
Keesokan harinya.
Pelangi sudah terlihat cantik dengan pakaian warna merah muda yang serasi mulai dari bando sampai sepatu. Robby yang gemas kepada puterinya sampai terlambat berangkat ke kantor karena sibuk menciumi, menggendong dan bermain dengannya. Padahal, aku sudah mengingatkan dia berkali-kali, tapi pria tampanku selalu mengatakan, 'Pelangi bikin Papa males kerja nih. Nanti kalau Papa diomelin komandan, Pelangi yang gantian cari kerja ya. Kan Pelangi yang bikin Papa dipecat'. Tentu saja Bapak ikut turun tangan usai mendengar penuturan anaknya. Robby diusir oleh ayahnya sendiri karena tak pergi bekerja. Entah kenapa kehadiran Bapak mertua di rumah memberikan suasana seru yang biasanya terasa hangat saja, tak semeriah sejak kedatangan beliau.
"Gak usah pulang kalau gak bawa uang banyak!" seru Bapak saat mengantarkan anak lelakinya sampai ke teras.
Robby terkekeh seraya menunjukkan jempol ketika mobil yang dikendarainya melaju keluar dari halaman. Pelangi malah menangis karena ditinggal Robby, dan hampir saja suamiku putar balik karena tak tega. Namun, wajah horor Bapak mertua membuat Robby mengurungkan niat dan tetap meninggalkan rumah.
"Kamu ini ya, kecil-kecil pinter banget ngerayu. Nanti, kalau papamu gak kerja, kasian mamamu. Masa Mama yang suruh cari uang. Apa kata dunia?" tanya Bapak menirukan gaya bicara dalam film Nagabonar. Praktis, aku tertawa karena bagiku sangat mirip.
Kami lalu masuk ke dalam rumah karena Bapak ingin mengetahui lanjutan ceritaku. Beliau yang begitu antusias membuatku ikut bersemangat. Jarang-jarang ada yang memintaku bercerita karena aku memang tipe orang tertutup. Jika tak ditanya, ya tidak menjawab. Bicara hanya seperlunya karena khawatir jika yang bersangkutan malah akan bosan atau mungkin tersinggung dengan perkataanku. Dan aku, mengantisipasi hal tersebut.
"Lalu ... gimana ceritanya kamu bisa nemuin buku yang hilang itu?" tanya Bapak terlihat sudah tak sabaran saat kuletakkan Pelangi di karpet untuk bermain masak-masakan pemberian dari Jelita saat berkunjung beberapa hari yang lalu.
"Saat itu ...."
Kediaman Aksara Roma. Sore hari menjelang magrib.
Hari itu, aku terpaksa kerja lembur. Novel yang kukerjakan untuk Aksara Roma mengalami kendala karena fokusku terbagi. Aku yang juga mengerjakan untuk proses terbitanku sendiri membuat Aksara Roma seperti menyadari jika aku tak seperti biasanya dalam bekerja. Ide yang kuberikan untuk novel itu dianggap melenceng dari alur dan kerangka yang kubuat sendiri. Aksara mencurigainya.
"Kamu kenapa? Lagi punya masalah atau gimana?" tanyanya menatapku lekat yang masih duduk di kursi kerja.
Aku yang sangat sulit untuk berbohong hanya bisa mengangguk karena memang itu benar adanya. Namun, tak kubeberkan alasan utama yang mengganggu pikiranku itu.
"Soal apa? Cerita aja, siapa tahu saya bisa bantu," tanya Aksara yang malah membuatku semakin gugup.
"Mm, entahlah, Tuan. Namun, saya sepertinya butuh istirahat sebentar. Ide saya mendadak seperti tumpul," jawabku beralibi.
Aksara sampai menaikkan dua alis entah apa yang ia pikirkan usai kuutarakan pemikiranku. Namun, ia mengangguk paham. "Ya udah. Besok weekend. Kamu libur saja Sabtu dan Minggu. Masuk lagi di hari Senin untuk melanjutkan cerita."
