
Praktis, mataku melebar saat menyadari jika orang yang ingin mencelakaiku adalah Aksara Roma. Ketakutan langsung menyeruak dengan cepat ke tubuhku. Aku gemetaran, terlebih saat Aksara mengeluarkan benda berkilau dari balik saku celananya.
"Aku tidak mau melukaimu, Alia. Hanya saja, jika kau tidak mau bekerja sama, aku terpaksa menjadi orang lain demi keluargaku," ucapnya mengancam dengan sebuah pisau lipat dalam genggaman tangan kanan.
"Hah, hah, kau gila, Tuan! Hanya sebuah buku kau kehilangan pikiranmu!" pekikku seraya melihat sekitar di mana tak ada satu orang pun datang untung menolong. Batinku saat itu, Di mana para polisi yang akan melindungiku? Apakah mereka berdusta?
"Kau masih memiliki hutang karya padaku! Kau tak bisa pergi begitu saja!" teriaknya seraya berjalan mendekat, tapi aku berusaha menjauh meski kesulitan melangkah karena gelapnya kebun tak bercahaya lampu.
"Isterimu yang memecatku. Aku sudah menerima uangnya. Dia yang memintaku pergi jauh dari kehidupan keluarga kalian. Tak mungkin menjilat ludah sendiri 'kan, Tuan Aksara Roma," balasku mencoba mengulur waktu karena berpikir jika para polisi sengaja menunda menolong karena bukti kejahatan Aksara kurang lengkap. Mungkin, aku harus memancingnya agar jujur tentang hal lain.
"Kau bekerja padaku, bukan isteriku! Kembalikan uang Permaisuri. Kau seharusnya tak bodoh dengan menerimanya begitu saja!" teriaknya seraya mengarahkan ujung pisau tajam ke arahku, tapi tangan kirinya seperti berusaha meraih tasku yang menyimpan buku.
"Kenapa kau tak mengembalikan bukuku, Tuan Aksara? Kau sudah tahu itu bukan hakmu untuk mencuri ide di dalamnya. Semua tulisan dalam buku itu adalah hasil kerja kerasku! Aku mengambil apa yang menjadi milikku, tapi kau terlalu serakah bahkan sampai mengklaim jika itu karyamu dan mencetaknya! Kau sungguh manusia rendah!" teriakku marah meluapkan perasaan yang selama ini terpendam.
"Aku tak peduli! Bukumu datang padaku! Ia tahu jika aku sedang kesulitan karena kehabisan ide! Aku tak memiliki keahlian lain selain menjadi seorang penulis! Aku tak ingin keluargaku menderita jika sampai berhenti berkarya. Hanya dengan tetap menerbitkan buku, aku masih dilihat oleh keluarga Ningrat!" ucapnya yang secara tak langsung membeberkan seluruh perasaannya.
Namun bagiku, caranya tetap saja salah. Ia tak mau mengakui kesalahan dan memaksa orang lain memahami kondisi hidupnya. Itu sama saja egois.
"Kalau begitu, aku juga tak peduli!" jawabku marah dan segera berlari di mana kumanfaatkan peluang untuk mencari celah agar bisa kabur dalam kurungannya.
Namun, Aksara melihat pergerakanku. Ia mengejar saat kuberusaha untuk keluar dari kebun dengan susah payah.
"Hargh!"
"AAAA!"
BRUKK!
__ADS_1
Aku diterkam olehnya dari belakang hingga jatuh tersungkur. Namun, hal itu juga membuat pisau yang digenggamnya terlepas. Tubuhku kotor terkena tanah dan juga daun-daun yang berserakan. Aksara berusaha merebut tasku yang kupegangi kuat enggan kulepaskan.
Kali ini, aku tak mau mengalah. Aku juga hidup menderita. Aku yatim piatu dan tak punya sanak saudara. Berbeda dengannya. Hidupku lebih mengenaskan dan tak ingin orang tuaku di akhirat sana menangis melihatku tersiksa.
Namun, "Agg, uhuk!" rintihku saat tangan kotor Aksara mencengkeram leherku kuat.
Aku dicekik olehnya. Bisa kulihat wajah Aksara begitu keji seperti penjahat sungguhan yang ingin membunuhku. Aku yang kalah jauh dari segi kekuatan merasa jika sebentar lagi ajal menjemput.
Setidaknya, aku mati saat mempertahankan hakku. Mungkin aku akan bertemu Ayah dan Ibu di alam sana. Bisa kurasakan sakit yang teramat sangat di leher karena tekanan kuat hingga membuat tubuhku tegang di seluruh bagian. Perlahan, semua terasa gelap dan udara di sekitarku lenyap.
