The Ghost Writer

The Ghost Writer
Pamit


__ADS_3

Aku yang penasaran dengan alasan Nyonya Permaisuri datang ke rumah, segera kutemui. Ternyata, wanita cantik itu datang bersama dua orang anaknya. Robby tampaknya sengaja menjauhkan keluarga Permaisuri dari keluarganya karena dirasa akan ada pembicaraan penting diantara kami berlima.


"Ngobrolnya di sini saja ya. Maaf kalau rumah saya sempit," ucap Robby saat mengajakku duduk di sofa teras belakang yang bisa ditutup dengan pintu geser dari kaca.


"Santai aja, Mas Robby," jawab Nyonya Permaisuri dengan senyuman. Kulihat wajah Ibu dan dua anak itu tegang entah apa yang mereka pikirkan.


"Ada apa, Nyonya?" tanyaku penuh selidik.


"Kami sudah memutuskan untuk keluar dari keluarga Ningrat. Kami sudah tak tahan, Alia. Meskipun Ayah tak mengirimkan orangnya, tapi dia tak berhenti meneror keluargaku. Aku capek, Al. Aku tak sanggup lagi. Jadi, ini bukan nekat, tapi memang sudah keputusan bulat kami bertiga. Dan kami harap, kamu bisa mengerti dan mendukung keputusan ini," ucap Permaisuri yang tentu saja membuatku bingung.


"Lantas, Anda dan anak-anak mau pergi ke mana?" tanya Robby yang sepertinya memahami kondisi keluarga almarhum Aksara Roma dengan cepat.


"Ke luar negeri, Om. Dewa udah urus semuanya sebelum pulang ke Indonesia. Dewa punya kenalan yang bisa bantu agar keluarga kakek gak usik kehidupan kami setelah keluar dari kehidupan Ningrat. Kami sudah siap hidup susah dan memulai dari nol. Sudah cukup kami tertekan. Cukup Ayah saja yang jadi korban," sahut Dewa yang membuatku terkejut.


"Pergi ke mana lebih tepatnya," tanyaku ikut menimpali.


Namun, tiga orang itu menjawabnya dengan senyuman.


"Kami datang untuk berpamitan. Rumah Aksara juga sudah aku tawarkan kepada teman dan ia berniat untuk membelinya tanpa sepengetahuan Ayah. Uangnya sebagai bekal kami hidup nanti di luar negeri sana," jawab Nyonya Permaisuri yang malah membuat jantungku berdebar.


Tiba-tiba saja, wanita berambut sebahu itu memegang tanganku. Bisa kurasakan ia seperti gugup meski senyumnya terkembang.


"Aku minta maaf kalau selama ini bersikap buruk padamu. Mungkin, hal itu terbawa karena kebiasaan dalam keluarga. Namun, aku sekarang sudah cukup tua untuk tetap mempertahankan sikap keras itu, Alia. Aku sadar jika ucapan dan perilakuku menyinggung banyak orang tak cuma kamu. Oleh karena itu, aku ingin berubah dan meninggalkan semua meski terasa sakit karena banyak kenangan di negara ini khususnya saat aku dan keluarga kecilku masih bersama Aksara Roma. Jadi ... kamu mau 'kan memaafkan aku, Aksara, dan dua anakku jika kami pernah menyakiti perasaanmu?" tanya Nyonya Permaisuri menatapku lekat dengan mata berlinang.


Kupeluk dirinya dan kuelus punggungnya lembut. Kulepaskan perlahan dan kuberikan senyuman sebagai tanda aku memaafkan keluarganya.


"Terima kasih ya, Tante. Dari dulu, Tante baik banget sama keluarga kita," ucap Gendhis selaku anak perempuan Tuan Aksara.


"Ya udah, Al. Kami pamit mohon diri dulu. Jika takdir mempertemukan kita lagi, semoga kehidupan di masa mendatang lebih indah ketimbang tahun-tahun sebelumnya," ucap Nyonya Permaisuri seraya berdiri.


"Anda tak mau memberitahukan pada kami ke mana akan pergi?" tanyaku yang masih sulit melepaskan kepergiannya karena tiba-tiba.


"Semakin sedikit informasi yang kami berikan, itu akan lebih baik demi keamanan keluarga Tante dan Om. Terima kasih ya. Assalamualaikum," jawab Dewa lalu merangkul lengan ibunya.

