The Ghost Writer

The Ghost Writer
Ditemukan


__ADS_3

Siapa sangka, kisah masa lalu yang kudongengkan sebagai pengantar tidur Pelangi, sukses membuat puteri kecilku terlelap. Aku tersenyum tipis lalu mengecup pipinya lembut agar tak mengganggu tidurnya. Kuselimuti dia dan kutinggalkan, meski pintu sengaja dibuka. Kupilih melanjutkan ide cerita untuk novel baru di laptop. Ternyata, ideku mengalir deras dan bersinkronisasi apik dengan jari-jari.


Tak kuduga, aku berhasil membuat beberapa rangkaian cerita meski bisa dibilang masih seperti cuplikan film. Aku juga telah menyelesaikan karakter dari tokoh-tokoh yang akan kutampilkan dalam novelku nanti, baik pria atau pun wanitanya. Sayangnya, aku tak bisa menggambar. Seandainya aku memiliki kemampuan itu, pasti akan seru sehingga mirip komik nantinya. Kutepiskan keinginan untuk membuat komik dengan menyelesaikan ceritaku mumpung semua imajinasi ini terukir indah.


Setiap mengetikkan adegan dalam tiap episode, aku membayangkan seperti sebuah film di mana posisiku sebagai seorang sutradara sekaligus penonton. Aku mengatur gaya bicara tokoh, intonasi, ekspresi, dan juga gelagatnya saat berdialog atau sekedar bergaya ketika ingin menunjukkan sesuatu tanpa ucapan. Aku membayangkan latar dari lokasi atau ruangan tersebut. Ada apa saja di sekitar tokoh itu untuk memperkuat imajinasi pembaca ketika mereka menempatkan diri sebagai karakter dalam tokoh. Baik antagonis, protagonis, pemain pendukung, atau sekedar figuran. Cuaca, jenis kendaraan dan persenjataan, menurutku itu penting untuk dijabarkan. Detail dalam suatu cerita bagiku mutlak untuk disertakan.


Lama aku berkutat dari kata demi kata yang akhirnya menjadi sebuah kalimat dan berkembang ke paragraf. Tak lama setelahnya, adzan salat Duhur berkumandang. Kuhentikan sejenak aktifitas karena panggilan dari kewajiban seorang muslim harus didahulukan. Aku salat di kamar seraya menemani puteriku yang masih tidur dengan nyenyak, bahkan seperti tak terusik dengan suara ketikan keyboard yang menurut pengakuan orang-orang, kecepatan jariku seperti mesin obras. Baru kulipat sajadah, Bapak sudah muncul di bingkai pintu kamar dengan senyuman.


"Alia. Kamu masak apa? Bapak laper," tanyanya yang membuatku langsung membuka mulut lebar.


"Ya Allah! Lupa, Pak. Maaf," jawabku tak enak hati karena baru ingat hal tersebut.


"Gak papa. Pesen online aja. Bapak ingin makan gado-gado. Bisa pesankan tidak?" pinta beliau yang langsung kuangguki cepat.


Segera kurapikan peralatan salatku dan keluar kamar seraya membawa ponsel. Kutinggalkan Pelangi dengan kondisi pintu kamar masih terbuka. Kuajak Bapak mertua duduk di sofa panjang ruang tengah sembari memesan makan siang untuk kami berdua.


"Cuma gado-gado aja, Pak? Yang lain gitu untuk camilan?" tawarku.


Beliau diam sejenak seperti berpikir.


"Oh, tahu gejrot boleh. Cabainya satu saja. Kalau kebanyakan nanti Bapak mules," pinta beliau.


Kuangguki dan segera kupesan permintaan Bapak mertua di mana semua pesanan menjadi dua porsi.


"Eh, ada es dawet, Pak. Mau?" tawarku.

__ADS_1


"Ya, ya, boleh. Wah, makan siang kali ini meriah dan mantep. Maaf ya, Alia, kalau Bapak malah merepotkan," ucapnya dengan wajah sedikit memelas.