Hingga aku mendengar suara keributan meski samar. Entah apa yang terjadi karena tubuhku sudah terlalu sakit, aku hanya bisa menyerahkannya pada Tuhan. Aku bahkan sudah tak berharap bantuan datang. Aku sudah lelah dan pasrah.
"Ya Allah Alia ...," ucap Bapak tiba-tiba yang membuatku tertegun.
Baru kusadari jika terlarut dalam kisah kelam masa lalu sampai lupa jika sedang bercerita di depan Bapak. Kulihat beliau menangis sampai tangannya gemetar. Spontan, aku langsung mengambilkan beliau minum. Pelangi tampaknya menyadari jika sang kakek bersedih. Ia ikut mendatangi Bapak seraya memegangi kakinya.
"Kakek," panggil Pelangi imut seraya menatap Bapak lekat dan memegangi kakinya.
Bapak tersenyum lalu meletakkan gelas yang airnya sudah ia kosongkan. Dielusnya kepala Pelangi dengan senyum ditunjukkan. Pelangi minta dipangku dan Bapak dengan sigap meletakkan cucu manisnya di antara dua paha.
"Ya Allah. Bapak gak nyangka kalau Aksara akan setega itu sama kamu, Al. Robby gak mau cerita. Dia cuma bilang kalau kamu dirawat di rumah sakit karena terluka dan mendapatkan terapi trauma dari psikiater. Ternyata, yang terjadi sesungguhnya lebih mengerikan. Mungkin Robby gak tega cerita ke Bapak jadi dia bilang seperlunya saja," ucap Bapak terlihat mulai tegar dan membendung air mata.
"Saat Alia sadar, ternyata sudah di rumah sakit. Agatha, Robby dan beberapa orang manajemen berkumpul di sana. Alia gak bisa ngomong selama seminggu dan masih menjalani terapi agar pulih dari trauma serta luka fisik. Lama Alia menutup diri bahkan sempat menyalahkan pihak kepolisian karena seperti sengaja membuat Alia terluka. Agatha juga sempat marah kepada Robby dan timnya karena dianggap tak sigap menangani kasus hingga Alia terluka parah. Entah bagaimana mediasi antara pihak manajemen dan kepolisian, tapi Alia gak dilibatkan terlalu jauh karena masuk dalam skenario polisi," jawabku menjelaskan.
"Ya, ya. Bapak ingat saat itu si Robby keliatan kaya stres berat. Waktu Bapak tanya, dia bilang kalau Aksara Roma sudah ditangkap, ditindak, diadili dan akan di penjara nantinya. Hanya saja, Robby takut kalau kamu jadi benci sama dia karena terlambat datang menolong," ucap Bapak. Aku mengangguk membenarkan karena kala itu kujuga merasa seperti dibodohi oleh polisi.
"Papa Obby?" tanya Pelangi yang tiba-tiba menyahut di sela-sela pembicaraan.
__ADS_1
"Eh, Pelangi ngerti yang diomongin Mama dan Kakek?" tanyaku kaget.
"Papa Obby?" jawabnya seperti sebuah pertanyaan. Aku dan Bapak saling memandang dengan senyuman.
"Kamu denger nama Papa disebut ya?" tanyaku seraya mencolek dagunya, dan Pelangi mengangguk dengan wajah lugu. "Selanjutnya, gimana, Pak?" tanyaku yang kini penasaran dengan cerita Bapak.
"Lalu Ibu tanya sama Robby. Waktu itu Robby bilang jika alat penyadap seperti tiba-tiba tak bisa mendengar suaramu. Semacam hilang koneksi. Dari situ Robby yang berinisiatif lebih dulu untuk segera turun dari mobil dan mendatangimu. Robby yang pertama kali datang menolong. Dia yang hajar si Aksara saat hampir saja bunuh kamu. Lalu setelahnya, timnya datang dan menangkap mantan bos gilamu itu. Pas Bapak dan Ibu mendengar hal itu, Bapak sampai nyeletuk bilang begini. 'Kamu kok kaya polisi di film yang datangnya telat pas korbannya udah sekarat mau mati. Bikin malu aja'. Robby saat itu gak bisa jawab dan cuma diem aja, tapi terlihat sedih. Mungkin kecewa sama dirinya sendiri. Robby murung setelah berhasil menyelesaikan kasus itu. Di mana-mana kalau orang berhasil merampungkan tugas akan bahagia, eh Robby malah gundah gulana," sambung Bapak yang membuatku tersenyum tipis.
