The Ghost Writer

The Ghost Writer
Bantuan Polisi


__ADS_3

Bapak menatap lekat saat senyumku mulai terkembang.


"Oh, setelah itu ... Robby membantumu ya? Termasuk Agatha Fanny yang akhirnya datengin kamu setelah ponselmu bisa nyala lagi? Selama kamu dibantu sama polisi, kamu tinggal dengan Fanny. Bener gak? Seinget Bapak, Robby bilang seperti itu," tanyanya. Aku mengangguk membenarkan.


"Alia sangat bersyukur karena mendapatkan banyak bantuan seperti ketika membuat laporan ancaman, penyerahan barang bukti termasuk buku Alia yang dinyatakan isinya mirip dengan novel karya Aksara Roma sebagai bentuk plagiat, dan menghadirkan saksi. Saat itu, Alia menunjuk Bapak kos dan ibu tetangga kontrakan karena pernah ditemui Aksara. Pihak polisi juga melakukan penyelidikan tambahan untuk membuktikan kejahatan Aksara Roma sesuai laporan. Robby mengusulkan sebuah drama skenario dengan Alia sebagai umpan. Awalnya Alia menolak karena takut. Memang benar jika Alia penulis novel action, tapi kenyataan saat di dunia nyata, rasa mencekam itu sungguh terasa," terangku. Bapak mengangguk dengan wajah serius.


"Ya, ya, Bapak ingat. Saat itu, Robby selalu pulang larut malam. Ia juga mendapat banyak telepon, tapi Bapak gak tahu dia bicara dengan siapa. Bapak yang penasaran karena hampir sebulan Robby kaya orang grasak-grusuk, akhirnya memberanikan diri bertanya. Akan tetapi ... hehe, Robby lucu juga saat ia entah keceplosan atau bagaimana yang secara tak langsung seperti mengatakan kalau suka sama kamu," ucap Bapak yang membuat mataku melebar.


"Ha? Yang bener, Pak?" tanyaku penasaran, dan Bapak mengangguk mantap.


"Awalnya, Ibu yang menyadari gelagat aneh Robby. Ibu bilang, 'Pak, itu Robby kayaknya suka sama cewek yang sedang dibantu buat diselesaikan kasusnya. Tiap hari Robby telepon si Alia. Udah gitu, teleponnya basa-basi. Jelas banget ketara kalau Robby suka sama dia. Kalau nanti kasusnya sudah selesai, minta Robby kenalin sama kita, Pak. Dari cerita Robby, Alia ini gadis yang baik'. Ya, kira-kira begitu kata almarhumah," jawab Bapak yang membuat hatiku terharu.


"Sepertinya, Fanny juga berpikir demikian, Pak. Soalnya, selama Alia tinggal bersama Fanny, dia bilang katanya sikap Robby gak wajar. Dia menelepon bukan menanyakan kasus, atau meminta Alia datang ke kantor polisi, atau memberikan informasi perkembangan penyelidikan dan semacamnya, tapi tanya tentang hal pribadi seperti ... udah makan belum, jangan sampai sakit dan dirawat di rumah sakit lagi. Lalu ... apa kata psikiater, karena 'kan Alia sempat trauma dengan ancaman Aksara Roma kala itu, dan ... masih banyak hal lainnya. Alia yang saat itu fokus pada kasus tidak peka dengan perhatian Robby. Oleh karenanya, saat Robby mengatakan menyukai Alia, jujur ... Alia kaget karena gak nyangka. Alia pikir yang dibicarakan oleh Fanny selama ini hanya sebuah candaan, tapi ternyata benar," jawabku tersipu malu saat teringat momen itu.


Bapak terkekeh karena katanya aku sungguh lugu sampai tak menyadari banyaknya kode yang Robby berikan untuk menunjukkan bentuk perhatian dan rasa sukanya padaku.


"Lalu ... gimana itu skenario penyergapan? Bapak dan Ibu sampai berdoa biar aksinya lancar. Bapak sangat takut kalau kamu kenapa-napa. Kata Robby, bukti email yang dikirimkan Aksara, lalu banyaknya teror telepon masuk ke ponselmu dengan nomor berganti-ganti, tapi kemudian tak bisa dihubungi setelah meninggalkan pesan ancaman, membuat kami was-was," tanya Bapak yang ternyata mengetahui hal itu juga.


