The Ghost Writer

The Ghost Writer
Isi Hati Permaisuri


__ADS_3

Entah apa yang terjadi, tapi bisa kulihat gelagat Permaisuri berubah. Tangisannya berhenti seketika. Ia menghapus air matanya dengan kasar dengan tisu yang ditarik dari wadah di atas meja. Kutatap wajah wanita cantik itu yang berubah menjadi dingin usai menutup buku peninggalan Aksara Roma.


"Sudah kukatakan dari dulu jika Aksara tak pantas berada dalam keluarga kita! Kematiannya saja sangat buruk dan mencoreng nama kita lagi! Orang itu adalah—"


"Orang itu adalah suamiku, Ayah! Selamanya Aksara Roma adalah Ayah dari kedua anakku. Dari dulu sampai sekarang, aku masih mencintainya. Suri tak peduli lagi dengan semua ancaman yang Ayah berikan karena kami sudah muak! Aku, Gendhis dan Dewa sudah memutuskan untuk keluar dari keluarga ini! Sudah cukup kalian semua mengekang kehidupan kami bahkan merenggut kebahagiaan keluarga kecilku!" seru Permaisuri yang tentu saja membuatku terkejut usai mendengar pengakuannya.


Bisa kulihat keseriusannya saat meluapkan seluruh perasaan dalam amarah, kekecewaan dan kesedihan akan tekanan yang selama ini membebani kehidupannya. Namun, aku menyadari satu hal jika ternyata, tak hanya Aksara Roma yang tertekan, tapi isteri dan dua anaknya. Kini, semua semakin jelas. Mataku langsung beralih ke Tuan Ningrat di mana beliau tampak marah sampai meremat kuat kepala dari ujung tangga. Aku menoleh ke arah Agatha, dan kawanku itu sampai berwajah tegang menyaksikan perseteruan ini.


"Kau akan hidup miskin, menjadi gelandangan, dan hidup dalam kesusahan jika berani keluar dari rumah ini, Permaisuri," tekan Tuan Ningrat menatap puterinya tajam.


Padahal bukan aku yang berada di posisi Permaisuri, tapi rasa sesak itu seperti ikut menghujamku hingga membuat sulit bernapas. Aku mencoba untuk tetap tenang dan tak ikut campur. Bagaimanapun, ini masalah keluarga. Sedang aku dan Agatha, adalah orang luar meski secara tak langsung terlibat.


"Heh, kata siapa?" sahut Permaisuri dengan senyuman sinis seperti mengejek sang Ayah. Kutatap Permaisuri saksama yang tampak lain dan seperti menantang Tuan Ningrat. Wanita itu berjalan perlahan dengan air mata sudah tak menetes lagi dan malah berdiri di depanku. "Kau tak tahu 'kan, jika Aksara memberikan seluruh hartanya padaku saat kau memaksa kami bercerai?" ucapnya seperti menyindir.


"Hah! Punya apa si miskin itu? Hanya nama seorang penulis terkenal tingkat nasional. Itu bukan sebuah kebanggan!" sahut Tuan Ningrat yang sepertinya masih merendahkan sang menantu. Aku tetap diam.


"Si miskin itu, dia menyerahkan seluruh aset yang dicapainya selama ini untukku, Gendhis dan Dewa. Kaupikir, Aksara miskin? Kau salah besar, Ayah. Aksara tak lagi tinggal di rumahnya setelah keluar dari penjara karena ia menepati janjinya jika benda itu bukan miliknya lagi. Dia memilih hidup susah dan tinggal di kontrakan serta menerima semua gunjingan orang-orang demi kami agar hidup tanpa bayang-bayang namanya lagi. Meski aku tahu, jika hal itu tak mungkin. Masyarakat tak akan pernah lupa dengan kejadian buruk dan akan terus membahasnya jika diungkit kembali. Selama ini, aku dan anak-anak melakukan apa yang kauminta. Namun, semua sudah berakhir. Aku tak sudi berada di rumah ini lagi. Selamat tinggal, Ayah. Semoga kau sehat selalu," ucap Permaisuri lalu memegang tanganku.


Jujur, aku bingung. Namun, wanita cantik itu menatapku tajam. Agatha dengan sigap berdiri dan mengangguk. Aku yang masih belum paham hanya bisa mengikuti mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.


"Hentikan mereka! Kurung Permaisuri di kamarnya! Jangan biarkan mereka pergi!" seru Tuan Ningrat yang membuat mataku melebar seketika.