"Alia malah senang karena ada yang temenin makan siang. Biasanya, Alia makan sendiri. Bibi juga kadang tidak mau diajak makan bersama. Rumah rasanya sepi, apalagi kalau Pelangi lagi tidur seperti sekarang," jawabku usai memesan semua makanan melalui aplikasi online.


Entah apa yang Bapak pikirkan, tapi beliau menatapku lekat.


"Kalau Bapak menginap lebih lama boleh?"


Praktis, senyumku terkembang. "Boleh dong, Pak. Alia malah seneng. Hanya saja, minggu depan ada jadwal jumpa fans. Kalau Bapak gak capek, ikut saja. Nanti Alia bilang sama manajemen," tawarku.


Seketika, wajah Bapak langsung berbinar.


"Boleh ikut? Ya, ya, Bapak mau," jawabnya sumringah.


Aku ikut senang karena Bapak ternyata seperti mengharapkan hal itu. Kami lalu mengobrol santai hingga lagi-lagi, Bapak mengungkit tentang diriku seperti ingin tahu lebih banyak.


"Tentang gimana Alia bisa bekerja untuk Tuan Aksara Roma ya, Pak?" tanyaku memastikan. Beliau mengangguk membenarkan. "Hem. Jadi waktu itu ...."


Ya, setelah kusadari bukuku hilang, kalang kabut aku mencarinya bahkan sampai menanyakan kepada sopir yang sudah berganti jam tugas untuk mengabariku jika mendapatkan buku tersebut. Pihak bus mengatakan akan mengusahakannya. Namun, melihat dari ekspresi mereka, kok sepertinya hal itu tidak mungkin. Kumelangkah dengan gontai kembali pulang ke kos di mana waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam dan rasanya seluruh tubuh lelah. Ditambah kesedihan menyelimuti hati, membuatku malas melakukan apa pun. Kurebahkan diri menatap langit-langit kamar. Aku sangat kehilangan karena buku itu berisi semua ide cerita meski masih kasar, tapi belum sempat kurangkai ke mesin ketikku.


"Kenapa bisa lupa sih?" keluhku lagi yang rasanya malah ingin menangis.


Aku yang tak ingin terpuruk dalam kesedihan, hanya bisa berusaha untuk merelakan dan mencoba untuk menulis kisah baru. Kali ini, aku hanya menggunakan buku tulis layaknya anak sekolahan. Sedang buku yang hilang itu, memiliki sampul kulit yang dibuat khusus ketika aku pergi ke salah satu wisata kerajinan kulit di Yogyakarta. Ada nama Pena di sana pada sampul berwarna cokelat tua itu.


Hanya saja, kali ini sepertinya ideku tak secemerlang ketika menuliskan dalam buku bersampul kulit kesayangan. Rasanya, semua ide yang kutuliskan dengan pulpen itu hambar, tak ada sensasi menggairahkan, bahkan ketegangan pun tak terasa. Tak ingin memaksakan diri karena pekerjaan nyata menungguku di kantor esok hari, akhirnya kumandi dan selanjutnya melaksanakan salat. Makan malam hanya berupa mi instan dalam kemasan cup karena sungguh, tubuh ini malas melakukan apa pun. Kehilangan buku rasanya hampir setara ketika aku memutuskan pergi meninggalkan Yogyakarta.

__ADS_1


Aku segera tidur karena malam sudah semakin larut. Keesokan harinya, aku bergegas ke kantor. Aku bekerja bersama para petinggi perusahaan bagian laporan alias belakang meja. Padahal, aku sangat berharap bisa ikut serta ke lapangan agar bisa bertemu dengan artis dan aktor terkenal, ikut shooting iklan, atau ikut dalam perancangan ide yang akan diajukan ke klien. Sayangnya, lagi-lagi aku dipercaya untuk membantu di balik layar.


