The Ghost Writer

The Ghost Writer
Press Conferences


__ADS_3

Esok harinya, aku ditemani oleh Robby pergi mengunjungi dokter untuk cek kehamilan. Setelahnya, kami meneruskan untuk acara press conferences yang sudah dijadwalkan. Beruntung dokter yang bertugas hari itu seorang wanita dan antrian pun tak panjang karena sekarang sudah bisa melakukan reservasi melalui online. Aku mendapatkan urutan tiga, dan saat datang sudah urutan dua.


Kujalani proses penimbangan berat badan, cek tinggi, tekanan darah, dan juga pernapasan untuk memastikan kondisiku baik-baik saja. Kujuga mendapatkan sebuah buku yang nantinya menjadi riwayat selama kehamilan anak kedua. Aku berharap, saat melahirkan nanti bayiku sehat, kami berdua selamat dan lahir normal. Amin.


Jujur, aku tak pernah meminta lahir caesar karena menurut pengakuan teman-teman Robby saat mereka menjenguk untuk melihat Pelangi lahir dulu, mereka mengeluh dengan luka caesar yang terasa nyeri ketika sedang batuk, bergerak, dan hal lainnya. Rasa sakit itu mengganggu aktivitas dan aku tak ingin hal itu terjadi.


"Pasien Alia Pitaloka," panggil salah seorang perawat yang berdiri di depan pintu dokter kandungan tujuanku.


Aku dan Robby segera berdiri. Kami disambut dengan sapaan ramah oleh seorang dokter perempuan yang memakai kerudung, berkacamata, dan menggunakan masker penutup mulut.


"Halo, wah masih muda nih. Anak pertama atau kedua calon bayinya?" tanya beliau yang kulihat seperti sudah berumur 50 tahun, tapi tetap terlihat bugar.


"Anak kedua, Dok," jawab Robby dengan sigap.


"Baru cek up per hari ini atau sudah melakukannya di minggu-minggu sebelumnya?" tanya dokter itu lagi seraya menuliskan sesuatu di bukuku.


"Baru test pack kemarin dan positif," jawabku jujur.


Dan seperti biasanya, dokter yang kulihat santai ini menanyaiku banyak hal seperti ... kapan terakhir menstruasi, keluhan apa yang kurasakan, dulu anak pertama melahirkan normal atau caesar, dan hal-hal umum lainnya.


"Yuk di USG untuk cek lebih lanjut," ajaknya seraya berdiri.


Aku mengangguk dan segera berbaring di sebuah kasur khusus. Robby berdiri di sampingku dekat alat USG saat perawat yang membantu dokter tersebut mengolesi perutku dengan gel. Aku yang sudah lama tak bersentuhan dengan alat itu sedikit geli.


"Oh, iya nih," ucap dokter itu tiba-tiba yang membuatku langsung melebarkan mata saat melihat ada bulatan kecil dalam rahimku. Kulirik Robby dan senyumnya terkembang. "Ini ... ya, sesuai perkiraan, sudah lima minggu."


"Lima minggu?" sahutku yang sama sekali tak menyadari sudah selama itu.


"Wah, sebulan ya, Dok?" tanya Robby terlihat senang.


"Ya, kurang lebih begitu. Mbak Alia kerja?" tanya dokter saat ia menyudahi USG di perutku setelah melakukan banyak hal yang tak kumengerti, tapi seperti menandai ukuran dari tampilan layar monitor karena kulihat ada garis-garis.


"Isteri saya penulis novel, Dok," jawab Robby lagi yang sudah seperti asistenku.


"Alia? Alia Pitaloka?" tanya perawat saat akan membersihkan gel di perutku.


"Kenal, Sus?" tanya Robby, dan perawat itu mengangguk.


"Kemarin adik saya ikut ke acara jumpa fans Sahabat Pena. Namanya Lina. Dia senang sekali katanya terpilih dari sekian banyak pembaca untuk ikut dalam acara. Wah, gak nyangka," ucap perawat itu senang.


"Minta foto aja mumpung Mbak Alia di sini. Nanti pamerin ke adik kamu biar ngiri," ucap dokter itu yang membuatku malah terkekeh geli.


"Boleh, Mbak?" tanya perawat itu sungkan.


"Ya, boleh," jawabku seraya duduk perlahan dan menurunkan pakaianku.


"Sini, saya fotoin deh, Sus," ucap Robby seraya mengulurkan tangan untuk meminta ponsel perawat itu.

