
Acara pagi itu terbilang sukses seperti sebelum-sebelumnya. Bahkan, kehadiran Bapak mertua memberikan kesan tersendiri kepada para Sahabat Pena termasuk Bang Joe Taslim. Malah bisa dibilang, Bapak lebih tenar ketimbang aku karena beliau diwawancara ekslusif oleh Shanty selaku pembawa acara.
"Bapak ikut tergabung dalam grup Sahabat Pena? Wow!" seru Shanty terkejut.
"Harus dong. Walaupun Bapak jarang mengobrol dengan Sahabat Pena lain karena ... ya, inget umur. Terlebih, Bapak yang paling tua di sana. Takutnya, Sahabat Pena malah risih. Jadi ya, Bapak nyimak aja," jawab beliau yang membuat semua orang mengembangkan senyuman. Mungkin tiap perkataan yang Bapak ucapkan meninggalkan kesan tersendiri di hati para pendengar.
"Shanty kagum loh dengan semangat Bapak Purnama yang mendukung menantunya untuk terus berkarya. Bapak pasti bangga ya dengan Kak Alia sebagai seorang penulis," ucap Shanty lagi.
"Ya harus bangga. Pekerjaan dia gak sembarang orang bisa melakukannya. Menjadi penulis itu membutuhkan ide yang luar biasa, seperti orang membuat film. Apalagi menuliskan apa yang tersimpan dalam hati dan pikiran ke dalam kalimat serta dialog itu sangat sulit. Bayangkan saja seperti orang sedang jatuh cinta. Kita mau bilang suka kok malu, kalau gak disampaikan kok bikin hati gak tenang. Jadi, saya salut dengan profesi para penulis apalagi yang bisa membawa para pembaca sampai terhanyut dalam alur. Contohnya, seperti karya Alia Pitaloka ini," jawab Bapak yang membuat aku tersenyum penuh haru.
Seketika, ruangan yang tadinya hening karena orang-orang menyimak dengan serius langsung meriah karena suara tepuk tangan. Bang Joe bahkan ikut memberikan pujian pada Bapak. Namun, kulihat Bapak biasa-biasa saja. Beliau terus menunjukkan senyum ramahnya kepada semua orang sampai kembali duduk karena sesi wawancara telah usai bagi salah satu Sahabat Pena yang ditunjuk. Jelita tampak bangga dengan sang Ayah yang mungkin tak pernah diketahui siapapun jika memiliki bakat terpendam sebagai seorang pembicara. Bapak berbicara dengan luwes tak terlihat gugup sama sekali. Jujur, aku jadi iri dengan beliau di mana rasa malu dan gugup masih menyerang saat berhadapan dengan orang banyak.
Acara dilanjutkan dengan sesi foto bersama dengan Joe Taslim selaku model dan tokoh yang ditunjuk sebagai icon dari novelku. Sampai acara usai, Bapak masih terlihat seru ketika berbincang dengan Bang Joe di restoran saat kami menikmati makan siang. Bapak yang mengagumi Joe Taslim karena membayangkan sosok heroiknya di novelku, makin terpesona dengan sikap pria itu ketika ia dengan santun menjawab semua pertanyaan Bapak. Malah, aku jadi tak enak hati karena keluarga Bang Joe jadi terabaikan.
"Maaf ya, Mbak," ucapku sungkan kepada isteri Joe Taslim.
"Gak papa. Santai aja. Sengaja kami ikut karena penasaran dengan acara ini. Malah kita juga gak nyangka kalau ada mertua Mbak Alia sekaligus Sahabat Pena yang ikut memeriahkan acara. Baru pertama kali ya, Bapaknya ikut?" tanya wanita cantik itu, dan aku mengangguk membenarkan.
Aku yang merasa nyaman mengobrol dengan isteri Bang Joe, membuat hari itu begitu berkesan. Hingga akhirnya, keluarga Joe Taslim pamit setelah dirasa cukup menghabiskan waktu dengan kami. Namun, acara jumpa fans masih berlanjut minggu depan yang berada di luar kota. Kami akan mengunjungi Bandung sesuai rute dari serangkaian acara yang sudah dikemas apik oleh pihak manajemen bagi para Sahabat Pena.
Saat perjalanan pulang, Bapak tertidur pulas. Aku jadi merasa kasian karena beliau tampak kelelahan. Namun, Jelita mengatakan jika ia tak pernah melihat Bapak sesenang ini. Hatiku ikut bahagia usai mengetahui hal itu.
"Tadi aku udah khawatir banget kalau dihujani pertanyaan kritis oleh Sahabat Pena. Namun, kehadiran Bapak membuat orang-orang itu seakan lupa," ucapku lega.
"Namun, kau harus siap untuk esok hari, Sayang. Kau ada jadwal press conferences yang diubah waktunya karena ballroom hari ini penuh," ucap Robby mengingatkan.
Aku mengangguk dengan jantung berdebar karena rasa lega itu ternyata hanya sementara. Setibanya di rumah, kami segera beristirahat. Pelangi yang masih asyik bermain tak mau kuajak tidur bersama. Sedang aku, entah mengapa tubuh ini rasanya begitu letih. Ternyata, Robby menyadari hal itu.
"Lemes banget. Jangan sakit dong," ucap Robby seraya mendatangiku yang sedang merebahkan diri di kasur.
"Aku juga ngrasa agak pusing dan mual. Kenapa ya?" tanyaku yang ikut bingung karena tak seperti biasanya tubuhku tak karu-karuan seperti ini.
__ADS_1
Namun, ada yang aneh dengan raut wajah Robby karena menatapku lekat. Tiba-tiba saja ia keluar kamar dengan tergesa entah apa yang ingin dia lakukan. Aku yang merasa seperti tulang-tulang ini dipresto memilih untuk segera tidur. Tampaknya, aku tertidur lelap karena saat bangun, lampu kamar sudah menyala dan terdengar suara azan.
