
Tentu saja aku panik karena kejadian yang menimpaku hari ini sudah seperti adegan action laga dalam novel. Namun bedanya, kali ini sungguhan dan aku terlibat di dalamnya. Kulihat Agatha tampak serius mengemudi menghindari kejaran para pria bermotor.
"Ish! Robby ke mana sih?" pekikku kesal karena panggilan teleponku tak dijawab.
"Dia tak bisa dihubungi?" tanya Nyonya Permaisuri menatapku dengan wajah panik. Kujawab dengan menggeleng cepat.
BRAKK!
"AAA!" teriakku kaget saat pengendara di samping bagian kiri memukul kap mobil Agatha dengan sebuah tongkat.
"Jangan bikin lecet mobil gue, woi!" teriak Agatha marah besar karena aksi itu menimbulkan penyok di sana.
TIN! TIN! TIN!
Aku tersentak sampai hampir menjatuhkan ponsel. Agatha membunyikan klakson terus menerus entah apa maksudnya, tapi hal itu membuat para pengendara motor dan mobil seperti menyadari jika mobil kami dikepung. Tiba-tiba, Agatha membuka kaca jendela.
"Pak, tolong, Pak! Orang-orang ini mau bunuh saya!" teriak Agatha yang mengejutkan para pengendara di sekitar mobil.
Aku melotot begitu Nyonya Permaisuri. Kami saling memandang dan akhirnya ikut membuka jendela.
"Tolong! Tolong!" teriak Nyonya Permaisuri saat sebuah motor melaju di samping mobil.
Para pengendara yang mendengar jeritan ketakutan kami langsung menatap tajam para pengendara motor berjaket hitam.
"Mereka mau menangkap dan menculik saya, Pak! Tolong, Pak!" teriakku saat seorang pengendara ojol sedang memboncengkan pelanggannya.
Tampaknya, usaha kami berhasil. Para pengendara berjaket hitam itu kini dipepet oleh para pengendara motor di sekitar mobil sambil dipukul-pukul dengan tangan oleh para pengendara lain.
"Idemu berhasil, Agatha!" seru Permaisuri senang, dan kawanku itu mengangguk dengan wajah sumringah tak tegang lagi.
"Depan ada perempatan besar! Ada pos polisi di sana! Kita manfaatkan, Agatha!" tunjukku yang sudah melihat lampu lalu lintas.
"Bener, bener! Aku pepetin mobil ke sana," jawabnya yang dengan sigap memutar setir.
Namun, Agatha yang sedikit ngawur dalam mengemudikan mobil malah membuat macet. Praktis, kami mendapatkan klakson dari pengendara lain.
"Fanny! Gimana nih?" tanyaku panik karena mobil Agatha yang sedikit melintang karena akan berbelok malah menutup jalan.
"Skenario lanjutan! Keluar dari mobil dan lari ke pos polisi! Cepat!" jawabnya mantap.
Aku mengangguk cepat. Kulihat Nyonya Permaisuri sampai menenteng sepatunya saat bergegas keluar.
"Woi! Bisa nyetir gak sih?!" pekik seorang bapak-bapak terlihat marah.
"Kita dikejar penjahat yang mau nyulik kita, Pak! Kita mau ke pos polisi!" jawabku seraya menutup pintu mobil dengan wajah panik berusaha meyakinkan pengendara itu.
Bisa kulihat wajah para lelaki yang mengendarai sepeda motor bingung.
__ADS_1
"Aaaa! Itu penculiknya!" seru Permaisuri histeris saat melihat salah satu pria berjaket hitam utusan Tuan Ningrat berhasil lolos dari pengendara lain yang menolong kami.
"Lari! Lari!" seru Agatha yang membuatku dan Nyonya Permaisuri berlari meski kesulitan karena harus menyelinap diantara kendaraan lain.
Aku menoleh dan kudapati seorang pengendara sampai turun dari motor lalu menangkap jaket hitam pengendara utusan Tuan Ningrat. Praktis, perempatan itu riuh seketika. Aku tersenyum lebar. Tak kusangka jika ide gila Agatha sukses menyelamatkan kami.
TUT ....
"Ya, Sayang," jawab Robby pada akhirnya.
"Robby! Kami dikejar anak buah Tuan Ningrat! Hah, hah ... mereka ingin menangkap atau bahkan bisa membunuh kami. Tolong!" jawabku histeris seraya terus berlari di trotoar dan menenteng tas.
