The Ghost Writer

The Ghost Writer
Sebuah Peluang Dari Kawan Baru


__ADS_3

Tentu saja pertanyaan Agatha membuatku kehabisan kata-kata. Aku yang memang pandai merangkai kata melalui tulisan, tak bersinkronisasi dengan mulut dalam hal seperti ini. Aku tak bisa berimprovisasi apalagi berakting seolah pertanyaan itu bukan hal besar padahal penuh jebakan. Kucoba memikirkan jawabanku dengan matang karena khawatir akan menjadi boomerang di kemudian hari.


"Memang yang Mbak Fanny pikirkan tentang saya apa?" tanyaku sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Agatha tersenyum miring. Ia melipat dua tangan depan dada lalu menatapku lekat.


"Aku hanya menyayangkan saja. Jika benar itu adalah karyamu, kenapa tak menerbitkan sendiri? Hem, biar kutebak. Bukannya sok tahu, tapi ... kulihat kau orang yang sepertinya kurang percaya diri. Mungkin karena itulah kau memilih menjadi bayangan. Kau takut karyamu tak mendapatkan tempat di hati para pembaca. Atau mungkin kau juga tak tahu bagaimana mempublikasikan karya sehingga memilih untuk menjual ceritamu kepada orang lain yang notabene memang berprofesi sebagai penulis. Atau ... kau memang memilih untuk menjadi semacam ghost writer karena lebih nyaman dengan menyembunyikan jati diri secara misterius. Kau tak ingin dikenal, dianggap sebagai orang biasa yang tak memiliki keahlian, dan yah, intinya ... tertutup. Jadi ... mana dari tiga contoh yang kusebutkan di atas sebagai cerminan dirimu?" tanya Agatha yang membuatku merasa tertohok.


Aku yang merasa terpojok akhirnya membuat keputusan paling singkat dan sulit dalam hidupku. Kusampai memejamkan mata dan pada akhirnya berani menatap Agatha yang terus memandangiku seperti menunggu jawaban.


"Semua yang Mbak Fanny katakan benar tentang saya. Bukan salah satunya, tapi semuanya," jawabku jujur.


Namun, ekspresi Agatha tak seperti yang kuduga. Ia tampak terkejut sampai mencondongkan tubuhnya ke arahku lagi. Aku yang awalnya berpikir akan dicela, disindir, dan mendengar hal buruk lainnya ikut tertegun.


"Mau sampai kapan berada di belakang Aksara Roma? Kalau kau memang ingin menjadi sepertinya, aku siap bantu. Jarang-jarang aku kasih penawaran ke orang lain. Terlebih, aku baru kenal sama kamu. Namun kulihat, kau memiliki potensi setelah membaca dua karya terakhir Aksara Roma. Menjadi penulis novel genre action gak gampang. Jadi ... kalau kau ingin keluar dari bayang-bayang Aksara Roma dan maju dengan namamu sendiri, aku dukung. Aku memiliki banyak kenalan yang bisa bantu. Untuk sekarang, aku yakin kau butuh waktu untuk memikirkan hal itu. Jadi, ini kartu namaku. Hubungi aku saat kau sudah siap untuk lepas dari belenggu Aksara Roma," ucap Agatha semangat seraya menyodorkan sebuah kartu nama ke hadapanku. Kuterima dengan gugup dan membacanya dengan saksama tiap tulisan yang tertera di sana.


"Makasih Mbak Fanny atas kesempatannya. Akan kupikirkan baik-baik saat sudah di rumah nanti," jawabku seraya memegang kartu nama itu erat.


Agatha tersenyum dengan anggukan. Ia lalu memanggil petugas dan meminta tagihan. Agatha membayar makan malamku juga. Lalu kami kembali ke bangku usai menyelesaikan pembicaraan itu.


"Aku ngantuk banget. Jadi ... tidur dulu ya," ucap Agatha seraya menarik selimut yang ia sewa dari jasa kereta api.