__ADS_1


Dengan sigap, perempuan berseragam itu berdiri di sebelahku dengan senyuman. Kulakukan hal yang sama, malah dokter kandunganku ikut serta. Kami melakukan gaya yang sama dengan menunjukkan jempol ke arah kamera.


"Oke! Wah, cantik-cantik semua, tapi saya pilih yang di tengah aja," ucap Robby mulai menggombal, dan dua wanita yang mengapitku terkekeh pelan.


"Ini resep vitamin ya. Ada obat mual, tapi cukup diminum kalau udah gak tahan. Kalau gak mau minum obat ini bisa dengan minum jahe hangat. Lalu sebaiknya cek darah ya untuk mengetahui kesehatan Mbak Alia secara menyeluruh. Akan saya berikan surat pengantar untuk ke laboratorium," ucap dokter menjelaskan.


"Dok, saya sekalian deh. Bisa 'kan ya?" pinta Robby, dan dokter itu mengangguk.


Ya, kuakui Robby cukup sensitif dengan kesehatan. Saat kami akan menikah dulu saja ia memintaku agar cek darah untuk mengetahui apakah terjangkit HIV, dan penyakit mengerikan lainnya. Jujur, aku sebenarnya sedikit tersinggung seolah dia tak percaya jika kumasih perawan. Namun, setelah aku mendengar nasihat dari Agatha jika hal itu memang diperlukan sebagai bentuk antisipasi, kulakukan yang Robby minta dengan dia ikut melakukan tes bersamaku. Ternyata, kami berdua negatif. Aku juga menjadi lega setelah tahu jika calon suamiku sehat jasmani dan rohani. Tandanya, ia tak suka 'jajan' dan masih perjaka. Hehe.


Selesai dari ruang pemeriksaan, aku diminta untuk ke bagian farmasi untuk menyerahkan resep. Aku diminta menunggu oleh Robby saat ia melakukan pembayaran di kasir. Sepertinya, perawat yang tadi membantu dokter memberitahukan kepada perawat lainnya tentang siapa diriku. Mereka seperti berbisik membicarakanku, tapi tak ada yang mendekat untuk meminta foto bersama. Mungkin, karena mereka sedang bekerja dan banyak orang di sana sehingga tetap profesional. Tak lama, Robby datang lalu mengajakku ke bagian farmasi untuk mengambil obat. Petugas menginformasikan padaku kegunaan dari vitamin-vitamin sesuai resep dokter berikut cara mengkonsumsinya yang ternyata cukup satu kali sehari setelah makan.


"Terima kasih, Sus," ucap Robby lalu mengajakku keluar dari ruangan khusus itu.


Kami menaiki lift menuju ke bagian laboratorium untuk melakukan cek darah. Robby menunjukkan lembar pemberian dari dokter kandungan tentang apa saja yang harus dicek saat pengambilan darah nanti. Aku menunggu di ruangan itu saat Robby melakukan pembayaran untuk proses cek darah kami. Jujur, aku tak suka jarum. Robby terlihat santai saat lengannya yang kekar ditusuk jarum runcing itu dan diambil darahnya. Aku sudah berkeringat dingin padahal giliranku belum tiba.


"Hehe, ada yang pucet nih," ledeknya yang membuatku mendesis sebal.


"Ibu Alia, silakan," panggil petugas yang langsung membuatku lemas seketika.


Robby malah terkekeh melihatku mengeluh berulang kali saat petugas menepuk-nepuk lenganku untuk mencari pembuluh karena katanya, milikku tipis dan akan susah untuk diambil darahnya.


"Aduh, Sus. Please banget jangan sakit ya. Sekali tusuk aja langsung ambil, jangan sampai darahnya gak bisa diambil," ucapku penuh permohonan seperti akan menangis.


Mungkin perawat itu ikut tertekan dengan permintaanku. Ia terlihat berusaha untuk mencari tempat yang diyakini bisa disedot darahnya. Namun, baik tangan kanan atau kiri, tampaknya perawat itu belum menemukannya sehingga membuatku semakin panik.


"Ganti aja jarumnya sama yang tipis," sahut petugas lain yang sepertinya tahu jika kawannya kesulitan.


Robby mendekat dan mengusap kepalaku. Ia masih terkekeh mungkin baginya lucu melihatku panik sendiri.


"Milih disuntik atau aku gigit?" tanyanya seraya memandangiku dengan penuh maksud.


Aku yang kesal menepuk lengannya entah sudah berapa kali kulakukan sejak menikah dengannya. Robby terkekeh dan kembali berdiri saat petugas siap untuk mengambil darahku dengan jarum suntik yang katanya sudah diganti yang lebih tipis.


