The Ghost Writer

The Ghost Writer
Sosok Agatha Fanny


__ADS_3

Saat itu, untuk pertama kalinya bagiku mengikuti acara jumpa fans. Semua hal yang baru pertama kali diikuti pasti akan meninggalkan kesan. Aku bahkan ikut mencatat semua pertanyaan dari para penggemar Aksara Roma ketika mereka memaparkan keinginannya dan bagaimana cara bosku menanggapi. Dari situ, aku mulai tahu dan belajar banyak hal.


Jika dibandingkan dengan jumpa fans yang dilakukan olehku di masa sekarang, Aksara Roma tak menggunakan model baik aktor atau siapapun sebagai visual dari salah satu tokohnya, terutama pemeran utama. Ia hanya melakukan tanda tangan di salah satu halaman novel dan foto. Namun, sesi foto itu tak sepertiku di panggung, melainkan foto dari ponsel si pembaca. Aksara Roma juga mendapatkan beberapa hadiah dari para pembaca untuk kenang-kenangan.


Hal sama juga terjadi padaku saat para Sahabat Pena memberikan hadiah, tapi semuanya dikumpulkan ketika mereka mengisi daftar hadir. Malah kalau aku bilang seperti barter hadiah. Para Sahabat Pena mendapatkan kenang-kenangan dariku, tapi dengan model sejenis. Mereka menukarnya dengan hadiah pribadi yang beraneka ragam bentuk sesuai ciri khas masing-masing.


Hingga tiba-tiba, Tuan Aksara memanggilku dan meminta untuk berdiri di belakang saat sesi tanda tangan, pemberian hadiah, dan foto. Ternyata, aku diminta untuk memotret saat Aksara Roma mengabadikan gambarnya dengan para penggemar. Jujur, hal itu sangat melelahkan karena jumlah mereka cukup banyak. Malah, aku seperti pembantu.


Manager Aksara Roma diam saja di tempatnya duduk dan menyerahkan hal itu padaku. Sialnya, hal itu terjadi tiap aku diajak acara jumpa fans di beberapa kota yang ia kunjungi. Padahal, hal itu tak ada dalam perjanjian kerjasama. Aku merasa dimanfaatkan bahkan tak ada gaji tambahan selama kegiatan itu. Aku hanya difasilitasi sebuah kamar di hotel jika dilakukan di luar kota, makan, dan satu mobil dengan Aksara, tapi tak ada uang jasa di sana. Hingga akhirnya, aku yang merasa lelah karena setelah kegiatan masih harus memikirkan ide cerita untuk novel berikutnya, membuatku berani menyampaikan keluhan.


"Tuan Aksara, maaf. Ada yang ingin saya bicarakan. Penting dan mendesak," ucapku memberanikan diri menemuinya ketika makan malam di restoran hotel. Padahal, ada manager dan pihak penyelenggara. Aku tak peduli saat mata-mata itu menatapku lekat.


"Tentang apa?" tanyanya berkerut kening.


"Pekerjaan."


Aksara mengangguk. Beliau lalu berdiri dan mengajakku keluar restoran. Namun, kami berbicara masih di sekitar area makan itu. Ditambah, dinding restoran terbuat dari kaca. Tentu saja banyak mata tertuju pada kami berdua. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi fokusku kini pada pria yang sudah memanfaatkan tenagaku.


"Besok adalah terakhir saya mengikuti tour novel. Ini tak ada dalam kontrak kerja. Tak ada uang jasa, malah dengan mengikuti acara ini pengeluaran saya menjadi tak terbendung karena memfasilitasi diri sendiri," tegasku. Aksara diam masih menatapku dengan wajah berkerut. "Selain itu, saya juga lelah. Acara Anda menguras tenaga baik pikiran dan fisik. Ditambah, saya masih dituntut untuk menyelesaikan cerita. Ini tidak adil."