Aku mengangguk dan melihat Agatha dengan cepat tertidur karena kepalanya sampai miring ke sandaran meskipun ada bantal yang menopangnya. Kubaca tulisan dari kartu nama itu. Kufoto dengan kamera ponsel sekaligus memasukkan nomornya. Malah, selama perjalanan panjang melelahkan dan membosankan itu, aku memikirkan dengan serius penawaran Agatha untuk menjadikanku penulis yang sesungguhnya seperti Aksara Roma. Namun, aku merasakan sebuah masalah baru akan datang jika benar mimpiku bisa terwujud.


Bagaimana caraku mengakali tanpa membuat Aksara tahu jika kumenjadi sepertinya? Selain itu, bukuku belum ditemukan. Alasan aku bekerja padanya menjadi ghost writer karena bukuku yang hilang dan ditemukan olehnya. Kupikirkan dengan serius beberapa kemungkinan buruk dan hal-hal yang harus kulakukan jika benar ingin menjadi seorang penulis novel cetak.


Lama perjalanan selama 8,5 jam ternyata mampu membuatku mengambil keputusan bahkan sebelum kereta berhenti di Stasiun Gambir Jakarta. Agatha yang telah bersiap usai ia bangun dan merapikan penampilannya di kamar mandi gerbong kereta, tampak terkejut dengan jawabanku tepat 1 jam sebelum kereta tiba di stasiun terakhir.


"Hem, aku senang kau cepat membuat keputusan, Alia. Sudah terlalu lama kau berada di balik bayangan Aksara Roma. Jika kau memang tak mencari kekayaan dari hasil karyamu, tapi lebih ingin dihargai dan diakui, kurasa niatan baikmu akan lebih cepat terwujud. Mayoritas di zaman sekarang, ketenaran dan uang adalah hal utama agar bisa meraih kesuksesan. Jarang sekali kubertemu dengan orang yang memang melakukan suatu pekerjaan karena murni dari hobi dan kesukaannya dalam dunia itu. Rata-rata, mereka mengikuti tuntutan zaman dan tahu jika mendapatkan banyak uang dari jenis pekerjaan itu," ucap Agatha saat kuutarakan kesediaanku untuk menjadi penulis novel cetak layaknya Aksara Roma melalui cara yang ia sampaikan.

__ADS_1


"Makasih ya, Mbak Fanny," jawabku sungkan.


Antara bahagia, tapi juga was-was karena khawatir jika aku dianggap pengkhianat karena memanfaatkan popularitas Aksara Roma. Agatha lalu memintaku pulang dan menunggu telepon darinya usai mengirimkan pesan singkat dari nomor ponselku. Kumengendarai taksi sampai ke rumah kontrakan yang kini berdekatan dengan kediaman Aksara Roma. Kususuri jalan kampung hingga ke rumah.


Kawasan yang cukup padat, membuatku membeli banyak oleh-oleh karena mereka tahu jika aku tugas keluar kota, tapi tak pernah jujur dengan jenis pekerjaan. Aku mengatakan jika bekerja sebagai freelancer sebuah event organizer yang menaungi acara-acara sampai keluar kota. Bagi para tetangga, hal itu cukup keren karena seperti piknik. Padahal kenyataannya, aku malah diperbudak.


Kuberikan satu per satu oleh-oleh khas dari beberapa kota yang menjadi persinggahan dalam acara tour novel Aksara Roma kepada para tetangga terdekat. Mereka terlihat senang atas pemberian cemilan yang sebenarnya tak seberapa. Namun, melihat tetanggaku penuh suka cita menerimanya, hatiku yang awalnya kesal jika teringat akan Aksara menjadi sejuk kembali.


Keesokan harinya, Agatha menghubungiku dan meminta bertemu di sebuah cafe. Aku yang tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan penasaran dengan apa yang akan ia lakukan untuk menolongku datang lebih awal agar tak terlambat. Ternyata, Agatha tipe orang yang juga menghargai waktu. Malah, kami berdua tiba bersamaan saat tak sengaja bertemu di depan pintu masuk cafe.


"Wah, kayaknya kita emang cocok ya," ucap Agatha saat ia akan menarik pintu cafe dan aku muncul dari trotoar usai menyeberang.