Praktis, pandanganku yang sedari tertunduk langsung terangkat. Entah kenapa aku senang mendapatkan jatah libur dua hari. Aku mengangguk dengan senyum terkembang.
"Kalau libur potong gaji dong harusnya," sahut seorang wanita yang tak lain adalah Permaisuri. Sekejap, wajahku berubah redup lagi.
__ADS_1
"Soal itu, nanti saja. Ya udah, pulang dan istirahat. Saya tidak mau cerita yang dipaksakan karena akan kehilangan detail dan gregetnya. Seharusnya, dua hari cukup untukmu," ucap Aksara dan aku mengangguk pelan.
Aksara lalu mendatangi Permaisuri dan mengajaknya pergi entah ke mana, tapi melihat keduanya tak ada di ruang kerja membuatku lega. Aku yang lelah memijat pundakku yang terasa begitu berat termasuk kepala meski tidak pusing. Aku baik-baik saja, hanya merasa lelah dan memang kurang tidur karena selalu begadang demi mewujudkan mimpi untuk menerbitkan novel sendiri. Namun, permintaan dari pihak penerbit sudah berhasil kuselesaikan lebih cepat dari jadwal dan Agatha mengagumi hal tersebut. Katanya, tinggal menunggu jawaban dari pihak penerbit untuk lolos atau tidaknya novel ciptaanku itu. Jujur, menunggu adalah hal paling mendebarkan selama ku hidup.
Saat ku akan merapikan meja kerja Tuan Aksara di mana itu salah satu pekerjaanku, mataku spontan melebar. Kulihat pada laci di sisi sebelah kanan meja kerja yang biasanya selalu terkunci dan tak tahu di mana keberadaan kunci itu, kini terbuka. Tanganku bergerak dengan sendirinya menarik laci tersebut untuk memastikan dugaanku. Praktis, mataku langsung melotot. Jantungku berdebar kencang.
Buku yang selama ini kucari kini berada tepat di depanku. Saat ku akan mengambilnya, kudengar suara langkah kaki mendekat dengan tawa riang yang tak lain adalah dua anak Aksara. Segera kumenutup laci dan berpura-pura membereskan meja kerja ayah dari dua anak itu. Benar saja dugaanku, Gendhis dan Dewa masuk ke kamar entah apa yang mereka inginkan.
"Kak Alia. Kita mau pergi keluar. Kata Mama, Kak Alia cepetan beresin kerjaannya. Rumah mau dikunci," ucap Gendhis yang secara tak langsung mengusirku.
Aku hanya mengangguk dan segera mengambil tas di meja kerja. Kumenoleh ke arah meja kerja Tuan Aksara. Padahal, tinggal sedikit lagi kudapatkan bukuku yang hilang itu, tapi terkendala karena kedatangan dua anaknya. Kumelangkah pergi dengan perasaan berkecamuk. Bisa saja kumengambilnya esok, tapi terlanjur kuiyakan jatah libur berharga dari Aksara selama dua hari. Kuharus kembali bersabar agar bisa mengambil bukuku lalu mengamankannya.
"Maaf ya, Al. Kita mau makan malam sekeluarga di luar," ucap Tuan Aksara yang sudah berada di samping mobil menungguku keluar dari rumahnya. Aku mengangguk pelan dan segera pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, aku mencari cara bagaimana mengambil bukuku jikalau saat kuperiksa laci itu lagi dan terkunci. Aku yang kesal karena kehilangan kesempatan malah uring-uringan selama dua hari masa liburku.
"Oo ... akhirnya ketemu. Jadi bener yang ambil si Aksara Roma?" tanya Bapak dengan mata melebar. Kumengangguk membenarkan dan Bapak tampak serius menunggu kelanjutan ceritaku. Kutarik napas dalam dan kuembuskan perlahan di mana saat itu datang panggilan melalui telepon tak terduga datang dari seseorang.
