The Ghost Writer

The Ghost Writer
Ancaman Aksara Roma


__ADS_3

Kutengok puteriku dan terlihat ia masih betah dengan dunianya. Pelangi memang anak yang manis dan tak banyak menuntut. Ia bisa bermain sendiri tanpa harus ditemani. Ia asyik berceloteh dengan mainan-mainannya dan seperti memiliki teman imajinasi.


Bapak yang tampaknya sudah puas dengan kisahku lalu beranjak menuju dapur. Pelangi ikut berdiri saat melihat kakeknya pergi dan ia mengikutinya. Aku yang penasaran ikut membuntuti. Ternyata, hal lucu dilakukan oleh Pelangi dan Bapak mertua.


"Puding? Di mana pudingnya?" tanya Bapak saat Pelangi menarik celana Bapak di mana cara berjalannya masih tak stabil, tapi Pelangi tampak percaya diri tanpa didampingi.


"Itu, di situ," jawabnya seraya menunjuk lemari es.


Aku tersenyum di balik dinding saat melihat Bapak penuh perhatian mengambilkan puding mangga dalam wadah untuk cucunya dan sendok plastik. Pelangi lalu kembali berjalan menuju karpet. Aku segera kembali ke sofa dan berpura-pura tak melihat apa yang terjadi.


"Mama, puding," ucapnya imut lalu duduk di karpet.


"Dihabisin ya. Jangan lupa habis makan puding lalu minum. Nanti cegukan," ucapku.


Pelangi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia juga ikut menyuapi boneka-boneka yang menjadi teman bermainnya. Tentu saja aku terkekeh karena menganggap hal ini lucu. Namun, perasaan sedih ikut menghampiri saat teringat Ayah dan Ibu.


"Seandainya Nenek dan Kakek masih hidup, pasti mereka akan sangat bahagia bermain denganmu, Nak."


"Jangan disesali. Itu takdir Allah. Bersyukurlah dengan apa yang sudah berhasil kaucapai sampai sejauh ini," ucap Bapak yang ternyata mendengar keluhanku.


Aku mengangguk pelan karena hal itu benar adanya. Ternyata Bapak mengambil cemilan biskuit kelapa dan juga susu tulang kemasan untuk menemaninya. Bapak kembali menatapku dan memberikan kode dengan sentakan kepala. Aku yang bingung balas menatap Bapak lekat.


"Dilanjutin. Yang soal bukumu udah ketemu, tapi belom berhasil kamu ambil. Kamu belum ceritain bagian itu," ucapnya.


Aku spontan tersenyum karena ternyata Bapak masih menagih kisahku. Tak ingin bertele-tele dan takut membosankan, kulangsung saja bercerita ke bagian ketika berusaha untuk mengambil buku itu. Bapak menusuk kemasan dengan sedotan dan segera meminum susu tulangnya. Beliau lalu mengambil satu buah biskuit kemudian mengunyahnya. Bapak sudah mengisi amunisinya dan terlihat siap layaknya menonton film di bioskop.


Siapa sangka, novel pertamaku berhasil menarik minat pembaca yang gemar membeli buku. Aku yang tak pandai berpromosi, dibantu oleh Agatha untuk menjualnya. Ia menawarkan novelku kepada kawan-kawannya sehingga banyak buku yang terjual. Terlebih, dia memberikan harga khusus tak seperti harga di toko-toko. Hanya saja, buku yang ia jual terbatas. Hanya 10 buah saja. Ia sengaja agar saat yang lain ingin membeli, mereka dipaksa untuk ke toko. Rencana Agatha berhasil dan membuat bukuku menjadi laris manis.


Namun, hal baik itu juga dibarengi dengan kecurigaan Aksara Roma. Permaisuri yang lebih menyukai aku bekerja di rumah kontrakan ketimbang harus datang ke rumahnya, membuat Tuan Aksara memintaku datang hari itu. Aku yang menanti momen agar bisa mengambil bukuku tak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Kudatang ke rumahnya dan mata ini langsung membidik laci meja kerja yang menyimpan bukuku.

__ADS_1


"Alia. Kamu udah tau belum jika ada penulis baru bernama Pena?" tanyanya yang tentu saja mengejutkanku. Pikiran buruk langsung mendatangiku. Kucoba untuk tetap tenang karena takut dicurigai atau malah sudah ketahuan. Saat itu, aku hanya bisa berdoa dan semoga bisa pulang dengan selamat ketika keluar dari rumah Aksara Roma.


"Ya, Tuan. Kudengar bukunya laris manis. Ada apa?" tanyaku penasaran.


"Beli buku itu satu. Aku ingin membacanya," pintanya dengan wajah serius.


