The Ghost Writer

The Ghost Writer
Kisah Masa Lalu*


__ADS_3


Baru kusenderkan punggung yang terasa pegal, kulihat Pelangi sudah memejamkan mata. Sepertinya puteri kecil kami sudah tertidur pulas karena lelah bermain.


Robby menidurkan Pelangi di ranjang dan menyelimutinya. Kusempatkan untuk mengelap dua tangannya agar tetap bersih meski bermain di rumah.


"Tidur yuk. Besok aku harus berangkat pagi," ajak Robby terlihat lelah.


Aku mengangguk dan ikut menidurkan laptopku dalam mode sleep. Bisa dibilang, aku hampir tak pernah mematikan benda tersebut karena waktuku tak tentu untuk bekerja.


Terkadang, sebuah ide muncul begitu saja dan rasanya ingin cepat-cepat kutuangkan sebelum lenyap.


Kurebahkan kepalaku di lengan Robby seraya memeluk tubuhnya yang terasa padat. Pelangi tidur di kasur terpisah yang berada di bawah sisi kanan ranjang kami. Seperti kasur bertingkat.


Cahaya redup kamar sepertinya sukses membuat kami bertiga tidur nyenyak malam itu. Sebab, saat kubangun, seperti tak ada mimpi yang datang padaku.


Esok harinya, Bibi yang membantu membereskan rumah sudah terlihat sibuk menyapu halaman depan karena kulihat cukup kotor dan sampah menumpuk di tong.


Aku menyiapkan sarapan untuk keluarga kecilku di dapur yang terhubung dengan ruang makan.


Kutengok Bapak mertua sedang bercengkrama dengan anak lelakinya di meja makan.


Pelangi sudah duduk di baby chair menikmati potongan buah segar pemberianku dalam mangkok menggunakan garpu plastik.


Pagi ini sungguh cerah dan aku tak sabar untuk menuangkan ide berikutnya untuk novel baruku.


"Wah, ini kesukaan Bapak. Sop ayam. Sederhana, tapi rasanya meriah," ucap Bapak mertua yang dengan sigap mengambil mangkuk dan sendok saat kumeletakkan hidangan berkuah itu di atas meja.


"Makan yang banyak, Pak. Untuk makan siang, Bapak mau dimasakin apa sama Alia?" tanyaku karena khawatir jika Bapak menginginkan sesuatu.


"Apa aja yang kamu masak pasti Bapak makan. Terserah," jawab beliau yang membuatku malah pusing memikirkan menu selanjutnya.


Robby yang biasanya pulang saat malam, tentu saja akan melewatkan makan malam bersama keluarga.


Namun, itu bukan masalah besar untukku. Aku percaya pada suamiku, terlebih dia berprofesi sebagai abdi negara. Pekerjaan di kantor tentu saja menguras waktunya.


"Oke. Ayah pergi kerja dulu ya. Jangan nakal dan gak boleh ngompol lagi. Oke?" ucap Robby seraya mengajak tos Pelangi.


"Oke, Papa," jawab Pelangi yang sepertinya masih sulit memanggil Robby dengan sebutan Ayah.


Robby mencium keningku dan Pelangi bergantian lalu bersalaman dengan Bapak. Robby mengendarai mobil yang mengantarkannya sampai ke tempat kerja.


Aku kembali ke ruang makan untuk membereskan sisa makanan dan peralatan kotor. Pelangi kubawa ke ruang bermain untuk bereksplorasi. Aku membawa laptopku seraya mendampinginya bermain.


"Bapak ikut gabung boleh?" tanya beliau yang membuatku sungkan, tapi kuangguki dengan senyuman.


Bapak terlihat senang dan duduk di sampingku pada sofa panjang. Kulihat Bapak selalu tersenyum saat memandangi Pelangi yang asik berceloteh entah apa yang dia imajinasikan saat bermain.


"Alia, Bapak boleh tanya sesuatu tidak?" tanya mertuaku yang tiba-tiba menoleh.


"Ya, tentang apa, Pak?" jawabku dengan pertanyaan.


"Bapak pernah menanyakan hal ini pada Robby, tapi dia bilang tidak tahu. Katanya, dia takut kalau mencari tahu nanti kamu marah sama dia. Hanya saja, Bapak bener-bener penasaran. Kamu taukan, kalau Bapak itu tipe pemikir," ucap Bapak menatapku lekat.

__ADS_1


Entah kenapa jantungku jadi berdebar mendengarnya. Perasaan gugup langsung menghampiriku, tapi aku mengangguk siap meski kuyakin jika wajahku tegang.


"Bisa ceritain gak, kenapa kamu bisa kerja sama si Aksara Roma itu? Padahal kamu punya potensi untuk berkarya sendiri tanpa harus ikut dengannya," tanya Bapak yang ternyata, pertanyaannya membuatku tak menyangka hal tersebut.


