
Keesokan harinya.
Aku sudah siap untuk mengunjungi keluarga Ningrat bersama dengan sahabatku, Agatha. Pelangi juga sudah kumandikan dan akan kusuapi sebelum pergi. Kupasrahkan Pelangi pada Bibi sampai nanti para saudara datang untuk menemani puteri kecilku berikut Bapak yang terpaksa kutinggal karena harus merampungkan kasus ini. Robby mengabarkan jika dirinya langsung ke kantor mengingat banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan dan diusahakan akan pulang secepatnya karena ia sudah lembur semalam. Tentu saja aku tak sabar mengunggu kepulangannya karena aku juga merindukan suamiku.
"Maaf ya, Pak. Alia jadi ngerepotin," ucapku tak enak hati.
"Bapak senang kok main sama Pelangi," jawabnya seraya mentoel pipi gembul puteriku.
Pelangi bertepuk tangan terlihat riang saat menikmati potongan buah segar dalam mangkuk yang sudah kupersiapkan lengkap dengan garpu serta celemek yang menggantung di leher.
Akhirnya, aku dan Agatha menyelesaikan sarapan. Kami bersiap untuk pergi, tapi lagi-lagi, Pelangi seperti menyadari jika akan ditinggal. Bibi sudah menggendong puteri kecilku yang siap meluncurkan air mata kesedihan dan wajah memelas. Ya, teknik jitu untuk membuatku merasa bersalah seperti yang sudah-sudah karena pergi tak mengajaknya.
"Yuk kita kasih makan ikan di kolam. Kasian ikannya laper. Pelangi lupa ya belum suapin ikan-ikannya," ajak Bapak yang begitu lihai merayu Pelangi agar tak mendapatiku pergi dari sisinya.
"Ikan! Ikan!" seru Pelangi senang.
Bibi yang awalnya terlihat cemas jika anakku menangis langsung tersenyum. Aku dan Agatha mengendap pergi sengaja tak berpamitan karena takut jika Pelangi akan menangis. Kulihat Bapak dan Bibi dengan sigap membawa si kecil ke halaman belakang untuk memberikan makan ikan. Agatha dengan cepat menyalakan mesin mobil dan aku langsung duduk di sampingnya.
"Semua persiapan perang sudah diamankan?" tanya Agatha menatapku serius.
"Yes, Mam," jawabku mantap, meski dalam hati ini ingin tertawa karena kami berdua bergaya layaknya gadis di film action laga.
Agatha segera menekan pedal gas dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumahku. Kini, kami berdua akan mengunjungi kediaman keluarga Ningrat yang berada di Jakarta Utara. Aku sudah menyiapkan buku hitam milik Aksara Roma yang nantinya akan kuberikan kepada Permaisuri selaku isterinya. Mantan istri lebih tepatnya.
__ADS_1
Kudengar dari gosip yang beredar usai Aksara Roma di penjara, keluarga Ningrat menjodohkan Permaisuri dengan seorang pebisnis berstatus duda. Namun katanya, dua anak Permaisuri tak cocok dengan anak dari si duda kaya itu. Anak-anak mereka malah saling berselisih hingga akhirnya perjodohan itu gagal.
Dari sana bisa kulihat jika sebenarnya anak-anak dari Aksara Roma masih merindukan sosok sang Ayah meski ia harus terjerat dengan hukum dan mendekam di penjara. Sayangnya, keluarga Ningrat yang ingin menjaga wibawa, tak mengizinkan dua anaknya atau bahkan mantan isteri untuk sekedar menjenguk di sel. Permaisuri bahkan dipaksa bercerai dengan Aksara Roma demi menjaga nama baik keluarga. Kabar itu sempat menjadi trending selama beberapa bulan hingga tak terdengar lagi kelanjutannya. Biasa, uang membungkam segalanya.
Tentu saja keputusan sepihak itu membuat luka bagi diri Aksara Roma. Kuingat jelas kemesraan mereka berdua ketika bekerja pada Aksara Roma dulu. Permaisuri bahkan pernah berkata pedas padaku karena ia begitu membanggakan suaminya meski tak diperlihatkan secara langsung. Hanya saja, aku wanita. Tanpa Permaisuri mengatakan hal tersebut, aku bisa mengetahuinya. Hem, naluri seorang wanita.
Hingga akhirnya perjalanan selama kurang lebih 2 jam itu berakhir. Aku dan Agatha yang sudah pernah berkunjung sebelumnya ke kediaman Ningrat sudah siap jika harus menerima penyambutan tak ramah seperti dulu. Namun kali ini situasinya berbeda. Mobil Agatha berhenti di depan pintu gerbang keluarga Ningrat yang super kokoh karena pagarnya saja terbuat dari besi tebal berwarna hitam. Mengurung semua kemewahan yang tersimpan di dalamnya.
"Selamat pagi," sapaku ramah saat keluar dari mobil.
Satpam yang awalnya berwajah garang itu tiba-tiba berkerut kening. Aku tetap tersenyum karena mengenalnya. Sebab, ia dulu pernah mengusirku.
"Kalau tidak salah ... Anda Alia Pitaloka bukan?" tanyanya. Praktis, kujawab dengan anggukan. "Silakan masuk. Anda sudah ditunggu," sambung satpam itu yang cukup mengejutkanku. Kok tumben?