Agatha membukakan pintu untukku. Kami berdua segera duduk di sebuah meja kosong dengan dua kursi sofa di sana. Lagi-lagi, Agatha mentraktirku. Jujur, aku malah jadi tak enak hati, tapi ia sepertinya cuek saat mengeluarkan lembar demi lembar uangnya untuk memanjakan lidah serta perutku.


"Jadi gini, Al. Menurut kenalanku, dia pengen liat dulu hasil tulisanmu. Aku cuma bilang kalau selama ini pekerjaanmu sebagai ghost writer. Aku gak sebut nama Aksara Roma demi keamanan kalian berdua. Lalu dia minta, agar kamu buat satu buah cerita fiksi sesuai dengan keahlian. Nah, lalu ini, aku sudah print permintaan dari penerbit tentang apa saja yang harus kamu siapkan saat penyerahan naskah," ucap Agatha seraya memberikan padaku lampiran berupa kertas tersebut.


Yang pertama adalah sinopsis. Aku diminta menulis sinopsis dengan tepat. Sinopsis tidak boleh lebih dari dua halaman dan sinopsisku harus sudah merangkum isi naskah secara keseluruhan agar penerbit dapat menangkap garis besar naskah. Aku mengangguk pelan dengan jantung berdebar karena yang kubaca ini adalah sungguhan dari sebuah penerbit ternama. Yang kedua adalah proposal. Aku diminta menulis proposal singkat yang menjelaskan alasan dari penerbit untuk menerbitkan naskahku. Proposal yang kamu tulis harus kurang dari dua halaman. Selanjutnya adalah data diri. Data diri dapat berupa latar belakang, kompetensi yang aku miliki, maupun keterlibatan dalam suatu keanggotaan atau organisasi tertentu. Untuk poin ketiga, aku tak memilikinya. Kulirik Agatha yang pas sekali dia sedang mengamatiku.


"Ada apa?" tanya Agatha menatapku lekat.


"Mm, yang bagian ini, Mbak. Aku ... gak punya komunitas dan sejenisnya," jawabku seraya menunjuk pada bagian dalam lembar kertas pemberiannya. Agatha melongok, tapi kemudian tersenyum.


"Oh itu. Urusan gampang. Itu nanti jadi tugasku. Kamu siapin aja yang diminta selain bagian itu," jawabnya santai.


Jujur, aku merasa lega dengan ucapannya barusan seolah dia memang memiliki kewenangan dalam usahanya untuk membantuku. Namun, aku tak bisa kagum padanya saat ini karena yang kubutuhkan adalah bukti, bukan janji. Dan pada paragraf selanjutnya, penerbit akan me-review naskahku selama kurang lebih dua bulan. Jika dalam kurun waktu itu aku belum menerima feedback apa pun dari penerbit, aku diizinkan mengirimkan naskah tersebut ke penerbit lain, karena naskah yang tidak diterima tidak akan disimpan oleh penerbit lamaranku. Praktis, nyaliku ciut seketika. Pandanganku spontan tertunduk dan tanganku langsung lemas. Entah kenapa aku langsung pesimis karena takut ditolak.


"Hem, aku bisa tahu dari ekspresi itu. Seperti kataku, kau itu tipe orang yang gak pedean. Jujur, Alia. Sifatmu yang seperti itu akan merugikanmu di masa depan. Kau dengan mudah ditindas. Kau pulang lebih cepat dari jadwal padahal tour Aksara baru berakhir seminggu lagi. Bali dan Kalimantan adalah tujuan terakhirnya, tapi kau tak ikut ke sana. Katakan padaku alasanmu kenapa pulang lebih dahulu," tanya Agatha yang sepertinya memiliki profesi lain sebagai dukun.


"Ya, begitulah. Sejauh ini yang kaukatakan tentang diriku adalah benar, Mbak Fanny. Hanya saja, sepertinya butuh waktu yang sangat lama agar aku bisa keluar dari zona ketakutan itu. Maaf, jika mentalku tak siap dengan hal ini," jawabku lesu.