"Ya, halo?"
"Ini dengan siapa?" tanyaku gugup.
"Saya Aris dari penerbit Mayor. Apakah benar, Anda mengirimkan naskah yang berjudul 'Antar Dimensi'?"
"Ya, benar," jawabku dengan wajah tegang.
"Naskah Anda kami terima, Kak Pena. Selamat ya. Untuk selanjutnya, bisakah Anda datang ke kantor untuk pembahasan lebih lanjut bagaimana nanti teknis penerbitan buku, kontrak dan selebihnya di hari Senin. Saya tadi juga sudah menghubungi Agatha, dan dia mengatakan siap datang jika Kak Pena juga bersedia hadir di waktu yang sama," ucapnya yang spontan membuat mulutku menganga lebar.
"Ya, Mas. Tentu saja. Saya akan datang hari Senin besok. Jam berapa?" tanyaku semangat.
"Jam 10 ya, setelah saya breafing pagi," jawabnya.
"Oke, oke. Terima kasih atas kabar baiknya," ucapku dengan hati meledak-ledak karena bahagia. Aku segera menghubungi Agatha usai Mas Aris menutup telepon. Agatha tampaknya ikut senang dengan jawaban dari pihak penerbit.
"Apa kataku, kau pasti bisa, Al. Kau hanya butuh keberanian dan juga peluang. Jadi, siapkan diri hari Senin nanti ya. Kita berangkat bareng aja. Kamu aku jemput, tapi kamu tunggu di depan ya. Repot kalau aku masuk ke dalam. Susah parkirnya," ucapnya.
__ADS_1
"Oke. Makasih ya, Fanny. Kamu udah kasih aku jalan buat wujudin mimpiku. Sampai jumpa Senin. Bye!" jawabku senang seraya menutup panggilan.
Namun setelahnya, aku jadi teringat akan bukuku dan juga bagaimana membuat alibi kepada Aksara Roma. Kembali, aku dibuat pusing untuk hal ini. Kucoba mencari beberapa alasan masuk akal sehingga Aksara tak curiga dan aku tak mau membatalkan kesempatan langka yang sudah kutunggu selama bertahun-tahun lamanya untuk mewujudkan mimpi sebagai penulis.
Senin subuh, aku mengirimkan pesan pada Aksara Roma dengan alasan sakit. Aku tak datang karena akan pergi ke rumah sakit hari itu. Lama Aksara tak menjawab entah apa yang ia pikirkan atau sedang lakukan, tapi pagi itu saat kumenunggu jemputan Agatha ia menjawab dengan singkat, "Ya".
Mungkin, dia kesal karena aku menunda tenggat waktu dari jadwal. Namun, aku sudah mengantisipasi hal itu dengan mengerjakan lanjutan adegan dari kerangka cerita yang tersendat. Kukirimkan naskah melalui email yang telah kukerjakan semalam setelah ia menjawab pesanku tadi. Dan tak lama, ia mengirim pesan balasan melalui email.
"Bagus, Alia. Kau tetap bertanggungjawab dengan pekerjaan. Akan kukoreksi. Semoga lekas sembuh," tulisnya.
TIN! TIN!
Pandanganku langsung terangkat ketika mengenali mobil yang menjemput. Jendela samping sopir diturunkan dan terlihat wajah sahabatku di sana. Segera kudatangi dan duduk di bangku depan sampingnya.
"Akhirnya ya. Semangat, Al!" seru Agatha mendukung dan kuangguki dengan mantap.
"Ooo ...," ucap Bapak dengan bibir membentuk huruf O. Wajah beliau jadi terlihat lucu terutama ketika mengekspresikan tiap kisah yang kuceritakan. "Setelah itu, buku kamu diterbitkan ya?" tanya beliau dan aku mengangguk.
