
Usai mandi dan menjalankan salat, kusegera keluar kamar untuk bertemu keluarga Robby agar mereka tak cemas. Aku bisa melihat kekhawatiran dari raut wajah mereka saat mengetahui hal buruk kembali menimpaku, meski kali ini dengan orang yang berbeda.
"Wah, sudah kelihatan seger lagi nih, Kak," ucap Jelita saat mendapatiku masuk ke ruang keluarga.
"Iya. Rasanya gunung merapi terangkat dari pundak Kakak," jawabku dengan senyuman, mencoba untuk meyakinkan orang-orang di ruangan itu agar percaya bahwa aku baik-baik saja.
"Minum dulu tehnya," pinta Ibu dari Wita saat membawakan nampan berisi teko teh dan beberapa cangkir berisi minuman bewarna cokelat dan setoples berisi gula batu.
"Duh, maaf ya, Mbak. Aku jadi ngrepotin tiap kalian datang ke sini," ucapku tak enak hati.
"Namanya keluarga dan saudara itu sudah sewajarnya untuk direpotkan biar makin akrab. Kalau apa-apa diurus sendiri malah membuat hubungan silaturahmi tak terjalin," sahut Bapak yang membuatku tak bisa menyangkal ucapannya karena bagiku benar.
Kunikmati teh hangat itu bersama keluarga Robby yang datang untuk menemani Bapak, meskipun awalnya mereka berkunjung bukan karena tragedi yang menimpaku.
"Kak Alia. Keberatan gak cerita kenapa sampai bisa berurusan dengan polisi? Jelita penasaran sumpah. Gak papa ya," pinta Adik Robby dengan wajah memelas.
Bisa kulihat tatapan penuh harap dari orang-orang di sekitarku. Kutimang-timang dan coba kupikirkan dengan matang apakah harus kukatakan dengan jujur atau kututupi. Sayangnya, semua hal yang disembunyikan tak akan berakhir baik di masa mendatang. Jadi, kuputuskan bicara apa adanya. Dan tentu saja, ekspresi terkejut muncul dari wajah orang-orang itu seperti dugaanku.
"Apa? Gila si Tuan Ningrat sampai nekat begitu. Mana Alia dan Agatha ikut kena imbas. Ini sudah keterlaluan!" pekik suami dari Ibu Wita dan Zacky dengan wajah tegang.
"Apa gak papa, Nyonya Permaisuri sendirian di rumah? Nanti kalau didatengin anak buah bapaknya lalu diculik bagaimana?" tanya Kakak perempuan Robby terlihat cemas.
"Tadi setahu Alia, Nyonya Permaisuri meminta perlindungan pihak kepolisian untuk menjaga rumah dan dirinya sampai dua anaknya yang berada di luar negeri pulang. Selain itu, kawasan rumah mendiang Tuan Aksara ramai tak seperti dulu masih sepi. Masuk ke kompleknya saja harus melewati pos penjagaan dengan cek identitas. Selain itu, banyak CCTV di tiap persimpangan jalan. Seharusnya aman," jawabku menjelaskan.
"Mudah-mudahan para polisi itu bukan tipe yang mudah dihasut dan disogok. Jika sampai itu terjadi, sia-sia usaha kalian untuk menyelamatkan Permaisuri. Siapa yang gak doyan duit instan? Apalagi yang ngasih orang ternama seperti Tuan Ningrat," timpal Bapak yang terdengar kritis dalam berpendapat.
"Bener juga loh ya. Apalagi nanti Tuan Ningrat bisa beralibi dengan mengatasnamakan urusan keluarga. Kasian Nyonya Permaisuri," sambung Jelita.
Aku diam mendengarkan pendapat dari orang-orang tentang kasus ini. Bisa kusimpulkan jika ucapan mereka ada benarnya. Aku jadi khawatir dan mencemaskan keadaan Nyonya Permaisuri di rumah itu. Bapak yang mencemaskan keadaan Pelangi, Zacky dan Wita, meminta kepada Jelita untuk menjemput mereka agar segera pulang. Mengingat kali ini aku ikut terlibat secara tak langsung dengan keluarga Ningrat yang notabene memiliki kekuasaan. Jelita dengan sigap pergi tanpa aku ikut serta karena Bapak melarang demi keselamatanku.