CEKLEK!
"Eh, udah bangun. Baru mau aku bangunin. Kayaknya kamu capek banget sampai gak ganti posisi sejak dari awal meluk guling," ucap Robby seraya mendekatiku.
Aku merasa tubuhku demam. Aku bangun perlahan dan merasa energiku terkuras habis entah ke mana. Robby lalu membuka tutup botol air mineral yang selalu tersedia di atas meja samping kasur. Ia memintaku minum karena bibirku kering seperti dehidrasi.
"Aku mau pipis," ucapku usai meneguk air segar itu dan menyerahkan botol tersebut pada Robby.
"Eh, tunggu. Sekalian cek deh," ucap Robby sembari memberikanku sebuah benda yang tak asing bentuknya. Seketika, mataku melotot ketika menyadari benda tersebut. "Cek aja. Aku penasaran," pintanya.
Aku yang masih kaget menganggukkan kepala. Kubawa benda pipih berbentuk persegi panjang itu ke kamar mandi. Aku malah menatap benda itu saksama di mana tak pernah terlintas di benakku jika hamil lagi.
"Masa sih?" tanyaku heran pada diri sendiri.
Namun, aku yang penasaran segera mencobanya. Jantungku berdebar ketika menunggu hasil dari test pack tersebut. Saat ku sedang mengeringkan wajah karena bersiap untuk salat magrib, mataku melotot ketika melihat dua garis pada alat itu. Praktis, aku histeris.
CEKLEK!
"Ya?" jawabnya langsung muncul setelah membuka pintu.
Aku menunjuk benda tes kehamilan yang tergeletak di atas dudukkan kloset. Ternyata, Robby juga ikut melebarkan mata. Kami saling diam dan bertatapan, tapi sepertinya tak satu pemikiran.
"Hahaha! Wah, pasukanku emang perkasa," ucapnya bangga.
"Ish! Pelangi masih kecil, masa udah mau punya adik lagi," rengekku.
"Eh, gak boleh gitu. Dikasih rezeki sama Allah harusnya bilang alhamdulilah, bukan malah ngeluh," jawab Robby lalu keluar begitu saja dari kamar mandi bahkan tak menutup pintu.
Aku yang masih terkejut karena mengandung lagi, ditambah baru bangun tidur dan tubuh rasanya begitu lemah, akhirnya pasrah menerima takdir jika Pelangi akan memiliki adik. Sebenarnya aku tak masalah jika harus memiliki anak lagi, tapi dengan jarak yang terpaut sekitar 5 tahun agar Pelangi tak merasa cemburu ketika aku dan Robby harus membagi kasih sayang kami.
__ADS_1
"Harusnya waktu itu aku ikutin kata dokter untuk pasang alat kontrasepsi. Robby bener-bener," keluhku kesal saat teringat Robby selalu ngotot mengeluarkan di dalam.
Saat aku kelar dari kamar mandi, betapa terkejutnya ketika kudapati semua penghuni rumah sudah berkumpul di kamar. Aku malah jadi was-was karena mereka menatapku tajam.
"Kamu isi lagi, Al?" tanya Mbak Wiwit.
"Am ... test pack sih nunjukkin dua garis merah, Mbak," jawabku kaku dan juga malu.
"Alhamdulilah. Wah, tambah lagi anggota keluarga kita. Besok kamu segera periksa ke dokter untuk pastiin berapa umur kandungan kamu. Jangan kecapekan," ucap Bapak dengan wajah gembira.
Aku yang masih kaget, tapi juga terharu karena diperhatikan hanya bisa mengangguk. Kulirik Robby yang sedang menggendong Pelangi seraya membisikkan sesuatu pada puteri kecilku itu.
"Pelangi mau adik cowok, Mama," ucapnya seraya menatapku.
"Pelangi atau Papa Robby yang mau hayo?" tanyaku menatap Robby penuh curiga.
"Tuh, Papa terus yang dituduh sama Mama. Padahal, Pelangi yang mau ya," sahut Robby seperti mencari pembelaan.
"Wah, kalau cowok, Zacky punya temen main nanti. Pasti seru!" sahut Zacky yang ternyata ikut mendengarkan pembicaraan para orang dewasa dengan Wita di sampingnya.
"Masih lama. Belum ketauan juga cowok ceweknya. Dah yuk, kita makan dulu. Tante Pita harus makan banyak biar dedek bayinya sehat!" ucap Jelita seraya menggiring kami semua menuju ke ruang makan.
"Mm, tapi ... Alia salat dulu ya. Takut gak keburu salat magrib," ucapku.
"Ya, ya, salat yang utama. Ya udah, begitu selesai langsung nyusul saja ya," sahut suami Mbak Wiwit dan kuangguki dengan senyuman.
Akhirnya, Robby dan lainnya meninggalkan kamarku. Ku salat dengan khusyu dan berdoa semoga keluarga besarku baik-baik saja tak ada petaka lagi yang menimpa. Saat kuselesai salat dan melipat mukena, pintu kamarku diketuk. Baru akan kubuka, Robby kembali muncul dengan wajah serius.
"Nyonya Permaisuri dan anaknya datang kemari. Sepertinya, mereka tergesa. Ayo, cepat ditemui," ucap Robby yang membuatku spontan melebarkan mata karena terkejut dengan kehadiran keluarga Tuan Aksara di hari yang sudah petang.
***
__ADS_1
dan, karena level novel anjlok, lele gak perlu daily buat up ya. jadi akan lele segera tamatin tanpa perlu nunggu akhir bulan. itu aja infonya dan tengkiyuw dukungan para LAP❤️ lele padamu 💋