"Oke. Tarik napas dalam lalu kepalkan tangan ya. Saat nanti saya bilang lemaskan, buka kepalan tangan perlahan ya," ucap petugas itu. Aku hanya bisa mengangguk dengan wajah berpaling.


"Robby!" teriakku panik dan suamiku bergegas datang. Ia masih menunjukkan gigi putihnya yang rapi ketika berjongkok di depanku.


"Oke, Bu. Lepaskan perlahan, buka kepalannya," ucap petugas yang membuatku melirik, tapi kembali berpaling saat kulihat dia berhasil mengambil darahku.


Perasaan lega langsung menyelimuti hati di mana aku tak merasakan sakit ketika jarum runcing itu menusuk kulitku.


"Baik, sekali lagi ya," ucapnya yang membuatku langsung melotot. "Ya, sekali lagi. Ibu darahnya kental. Jarang minum ya?" tanya petugas itu dan aku mengangguk membenarkan.


"Nah kan, ketauan deh," ucap Robby yang membuatku meringis. "Tadi aja gak nangis berarti 'kan gak sakit. Itu perawatnya udah hati-hati banget tau ambil darahmu," ucap Robby yang membuatku kembali berkeringat dingin dan berharap tusukan kedua tak membuatku pingsan.


"Agh!" rintihku karena kali ini tusukan itu cukup terasa, tapi Robby malah tertawa.

__ADS_1


"Mukamu, jelek banget sumpah. Hahaha, biasanya orang muka jelek pas tidur. Ternyata, terkecuali buat kamu. Abis ini jangan suntik-suntik lagi deh, takut aku lihatnya," ucap Robby meledek.


Ingin rasanya kutendang dia di saat aku sedang panik setengah mati karena si jarum sialan itu. Tampaknya, perawat yang mengambil darahku juga tertawa karena saat memasukkan suntikan berisi darahku, kudengar ia seperti tertawa pelan.


"Hasilnya diambil besok pagi ya. Hari ini penuh. Mohon maaf sebelumnya," ucap petugas lain.


"Bisa dihubungi lewat telepon, pesan atau email gitu saat hasilnya diambil? Takutnya nanti kami sudah kemari, hasilnya belum jadi," tanya Robby.


"Ya, Pak bisa. Silakan tinggalkan nomor telepon ya. Biasanya, setelah hasil lab keluar, nanti diminta untuk menemui dokter kandungan lagi," ucap perawat itu dan aku mengangguk paham.


Robby meninggalkan nomor teleponnya sebelum kami pergi. Robby diminta untuk melunasi pembayaran saat akan mengambil hasil cek darah esok hari. Mobil segera melaju menuju tempat press conferences di sebuah hotel bintang 3 kota Jakarta. Kulihat para wartawan sudah berkumpul di luar ballroom dan hal itu membuatku sedikit panik. Untung saja aku diamankan oleh pihak manajemen sehingga tak diserang media sebelum acara dimulai.


"Sudah dipelajari 'kan?" tanya Mbak Farida selaku managerku. Aku mengangguk pelan ketika dirias untuk memastikan terlihat cantik dan prima saat acara berlangsung.


"Kok lemes dan pucet gitu. Kamu sakit?" tanya Mas Aris, tapi aku menggeleng.


"Alia hamil sudah 5 minggu. Mohon doanya ya," jawab Robby mewakili.


"Wah, yang bener? Aduh, selamat ya. Tokcer banget sih," ucap Farida yang membuatku berkerut kening karena terdengar menggelikan. Robby malah terlihat bangga karena menaikkan dua alisnya.


Akhirnya, acara yang membuatku tak tenang dimulai. Kali ini, bukan Shanty yang akan menemaniku, melainkan dari pihak manajemen. Robby juga ikut duduk mewakili dari pihak kepolisian mengingat kasus kemarin melibatkan para pengendara sipil dan juga polisi. Agatha ikut serta, tapi Permaisuri tak hadir dengan alasan sakit padahal kenyataannya aku tahu jika isteri almarhum Aksara Roma telah pergi meninggalkan Indonesia untuk menyambut kehidupan baru.


