanya saja, setelah itu aku harus kembali bekerja. Hem, tampaknya ... kerja lembur setiap hari," ucap Robby dengan embusan napas panjang di akhir kalimat. Aku mengangguk mengerti.
"Maaf, tapi ... kapan acara pemakaman Aksara Roma?" tanya Permaisuri terlihat sedih.
"Pagi tadi tim forensik telah selesai melakukan autopsi pada jenazah Tuan Roma. Akan saya kabarkan begitu sudah mendapatkan kepastian jadwal pemakaman," jawab Robby tenang.
Bisa kulihat wajah wanita cantik itu sendu seperti berusaha untuk menahan air mata. Saat akan diantarkan pulang, Permaisuri meminta untuk dibawa ke rumah Aksara Roma bukan Tuan Ningrat. Ia mengatakan jika dua anaknya akan datang ke sana. Hanya saja, Permaisuri meminta perlindungan polisi karena ia sendirian di rumah itu sampai buah hatinya tiba. Tentu saja Permaisuri harus mengurus beberapa persyaratan dan aku tak mencari tahu karena mencemaskan Bapak yang pastinya kepikiran dengan kejadian hari ini.
Akhirnya, Permaisuri diantarkan oleh tim yang lain. Agatha sudah dijemput oleh orang kantor, dan Robby mengantarku pulang. Sepanjang perjalanan, banyak dugaan bermunculan di kepalaku. Sepertinya, Robby menyadari hal itu.
"Orang-orang kiriman Tuan Ningrat tak bisa dianggap remeh. Mereka bahkan tak segan merusak mobil Agatha. Kita harus berhati-hati, Sayang. Aku yakin, kau dan Agatha sudah ditandai," ucap Robby seraya menoleh ke arahku. Kuangguki dengan jantung berdebar kencang. Bisa kulihat wajah Robby yang tegang. "Tampaknya, insting Bapak cukup kuat. Beliau meneleponku terlebih dahulu sebelum panggilanmu masuk. Bapak tanya, kenapa Alia belum ada kabar sejak mendatangi rumah Tuan Ningrat? Dari situ perasaanku sudah tak enak. Terlebih setelahnya panggilan telepon masuk darimu. Hempf, sepertinya urusan keluarga mereka berdampak pada kita secara tak langsung, Sayang," ucap Robby dan aku mengangguk membenarkan.
"Robby. Kalau nanti sudah dapat kabar kapan jenazah Tuan Aksara dimakamkan, beritahu aku ya. Bagaimanapun, Tuan Aksara sudah banyak berjasa padaku. Dia mengajariku cara menulis novel dengan benar," pintaku menatap Robby lekat.
"Iya, Sayang," jawabnya seraya mengelus kepalaku dengan tangan kirinya. Aku tersenyum dengan perasaan lega karena Robby tampaknya juga sudah tak membenci Tuan Aksara Roma.
__ADS_1
Jelas teringat dalam kenanganku saat hal buruk itu terjadi. Aku ketakutan karena harus melakukan penjebakan seorang diri beberapa tahun silam untuk mengungkap kecurangan dan kejahatan Aksara Roma. Bahkan, aksi itu membuatku hampir tewas karena Tuan Aksara seperti sudah gelap mata ingin membunuhku.
Malam itu.
"Hah, hah, hah," engahku dengan napas tersengal karena berlari kencang ketika ketahuan oleh Aksara Roma jika buku yang ditemukannya adalah milikku.
Kugenggam buku bersampul cokelat tua dari kulit. Saat aku mulai tenang karena napasku kembali teratur, kudengar suara langkah kaki seseorang menuju ke arahku dalam kegelapan malam di jalanan becek setelah hujan deras mengguyur kota Jakarta. Aku kembali panik dan berlari memasuki gang perkampungan. Aku yang ketakutan tak peduli di mana diriku berada saat itu. Aku sengaja tak pulang. Hingga jalan yang kulalui tembus ke tepi jalan raya di mana banyak angkutan umum sedang menunggu para pelanggan. Aku bergegas naik ke salah satu angkot yang tak kuketahui ke mana ia akan pergi.
"Bang, kenapa belum jalan?" tanyaku dengan tubuh berkeringat hebat karena sedari tadi berlari.
"Nunggu penuh, Neng," jawabnya santai.
Aku yang panik segera keluar. Aku datangi sopir bajaj dan memintanya untuk membawaku pergi. Beruntung, sopir kendaraan bermesin roda tiga itu tanggap dengan kepanikan yang melandaku. Hanya saja, saat ia bertanya aku ingin diantar ke mana, malah membuatku bingung saat kendaraan itu mulai melaju. Aku diam sejenak mencoba mencari alasan tepat agar tak dicurigai.
"Saya sedang cari kontrakan atau kosan yang murah, Pak. Bisa tolong saya gak? Saya udah cari-cari di sekitar sini, tapi semuanya penuh," jawabku memelas.
"Oh, deket rumah saya aja, Neng. Mau? Sebulannya cuma 500 ribu. Kalau mau, saya antarkan ke sana. Gak jauh dari sini," jawab si Bapak yang membuatku langsung mengiyakan penawarannya.
Bapak itu dengan sigap berbelok dan membawaku ke wilayah baru yang belum pernah kujelajahi sebelumnya. Aku menoleh ke luar jendela dan bernapas lega karena tak kudapati sosok Aksara Roma di sekitar. Meski demikian, aku tetap waspada. Hingga akhirnya, Bapak Bajaj mengenalkanku kepada pemilik kamar kosan tersebut. Ukuran kamar itu tak sebesar tempat tinggalku sebelumnya. Aku tinggal di lantai dua di mana terdapat beberapa kamar kosong di lantai yang sama. Kupilih yang paling ujung karena tak ingin diusik.
