
Mobil Tuan Ningrat beserta seluruh kendaraan yang mengawal, akhirnya meninggalkan rumah. Kuembuskan napas panjang karena perasaan lega sebab tak perlu terjadi kerusuhan di rumah. Mungkin, itu semua berkat peran Bapak mertua. Kuakui, diam-diam Bapak memiliki aura tersendiri dalam menyelesaikan masalah. Aku merasa sangat beruntung dengan kedatangannya. Bapak mertua memang is the best!
"Bapak!" panggil Jelita yang langsung berlari menghampiri sang Ayah. Jelita memeluk Bapak erat terlihat seperti mencemaskan keadaannya.
"Gimana? Pelangi sama lainnya aman 'kan? Bapak sih gak denger ada yang nangis, tapi kayaknya kamu yang bakal berderai air mata," tanya beliau saat melepaskan pelukan anak gadisnya.
"Ish, Bapak gitu. Jelita khawatir tau. Kalau Bapak digebukin gimana? Tau sendiri sikap mereka saat nyerang Kak Alia dan lainnya?" jawab Jelita cemberut.
"Eh iya, Agatha," ucapku baru teringat akan dirinya yang menunggu di mobil. Baru akan kudatangi, dia sudah keluar dengan sendirinya mengembangkan senyuman.
"Pak Purnama keren. Sampai kicep Tuan Ningrat. Ternyata, Bapak ...," ucapnya menggantung, tapi digantikan dengan dua buah jempol sebagai bentuk rasa kagum.
"Sebenernya Bapak juga panik, tapi sok garang gitu. Untung berhasil, kalau gak bisa bahaya," jawab beliau yang spontan membuat kami tertawa.
Kulihat Bapak mengelus dadanya dengan wajah lucu seperti orang lega karena selamat dari marabahaya. Namun, entah itu hanya acting atau sungguhan, sulit bagiku membedakan karena ekspresi Bapak yang terlihat meyakinkan. Bapak mengajak kami semua masuk ke dalam rumah. Aku yang penasaran kenapa Bapak dan lainnya bisa disekap tak diizinkan keluar, akhirnya mendapatkan jawaban.
Itu karena, Tuan Ningrat mengatakan jika urusan ini hanya melibatkan aku dan Robby. Beliau tak ingin melibatkan keluarga Robby, dan Bapak mertua memahami hal itu. Namun, saat Bapak melihat jika kami berdua seperti terdesak, Bapak akhirnya nekat dengan mengatakan akan lapor ke polisi jika tak diizinkan keluar. Tak ingin mencari masalah, bodyguard yang menjaga pintu utama mengizinkan Bapak keluar, tapi tidak dengan yang lainnya.
"Jadi ... Nyonya Permaisuri bener-bener mutusin keluar dari keluarga Ningrat? Ya ampun, nekat banget, tapi Jelita yakin jika dia pasti udah mikir dengan mateng. Lagian, kalau punya Bapak kaya gitu, Jelita pasti ikut tertekan," ucap Adik Robby yang diakhiri dengan memonyongkan bibir.
"Makanya, kamu bersyukur punya orang tua kaya Bapak. Jangan bandel, ngeyel, dan ngeluh terus," sahut Bapak seraya meraih cangkir berisi teh.
Jelita komat-kamit entah apa yang ia gumankan, tapi melihat wajahnya yang lucu membuatku tersenyum.
"Karena urusannya udah beres, Mbak Wiwit pulang ya. Besok anak-anak sekolah," ucap Kakak Robby seraya berdiri dari kursi meja makan.
__ADS_1
"Yah, masih mau main sama Pelangi, Bu," keluh Wita, tapi Kakak iparku malah melotot puterinya tajam.
"Minggu depan bisa main lagi kok," ucapku.
"Nah, minggu depan malah Pelangi yang akan nginep di rumah kita," sahut suami Mbak Wiwit.
"Wah tumben! Kenapa, Yah?" tanya Zacky dengan wajah berbinar.
"Tante sama Om mau ke Bandung. Acara jumpa fans selanjutnya di kota itu. Kasian Pelangi kalau diajak, nanti kecapekan. Jadi, Pelangi main sama kita aja. Pergi berenang mau?" tanya Mbak Wiwit menawarkan, dan dua anak itu mengangguk dengan wajah gembira.
"Maaf ya, Mbak. Aku ngrepotin terus," ucapku tak enak hati.
"Gak papa. Pelangi juga gak rewel, anaknya nurut gak neko-neko. Malah anteng Pelangi ketimbang Wita dan Zacky yang banyak maunya, banyak jajannya," keluh Mbak Wiwit.
"Ih, Ibu gitu," jawab Wita seperti Jelita karena memonyongkan bibir.
"Bye, Tante Pita!" seru Wita seraya melambaikan tangan dari balik jendela mobil.
"Hati-hati ya. Minggu depan, Tante anter Pelangi ke rumah," jawabku seraya melambaikan tangan dan Pelangi ikut melakukan hal yang sama.
"Bye, Tante cantik," sahut Zacky dan aku menjawabnya dengan senyum terkembang.