"Saya ada, Tuan. Kebetulan saat itu sedang promo dan juga penasaran. Jadi saya membelinya satu," jawabku gugup.


"Oh! Kau membawanya?" tanyanya seperti terkejut. Aku mengangguk.


Kuambilkan buku tersebut di mana novel itu memang dikhususkan untukku. Hanya saja, saat akan kuserahkan, baru kusadari jika yang kulakukan ini adalah sebuah bentuk kecerobohan. Aksara menatap buku novelku lekat yang masih kugenggam. Jantungku berdebar kencang dan ketakutan mulai menyerangku.


"Alia?" panggilannya yang membuatku terperanjat karena sepertinya melamun. "Bukunya," pinta Aksara seraya menyodorkan tangan kanan.


Dasar bodoh! Bagaimana ini? Bagaimana jika ketahuan aku penulisnya. Ya Allah tolong hambamu ini, batinku seraya memberikan buku itu dengan ragu kepada Aksara.


Tuan Aksara menerimanya dan langsung membuka halaman novel dengan tergesa. Ia memintaku untuk kembali ke meja kerja dan menyelesaikan tahap akhir kisah untuk novel terbarunya. Aku berjalan dengan gelisah. Aku tak bisa konsentrasi dalam bekerja. Mataku selalu melirik ke arah Tuan Aksara karena penasaran bagaimana reaksinya sebab wajah beliau tampak serius.


"Mau ke mana? Kenapa kamu ngeliat suamiku kaya gitu? Jangan kamu kira aku gak tau ya. Kamu suka sama Aksara?" tanyanya yang membuatku terkejut karena tuduhannya salah besar. Dengan cepat kumenggeleng, tapi Nyonya Permaisuri seperti tak percaya. "Alah, gak usah boong. Aku tau dari caramu ngeliat suamiku. Dasar gak tau diri. Dipekerjakan malah main curang. Oh, aku tau. Kamu sengaja minta pekerjaan sama Aksara karena nge-fans sama dia. Wajar, suami aku ganteng, kaya, dan terkenal. Mudah aja bikin cewek kampung kaya kamu terpesona sama kharismanya," ucapnya yang membuatku shock karena tak ada satu pun dari perkataan Permaisuri benar adanya. Aku masih diam. "Mulai hari ini, kamu dipecat. Gak usah dateng lagi ke rumah ini. Hapus nomor Aksara, blokir nomornya. Awas aja kalau kamu berani nemuin atau hubungi dia lagi. Aku gak segan lapor ke polisi!" ucapnya mengancam.


Sungguh, aku tak tahu bagaimana menyikapi hal ini. Namun, permintaan Permaisuri membuat perasaanku lega. Dengan demikian, aku bisa terbebas dari belenggu Aksara Roma dan bisa menjalani kehidupan sebagai seorang novelis sungguhan. Mungkin, kami harus bersaing, tapi bagiku bukan hal besar malah seperti tantangan. Murid melawan guru. Hehe.


Permaisuri memintaku segera mengemasi barang. Ia mengunciku di dalam saat mengatakan akan memberikan uang sebagai imbalan atas pekerjaanku. Ia memintaku menunggu di ruangan sampai kembali. Aku yang melihat kesempatan bergegas mendatangi meja Aksara.


Ternyata benar, laci itu dikunci. Saat itu, kuberpikir jika inilah kesempatan terakhir mengambil buku karena tak mungkin bisa kembali lagi. Terpaksa, kucongkel laci itu dengan benda-benda yang kutemukan di ruangan. Hingga akhirnya, sebuah sendok dan penggaris besi bisa membuat laci itu terbuka.


GREKK ....


Praktis, senyumku terkembang. Kuambil buku yang selama ini kucari. Kupeluk karena sangat merindukannya, tapi aku yang sadar jika tak memiliki banyak waktu segera kututup laci. Aku berjalan tergesa ke mejaku lalu memasukkan buku itu ke dalam tas. Tubuhku bergetar hingga keringat rasanya bercucuran. Hingga akhirnya, CEKLEK!

__ADS_1


Aku terkejut saat Permaisuri membuka pintu ruangan dan mendatangiku dengan wajah iblisnya. Ia melemparkan sebuah amplop cokelat di atas meja yang dilipat dan diikat dengan karet gelang. Aku menerimanya dengan gugup dan tak berani menebak berapa isinya. Namun, kuangguki dalam diam sebagai ucapan terima kasih.


"Cepet pergi dan jangan kembali lagi. Aku gak main-main dengan ancamanku," tegasnya.