"Iya. Alia juga ngerasa demikian, Pak. Setelah keluar dari rumah sakit dan pihak manajemen mengatakan jika urusan dengan Aksara Roma sudah ditangani mereka, Alia menjadi lega. Namun, Alia tetap tak mau tinggal di kontrakan lama. Kebetulan pihak manajemen mau bantu carikan tempat tinggal dan Alia ambil kesempatan itu. Malah setelah kejadian, Alia seperti tercerahkan dan memiliki ide lain untuk membuat sebuah cerita dari pengalaman pahit tersebut," jawabku yang membuat senyum Bapak terkembang.
"Oh, yang novel terbitan kedua ya? Itu ada sisipan dari kisah nyata kejadian kala itu?" tanya Bapak menebak. Aku mengangguk membenarkan.
"Alia juga mulai menjawab pesan dari Robby yang sengaja ditunda karena masih kesal dengannya. Robby chat banyak sekali. Teleponnya juga gak pernah Alia angkat karena masih bete. Namun, mengingat kebaikan Robby saat pertama kali nemuin Alia sampai bawa ke rumah sakit, bahkan gak mau diganti biaya pengobatan, serta mengurus segala keperluan untuk memenjarakan Aksara Roma, membuat amarah ini luluh. Siapa sangka, Alia malah jadi isteri Robby dan ikut dalam keluarga besar Purnama. Takdir Tuhan, memang tak ada yang tahu," ucapku.
"Alhamdulilah," kata Bapak dengan senyuman.
"Alhamdulilah," sahut Pelangi yang ikut-ikutan mengucapkan puji syukur seperti Bapak meski tak begitu terdengar jelas.
Spontan, aku dan Bapak tertawa bersama. Kulihat Pelangi mulai menguap seperti mengantuk. Mungkin obrolanku dengan Bapak seperti dongeng pengantar tidur untuknya. Bapak tampaknya sudah merasa lega usai mengetahui bagaimana Aksara Roma bisa di penjara, hingga aku melanjutkan karir sebagai seorang penulis, lalu menikah dengan puteranya dan mendapatkan keturunan yang cantik menggemaskan.
Kugendong Pelangi menuju kamar untuk ditidurkan. Tampaknya Pelangi sungguh kelelahan karena ia dengan cepat tertidur saat kutemani berbaring di kasur seraya meminumkan susu formula hangat dari dot. Kucium keningnya dengan rasa sayang yang teramat sangat. Lelapnya Pelangi membuatku teringat saat masih bersama Ayah dan Ibu, betapa bahagianya karena mereka selalu berada di sisiku.
Aku berharap, bisa menemani Pelangi hingga tua nanti. Menjadikannya sebagai sarjana, menikahkannya dengan seorang pria yang tulus mencintai dan bertanggungjawab atas hidupnya, menggendong cucu dan meninggal dengan perasaan bahagia karena melihat orang-orang yang kusayang hidup dengan layak tanpa gangguan. Semoga Allah mengabulkan doa-doaku. Amin.
Aku yang lelah ikut memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuh. Aku yang kini berbadan dua harus menjaga kesehatan dan mood agar semua jadwal bisa terlaksana tanpa hambatan. Meski aku tak tahu bagaimana kelanjutan hidup Permaisuri dan dua anaknya setelah memutuskan hubungan keluarga dengan Tuan Ningrat, tapi aku telah memaafkan mendiang Tuan Aksara dan juga isterinya. Masa lalu biarlah menjadi pengalaman hidup. Kusiap melanjutkan hidup bersama Robby, Pelangi, calon bayiku, dan juga orang-orang yang peduli padaku. Entah sampai kapan aku akan menjadi penulis, tapi aku mencintai hobi yang kini menjadi profesiku.
...--- TAMAT ---...
__ADS_1
Uhuy makasih kepada semuanya yang udah dukung lele di novel The Ghost Writer di mana ini adalah karya terpendek sepanjang sejarah lele nulis novel online. Kwkwkw😆 Sengaja buat pendek dan ringkes biar kaya baca satu buku aja dan gak ada series lanjutannya ya. Baiklah, setelah ini lele akan fokus tamatin King D biar bisa ikut lomba Super System. Doakan lele selalu sehat dan bisa menyelesaikan semua novel sesuai jadwal. Amin🙏 Soal boncap liat besok takutnya ada adegan yang belom kelar dan kudu dijelaskan. Kalo gak ada akan lele labeli End Senin nanti❤️