"Lari! Lari!" teriak Agatha yang dengan sigap merespon ancaman dari Tuan Ningrat.

__ADS_1


Aku spontan berlari kencang dengan panik. Tiba-tiba saja, para pengawal yang berada di dalam rumah keluar dari pintu-pintu mengejar kami.


"AAAAAA!"


Aku berteriak histeris karena sungguh, tak pernah kusangka seorang penulis novel action laga malah terlibat adegan menegangkan sesungguhnya di kehidupan nyata. Aku panik dan berlari sekuat tenaga. Agatha dengan cekatan menyalakan mobilnya dan masuk ke dalam. Sedang aku dan Nyonya Permaisuri yang tertinggal di belakang, dibuat panik karena dikejar segerombolan pria berbaju hitam.


"Agh! Lepaskan aku!" teriak Nyonya Permaisuri yang tertangkap oleh seorang bodyguard.


Aku terkejut dan menghentikan laju lariku. Aku bingung dalam bertindak. Namun, melihat Permaisuri sungguh tak ingin kembali pada keluarganya karena banyak alasan dan aku berpihak padanya, membuatku nekat menyerang lelaki itu.


BUKK! BUKK! KRAUKK!


"Argh!"


Lelaki itu mengerang kesakitan, tapi membuat Nyonya Permaisuri bebas. Kulihat mantan isteri Aksara Roma melepaskan sepatu berhak dan berlari dengan telanjang kaki. Siapa sangka, Agatha nekat menabrak para lelaki berbaju hitam yang ingin menghentikan aksi kabur kami dengan mobil sampai mereka jatuh bergulung-gulung di lantai.


TIN! TIN!


"Minggir! Jangan kira gua gak berani nabrak elu ya! Pager aja gua tabrak!" teriak Agatha yang berubah garang dengan mata melotot seraya menekan klakson agar para lelaki itu menyingkir.


Aku dan Permaisuri terus berlari ke arah mobil yang siap membawa kami kabur.


"Buruan!" teriak Agatha saat membuka pintu mobil bagian depan.

__ADS_1


Aku dengan sigap masuk ke dalam begitupula Permaisuri di dudukkan belakang. Aku segera mengenakan seat belt karena merasa hal buruk lainnya akan terjadi. Benar saja, saat mobil Agatha berhasil melaju ke pintu gerbang, satpam penjaga malah menutup gerbang itu. Mataku melotot dan spontan menjerit saat Agatha malah semakin kencang melaju mobilnya.


"AAAA!" teriakku histeris ketika melihat pagar besi tepat di depan mobil.


BRANGG!!


"Hahahaha! Bagus! Terus jalan jangan berhenti!" pinta Permaisuri yang malah mendukung aksi gila Agatha.


Sedang aku? Halo ... apakah kalian berdua para keturunan Hawa sadar dengan tingkah bar-bar barusan? Sumpah, aku dibuat jantungan hanya dalam waktu beberapa menit saja. Aku yang panik hanya bisa pasrah dan berharap sampai rumah dalam keadaan selamat. Namun, mobil Agatha bukan menuju ke rumah, tapi ke arah lain seperti kukenal.


"Kita ... mau ke—" tanyaku ragu.


"Satu-satunya tempat aman untuk kita sekarang adalah kantor polisi. Robby akan melindungi kita!" jawab Agatha mantap saat ia menyalip beberapa kendaraan di depan bagaikan pembalap ugal-ugalan.


Praktis, perutku terasa mual karena mobil berbelok ke kanan ke kiri tanpa permisi. Aku yang merasa pusing memilih memejamkan mata tak melihat jalanan seraya mencoba untuk menenangkan diri. Namun, saat hati ini mulai tenang, aku kembali dikejutkan oleh Permaisuri yang tiba-tiba berteriak.


"Mereka mengejar kita!" serunya yang membuatku langsung menoleh ke arah samping jendela.


Praktis, mataku melotot ketika melihat beberapa pengendara motor berboncengan memakai helm dan jaket hitam mengapit mobil kami dari empat sisi. Samping kanan, depan, belakang, dan samping kiri. Spontan, kuambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi Robby.


***


alhamdulilah The Ghost Writer udah di kontrak dan lele udh dapet editor pengganti😍 doain lele selalu sehat karena setelah ini lele kudu ngebut buat selesein novel akhir bulan ini biar King D bisa up rutin lagi meski level novel anjlok drastis. kwkwkw. trims atas dukungannya semua. lele padamu❤️

__ADS_1


__ADS_2