"Sebaiknya, kamu jangan keluar dulu kecuali untuk urusan mendesak seperti jumpa fans yang akan diadakan akhir pekan. Kalau acara itukan kamu dijaga sama pihak manajemen. Seharusnya, aman. Terlebih, Robby juga ikut serta. Tuan Ningrat pasti akan berpikir ulang buat ngacak-ngacak acara itu," ujar suami Mbak Wiwit mengemukakan pendapatnya. Aku mengangguk setuju dengan hal itu.
__ADS_1
"Mbak juga udah menyampaikan hal ini kepada keluarga besar. Kamu jangan takut, Alia. Meski keluarga Robby tak memiliki kekuasaan seperti Tuan Ningrat, tapi solidaritas kami tinggi. Kami saling bahu membahu. Apalagi kamu sendirian gak punya keluarga. Kamu wajib kita lindungi," ucap Mbak Wiwit selaku Kakak perempuan Robby yang membuatku semakin terharu.
"Allah kayaknya sayang banget sama Alia karena dipertemukan dengan orang-orang baik seperti kalian. Terima kasih banyak ya," ucapku dengan mata berlinang karena bisa kurasakan air menggenang di pelupuk.
Kakak Robby langsung memeluk seperti tahu jika aku akan menangis. Segera kuhapus air mata bahagia itu agar tak membasahi pakaian wanita yang selalu bersikap baik padaku usai mengenalnya saat akan menikah dengan Robby. Bapak kembali menyimak berita di televisi untuk mengetahui perkembangan dari penyelidikan polisi atas kasus yang melibatkanku, Permaisuri dan Agatha di mana akhirnya jati diri kami terungkap. Aku yakin, jika para Sahabat Pena pasti heboh karena aku terlibat dengan hal yang mungkin akan menjadi pertanyaan dari mereka saat jumpa fans beberapa hari lagi. Ya ampun, aku sudah membayangkan betapa banyaknya rentetan pertanyaan yang akan menghujaniku.
"Pak, Mbak, Mas. Alia pamit dulu ya. Ngelihat berita hari ini, kayaknya para Sahabat Pena pasti akan banyak tanya deh saat jumpa fans nanti. Alia mau mempersiapkan diri dulu dengan jawaban-jawaban agar mereka tak cemas," ucapku mohon diri.
"Ya, ya. Bener itu, kamu harus bersiap. Ibarat sedia payung sebelum hujan. Nanti biar Pelangi diurus sama Mbak," ucap Kakak Robby yang membuatku lega karena dibantu.
Bapak ikut mengangguk dan aku segera beranjak meninggalkan ruangan untuk bersiap. Kusegera masuk ke kamar dan menutup pintu tanpa menguncinya. Saat kucek ponsel, ternyata pihak manajemen menghubungiku berulang kali termasuk telepon dan pesan elektronik. Segera kubuka satu per satu pesan itu untuk mengetahui apa yang mereka cemaskan. Tak lama, panggilan masuk dari telepon manajer yang mengurusiku selama di bawah naungannya.
"Ya, Mbak," jawabku gugup.
"Alia. Aku udah denger penjelasan singkat dari Agatha. Tadi dia sempet mampir ke sini untuk klarifikasi. Aku dan pihak manajemen juga sudah melakukan rapat membahas hal ini. Lalu ... kami sudah memberikan keputusan untuk acara jumpa fans akhir pekan," ucap Mbak Farida menjelaskan. Jujur, jantungku berdebar kencang. Aku sangat khawatir jika ini akan mempengaruhi karirku sebagai novelis. "Kami sepakat untuk tetap melangsungkan acara jumpa fans. Aji mumpung. Namamu sedang menjadi trending di berita online. Kamu udah cek belum?" sambungnya yang malah membuatku melongo.
"Belum, Mbak," jawabku jujur.
"O-oke," jawabku gugup dan hanya bisa pasrah seperti permintaannya.