__ADS_1


"Oleh karena itu, kamu butuh orang kaya aku. Sifat kita memang bertolak belakang, tapi dengan itu, kita bisa jadi teman atau bahkan tim yang solid. Mulai sekarang, anggap aku sebagai temanmu. Teman nemu di kereta. Itu aja dulu, gak usah pikirin yang lain," jawabnya santai yang membuatku terkekeh. "Jadi ... berapa lama kira-kira kamu akan menyelesaikan permintaan dari penerbit?"


Aku menarik napas dalam dan mencoba berpikir keras.


"Aku ada hutang satu karya kepada Tuan Aksara dan sekarang masih dalam tahap pengerjaan. Aku harus mencari ide baru dan sepertinya, akan sedikit lama. Maaf jika mengecewakan," ucapku, dan Agatha mengangguk paham.


"Hem, tahun depan siap?" tanyanya. Kuangkat kepala dan mengangguk pelan. Agatha tersenyum seraya menyuapi mulutnya dengan potongan terakhir kue warna merah itu. "Begitu selesai, segera email ke aku hasil tulisanmu itu. Akan kuserahkan langsung ke kawanku yang mengurusi review naskah dari para penulis. Banyak-banyaklah berdoa agar lolos dan bisa diterbitkan nantinya. Dan tugasku, juga berusaha meyakinkan teman-teman di penerbit jika karyamu memang layak untuk disandingkan dengan penulis sekelas Aksara Roma. Jangan hilangkan kesempatan ini, Alia. Oke?" ucapnya tegas, dan aku mengangguk siap.


Siang itu, kuhabiskan waktu dengan Agatha untuk bercerita banyak hal. Siapa sangka, dibalik wajahnya yang cantik dan berkesan tegas, dia wanita yang baik hati serta memiliki banyak pengetahuan. Sayangnya, ia belum menikah. Bukannya tidak mau, tapi katanya banyak para lelaki yang minder padanya padahal Agatha tak pernah menunjukkan sisi dominan apalagi menggurui para pria yang sedang dekat padanya.


Kedekatan kami makin akrab saat tak bicara formal lagi seperti awal bertemu, tapi sudah menggunakan bahasa informal layaknya sudah berkawan lama.


"Daripada gue stres mikirin jodoh, mending gue perkaya otak dan isi dompet untuk masa depan," ucapnya yang sudah menggunakan bahasa keseharian di kota Jakarta, bahkan aku memanggilnya tak lagi menggunakan 'Mbak' cukup Fanny saja.


"Mm, Fanny, makasih ya. Aku seneng ketemu sama kamu. Aku merasa memiliki teman perempuan. Kamu kaya cenayang yang bisa tahu isi pikiranku tanpa harus kuucapkan," kataku dengan sungkan.


"Gue juga. Ternyata ... dibalik wajah lugu dan kepolosanmu, Alia orang yang pintar dan sangat baik hati," ucapnya yang membuatku tersipu malu.


Agatha yang memiliki kendaraan pribadi, mengantarkanku ke rumah kontrakan. Jujur aku malu karena merasa tempat tinggalku biasa saja. Namun, dia tampaknya cuek bahkan mengatakan pernah mendatangi komplek tempat tinggal yang lebih parah dari kawasanku karena meliput sebuah kejadian di sana.


"Oke deh, gue pulang ya. Ada janji lagi sama temen. Jangan lupa, kerjain begitu ada waktu. Udah cukup kamu bekerja untuk bosmu itu. Saatnya tunjukin diri kalau kamu mampu. Ada gue yang bakal dukung sampai kamu sampai bisa ke puncak itu," ucap Agatha yang membuat senyumku terkembang.


Agatha pulang usai mengantarkan aku pulang ke rumah. Ucapannya membuat semangatku membara. Malah, aku langsung menemukan sebuah ide baru. Kutinggalkan tugasku yang seharusnya merampungkan ide cerita untuk novel berikutnya bagi Aksara Roma. Namun, sengaja kutunda mumpung ide cerita baruku masih fresh di otak yang nantinya kuharap lebih memuaskan ketimbang cerita Roger.


***



puanjang nih naskahnya biar cepet selesai. semoga kelar di minggu ini biar lele bisa ngebut di King D. hehe. tengkiyuw tipsnya bsk lagi ya😆 lele padamu😘

__ADS_1


__ADS_2