"Ssttt ... oke oke, saya paham. Saya akan berikan gaji tambahan selama kamu mengikuti tour," ucapnya berbisik takut ketahuan. Namun, aku menggeleng.


"Tidak usah. Saya mau kembali ke Jakarta saja setelah acara besok. Lalu, saya bekerja dari rumah saja, tak usah datang ke rumah Tuan Aksara. Saya merasa tidak nyaman dengan Nyonya Permaisuri karena selama saya pergi bersama Anda, beliau selalu menelepon dan mengirimkan pesan hanya untuk mengetahui apa yang sedang Anda lakukan. Saya tidak mau terlibat lebih jauh dalam kehidupan rumah tangga Anda dan tidak ingin dicap sebagai pelakor serta sejenisnya," tambahku yang berusaha menahan amarah.


Kulihat Tuan Aksara seperti ikut tertekan dengan hal ini. Ia mengusap mulutnya dengan satu tangan lalu menghembuskan napas panjang. Ia lalu bertolak pinggang dan mengangguk pelan.

__ADS_1


"Ya, saya paham. Besok saya pesankan tiket kereta api. Selesai acara akan saya minta pihak penyelenggara untuk mengantarkan kamu ke stasiun," jawabnya yang akhirnya paham jika keputusan tersebut tepat.


"Lalu, setelah novel yang saya kerjakan selesai, tak perlu perpanjangan kontrak lagi. Saya lelah dan ingin beristirahat," ucapku kemudian, tapi tampaknya kali ini Aksara tak setuju.


"Aku sudah membayar untuk tiga ide ceritamu, Alia. Baru satu yang sedang kau kerjakan. Kau masih punya hutang dua," tegasnya menunjuk.


"Dalam perjanjian, hal itu tak disebutkan. Anda hanya membeli cerita saya dan tak ada permintaan bagi saya untuk mengerjakan," tegasku.


Aksara terlihat seperti marah, tapi ia tahan. Ia memalingkan wajah dan matanya kini tertuju pada orang-orang yang melihat kami dari dalam restoran. Aku merasa tidak nyaman dengan tatapan itu, tapi karena jadwal Aksara yang padat, hanya waktu ini saja kubisa berbicara padanya sebelum semakin merugi.


"Oke," jawabnya begitu saja dan kembali masuk ke restoran dengan wajah sebal.


Jujur, aku sedikit takut dengan respon Aksara Roma usai kuutarakan permintaanku, tapi juga lega. Kumasuk ke restoran dan kulihat Aksara berbicara kepada pihak penyelenggara. Salah satu dari kumpulan pria itu menatapku entah apa yang ia pikirkan.


"Kenalin, aku Agatha Fanny. Panggil aja Fanny biar kita lebih santai dan akrab," ucapnya seraya mengulurkan tangan kanan untuk mengajakku berjabat.


Kusambut perkenalannya dengan ikut menyebutkan namaku juga. "Alia Pitaloka," jawabku sungkan.


Agatha melepaskan salamannya lalu memiringkan tubuh seperti memposisikan dirinya agar lebih nyaman saat bicara denganku. Ia tiba-tiba menunjuk ke arah pintu gerbong. Ternyata, ia ingin agar kami mengobrol di gerbong makanan. Entah kenapa sulit bagiku untuk menolaknya.


Kuangguki permintaannya di mana saat itu hari sudah petang. Ia mentraktirku kopi susu dan juga mi instan kuah sebagai menu makan malam. Tentu saja aku berterima kasih meski hal itu malah membuatku merasa ada hal aneh yang ia sembunyikan dari maksud baiknya. Aku mulai waspada.


"Mbak Fanny butuh sesuatu dari saya?" tanyaku to the point usai menyantap habis mi dalam mangkuk itu. Agatha tersenyum.


"Sudah lama ikut Aksara Roma?" tanyanya seperti menyelidiki sesuatu.