Mobil keluarga Mbak Wiwit pergi meninggalkan rumahku di hari menjelang petang. Saat aku masuk ke dalam, Agatha yang menunggu di ruang keluarga tampak sibuk berbincang dengan seseorang entah siapa melalui panggilan telepon. Robby yang merindukan puteri kami, bermain bersamanya ditemani Bapak mertua.
"Fan, aku ke kamar dulu ya. Mau salat terus nyicil tulisan," ucapku, dan Agatha mengangguk seraya menunjukkan jempolnya.
__ADS_1
Dari yang kudengar meski tak detail, sepertinya kawan wartawanku itu sedang memberikan kabar kepada kawannya di kantor tentang kejadian hari ini. Aku sempat mendengar Agatha mengatakan, "Iya, Bro. Lu coba cari tau deh. Permaisuri katanya minggat dari rumah Aksara. Rumah doi dijual bahkan sampai nomor teleponnya juga."
Terkadang, aku tak begitu menyukai pekerjaan Agatha yang seperti ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Ya meskipun aku tahu jika profesinya adalah seorang wartawan dan mencari berita, tapi kenapa harus gosip? Aku jadi was-was jika dia nanti menggunakan keluargaku sebagai bahan berita agar ia tetap gajian atau mungkin dapat bonus. Awas saja sampai terjadi. Aku sumpahin dia melajang seumur hidup!
Meskipun pekerjaannya meresahkan, tapi aku tetap berterima kasih padanya. Jika aku tak bertemu Agatha kala itu, mungkin cita-cita untuk menjadi penulis novel hanya mimpi. Aku yang berani meninggalkan profesi ghost writer dan keluar dari bayang-bayang agar mampu berdiri sendiri, tentu saja membutuhkan keberanian yang besar. Hal itu harus didukung oleh seseorang dan juga mental yang kuat. Awalnya memang sulit, tapi akhirnya kuberhasil. Aku hanya perlu percaya pada orang-orang yang menganggapku mampu untuk bisa sampai ke level tersebut, dan juga doa yang kuat kepada Tuhan.
Kutunaikan salat dengan segera sebelum waktu habis karena urusan duniawi yang tak berkesudahan. Selanjutnya, seperti yang sudah direncanakan, kududuk di kursi kerja seraya memandangi laptop dan mesin tik yang berada di sebelahnya. Keduanya selalu berdampingan layaknya sepasang kekasih meski beda zaman. Aku yang mencoba mengingat masa-masa ketika pertama kali bertemu Agatha Fanny, tampaknya berhasil membuatku kembali saat kejadian di sebuah acara jumpa fans Aksara Roma beberapa tahun silam.
Siang itu. Di sebuah ballroom hotel bintang lima di Jakarta Selatan.
"Dia asisten saya. Namanya Alia Pitaloka," ucap Tuan Aksara ketika mengenalkanku kepada beberapa orang yang tak kuketahui siapa karena itu pertama kalinya diajak.
Beliau mengatakan agar aku tahu seperti apa acara jumpa fans seorang novelis. Selain itu, sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya menyelesaikan novel kedua dari kisah lanjutan Roger yang akhirnya tamat dengan respon positif dari para pembaca. Tuan Aksara bahkan memberikan bonus lima juta rupiah seperti dulu ketika ide ceritaku diterima olehnya. Kusimpan uang itu dengan baik sebagai tabungan.
"Nanti kamu duduk di samping ujung kiri depan panggung ya," ucap Tuan Aksara saat dirinya baru saja selesai dirias agar penampilannya maksimal. Aku mengangguk. "Dan yang terpenting. Jangan sampai ada yang tahu kalau kau adalah 'GW'-ku. Ini rahasia besar dan kita sudah sepakat untuk melanjutkan kontrak novel berikutnya sesuai idemu," tegasnya berbisik menatapku tajam.
"Ya, Tuan. Alia paham," jawabku gugup yang merasa sedikit tertekan akan permintaannya, tapi sudah terlanjur kusanggupi kala itu.
Manager Tuan Aksara lalu mengajakku ke ballroom untuk ikut bergabung bersama lainnya. Aku yang tak terbiasa dengan keramaian, ditambah tak mengenal orang-orang ini, membuatku seperti gadis culun diantara para wanita modis yang tampak percaya diri dengan penampilan mereka. Aku yang memakai kacamata besar karena lebih nyaman dari segi fungsi bukan karena fashion, membuat manager Aksara bahkan mengatakan penampilanku sangat kuno. Aku juga lebih senang mengenakan pakaian longgar karena tak suka jika lekukan tubuhku terlihat, mengingat banyak lelaki yang pernah kukenal sebelumnya di kantor EO memiliki ciri-ciri hidung belang dan tukang rayu.
Aku memilih terlihat biasa saja agar aman dari serangan cowok-cowok playboy meski karena penampilan ini membuatku sulit mendapatkan teman wanita, terlebih seorang kekasih. Mereka suka gadis yang modis, gaul, mengikuti perkembangan zaman, dan mudah diajak bersenang-senang. Sedang aku, tak memiliki satu pun dari sekian banyak permintaan tersebut. Ada sedikit rasa kecewa dalam hati karena seleksi dunia sosial, tapi itulah faktanya. Dari mata, turun ke hati. Ono rupo, ono rego.
***
__ADS_1
uhuy makasih tipsnya diriku biar cepet tamat😆 Lele padamu❤️