"Alhamdulilah semua yang sudah direncakan oleh pihak kepolisian berjalan sesuai rencana, meski Alia akui ketakutan saat itu. Alia juga gak nyangka kalau Tuan Aksara sampai nekat untuk membunuh hanya karena khawatir rahasianya terbongkar," jawabku menjelaskan. "Padahal Alia sudah ikhlas kalau ide dari buku yang dijadikan novel oleh Aksara Roma menjadi miliknya. Harapannya, setelah itu jangan lagi ngusik hidup Alia. Kita jalan masing-masing dan bersaing secara sehat. Namun ternyata, apa yang Alia inginkan gak sepemahaman dengan Tuan Aksara," sambungku sedih.


Bapak mengangguk seperti paham dengan yang kusampaikan. Pelangi yang mulai bosan, malah terlihat lucu ketika ia merebahkan tubuhnya di atas karpet dengan tubuh terlentang. Aku yang gemas langsung menyerangnya dan hal itu membuat gadis kecilku tertawa cekikikan.


"Wah, kita ngobrolnya sampai udah mau dzuhur. Sebaiknya makan siang dulu baru lanjut lagi," ucap Bapak, dan kuangguki dengan senyuman.

__ADS_1


Bapak beranjak seraya membawa kemasan susu yang telah habis dan juga biskuit kelapanya. Setelah itu, beliau masuk ke kamar dan menutup pintu. Kuajak Pelangi untuk ikut memasak bersamaku. Dia senang membantuku memetik sayuran terutama bayam dan kangkung. Meskipun dapur menjadi berantakan, tapi hal itu bagus untuk perkembangan motorik daripada menonton televisi atau bermain gadget.


Pas sekali saat azan dzuhur berkumandang, masakan untuk makan siang sudah tersaji lengkap di meja makan. Sayur bayam bening dengan wortel dan jagung, khusus untuk Pelangi. Lauk rebusan telur puyuh yang kumasak semur, sejauh ini cocok di lidah puteriku. Untuk Bapak kumasakkan opor ayam dan tumisan sayur kangkung sebagai pelengkap. Sisanya, potongan buah segar seperti semangka, melon, dan nanas madu. Pelangi yang menyukai buah, sudah lebih dulu menyantap buah-buah itu dalam mangkok menggunakan garpu. Kupenuhi toples dengan kerupuk udang agar suasana makan siang makin meriah.


"Wah, baunya enak sekali," puji Bapak saat berjalan mendekati meja makan masih mengenakan sarung dan juga peci. Tampaknya beliau baru selesai salat.


"Alia salat dulu ya, Pak. Nitip Pelangi sebentar bisa?" tanyaku tak enak hati.


"Ya, ya. Bapak juga mau minta disuapin Pelangi. Buahnya keliatan seger banget. Pelangi, aaa ...," jawab Bapak seraya membuka mulutnya lebar ketika puteriku menusuk potongan buah melon di mangkuknya.


Pelangi sepertinya paham dengan permintaan sang Kakek. Ia menyuapi Bapak dengan wajah gembira bahkan meminta untuk diisi ulang karena buah di mangkuknya sudah habis. Kulihat Bapak dan Pelangi sangat cocok. Keduanya terlihat senang. Pelangi juga tak rewel saat kutinggalkan untuk menunaikan salat. Aku sangat beruntung dan tak henti-hentinya memanjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena diberikan hidup nyaman meski banyak kerikil dalam menjalani kehidupan.


Usai salat, aku menikmati makan siang bersama Bapak dan Pelangi. Kulihat Pelangi dan Bapak makan dengan lahap menyantap masakanku. Namun setelahnya, Bapak kembali menagih janji kelanjutan cerita. Beliau penasaran bagaimana kronologi saat Aksara Roma ditangkap.


Kecurigaan pihak polisi menguat saat Aksara Roma dinyatakan tak kembali ke rumah setelah tiga hari sejak kedatangan mereka ke rumahnya. Polisi menduga jika Aksara Roma kabur. Mengetahui hal itu, Tuan Ningrat langsung mengamankan Permaisuri dan dua cucu ke kediamannya. Dengan kekuasaannya, pihak polisi seperti tak bisa menyentuh Tuan Ningrat entah apa yang dilakukan karena Robby sendiri beserta tim yang bertugas, diminta fokus untuk menangkap Aksara dan tak melibatkan Permaisuri serta dua anaknya. Robby mematuhi perintah itu dan mulai memburu Aksara Roma.