__ADS_1


Aku mengangguk paham. Kami mengantarkan mereka menuju ke mobil di mana malam itu, sepertinya Nyonya Permaisuri menyewa jasa bodyguard untuk mengamankan keluarganya sampai ke tempat yang dituju. Kulambaikan tangan ketika tiga mobil itu keluar dari pekarangan rumah. Bisa kurasakan tangan Robby yang kekar merangkulku. Ia mengajak masuk ke dalam karena di luar sepertinya akan turun hujan. Langit bergemuruh dan udara dingin mengusik kulitku.


"Kita harus jaga rahasia ini bahkan kepada keluarga demi keamanan bersama. Oke, Sayang?" bisik Robby, dan aku mengangguk paham.


Namun, kedatangan keluarga Permaisuri tentu saja menarik perhatian keluarga Robby. Aku sudah mengantisipasi hal itu dengan beberapa jawaban meski terpaksa harus berbohong.


"Oh, mau pindah rumah keluar kota? Ya sih. Jelita juga bakal risih kalo diteror terus-terusan gitu meskipun sama Bapak kandung sendiri," ucap Jelita memaparkan pemikirannya.


"Nyindir Bapak nih?" sahut Bapak mertua seraya melirik puterinya sadis.


Praktis, wajah ayu Jelita berubah tegang seketika. Namun, beberapa orang terkekeh karena hal tersebut. Acara makan malam terbilang sukses dan tak ada pertanyaan kritis karena kedatangan Permaisuri. Pelangi yang sepertinya kelelahan, dengan cepat tertidur pulas begitu ia menikmati susu hangat dalam botol dot. Kucium pipinya yang menggemaskan meski tercium bau susu formula


"Apa sih, Mas?" tanyaku yang merasa risih karena berulang kali tangan Robby menggerayangi tubuhku saat kumenidurkan Pelangi.


"Aku juga mau disayang kaya Pelangi," pintanya manja, tapi malah membuatku ngeri.


"Ih! Aku kan lagi isi. Itu juga gara-gara kamu," jawabku yang sengaja memasang wajah angker, tapi tampaknya tak membuat Robby jera. Ia malah makin agresif dengan memeluk tubuhku erat. Aku tahu apa yang dia inginkan karena bisa kurasakan napasnya yang memburu dan sentuhannya tak ingin ditolak. "Ada Pelangi," bisikku saat ia dengan beringas menelusuri leherku dengan bibirnya dalam kegelapan kamar karena bersiap tidur.


"Makanya jangan berisik," jawabnya yang dengan sigap sudah meloloskan kain pengaman segitigaku.


"Itu pintunya udah dikunci belum?" tanyaku panik dengan berbisik saat kulihat Robby dengan sigap menanggalkan pakaiannya.


"Aman, Sayang. Sstt ... nanti yang lain nguping," jawabnya seraya menjatuhkan tubuhnya ke tubuhku yang sudah tak terbalut kain.


Robby yang sudah tak sabaran melucuti pakaianku dan membuangnya begitu saja ke lantai. Aku yang sebal spontan menepuk lengannya dan menimbulkan suara yang cukup kencang. Aku spontan menoleh ke arah Pelangi, tapi tampaknya puteri kecilku benar-benar terlelap di alam mimpi seraya memegang botol dotnya yang telah kosong.


"Aku pindahin dulu dotnya nanti jatuh," ucapku lirih seraya merangkak ke arah Pelangi. Namun, "Ah! Robby!" pekikku karena ia malah memanfaatkan posisiku dengan menyerang dari belakang.


Aku yang tak ingin membangunkan Pelangi, terpaksa menahan segala bentuk rintihan kenikmatan yang Robby berikan padaku. Entah mengapa, tapi sepertinya aku ikut bergairah. Ini mirip ketika aku hamil Pelangi dulu yang tiba-tiba saja keinginan bercintaku memuncak bahkan Robby ikut heran karena katanya aku menjadi agresif. Masih kugenggam botol milik Pelangi di tangan kanan. Kuremat kuat benda dari plastik tebal itu sebagai pelampiasan agar eranganku tak keluar meski tak bisa dipungkiri jika pistol berurat milik Robby lagi-lagi membuatku terlena.


"Robby, pelan-pelan. Aku masih hamil muda," ucapku berbisik yang kini terlentang karena lutut ini tak sanggup menahan tekanan kuat sodokan Robby dari belakang meski ia sudah memegangi pinggul bahkan tak segan mengocok pabrik susuku yang sudah tak berproduksi lagi.


"Iya, Sayang. Udah, nikmatin aja. Nanti orang rumah bangun loh," jawabnya lirih yang malah mengancamku.