"Apa? Kalian di mana?" tanya Robby panik.
"Mm ... mm, aku tak tahu. Hah, hah, belum pernah melewati jalan ini. Aku ganti dengan panggilan video ya," jawabku yang dengan sigap mengganti panggilan meski harus berlari.
Kuarahkan kamera ponsel ke jalanan yang sekiranya bisa memberikan petunjuk pada Robby.
"Oh! Aku tahu, aku tahu. Kalian bersembunyilah. Aku segera ke sana! Jangan panik," ucap Robby, tapi aku sudah panik duluan sebelum meneleponnya. Kumatikan sambungan itu seraya membawa tasku.
Saat kehebohan di jalan raya berhasil mengundang para pengendara untuk ikut andil menghajar para pria berjaket hitam, tiba-tiba ....
"AAAA!"
"Nyonya Permaisuri!" teriakku panik saat melihat isteri mantan bosku ditangkap dan diseret paksa oleh seorang pria berjas entah siapa.
"Tolong! Tolong!" teriakku lagi karena hanya itu yang bisa kulakukan.
Aku terus berteriak minta tolong. Ternyata, hal itu menarik perhatian orang-orang karena kami masih di pinggir jalan.
"Ada apa, Mbak?" tanya seorang pengendara mobil sampai menepikan roda empatnya.
"Teman saya mau diculik, Pak!" jawabku seraya menunjuk ke arah Permaisuri yang masih memberontak.
Bapak itu terlihat kaget. Dia langsung turun dan ternyata, banyak orang dalam mobil tersebut. Aku baru menyadari jika mobil itu adalah jenis angkot.
"Woi!" teriak para penumpang dalam angkot langsung mendatangi lelaki berjas hitam itu.
Seketika, lelaki yang ingin membawa Permaisuri entah ke mana langsung kabur begitu saja. Ia dikejar oleh beberapa orang yang mungkin ingin menangkapnya. Pakaian Permaisuri sampai compang-camping. Aku berlari mendatangi mantan isteri Aksara Roma untuk memastikan keadaannya.
"Nyonya, Anda tak apa?" tanyaku cemas.
"Ya, ya. Aduh, aku takut sekali, Alia," jawabnya dengan napas tersengal sampai keringat bercucuran.
"Ibu gak papa? Orang-orang itu siapa?" tanya salah satu pria memakai topi seraya memberikan sepatu milik Permaisuri yang jatuh di trotoar.
"Gak tau, Mas. Mobil kita tau-tau dipepet saat di jalan oleh sekumpulan pria berjaket hitam pakai motor. Aduh, makasih ya mas-mas semua. Saya takut banget," jawabnya yang membuatku mengembangkan senyuman karena Permaisuri jago berakting.
__ADS_1
"Alia!" panggil Agatha di kejauhan bersama dua orang polisi.
"Fanny!" jawabku seraya melambaikan tangan.
"Maaf, Mbak. Orangnya lolos gak ketangkep. Dia kabur naik mobil," ucap salah seorang lelaki yang kembali bersama orang-orang ketika mengejar lelaki berjas.
"Ya udah, biarin aja deh, Mas," jawab Fanny ikut ngos-ngosan dengan bertolak pinggang.
"Kalau orang-orang jahat itu balik lagi gimana, Mbak? Bahaya lho," tanya seorang lelaki tua tampak mencemaskan keadaan kami.
"Suami saya polisi, Pak. Sudah saya telepon dan dia sedang perjalanan kemari," jawabku yang sepertinya membuat perasaan lega bagi orang-orang tersebut.
Akhirnya, dua polisi yang bertugas meminta kepada para pria yang menolong kami untuk segera melanjutkan perjalanan karena wilayah itu menjadi macet seketika. Mobil Agatha dipinggirkan dan diamankan di pos polisi terdekat. Aku bernapas lega saat menunggu kedatangan Robby di pos polisi bersama Agatha dan Permaisuri.
Kulihat Agatha dengan lihai menceritakan kejadian yang menimpa kami tanpa melibatkan Tuan Ningrat. Aku paham jika hal ini jangan sampai terekspose jelas di mata publik mengingat keluarga Ningrat cukup terpandang. Permaisuri juga tak menyebutkan keterlibatan almarhum Tuan Aksara Roma dan alasan sebenarnya kami dikejar. Mereka hanya mengatakan jika tiba-tiba diserang oleh sekumpulan pria entah diutus siapa sampai membuat mobil lecet karena mencoba untuk menghentikan laju kendaraan. Polisi mencatat kesaksian Agatha dan Permaisuri untuk ditindak lebih lanjut.
