The Ghost Writer

The Ghost Writer
Di mana Puteriku?


__ADS_3

Tentu saja, kedatangan Tuan Ningrat dan anak buahnya membuatku cemas mengingat di rumah ada banyak orang, terlebih keluarga Robby. Kulihat Robby juga tampak tegang saat memarkirkan kendaraannya. Kutoleh ke tempat Agatha duduk dan ia langsung menepuk pundak kiri Robby dari tempatnya. Robby spontan menoleh.


"Aku tetep di mobil aja buat jaga-jaga. Kamera mobil depan belakang aktif 'kan?" tanya Agatha berbisik, tapi matanya menyorot tajam ke mobil Tuan Ningrat. Robby mengangguk pelan.


"Huff."


Kuembuskan napas panjang karena perasaan khawatir. Apalagi tak kulihat salah seorang anggota keluarga Robby yang keluar dari rumah untuk menyambut kami seperti biasa. Tumben-tumbennya sekitar rumah juga sepi entah mereka memang sedang pergi atau diancam oleh anak buah Tuan Ningrat, tak ada yang tahu. Robby menggenggam tanganku erat dan mengangguk pelan.


"Kita akan baik-baik saja. Percaya padaku," ucap Robby menatapku lekat, dan kuangguki dalam diam meski jantung ini rasanya siap untuk pingsan jika hal buruk terjadi. Terlebih, aku sedang hamil! Ya Allah lindungi aku.


Kami berdua turun dari mobil perlahan. Tak bisa kututupi wajahku yang tegang karena masih teringat jelas kejadian saat anak buah Tuan Ningrat mencoba menangkap kami dan tak segan merusak mobil Agatha. Kutatap wajah Tuan Ningrat yang tak menoleh sedikit pun ke arahku, meski kuyakin jika dia tahu aku dan Robby sedang berjalan ke arahnya.


"Tuan Ningrat? Apa kabar?" sapa Robby ramah dengan senyuman dan menggandeng tanganku erat.


Kulihat Tuan Ningrat mengangkat dagu dan masih menunjukkan posisinya sebagi pria yang berkuasa. Kuabaikan, karena lebih tertarik pada anak buahnya yang berpenampilan rapi sedang berdiri di sekitar rumah. Kuhitung dalam diam untuk mengetahui jumlah mereka, sekaligus mencari tahu, apa yang terjadi dengan penghuni rumah karena sepi sekali.


"Di mana puteriku?" tanyanya sebagai jawaban atas pertanyaan Robby. Praktis, pandanganku kembali padanya.


"Maksud Anda ... Nyonya Permaisuri?" jawab Robby. Tuan Ningrat tak menjawab, tapi mengedipkan mata.


Hem, gaya orang kaya dan orang biasa memang berbeda, tapi ... boleh juga untuk dijadikan karakter tokoh konglomerat novel baruku nanti. Gaya Tuan Ningrat asik, batinku ditengah kepanikan yang melihat ada sebuah peluang. Kuamati gerak-gerik Tuan Ningrat dalam diam.


"Bukankah ... Nyonya Permaisuri ada di rumah mendiang Aksara Roma? Bahkan ada polisi yang menjaga rumah," sambung Robby yang seperti mulai memainkan drama, karena sesungguhnya ia tahu ke mana perginya isteri bosku dulu.


"Jangan membodohiku, Robby Purnama. Teman-teman polisimu tak lagi menjaga rumah Aksara sejak kemarin sore. Permaisuri sudah tak menggunakan jasa pihak kepolisian lagi. Jangan kaukira aku tidak tahu," jawabnya kini melirik tajam ke arah kami berdua.


Jujur, dia yang tak melakukan banyak gerakan, bahkan bicara tanpa berteriak, tapi penuh penekanan, sudah membuat jantungku berdebar kencang. Seorang penguasa memang memiliki aura berbeda. Aku bisa merasakan tekanan batin yang kuat dalam diri Tuan Aksara saat harus berhadapan dengan mertuanya. Aku masih diam dan mempercayakan semua jawaban pada Robby.


"Jika benar Anda mengetahui semua, kenapa bisa datang kemari dan mencari keberadaan Nyonya Permaisuri?"


CEKLEK!


"Oh!" kejutku yang langsung melangkah mundur karena Robby menarik tanganku dan membuat tubuh ini berada di belakangnya.


Aku mulai waspada dengan mata memindai sekitar saat Tuan Ningrat mulai memperlihatkan kakinya ketika turun dari mobil. Seorang bodyguard dengan sigap membuka pintu mobil untuk tuannya. Kulihat Tuan Ningrat keluar dari kendaraan mewah itu dan menggenggam sebuah tongkat berkepala naga yang tampak berkilau seperti terbuat dari emas. Tuan Ningrat berdiri di depan kami dengan sorot mata tajam.