Aku kembali masuk dalam mobil dan Agatha dengan sigap menginjak pedal gas. Agatha memarkirkan mobilnya di sebelah mobil sedan hitam di pekarangan depan. Saat aku dan Agatha keluar dari mobil, tiba-tiba saja pintu utama rumah besar yang didominasi warna putih itu terbuka. Kulihat Permaisuri tampak tegang ketika berjalan tergesa menuruni tangga dan mendatangiku. Bisa kulihat jika ia seperti mencemaskan sesuatu. Pikirku, Apakah ... dia sudah tahu tentang kabar Aksara Roma?
"Halo, Nyonya Permaisuri. Apa kabar?" sapaku ramah seraya membungkuk sedikit.
"Benarkah itu? Aksara ... Aksara telah meninggal dunia? Gantung diri?" tanyanya yang ternyata sudah mengetahui kabar tersebut. Kulirik Agatha dan dia memilih untuk memalingkan wajah.
"Ya. Saat itu, aku dan keluarga yang menemukan jasad Tuan Aksara di sebuah rumah kontrakan," jawabku jujur.
Seketika, Nyonya Permaisuri menangis. Ia membungkam mulutnya rapat dan ambruk di atas lantai batu. Aku terkejut begitupula Agatha. Kami bingung karena mantan isteri Aksara Roma tampak begitu berduka atas kepergian mantan suami untuk selamanya.
__ADS_1
"Nyonya! Nyonya!" panggil satpam yang sepertinya ikut melihat dan segera mendatangi kami. Aku dan Agatha yang berjongkok di sebelah Permaisuri terpaksa menyingkir karena satpam tersebut membangunkan majikannya.
"Berita itu benar ... itu bukan tipuan ... Aksara ... hiks, Aksara ...," ucapnya dengan tangisan.
Kupandangi Permaisuri dengan tatapan iba. Pantas saja aku merasa sedikit aneh ketika kabar yang berhembus tentang perceraian sepihak, gagalnya perjodohan, hingga anak-anak Aksara Roma memilih untuk kuliah di luar negeri tak di Indonesia, berkesan sebuah paksaan. Sepertinya, baik Permaisuri atau pun dua anak Aksara, tak sepemikiran dengan gaya hidup keluarga Ningrat. Ya, seperti namanya, keluarga Ningrat alias kaya raya.
"Nyonya, sebaiknya kita masuk ke dalam. Tujuan kami berdua datang kemari karena ada hal penting lainnya yang ingin disampaikan," ucapku pelan karena kutahu jika Permaisuri sedang berduka.
Wanita cantik itu mengangguk. Satpam membantunya berdiri sedang Agatha membersihkan rok Permaisuri yang kotor terkena tanah. Permaisuri terlihat begitu terguncang hingga jalan saja sempoyongan. Kuikuti Permaisuri hingga kami masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.
Tak lama, datang seorang pelayan memberikan kudapan untuk kami bertiga. Satpam pamit keluar usai memastikan jika majikannya baik-baik saja. Kulihat sekitar di mana rumah besar dan megah itu sepi. Kukeluarkan buku hitam dari dalam tas jinjing dan kutunjukkan pada Permaisuri. Kulihat matanya langsung terkunci pada buku bersampul hitam itu.
"Itu ...," ucapnya seperti mengenali buku tersebut.
"Sebelum meninggal, Tuan Aksara Roma mengirimkan buku ini pada saya melalui tukang ojek online. Jika saja saya tak langsung membuka halaman terakhir, mungkin sampai sekarang saya tak tahu jika Tuan Aksara merenggang nyawa," ucapku yang membuat Permaisuri kembali menangis meski kulihat ia berusaha untuk tegar.
Kuberikan buku itu padanya karena kurasa, Permaisuri berhak tahu. Namun, aku juga merasa jika Aksara Roma sengaja memberikannya padaku karena ia tahu jika aku akan menyerahkannya pada keluarga. Perasaanku tak menentu. Aku hanya bisa diam dan kembali terhanyut dalam kesedihan usai membaca isinya.
Kulihat Permaisuri membuka lembar demi lembar dari buku itu. Dia sama sepertiku, air mata itu mengalir deras. Kulirik Agatha, tapi kawanku memilih untuk menyeruput teh yang disajikan dalam cangkir keramik dan menikmati cemilan kacang mede. Sedang aku, masih diam menatap Permaisuri yang tak henti-hentinya memanggil nama Aksara Roma seperti begitu kehilangan. Hingga tiba-tiba ....
"Kenapa kau menangisi pria tak berguna seperti Aksara Roma, Permaisuri? Dia sudah mati karena kebodohan dan ketidakmampuannya sebagai seorang lelaki!" ucap seorang pria yang sosoknya muncul dari sebuah pintu dan kini sedang menuruni tangga.
Mataku langsung melebar dan terkunci pada pria tua beruban di mana kuyakin jika dialah Ayah dari Permaisuri. Ya, Tuan Adipati Ningrat Kertarajasa. Pebisnis terkemuka di Indonesia dalam sektor pertambangan, properti, dan masih banyak lagi. Pria yang tak pernah menyetujui hubungan Permaisuri dengan Aksara Roma.
__ADS_1
***
doain pengajuan kontrak lele di acc ya biar novel ini bisa tamat akhir bulan. amin🙏 terus bisa lanjut king d lagi sampai tamat nanti. semoga monster hunter juga bisa tamat akhir bulan ini biar lele utangnya gak numpuk. trims dukungannya. lele padamu❤️ merdeka🇮🇩