Banyak orang-orang mengerubungi luar pos polisi karena kejadian tadi. Bahkan, beberapa dari mereka seperti memotret dan merekam kejadian. Aku, Agatha dan Permaisuri hanya bisa pasrah jika nanti ada wartawan yang datang mewawancarai. Namun, Agatha juga dengan sigap menelepon kantornya agar berita hari ini ekslusif bagi pihak manajemennya.
"Itu Alia Pitaloka!" seru seorang wanita dari luar pos polisi yang membuat kepalaku langsung menoleh.
Sontak, keriuhan makin memadati sekitar. Aku melambaikan tangan sambil meringis. Aku bingung dalam bertindak karena dalam posisi yang sulit. Saat kami menunggu kedatangan Robby serta timnya untuk mengamankan kami, selang beberapa waktu, datang beberapa ojek online pengantar makanan ke pos. Tentu saja aku dan orang-orang dalam pos polisi bingung karena merasa tak memesan.
"Itu dari aku dan temen-temen, Kak Alia! Aku minta dari grup penggemar Sahabat Pena untuk ngirim makanan ke sini. Semangat ya!" seru salah satu wanita seraya melambaikan tangan dari luar pos.
Aku terkejut, tapi juga terharu. Aku mengangguk cepat dan berterima kasih meski yakin jika suaraku tak terdengar. Kuingat-ingat wanita baik hati itu bahkan sampai kupotret dari kejauhan karena para polisi yang bertugas mengamankan sekitar agar tak ada pihak-pihak pencari keuntungan dari tragedi ini.
Tak lama, suara sirine terdengar. Aku spontan berdiri dan kudapati suamiku turun dari mobil polisi menerobos kerumunan orang.
"Itu Robby!" seruku senang saat melihat suamiku datang.
Robby bergegas mendatangi pos. Ia dan timnya diizinkan masuk. Kupeluk suamiku di mana rasa khawatir yang melanda hati akhirnya terlepas. Kubisa mendengar jantung Robby berdebar kencang. Ia seperti mencoba menenangkan dengan mengelus punggungku lembut.
"Kamu gak papa 'kan?" tanyanya seraya menatapku lekat saat melepaskan pelukan.
Aku mengangguk sebagai jawaban. Kulihat kawan-kawan polisi Robby seperti melakukan sesuatu dengan petugas polisi yang berada di pos. Agatha dan Permaisuri juga diajak bicara oleh mereka entah apa yang dibahas. Seorang polisi membawa sebuah map berisi beberapa lembar kertas di dalamnya yang diserahkan oleh polisi di pos. Ia lalu mengajak Agatha dan Permaisuri untuk ikut bersama tim Robby.
"Kau sudah aman, Sayang. Ayo," ajaknya seraya merangkulku.
"Eh, itu aku dikasih makanan sama Sahabat Pena. Jangan sampai ketinggalan," ucapku langsung mendatangi beberapa bungkusan yang belum kulihat isinya.
Robby tersenyum seraya ikut membawakan. Aku pamit dan berterima kasih kepada para polisi yang sudah menolong kami termasuk para warga. Aku tersenyum pada mereka meski kamera ponsel mengarah padaku dan juga rombongan. Kulihat mobil Agatha juga dibawa sebagai barang bukti adanya tindak kekerasan dari segerombolan pria penyerang tak dikenal.
"Mm, Robby. Bapak tau gak? Aku takut beliau cemas," tanyaku yang duduk di bangku tengah bersama Robby. Robby tersenyum seraya terus merangkulku selama perjalanan. "Ih, dijawab bukan disenyumin!"
"Pasti Bapak mertuamu tahu, Al. Beliau kaya peramal," sahut Agatha yang duduk di bangku belakang.
Robby terkekeh dengan senyuman yang pertanda jika hal itu benar adanya. Aku makin cemas karena takut Bapak kepikiran.
__ADS_1
***
akhirnya bisa up lagi meski badan masih gak karu-karuan. karena mati lampu dan lele gabut akhirnya nyicil ngetik di hp. alhamdulilah dapat seuprit lah ya. semoga bisa up lagi cuma king D emang lele pause dulu ya. harap sabar para LAP pecinta King D. lele padamu❤️