"Selamat siang semuanya, dan terima kasih atas kehadirannya. Kami selaku dari pihak manajemen yang menaungi salah satu penulis ingin melakukan klarifikasi tentang kasus yang melibatkan Alia Pitaloka dan juga Agatha Fanny serta Permaisuri Ningrat. Hanya saja, Nyonya Permaisuri tak bisa hadir dan tak bisa diwakilkan dari pihak keluarga mengingat beliau masih merasa terguncang dengan hal tersebut. Jadi, segera saja kita mulai acara pada hari ini," ucap Mas Aris.


Semua wartawan baik media online, cetak, radio, dan televisi, siap meliput jalannya press conferences. Benar saja, pertanyaan-pertanyaan kritis mereka lontarkan satu per satu. Beruntung aku sudah mempelajari skenario yang diberikan oleh Farida lewat email. Kujawab semua pertanyaan itu dengan tenang meski terus berkesinambungan bahkan hampir tak berjeda. Namun, baik aku, Agatha, Robby, atau pihak manajemen, berhasil menjawab dengan apik sehingga tak menimbulkan kecurigaan.


"Jadi, polisi belum menangkap dalang dari para penyerang yang dikirimkan itu, Pak Robby?" tanya salah satu wartawan terlihat serius dengan alat perekamnya.


"Kami berhasil mengidentifikasi kendaraan yang digunakan oleh para penyerang dari CCTV di jalan raya saat mereka mulai mengejar mobil Agatha Fanny. Tim sudah mendatangi lokasi sesuai data dari plat nomor motor-motor tersebut. Kita tunggu kabar selanjutnya, karena informasi terakhir yang saya dengar, tim sudah berhasil menangkap dua orang dan sedang memburu yang lainnya," jawab Robby yang membuat orang-orang mengangguk terlihat kagum akan kinerja cepat polisi.


Para wartawan makin antusias bertanya mencakup banyak hal untuk pemberitaan media mereka. Cukup lama acara itu berlangsung hingga hampir dua jam, tapi berakhir dengan memuaskan. Para wartawan terlihat bisa menerima semua jawaban dari kami karena tak ada lagi pertanyaan terlontar bahkan perdebatan sengit saat berjalannya press conferences.


"Kami harap jawaban dan bukti-bukti yang sudah disertakan bisa membantu para awak media untuk menginformasikan kepada masyarakat. Kami percayakan kasus ini kepada pihak kepolisan agar segera dituntaskan, supaya para Sahabat Pena dan keluarga korban bisa beristirahat dengan tenang," ucap Mas Aris mewakili manajemen. Robby mengangguk mantap seraya menunjukkan jempol tanda siap. "Itu saja dari kami, dan terima kasih atas kedatangan teman-teman semua. Selamat siang dan semoga selamat saat kembali ke rumah."


Acara ditutup dengan tepuk tangan dan foto bersama. Bahkan, ada beberapa wartawan yang meminta tanda tanganku. Diam-diam, beberapa dari mereka adalah salah satu pembaca meski tak masuk dalam grup penggemar Sahabat Pena. Jujur, aku terharu. Para wartawan itu tetap profesional meski orang yang sedang disorot adalah idolanya, tapi mereka bekerja sesuai permintaan dan bisa mengenyampingkan persoalan pribadi.


"Bumil istirahat deh. Udah tenang 'kan, tapi jangan lupa ... novel barunya aku tunggu update-nya ya ...," ucap Farida dengan senyum penuh maksud.


Aku hanya bisa tersenyum paksa dengan anggukan. Robby membawaku pulang usai kami menikmati makan siang bersama pihak manajemen. Agatha yang mendapatkan mobil baru dengan bangga memamerkan foto kendaraannya meski masih diurus surat perizinan karena baru membelinya beberapa waktu lalu.


"Mau nebeng gak?" tanya Robby, dan Agatha menyambutnya dengan senyum merekah.


Akhirnya, kami bertiga pulang menuju ke rumahku terlebih dahulu. Agatha mengaku di rumahnya sepi jadi ingin singgah ke tempatku dan baru kembali ke rumah saat malam nanti. Aku dan Robby tak keberatan malah merasa senang karena dikunjungi.


Namun, saat mobil Robby memasuki halaman, kulihat sosok yang kukenali berada dalam sebuah mobil sedan mewah dengan kaca jendela terbuka. Ada beberapa pria berpakaian hitam bersetelan rapi seperti bodyguard yang mengawasi rumahku. Praktis, mataku melebar. Robby dan Agatha ikut menatapku tajam di mana kami sepemikiran jika dia adalah Tuan Ningrat.


***

__ADS_1



lagi ngebut biar cepet kelar😁 dan mbak alia kasih tips bayar denda. kwkwkw makasih ya❤️


__ADS_2