Tak terasa, waktu berjalan begitu saja dan mulai membosankan hingga tahun sudah berganti. Sampai pada akhirnya, sebuah kesempatan yang jarang sekali terjadi muncul. Asisten sutradara sakit dan harus rawat inap di rumah sakit akibat kelelahan bekerja. Kantor yang sedang sibuk karena padatnya jadwal shooting, akhirnya menyeretku untuk ikut serta membantu.


"Hei, kamu Alia 'kan?" tanya salah seorang pria yang bekerja di lapangan bagian produksi iklan.


"Iya, Mas," jawabku gugup saat diminta masuk ke ruangan tim kreatif.


"Kamu bantu kita sampai Mbak Puteri sehat ya. Aku udah bilang sama bos dan diizinkan. Kita lagi butuh orang, dan melihat riwayat kerjamu dulu saat di Yogyakarta, kamu sepertinya cocok. Jadi, kita-kita akan jadi rekan kerjamu sampai dinyatakan kamu bisa kembali ke kantor lama. Gak masalah 'kan?"


Aku mengangguk senang. Malah, hal ini sangat kunantikan. Akhirnya, impianku untuk terjun langsung ke lokasi shooting terwujud. Namun, aku tak pernah menyangka jika ternyata pekerjaan itu sangat melelahkan, tapi juga menantang. Jam kerja pun tak pasti.


Aku saat itu bisa dibilang ditugaskan sebagai pembantu umum, sehingga melakoni banyak hal. Mulai dari membantu memesankan makanan dan minuman untuk crew serta artis, menyiapkan lembar storyboard yang nantinya akan digambar oleh bagian kreatif, cek lokasi shooting, menemani sutradara untuk bertemu beberapa client dan orang-orang yang akan ikut andil dalam proses produksi, cek perlengkapan dan alat-alat shooting sebelum diangkut mobil, dan banyak hal lainnya. Lelah, tapi senang karena hal ini yang memang kuharapkan. Jam kerjaku juga ikut berubah menyesuaikan dengan divisi baruku.


Aku pergi usai salat subuh dan pulang larut malam. Namun, aku tak khawatir atau takut terjadi hal buruk karena pihak kantor memfasilitasi dengan taxi langganan yang mengantarku pulang. Hingga tak pernah kusangka, saat itulah untuk pertama kalinya aku melihat seorang penulis tersohor bernama Aksara Roma. Pria yang tampak ramah dan bagiku sangat berkharisma, datang ke kantor untuk membicarakan rangkaian acara jumpa fans di beberapa tempat atau bisa dibilang seperti road show dari satu kota ke kota lainnya untuk buku barunya.


Aku yang awalnya tak begitu mengenalnya, sampai membeli buku penulis tersebut agar tahu seperti apa karyanya. Aku yang saat itu terburu-buru karena toko buku hampir tutup, tak membaca blurb pada bagian belakang sampul. Benda persegi empat itu kumasukkan dalam tas agar tak hilang dengan tergesa. Aku bergegas pulang menggunakan taksi.


Senyumku terkembang saat membuka segel plastik novel bersampul warna hitam berjudul "Misi Rahasia Roger" ketika taksi biruku melaju di atas aspal. Kusempatkan untuk membaca sedikit agar tak penasaran. Namun, ketika kumulai membaca episode pertama dengan jantung berdebar, napasku seperti tercekik hingga wajahku berkerut. Bisa kurasakan tanganku bergetar dan mataku mungkin melotot saat kukenali gaya bahasa dalam novel itu.


"I-ini ...."


Ya. Kisah novel itu adalah ide ceritaku yang hilang bersama buku kesayanganku.


***

__ADS_1



uhuy akhirnya bisa up lagi walopun ngetiknya pake hpšŸ˜† udah kaya zaman nulis Vesper 😁 tengkiyuw tipsnya. Lele padamu šŸ’‹


__ADS_2