Sepertinya, Bapak ini memang sangat penasaran denganku. Ya, wajar sih. Aku berkenalan dengan Robby hanya sekitar 6 bulan saja. Lalu setelahnya, ia mengajakku menikah.


Aku yang belum mengenal sosoknya dengan baik, tentu saja tak kuterima begitu saja meski aku juga menaruh perasaan padanya. Robby lalu meyakinkanku dengan mengajak bertemu keluarga besarnya.


Saat itulah, aku merasa jika keluarga Robby sangat baik dan pengertian. Aku merasa tak kesepian lagi.


Sepulangnya temu keluarga, aku langsung menjawab "Ya" dan bersedia untuk menikah dengannya. Dan begitulah, aku sekarang menjadi bagian dari keluarga Purnama.


"Oh itu. Mm, kalau Alia cerita, baiknya dari mana ya, Pak?" jawabku malah bingung sendiri untuk memilih momen.


"Oh! Saat bukumu hilang saja. Robby gak bisa bercerita. Dia malah bikin Bapak bingung karena kaya muter-muter gitu. Bapak yang awalnya semangat dengerin langsung jadi males," ucap Bapak yang membuatku terkekeh pelan.


"Hem, dari buku hilang ya? Oke. Semoga gak membosankan ya, Pak," jawabku khawatir.


"Gak bakal bosen karena denger langsung dari tokohnya. Atau, saat awal mula kamu belajar nulis cerita. Gimana?" tanya Bapak terlihat begitu antusias.


Jujur, aku malah jadi gugup saat akan berkisah, tapi kuangguki dengan senyuman.


Ya, kisah masa laluku. Saat aku masih berkutat dalam dunia teater, banyak hal yang kupelajari dari guruku yang bernama Tulis Panggabean.


Hanya saja, aku yang dulu memang sangat berbeda dengan sekarang. Aku berkacamata, memakai kawat gigi, rambut sedikit kusam, dan berpenampilan sederhana. Ya, mengikuti tingkat ekonomi keluargaku yang pas-pasan.


Aku masih beruntung bisa melakukan perawatan gigi karena Ayah mendapatkan tunjangan kesehatan.


Almarhum tak mau gigiku berantakan karena akan mempengaruhi karirku di masa depan. Dan ternyata, pemikiran Ayah ada benarnya saat aku dewasa.


Semua orang pasti akan memandang fisik terlebih dahulu, lalu mencari tahu tentang sikap dan perilaku untuk memutuskan apakah si dia pilihan tepat atau tidak.


Aku juga merasa kurang percaya diri karena penampilanku bagaikan Betty La Fea seperti tokoh serial telenovela asal Kolombia pada zamannya meski tak berponi.


Meski demikian, Mas Tulis selalu memberikanku dukungan dan ilmunya. Bahkan aku merasa, ilmu yang kudapat lebih banyak ketimbang ia mengajarkan pada murid lainnya.


"Kamu sekarang bantu Mas Tulis untuk nyusun naskah drama saja. Mas tahu kalau semua orang ingin tampil di atas panggung, terkenal dan disorot banyak orang. Namun, Mas Tulis lihat kamu akan lebih berpotensi saat di belakang layar. Jadi bayangan itu tak selalu buruk. Malah, dengan adanya bayangan, sosok itu tahu jika dia selalu didampingi sehingga merasa tak sendiri," ucap Mas Tulis kala itu.


Kuangguki saja perkataannya dan kuterapkan dalam waktu yang lama semasa sekolah. Aku membantu Mas Tulis menuliskan sebuah naskah drama yang akan dipentaskan.


Saat itulah, untuk pertama kalinya aku mengenal mesin tik. Beliau meminjam dari pihak sekolah untuk kugunakan. Aku selalu membawa mesin tik itu ke mana pun dalam tas koper hitam.


Aku juga sering berkunjung ke Perpustakaan Daerah di kota Yogyakarta untuk belajar penyusunan naskah saat ada waktu lenggang.


Aku sampai disebut 'Gadis Buku' karena selalu membawa buku yang kupinjam dari perpustakaan.


"Biarin aja. Ini hidupmu. Mereka gak tahu aja kalau selama ini naskah yang mereka perankan adalah hasil karyamu. Tulisanmu makin bagus dan tertata. Alurmu juga rapi gak melebar. Sempurnakan dengan tanda baca dan perkuat karakter tokohmu. Bayangkan teman-temanmu menjadi tokoh itu. Mas Tulis akan bantu mereka berakting layaknya sutradara. Karyamu akan dianggap berhasil dan sukses jika memenangkan kejuaraan tahunan kali ini di Benteng Vredeburg. Semangat!" ucap Mas Tulis saat memberikan dukungannya.