__ADS_1


Jujur, aku cukup terkejut karena pertanyaannya. Terlebih, aku tak jago berakting. Namun, kucoba untuk menjawabnya tanpa membeberkan rahasia kerja antara aku dan Tuan Aksara.


"Mm, belum sih, Mbak. Kenapa ya?" tanyaku penasaran.


Agatha yang membawa tas kerja model jinjing mengambil sesuatu di dalam. Seketika, mataku melebar ketika mengenali dua novel keluaran terbaru milik Aksara dari ide yang kujual padanya. Meski hanya seri kedua yang kukerjakan, sedang novel sebelumnya hasil curian dan sampai sekarang belum kutemukan bukuku. Agatha kemudian mengeluarkan lagi dua novel karya Aksara terdahulu yang ia letakkan mengapit karya barunya. Aku masih tidak paham dan memilih diam. Kuyakin jika Agatha memiliki maksud dari empat novel itu.


"Novel karya pertama Aksara Roma berjudul 'Keluargaku Surgaku'. Novel bertema religi yang masuk best seller pada zamannya," ucapnya seraya mengetuk sampul buku berwarna biru langit tersebut. Aku mengangguk karena pernah membacanya sebagai bahan referensi untuk mengetahui gaya penulisan Aksara. "Lalu, ini novel terakhir darinya yang masih bertema rumah tangga sebelum akhirnya ia banting setir mengambil genre action," ucap Agatha menunjuk sebuah buku bersampul jingga. Aku mengangguk pelan. "Selanjutnya, dua buku ini," imbuhnya.


Jantungku berdebar kencang ketika ia menunjuk dua sampul buku itu dengan dua jari tangannya. Kutatap wajah Agatha yang cantik, tapi berkesan tegas dan mengintimidasi. Aku merasa dalam bahaya saat ia tiba-tiba melipat dua tangan di atas meja dan mencondongkan wajahnya ke arahku. Spontan, aku memundurkan tubuh bahkan punggung sampai terpepet sandaran kursi.


"Aku pengamat, Alia. Aku juga seorang wartawan. Sebenarnya, aku memiliki banyak keahlian, tapi untuk sekarang, aku menempatkan diriku pada dua profesi itu. Jadi, katakan padaku dengan jujur. Dua novel action ini, apakah ... ciptaanmu?" tanyanya yang praktis membuat paru-paruku seperti terhimpit tiba-tiba.


Oksigen di sekitar seolah lenyap. Aku diam saja tak menjawab, tapi sepertinya Agatha menyadari hal itu. Ia tersenyum miring lalu memundurkan tubuhnya lagi. Aku terkena jebakannya, sialan.


"Itu karya Tuan Aksara Roma," jawabku tenang meski jantung ini rasanya ingin meledak.


"Ya, itu benar. Masih kulihat ada sentuhannya dalam tulisan di novel ini. Namun, auranya sudah berbeda. Ciri khasnya telah memudar. Aku tak hanya membandingkan empat novel ini, tapi banyak. Hanya saja, cuma empat novel ini yang kubawa karena belum mendapatkan tanda tangan darinya. Aku sudah ikut tour novel Aksara sejak novel pertamanya hingga hari ini. Aku mewakili kantorku untuk meliput acaranya dan kurasa, sudah cukup lalu kupilih untuk pulang. Namun, alasanku sebenarnya pulang lebih cepat dari jadwal adalah kau, Alia Pitaloka. Kau, menarik perhatianku. Jadi ... siapa kau sebenarnya?" tanya Agatha menatap tajam yang membuatku terpaku dan sulit untuk kabur dari kurungan tak kasat mata ciptaannya.


Aku menelan ludah. Tampaknya, Agatha Fanny bukan tipe orang yang bisa dibohongi seperti orang-orang kebanyakan. Mampus gue!


***



uhuy makasih tipsnya lele. aku padamu😍 semangat biar cepet tamat dan fokus ke King D. Aye!!

__ADS_1


__ADS_2