__ADS_1


Kutepuk lengannya lagi karena sikapnya yang menyebalkan. Aku yang tahu jika Robby bukan tipe pejantan loyo saat senam panas di ranjang, harus berusaha keras untuk memuaskannya. Jika tidak, aku yang malah menderita sendiri karena suamiku belum terpuaskan. Namun, hal yang membuat Robby cepat menggelontorkan seluruh amunisinya hanya dengan suara erangan kenikmatan. Sedang keadaan saat ini akan sangat sulit dilakukan karena ramainya penghuni rumah yang menginap. Bukannya nikmat yang kurasakan, malah rasa cemas yang melanda.


"Emph! Rasanya emang beda setelah kamu melahirkan, Sayang. Lebih enak," ucapnya begitu saja yang membuatku bersusah payah agar tak merintih.


Aku memilih diam meski mulutku jadi terasa kering karena menahan raungan itu. Sedang Robby, ia seperti cuek saja jika orang-orang rumah mendengar nyanyian kenikmatannya.


"Emph! Ahh," ucapnya lagi yang membuatku langsung membungkam mulutnya dengan bibir agar tak terdengar keluar kamar.


Robby yang mendapatkan bibirku semakin bersemangat menggempur terowongan. Tubuhku sampai berguncang saat Robby mulai tak bisa bermain santai lagi. Ia kini menjadi semakin agresif hingga bisa kurasakan tubuhnya menjadi padat karena tegang. Aku malah ikut terpacu karena sentuhan tangan kekarnya yang memanjakan tubuh serasa dipijat. Kukeluarkan rintihan itu di mulutnya karena tak sanggup menahan lagi saat Robby makin kuat mendorong senjatanya yang terasa padat dan tepat mengenai inti.


"Ah! Ro-Robby!" panggilku dengan suara tertahan dan tak bisa membendung gejolak kenikmatan itu yang tak henti-hentinya Robby berikan.


Robby menekan dua pabrik susuku dengan cengkeraman kuat hingga napasku terasa terhimpit saat ia mendorong miliknya kuat. Kubalas mengapit pinggulnya saat bisa kurasakan jika ia siap keluar. Benar saja, Robby menjatuhkan tubuh, tapi menekuk salah satu kakiku ketika ia meluncurkan pelumasnya. Gelanyar aneh dari sisa gairah itu masih mengerubungi tubuhku. Kuremat kuat rambut belakang Robby dan kugoyangkan pinggul agar miliknya tertelan sempurna.


"Hah, hah, emph! Aduh, Sayang. Stop! Nanti ngilu nih," ujarnya mulai menggeliat dan tak bisa kabur dari dekapanku.


"Tahan ... jangan berisik," balasku berbisik di salah satu telinganya.


Namun, milik Robby yang kurasakan sudah mulai menciut tak kubiarkan lolos. Robby sampai memejamkan matanya rapat dan berusaha bangun, tapi kutahan tubuhnya. Pria yang tadi begitu bersemangat kini tergolek lemas tak bisa melawanku saat kuapit pinggangnya dengan dua kakiku layaknya ular melilit.


"Aduh, Alia!" pekiknya sampai memanggil namaku karena otaknya mulai konslet saat miliknya kini meraung minta dilepaskan.


Kuloloskan buruanku sebelum ia menangis. Benar saja, Robby dengan sigap menyingkirkan tubuhnya dariku meski tangan usil ini malah gemas saat melihat ia sudah tak berdaya.


"Alia!" panggilnya melotot karena bulatan hitam di dadanya kini menjadi sasaran seranganku.


Robby langsung berdiri dan pergi ke kamar mandi untuk menghindari sergapanku. Aku terkekeh karena ia sampai sempoyongan menuju kamar mandi. Aku menahan senyum dan menyusul Robby untuk membersihkan diri.


"Muach! Aku sayang banget sama kamu, Alia," ucapnya saat tiba-tiba saja mencium kepalaku lalu memeluk saat kami sudah selesai membersihkan bagian intiim meski tak berbusana.


Kubalas pelukannya dengan perasaan hangat menyelimuti hati.


...IPO IPO IPO...

__ADS_1


***


Maap lupa krn lama gak nulis beginian dan baru inget. kwkwkw😆 doain 35 eps tamat ya The Ghost Writer. akan lele up begitu sempet gak perlu nunggu daily up sampai akhir bulan karena level novel lele dijatuhkan lagi dr 8 jadi 6. miris🥲


__ADS_2