"Jangan mengujiku, Robby Purnama," tegasnya.


Robby menarik napas dalam.

__ADS_1


"Pihak manajemen masih bisa menghubungi puteri Anda pagi tadi sebelum acara press conferences. Permaisuri mengatakan jika ia tak bisa datang karena sakit. Itu saja yang kami tahu. Soal puterimu tak ada di rumahnya, kami tak tahu. Kenapa Anda tak mencoba meneleponnya saja?" tanya Robby tenang dan bicara hati-hati.


"Nyonya Permaisuri memblokir nomor Tuan Ningrat dan seluruh anggota keluarga," jawab seorang lelaki yang menunjukkan dirinya dari dudukkan tengah yang baru kusadari jika Tuan Ningrat ditemani.


"Anda ...," ucap Robby dengan kening berkerut seperti mengenali pria tampan berwajah tegas itu.


"Ya, dia calon menantuku," jawab Tuan Ningrat dengan dagu kembali terangkat dan dua tangan saling menumpu di atas kepala naga.


Oh ... ini calon suami yang digosipkan itu? Ganteng. Eh? batinku, tapi langsung kusadari jika malah memuji pria lain bukan suamiku. Astaghfirullah hal azim.


"Soal itu ... kami tak ingin ikut campur dan terlibat, Tuan Ningrat. Ini urusan keluarga Anda," jawab Robby menekankan, tapi ....


"Dan kini menjadi urusan keluargamu karena telah menyembunyikan keberadaan puteriku! Katakan di mana dia agar aku bisa segera pergi dari tempat ini, atau kau, ingin membuat masalah jika mempersulitnya, Robby Purnama," ucapnya mengancam.


"Dan Anda sebagai seorang Ayah telah lalai dalam tugasnya!" sahut seseorang yang berbicara lantang dari dalam rumah.


Praktis, mataku melotot dan spontan menoleh saat kudapati Bapak mertua keluar dari rumah dengan wajah garang yang tak pernah ia tunjukkan selama aku menjadi menantunya.


"Ba-Bapak?" panggil Robby sampai tergagap.


Mungkin dia juga kaget karena bapaknya tiba-tiba muncul dari dalam rumah. Kulihat Jelita dan lainnya mengintip dari pintu bersama yang lain. Namun, anak buah Tuan Ningrat seperti menjaga mereka agar tak keluar rumah. Hanya saja kok, Bapak bisa?


"Pak. Biar Robby saja yang selesaikan hal ini dengan Tuan Ningrat. Bapak masuk saja ke dalam bersama Alia," ucap Robby memandangi ayahnya lekat dan bicara pelan, tapi bisa kulihat jika mata Bapak menatap Tuan Ningrat tajam. Dua pria ini saling memandang dalam diam, tapi bisa kulihat bara api diantara keduanya.


Kurasakan ketegangan diantara dua pria dengan ukuran tubuh yang hampir sama ini. Bedanya, gaya Bapak seperti Pak Haji, sedang Tuan Ningrat, layaknya eksekutif karena memakai stelan ekslusif.


"Alasan seorang anak bisa sampai menutup diri dari keluarga, hanya satu. Dia kecewa. Permaisuri kabur karena hidupnya tertekan. Saya tahu hal ini saat melihat caranya berbicara dan bersikap ketika nama keluarga Ningrat disebut. Padahal itu hanya dari televisi acara gosip," jawab Bapak yang membuatku hampir tersenyum karena ucapan terakhirnya, meski memasang wajah garang.


Kulihat Tuan Ningrat menyipitkan mata masih menatap Bapak mertua tajam. Jantungku kembali berdebar kencang. Calon menantu Tuan Ningrat yang tak kuketahui siapa namanya berbisik. Ayah dari Permaisuri seperti mendengarkan apa yang disampaikan olehnya dengan serius karena setelahnya, Tuan Ningrat mengangguk.


"Telepon Permaisuri sekarang dan tanyakan keberadaannya," pinta Tuan Ningrat.


"Saya tidak mendengar kata tolong," sahut Bapak memasang wajah malas.


"Tolong," pinta si calon menantu sopan.


Saat Robby akan mengeluarkan ponselnya, Bapak menahan tangan suamiku. Aku dan Robby spontan menoleh ke arah Bapak karena malah dirinya yang mengambil ponsel dari salah satu saku celana.


"Berapa nomornya?" tanya Bapak yang ternyata mengajukan diri.

__ADS_1


Namun, Tuan Ningrat diam. Mataku menyipit karena menduga sesuatu. Dan ternyata, Bapak juga berpikir demikian.


"Nomor hp anak sendiri gak tahu? Saya saja hapal nomor hp tiga anak saya termasuk saudara dan saudari lainnya, bahkan nomor ponsel Alia. Apa Anda tak sadar, hal sepele seperti ini saja diabaikan? Pantas jika Permaisuri pergi karena ia merasa tak dipedulikan. Seharusnya Anda peka sebagai Ayah," sindir Bapak yang menatap tajam ke arah Tuan Ningrat.