"Siap, Mas!" jawabku mantap.


Kuketikkan semua ideku di mesin ketik itu. Bahkan, aku selalu lembur tiap hari usai pulang sekolah.


Namun, aku tahu diri. Saat waktu menunjukkan pukul 9 malam, kuhentikan ketikanku karena tak mau mengganggu istirahat ayah dan ibu akibat suara berisiknya.

__ADS_1


Kusimpan semua lembar kertas yang akan menjadi naskah drama untuk diperankan teman-temanku nantinya.


Kali ini, kejuaraan teater mewajibkan untuk menciptakan sebuah cerita orisinil karangan pribadi dari anggota teater tersebut bukan karya milik orang lain.


Sejauh ini, teman-temanku mengira jika Mas Tulis yang menuliskannya. Padahal, itu aku. Panitia lomba sudah mengetahui hal tersebut saat Mas Tulis mengajakku secara pribadi ketika melakukan pendaftaran.


"Jadi siapa nama Adik?" tanya petugas pendaftaran kala itu.


"Mm ...," jawabku bingung seraya menggenggam erat pulpenku.


"Pena. Nama aslinya Alia Pitaloka. Hanya saja, nama Alia Pitaloka ditulis dalam sertifikat saja. Nama Pena sebagai nama penulis karya yang akan dilombakan nanti. Bisakan, Mas?" tanya Mas Tulis yang membuat jantungku berdebar.


"Boleh dong. Semua orang pasti punya nama panggung. Jadi, Dik Alia nama panggungnya Pena ya?" tanya petugas itu lagi.


"I-iya, Mas. Nama panggung saya Pena. Rahasiakan nama asli saya ya," pintaku dengan sangat.


Para panitia di sana hanya tersenyum. Petugas itu lalu memberikan nomor peserta, dan meminta Mas Tulis selaku pembimbing teater untuk mengisi berkas sebagai syarat mengikuti lomba.


Selanjutnya, seminggu sebelum pementasan lomba, aku diminta menyerahkan naskah itu kepada panitia untuk dicek keaslian dan kelayakannya.


Tentu saja hal itu membuatku cemas saat datang ke kantor itu lagi ditemani Mas Tulis. Takut naskahku tidak layak dipentaskan.


"Ceritamu bagus. Yakin lolos," ucap Mas Tulis yang membuatku malah semakin gugup.


"Pena!" panggil seorang pria saat membuka pintu ruangan para panitia berkumpul.


Aku langsung berdiri dan mendatangi petugas pengecekan naskah itu. Ia memberikan naskahku dengan senyuman. Namun sungguh, aku tak paham dengan arti senyuman itu.


"Naskah kamu diterima. Selamat ya. Semoga menang dan penampilan grup kalian seperti kisah yang disajikan," ucap petugas yang membuatku spontan berteriak histeris.


Mas Tulis menyalami petugas itu dan langsung mengajakku pergi. Sungguh, ini sebuah hal yang begitu menggembirakan saat mengetahui jika jerih payahku dianggap layak dan patut untuk dipentaskan.


"Wah, kamu keren sekali. Bapak malah baru tahu kisah ini. Robby pasti belum tau, ya kan?" tanya Bapak mertua menatapku lekat.


"Hanya Bapak, orang-orang kala itu dan Allah saja yang tahu," jawabku dengan senyuman.


Seketika senyum Bapak melebar. Ia tiba-tiba pamit, tapi memintaku menunggu sebentar. Aku bingung, tapi mataku terkunci pada Bapak yang berdiri di bingkai pintu.


"Ya, Pak. Gimana?" tanya Bibi yang ternyata dipanggil oleh Bapak.


"Tolong bawakan teh tubruk pakai gula batu sekalian cemilan yang gak bikin gigi rontok ya, Bi," pinta Bapak yang membuatku menahan tawa.


"Baik, Pak. Nanti Bibi antarkan," jawab Bibi dengan sedikit membungkuk.


Bapak kembali lagi ke arahku dan langsung duduk seraya mengambil bantal sofa. Aku mengembangkan senyuman karena tak menyangka jika Bapak tertarik dengan ceritaku.


"Terus, terus, lanjutannya bagaimana? Menang gak lombanya?" tanyanya yang terdengar tak sabar seraya memeluk bantal sofa.


Bapak terlihat gemas dengan benda persegi empuk itu. Kutarik napas dalam dan melanjutkan cerita.


***


ILUSTRASI. SOURCE : mycast.io

__ADS_1



makasih yg udh play audiobook rekaman lele dan kasih like. lele padamu❤️ bagi yg belom segera ya😁


__ADS_2