"Namun, tetap butuh waktu juga, Pak. Alia juga baru tau ternyata tahapan untuk mencetak novel cukup lama juga. Saat itu, Alia bisa dibilang beruntung karena pihak penerbit mengenal Agatha. Jadi proses review cepat. Meski ada beberapa bagian yang akan dibenahi oleh editor, tapi bagi Alia itu tidak masalah," jawabku menjelaskan.
"Memang kalau normalnya itu berapa lama proses sampai buku bisa dijual di toko-toko?" tanya Bapak tampak penasaran.
"Enam bulan, Pak. Anggap aja naskah yang Alia setorkan bulan Januari tahun ini," ucapku mulai menjelaskan. Bapak mengangguk dengan tatapan lekat padaku. "Nah, Januari sampai Februari naskah melalui proses review. Alia beruntung karena tak perlu menunggu sampai dua bulan. Jadi anggap saja Alia seperti penulis pemula lainnya yang melalui jalur standar," imbuhku. Bapak kembali mengangguk. "Lalu, naskah Alia diterima. Bulan Maret akan dihubungi pihak penerbit. Selanjutnya sampai bulan April, naskah memasuki proses editing, layout dan design cover. Kemudian Mei proses cetak dan pengiriman buku ke toko-toko. Di bulan Juni, buku mulai beredar di toko."
"Wah, lama juga ya prosesnya. Harus sabar sampai bukunya bisa dipeluk," ucap Bapak seraya memeluk bantal sofa. Aku mengangguk dengan senyuman. "Lalu ... soal royalti, dan lain-lain gimana, Al?" tanya Bapak yang ternyata masih penasaran dengan sistem penerbitan buku.
"Alia beruntung sih jadi gak seribet penulis lain. Namun, kalau sesuai standar, anggaplah bulan Juni buku sudah mulai beredar dan dijual. Nah, nanti pihak penerbit akan mengirimkan kontrak dan juga contoh buku yang telah diedarkan. Lalu di bulan berikutnya, pihak penerbit akan memberikan uang muka sesuai kontrak kepada penulis. Nah, kalau ingin mendapatkan royalti yang besar, mulai buku masuk toko dari Juni sampai Desember akhir tahun, pihak penerbit akan mengakumulasi hasil penjualan. Januari akan dihitung oleh mereka. Dan jika penjualan selama Juni sampai Desember sudah di atas uang muka yang telah diberikan oleh penerbit, royalti akan diberikan pada bulan Februari. Dan begitu seterusnya sesuai masa kontrak," jawabku menjelaskan dengan bahasa sederhana agar Bapak paham.
"Nah, kalau misalkan hasil penjualan sedikit, gak sampai senilai uang muka, gak dapet royalti dong?" tanya beliau menebak, dan tebakannya benar. Aku mengangguk. Bapak ber-Oh lagi.
"Jadi, gak bisa nyantai juga dong ya. Kalau mau dapat uang banyak, penulis juga harus promosi novelnya. Kalau masih pemula kaya kamu susah juga dapat penggemar. Apalagi kamu pernah bilang kalau gak ikut komunitas apapun. Lalu ... itu para Sahabat Pena dapat dari mana?" tanya Bapak heran. Aku tersenyum.
"Tragedi yang menimpa Alia saat Aksara Roma tahu jika buku yang ditemukannya adalah milik Alia, membuat keberuntungan. Para fans Aksara Roma beralih ke Alia setelah tahu kisah sebenarnya dari dua karya terbaru idola mereka. Hanya saja ada satu karya yang belum dirampungkan dan gagal terbit karena kasus percobaan pembunuhan itu. Mereka akhirnya tahu siapa penulis sebenarnya dan para fans Aksara beralih ke Alia. Setelah Aksara di penjara, nama Alia makin melejit dan novel-novel Alia laku keras. Bahkan, habis terjual di seluruh toko yang ada di Indonesia. Sungguh, Alia tidak pernah menyangka hal itu, Pak. Allah sangat sayang sama Alia," ucapku penuh haru.
__ADS_1