"Nah lalu, aku akan kirimkan email ke kamu tentang apa saja yang harus dijawab saat pertanyaan-pertanyaan kritis nanti ditujukan padamu. Ini seperti menghapalkan skenario walaupun kami tahu jika kamu cukup pintar berimprovisasi. Hanya saja, kita antisipasi untuk pertanyaan-pertanyaan menjebak. Jadi, pelajari ya," pintanya lagi.
"Ya, Mbak," jawabku dengan pandangan tak menentu karena gugup.
"Ya udah. Kamu sekarang istirahat. Tadi aku juga udah telepon Robby, dan pihak kepolisian siap menjaga kamu sampai acara jumpa fans berlangsung. Selain itu, nanti akan ada polisi yang datang ke rumah untuk jaga keamanan. Gak usah canggung, semua udah diurus Robby dan kantor. Ya udah, gitu aja dari aku ya. Semangat, Alia, dan aku tunggu ide baru untuk novelnya. Kata Robby, kamu udah punya cerita baru lagi untuk novel selanjutnya. Duh, aku udah gak sabar," ucapnya panjang lebar yang membuat mulutku menganga lebar karena kalimat terakhirnya.
"Ya, Mbak," jawabku lagi yang tak tahu harus menjawab dengan kalimat apa.
Mbak Farida menutup telepon, tapi aku malah menjadi tertekan akan hal ini. Baru saja kuletakkan ponsel, terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Aku segera beranjak untuk mencari tahu melalui jendela.
"Baru juga dibicarakan, mereka sudah ada di sini. Ya ampun," keluhku saat melihat sebuah mobil polisi parkir di halaman dan disambut oleh Bapak serta menantunya.
__ADS_1
TOK! TOK! TOK!
"Alia," panggil seseorang dari luar pintu kamar yang sengaja kututup.
Namun, kukenali suara itu. Ya, itu adalah Kakak perempuan Robby, Mbak Wiwit. Segera kubuka dan kudapati Pelangi sudah digendong olehnya.
"Mama!" seru Pelangi langsung merentangkan tangan minta digendong.
"Emph! Acem!" seruku saat mendapati bau tidak sedap dari leher puteri kecilku.
"Gak mau pulang, Kak. Jelita sampai capek nangkepnya. Pelangi udah kaya anak ayam," keluh Adik Robby terlihat lelah karena ia mengibaskan tangan seperti kipas ke wajah.
"Ih, kamu pasti bikin repot Tante ya? Pelangi usil," ucapku seraya mencubit hidung puteriku yang imut itu.
Pelangi malah tertawa cekikikan. Mungkin omelanku baginya tidak menyeramkan malah berkesan lucu.
"Pelangi! Mandi bareng Kak Wita yuk!" ajak anak perempuan dari Kakak Robby yang sudah siap dengan mainan bebek.
"Ayuk, ayuk!" jawab Pelangi senang dan langsung minta diturunkan.
Pelangi berlari mendatangi Wita dengan riang. Kulihat keduanya begitu akrab layaknya saudara kandung. Rasa haru kembali menyelimuti hatiku karena melihat kedekatan mereka. Kakak perempuan Robby memintaku untuk menemui kawan-kawan Robby yang ditugaskan untuk menjaga rumah seperti yang disampaikan oleh Manajerku Mbak Farida.
"Kamu ngapain, Jel?" tanya Kakak Robby yang membuatku ikut mengamati Jelita.
"Yang itu ganteng tau, Kak. Jelita gak boleh keliatan jelek. Sirik aja sih," jawabnya seraya menyisir rambut di kamar yang ia tempati sementara waktu.
"Dih, ganjen," sahut Iparku, tapi Jelita malah melotot.
Ku hanya menahan senyum karena bagiku Adik Robby ini cukup unik. Jelita merapikan pakaian dan dandanannya untuk menemui tamu yang sebenarnya dikhususkan untukku. Kubiarkan Jelita sebagai pendahulu untuk menyapa mereka karena bagaimanapun, Jelita pantas diberikan kesempatan untuk mencari jodohnya. Siapa tahu, calon suaminya nanti juga dari pihak kepolisian seperti sang kakak.
***
__ADS_1
kwkwkw nyicil dikit2 biar cepet kelar. terima kasih sudah sabar menunggu💋 lele padamu❤️