"Sayang?" panggil seseorang yang suaranya kukenal.
Spontan, aku menoleh dan mendapati Robby menatapku lekat. "Hayo, ngalamun lagi. Mikirin apa?" tanyanya yang seperti memergokiku bengong.
"Ngantuk," jawabku berdalih. Entah Robby percaya atau tidak, jawaban itu terlontar begitu saja.
"Ya udah. Nanti bersikap wajar aja. Kalaupun di berita mereka mengabarkan hal-hal yang berkesan melebihkan, kamu tahu harus ngapain 'kan, Sayang?" tanya Robby seraya mengelus kepalaku lagi. Aku mengangguk paham dengan permintaannya.
Aku dan Robby turun dari mobil karena sudah tiba di rumah sore itu. Benar saja, Bapak dan beberapa sanak saudara kembali berkumpul. Namun, mereka menyambutku dengan wajah cemas seperti sudah tahu hal buruk terjadi siang tadi.
"Kamu gak papa, Kak? Ya ampun, Jelita khawatir tau," tanya Adik Robby seraya menatapku lekat.
"Gak papa. Untung saja banyak yang nolongin," jawabku dengan senyuman agar kecemasan mereka reda.
"Kita masuk dulu saja," ucap Robby dan para saudara yang menyambutku di pintu bergegas masuk ke dalam ruangan.
Kulihat Bapak sedang duduk di ruang televisi sembari memegang remote. Kuduga, Bapak tampaknya mencari berita karena ia mengganti-ganti saluran. Aku menatap para saudara dan mereka mengangguk pelan.
__ADS_1
"Assalamualaikum. Pak?" panggilku.
Seketika, Bapak mertua menoleh. Ia tampak terkejut. Aku langsung mendatangi beliau karena bisa kulihat wajah cemas dari rautnya.
"Waalaikumsalam. Kamu gak papa, Nak?" tanyanya menatapku lekat seraya kujabat lalu kucium punggung tangannya.
"Baik kok. Alia malah sudah makan juga di kantor polisi tadi. Sahabat Pena kasih Alia banyak makanan enak," jawabku mencoba memudarkan kepanikan.
"Oh! Kamu minum es dawet yang dikirimkan Bapak gak?" tanya beliau yang membuatku berkerut kening.
"Es dawet itu dari Bapak? Kok bisa?" tanyaku heran.
"Kamu lupa ya? Bapak 'kan anggota dari Fans Club Sahabat Pena. Bapak langsung heboh saat tahu kamu di pos polisi. Bapak baca di grup saat ada salah satu anggota kirim foto dan video ketika kamu, Fanny dan Permaisuri diamankan. Bapak langsung ikut mengirim makanan melalui ojek online," jawab Ibu dari Zacky yang membuat mulutku menganga lebar karena tak mengetahui hal itu.
"Jelita diomelin-omelin Bapak. Katanya, 'Itu Alia pasti haus. Beliin dawet aja atau es apa gitu yang seger. Dia suka dawet. Buruan!' Jelita dibentak-bentak dong," sahut adik Robby yang membuat kami terkekeh pelan.
"Lagian, lama banget pesennya. Bapak liat Alia cepet waktu pesan makanan. Jelita malah tanya, es dawetnya yang rasa apa? Ukuran gelasnya yang mana? Kelamaan," sahut Bapak berwajah masam menatap puterinya.
Jelita mendesis, tapi tak bisa memarahi sang Ayah. Jujur, aku terharu karena Bapak mertua sangat perhatian padaku. Kupeluk beliau di mana rasa syukur menyelimuti hatiku karena begitu dipedulikan.
"Makasih ya, Pak. Alia baik-baik saja kok," ucapku dengan mata terpejam menahan agar air mata haru ini tak menetes.
"Ya ya. Syukurlah kalau kamu selamat. Untuk sementara waktu, kamu jangan keluar dulu sampai ketemu itu pelakunya," ucap Bapak, dan aku mengangguk.
Kulepaskan pelukanku dan bisa kulihat beliau seperti berlinang air mata. Robby lalu meminta izin agar aku membersihkan diri dulu karena terlihat kumal. Bapak dan para saudara mengangguk dalam diam.
"Pelangi ke mana?" tanyaku penasaran saat sudah di kamar.
"Oh, dia main sama Zacky dan Wita. Tadi Jelita kirim pesan saat kita di kantor polisi kalau mereka diajak sama Bibi ke sekolah PAUD yang baru saja dibangun dan siap diresmikan. Malah katanya, Pelangi ingin sekolah di sana. Sayangnya, umurnya belum cukup. Namun, boleh main ke sana," jawab Robby yang membuatku menganggukkan kepala. "Ya udah, kamu segera mandi dan istirahat. Aku balik kantor dulu ya. Belum tahu juga nanti bisa pulang cepet atau gak. Jangan kangen ya," ucapnya seraya mencolek ujung hidungku.
"Ish," gerutuku seraya mengusap ujung hidung yang mendadak terasa gatal karena disentuh olehnya.
Robby tersenyum dan meninggalkan kecupan manis di dahi. Suamiku pamit dan kusegera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Aku lega karena merasa aman di rumah. Namun, aku masih kepikiran bagaimana nasib para lelaki yang berhasil kabur dari amukan para pengendara kala itu sehingga sulit untuk mendapatkan bukti walaupun saksi mata sudah sangat banyak.
***
kwkwk semoga gak ada tipo. pagi2 nguantuk padahal udah ngopi. adeh😩
__ADS_1