Meski demikian, Permaisuri diam-diam masih mau bekerja sama. Namun, wanita cantik itu mengatakan jika tak mengetahui keberadaan Aksara Roma. Permaisuri sudah memberikan beberapa petunjuk mengenai kemungkinan suaminya bisa ditemui, tapi semua tempat yang didatangi pihak kepolisian nihil. Menurut pengakuan Robby, Tuan Ningrat seperti tak peduli dan masa bodoh jika Aksara Roma terjerat hukum atau bahkan di penjara. Dari sinilah, desas-desus perceraian sepihak, dan Aksara Roma sebagai menantu yang tak diakui oleh pihak keluarga Ningrat mulai mencuat.


"Ini saatnya kita pancing Aksara Roma agar muncul dan mengakui kejahatannya," ucap Robby kala itu di mana aku dilibatkan dalam skenario penangkapan pihak kepolisian. Jujur, aku sangat takut, tapi Robby meyakinkan jika para penegak hukum itu akan melindungiku.


"Oke, kita tes. Apa kau mendengar yang kami ucapkan, Alia?" tanya salah satu petugas entah siapa karena aku berada di sebuah mobil. Kami dalam perjalanan menuju ke rumah kontrakan lama di mana barang-barangku masih berada di sana.


"Ya, dengar dengan jelas, Pak," jawabku gugup.

__ADS_1


"Kami sudah memasang GPS pada bukumu. Kau juga sudah dipasangi pelacak serta penyadap di pakaian. Kau aman dan terlacak. Kau tak perlu tahu kami berada di mana, tapi kami mengawasi dan melindungimu. Alia percaya pada kami 'kan?" tanya petugas tersebut.


"Ya, Pak," jawabku dengan anggukan di mana Robby duduk di depan samping sopir dan Agatha di sampingku.


Pihak manajemen bahkan ikut terlibat meski secara tak langsung. Hanya Mas Aris yang tampak begitu bersemangat serta Farida dalam aksi malam itu.


"Oke, semua bersiap! Kita sebentar lagi sampai," ucap Robby menginformasikan melalui radio. Para polisi yang bertugas menjawab dengan kode yang tak kupahami saat itu.


"Jangan takut. Ini demi masa depanmu. Yang kaulakukan dengan menyerahkan kepada pihak kepolisian adalah benar, Alia. Aksara Roma curang, bahkan tak segan mengancammu. Dia harus ditangkap dan di penjara. Jangan merasa bersalah karena ia saja tak menyesali perbuatannya," tegas Agatha, dan aku hanya bisa mengangguk dengan jantung berdebar kencang.


Akhirnya, waktu yang dinantikan tiba. Aku turun dari mobil yang membawaku sampai ke wilayah tempat tinggal di Jakarta Selatan. Mobil itu lalu pergi dalam kegelapan malam entah ke mana. Aku melangkah seraya membawa sebuah tas yang berisi barang-barang tanpa pistol atau senjata tajam lainnya. Persis sama seperti ketika aku meninggalkan rumah.


Kulihat jam tangan di mana waktu sudah pukul 12 malam lebih. Aku berjalan melewati gang gelap menuju ke rumah kontrakanku di mana ada sebuah kebun yang cukup luas tempat para warga biasa membuang sampah karena tak ingin membayar iuran. Mataku sibuk memindai sekitar di mana tempat itu terasa mencekam tak seperti biasanya. Sepi, bahkan tak ada satu pun warga yang ronda, atau sekedar mengobrol di teras. Mungkin karena hujan deras mengguyur wilayah Jakarta Selatan sehingga orang-orang memilih untuk tidur karena udara yang dingin.


Saat perasaan lega menghampiri karena kebun gelap itu berhasil kulewati meski kesan angker begitu terasa, tiba-tiba saja, "Emph!" erangku ketika tangan seseorang membungkam mulutku rapat seraya menarik tubuhku ke belakang dengan paksa.


Aku yang terkejut tentu saja panik setengah mati. Aku ditarik masuk ke dalam kebun gelap entah oleh siapa, tapi kumerasa jika orang itu memiliki niat buruk padaku.


DUAKK!!


"Agh!" erang suara seorang pria saat aku mencoba mempraktekkan sebuah gaya dalam film aksi laga yang pernah kutonton.


Sengaja kusentakkan kepala ke belakang ketika mencoba untuk membungkuk dan melepaskan tangannya di tubuhku. Aku merasa dekapan orang itu melemah. Kugigit tangannya yang menutup mulutku dengan kuat hingga ia semakin mengerang kesakitan. Beruntung, serangan spontanku berbuah manis. Aku berhasil lepas dari dekapannya dan segera membalik badan. Namun seketika, mataku melebar ketika cahaya dari pantulan bulan menunjukkan siapa orang yang berusaha mencelakaiku. Ya, dia Aksara Roma.

__ADS_1


__ADS_2