Bisa kulihat napas Ayah Permaisuri menderu dan semakin kuat meremat tongkat kepala naga.


"08 ...," sahut si calon menantu yang ternyata hafal nomor Nyonya Permaisuri.


Bapak dengan cekatan menekan nomor-nomor itu di ponselnya. Beliau bahkan men-speaker panggilan itu seperti ingin menunjukkan sesuatu.


"Ya, halo?" jawab seorang pria yang membuat kami semua terkejut, termasuk Bapak.


"Ya, halo. Maaf, apa benar ini nomor Permaisuri?" tanya Bapak ramah meski wajahnya tegang.


"Oh ya, Pak. Dulunya. Namun, Ibu cantik itu sudah menjualnya kepada saya termasuk ponsel," jawab pria tak kami kenal terdengar santai.


Tiba-tiba, Tuan Ningrat merebut ponsel Bapak dengan tergesa. Bapak kaget, tapi ia seperti paham dengan kondisinya. Bapak membiarkan ponselnya digunakan meski berwajah sebal.


"Di mana Puteri saya?" tanya Tuan Ningrat dengan pandangan tak menentu.


"Sebentar. Apa ... Anda Ayah dari si Ibu cantik dengan rambut sebahu yang menjual ponsel dan nomor ini kepada saya?" tanya pria itu terdengar sedikit gugup.


"Ya, saya ayahnya. Di mana puteri saya?"


"Oh, sebentar. Saya sempat mencatat pesan dari puteri Bapak sebelum ia pergi," jawab pria yang membuat kami semua berwajah tegang. "Nah ketemu. Ini, Pak. Tadi anak Bapak sempat meninggalkan pesan yang bilang,' kalau Ayah saya yang bernama Ningrat menelepon, katakan padanya. Saya dan anak-anak pergi. Tak ada niatan bagi kami untuk kembali. Maaf, tapi kami sudah cukup hidup dalam tekananmu. Kami bukan boneka yang tak memiliki perasaan. Semoga Ayah selalu sehat. Salam sayang dari P, G, D. Selamat tinggal.' Maaf, Pak. Namun sepertinya, masalah keluarga Anda cukup rumit. Sebaiknya segera diselesaikan. Itu saja yang bisa saya sampaikan dan tolong, jangan sangkut pautkan hal ini dengan saya dan keluarga. Saya tidak tahu ke mana anak Anda pergi."


Mata Tuan Ningrat melebar. Pria itu menutup panggilan teleponnya. Kulihat Tuan Ningrat seperti akan roboh karena calon menantu langsung memegangi dua lengannya kuat. Bapak dengan sigap merebut ponselnya dan memasukkan dalam saku. Aku bingung dengan kondisi ini, tapi tampaknya ... Tuan Ningrat seperti akan menangis.


"Maaf, tapi ... kami mohon diri dulu. Terima kasih atas bantuannya. Sampai jumpa," ucap si calon menantu seperti akan berpamitan.


Namun, saat Tuan Ningrat didudukkan di bangku tengah mobil, tangan kanannya terjulur seperti ingin menggapai Bapak mertua. Aku terkejut termasuk Robby. Namun, Bapak tampaknya menyadari hal itu. Beliau mendekat ke arah jendela mobil samping Tuan Ningrat duduk.


"A-apa yang harus saya lakukan sebagai seorang Ayah agar puteriku kembali?" tanyanya yang cukup mengejutkanku.


Bapak tersenyum tipis dan menyambut uluran tangannya. Bapak menggenggam tangan Tuan Ningrat dengan dua tangannya.


"Anak adalah harta terbesar bagi semua orang tua. Kasih sayang mereka yang membuat kita bahagia. Anda menggantikan semua cinta yang Permaisuri berikan selama ini dengan kekuasaan, kekayaan, tekanan, dan harga diri. Jadi ... relakanlah apa yang sudah Anda tukar. Berdoalah agar hati puterimu terbuka dan dituntun kembali pada keluarga," ucap Bapak yang membuatku cukup terkejut.


Benar saja, perkataan Bapak membuat Tuan Ningrat menangis. Baru kali ini kulihat pria seperti beliau sampai memejamkan mata dengan air mata menetes meski suara isak tangisnya tak terdengar. Tuan Ningrat mengangguk seraya menarik tangannya ketika Bapak merenggangkan dekapannya. Jendela mobil samping Tuan Ningrat tertutup dan mobil mewah itu melaju meninggalkan rumah disusul oleh kendaraan lain yang mengawalnya.

__ADS_1


***


uhuy bonus jumlah kata 701 dari tips koin jeng Alia. tengkiyuw ❤️ lele padamu💋


__ADS_2