Aku mengangguk dan segera memasukkan amplop itu dalam tas dengan tergesa. Kuberanjak dari meja kerja dan kubiarkan saja pekerjaan terakhir berserakan di sana. Aku langsung berjalan dengan terburu-buru saat melewati koridor lalu keluar dari rumah Aksara. Namun, siapa sangka, Tuan Aksara yang sedang duduk di bangku taman menyadari keberadaanku. Ia memanggilku dan meminta agar mendatanginya. Aku yang panik dan ingin segera pergi, tak kuindahkan ucapannya. Aku berlari keluar dari rumahnya begitu saja.


"Alia! Alia!" panggilnya lantang, tapi aku enggan menoleh, berbalik apa lagi menghentikan laju lariku.


Napasku tersengal dan tak tahu apakah Tuan Aksara mengejar atau tidak. Kudatangi pangkalan ojek dan meminta diantar ke sebuah cafe di mana ingin kuceritakan hal ini kepada sahabatku, Agatha Fanny mengenai alasan sebenarnya aku menjadi ghost writer Aksara Roma. Hanya saja, saat aku menghubungi Agatha ketika tiba di cafe pilihanku, ia sedang berada di luar kota karena urusan kantor. Aku memahami kesibukannya dan hanya bisa duduk dengan jantung berdebar kencang. Kucoba menenangkan diri seraya menikmati hot chocolate dan juga potongan kue brownies hangat.


"Semua sudah selesai. Urusanku dengan Aksara selesai. Aku harus segera menghilang agar tak ditemukan olehnya. Toh yang mengusirku Permaisuri. Aku menerima uangnya dan tentu saja akan kugunakan," gumanku pelan lalu membuka isi amplop cokelat tersebut.


Tak kuduga, Permaisuri memberikan pesangon 10 juta rupiah. Mungkin sedikit bagi wanita kaya seperti dia, tapi banyak bagi orang biasa sepertiku. Aku berencana untuk menyimpan uang itu melalui fasilitas setor tunai mesin ATM yang berada dekat dengan cafe tempatku beristirahat. Usai menenangkan hati dan mengganjal perut, kusegera pergi ke ATM untuk menyimpan uang tersebut.


Sore itu, aku baru kembali ke kontrakan. Namun, siapa sangka, kudapati Tuan Aksara sedang berbicara dengan tetanggaku entah apa yang ia tanyakan. Aku yang panik langsung berlari menghindar dengan jantung berdebar kencang. Kusengaja bersembunyi masih di sekitar kampung hingga kulihat mobil Aksara melintas meninggalkan wilayah tempat tinggalku. Aku yang penasaran segera kembali. Ternyata, tetanggaku masih berada di luar sedang menyuapi anaknya di hari menjelang petang.


"Permisi, Ibu," panggilku sopan.


"Eh, Alia. Wah, baru aja orang yang cari kamu pergi. Namanya Aksara. Katanya dia bosmu. Tadi ke sini mau nemuin kamu, tapi Ibu bilang kalau kamu belum pulang," jawabnya yang memberikan banyak informasi.


"Oh gitu," jawabku berlagak tidak tahu. "Emang, Bos Alia cari sampai ke rumah ada apa ya? Cerita ke Ibu gak?" tanyaku memancing.


"Katanya kamu suruh cek email karena nomormu gak bisa dihubungi. Dia bilang ini penting karena urusan pekerjaan," jawabnya serius.


Aku mengangguk paham dan segera membuka ponsel. Aku berpamitan dan bergegas masuk ke rumah untuk mencari tahu apa yang membuatnya seperti membutuhkanku dengan mendesak. Saat kududuk di pinggir kasur, pesan masuk dari Aksara ada di sana. Kumembukanya dengan jantung berdebar karena penasaran. Namun, isi email-nya langsung membuat mataku melotot. Aku yang gemetaran membuat ponselku jatuh di lantai dengan keras.


"A-apa isi email-nya, Al?" tanya Bapak yang ikut berwajah tegang.


"Aksara tahu kalau Alia adalah penulis bernama Pena. Aksara juga tahu jika Alia mencongkel lacinya dan ambil buku yang ia temuin beberapa tahun lalu. Aksara ... dia ancam Alia untuk kembaliin buku itu dan meminta untuk berhenti menjadi penulis seperti dirinya. Kalau Alia nekat, dia bakal lakuin sesuatu yang bikin hidup Alia menderita," jawabku yang kembali merasakan ketakutan itu padahal kejadian tersebut sudah berlalu.

__ADS_1


Bisa kulihat Bapak ikut tegang seolah itu baru saja terjadi. Kami saling diam dan aku tak tahu apa yang dipikirkan Bapak tentang kisahku.


__ADS_2