
Bapak menatapku lekat terlihat serius. Beliau lalu meletakkan susu kemasan berikut biskuit ke atas meja. Pelangi yang ternyata sudah menghabiskan puding juga meletakkan wadah serta sendok di bawah meja. Kuambil wadah yang sudah kosong itu dan kupindahkan ke atas karena takut mengenai mainannya.
"Setelah kamu mendapatkan ancaman dari Aksara Roma, kamu lalu pergi meninggalkan kontrakan?" tanya Bapak penasaran.
"Saat itu, Alia langsung mengemasi barang, Pak. Alia berpikir untuk pindah tempat tinggal. Sayangnya, Alia gak tau mau pergi ke mana. Alia juga gak tau di mana tempat tinggal Fanny dan temen-temen saat kerja di kantor lama. Inilah akibatnya jika terlalu penakut dan hidup menutup diri. Alia gak pernah berteman akrab dengan seseorang. Saat keadaan genting, Alia jadi gak tahu harus gimana. Alia takut jika bertanya kepada tetangga, nanti mereka curiga. Jadi, malam itu, Alia pergi ke warung untuk membeli kardus karena banyak barang yang harus diangkut. Alia mencoba cari jasa angkut untuk membawa barang-barang itu. Sayangnya, Alia yang belum menemukan tempat tinggal pengganti ikut bingung," jawabku yang kembali teringat saat kepanikan itu melanda.
"Jadi, kamu udah langsung berinisiatif untuk segera pindah? Baguslah. Terus, dapat?" tanya Bapak terlihat tegang karena wajahnya serius.
Kutarik napas dalam dan mengembuskan perlahan. "Malam itu, setelah selesai berkemas, Alia pergi untuk mencari kontrakan yang tak satu wilayah. Alia takut kalau tetap di rumah nanti ketemu Tuan Aksara. Jadi, Alia pergi dengan barang seadanya sampai mendapatkan tempat tinggal baru. Saat Alia tiba di Jakarta Timur, malah hujan deras. Akhirnya, Alia mampir ke warung pecel lele untuk istirahat sembari cari tahu kos atau kontrakan di wilayah itu. Alia sengaja pergi meninggalkan Jakarta Selatan supaya jauh dari hunian Tuan Aksara."
Bapak mengangguk-anggukan kepala. Beliau seperti ikut merasakan kepanikan yang melanda hatiku saat itu. "Lalu, lalu?"
"Saat hujan mulai reda, Alia tergesa-gesa mencoba mencari hunian baru karena maunya besok sudah pindah. Untung saja penjual pecel lele kasih info kalau ada kontrakan kosong dekat wilayah itu. Katanya cukup jalan kaki. Alia udah ngerasa seneng dan lega tuh, Pak. Saat Alia coba ikutin arahan dari penjual warung, malah ketemu dengan Tuan Aksara," jawabku yang membuat mata Bapak membulat penuh.
"Kamu ketemu Aksara? Waduh, terus gimana?" tanya Bapak panik.
"Tentu saja Alia panik. Itu benar-benar tak terduga. Tuan Aksara sepertinya masih mencari keberadaan Alia. Kami tak sengaja bertemu saat Alia mau masuk gang di samping pom bensin, tempat kontrakan itu berada. Tau-tau, Alia dipanggil dari sebuah mobil. Saat kaca jendelanya dibuka, ternyata Tuan Aksara. Alia langsung berlari masuk dalam gang. Ternyata, Alia dikejar," ucapku panik.
Saat itu.
"Alia! Berhenti bersikap bodoh dan berikan buku itu!" teriaknya saat berlari mengejarku di dalam gang.
"Ini bukuku! Kau mencurinya dan memanfaatkannya! Kau tak bisa dimaafkan, Tuan Aksara!" balasku berteriak sambil berlari kencang.
"Kau rubah licik berbulu domba! Kau mengkhianatiku! Kemarikan buku itu!" teriaknya lagi yang semakin gencar mengejarku.
Praktis, aku panik ketika melihat sosoknya yang menyeramkan dan tak ramah seperti biasanya. Siapa sangka, meskipun umur kami terpaut jauh, tapi Tuan Aksara masih sangat mampu untuk beradu fisik denganku.
"Agh! Lepaskan!" teriakku panik ketika Tuan Aksara berhasil menangkap dan menarik tasku. Ia sepertinya tahu jika buku itu ada di dalam tas. Benar saja, tangan Aksara dengan sigap menyelinap masuk dalam tas dan berhasil memegang bukuku. "Tidak! Ini milikku!" teriakku melawan dan akhirnya melakukan hal nekat.
"Harghhh!" erang Aksara saat kumenggigit tangannya agar melepaskan cengkeraman di lenganku serta buku yang ia genggam kuat di tangan lainnya.
Tuan Aksara menjatuhkan bukuku. Beruntung, lapisan sampul itu anti air sehingga masih bisa dikeringkan meski terkena genangan air hujan. Segera kuambil bukuku dan berlari seperti orang kesetanan menghindar dari kejaran dan tangkapan mantan bosku yang menggila.
"Alia!" teriaknya yang membuatku semakin ngeri dan ketakutan.
Dan saat itulah yang kuceritakan ketika pada akhirnya kumenemukan sebuah kos dan tinggal di sana sementara waktu. Sayangnya, aku yang terlalu penakut malah mengurung diri. Bapak kos sepertinya menyadari jika aku tak pernah keluar kamar kecuali untuk mandi. Makanan dan pakaian ganti sengaja kupesan online untuk mengamankan diri.
TOK! TOK! TOK!
Aku yang masih paranoid sedikit takut ketika membuka pintu. Namun, setelah kuintip dan ternyata itu Bapak kos, baru kuberani membukanya.
__ADS_1
"Ya, Pak?" jawabku gugup.
"Mbak, maaf. Hanya saja, Bapak mau tahu. Apakah nama Mbak Alia Pitaloka?" tanyanya. Praktis, mataku melebar.
"Memangnya kenapa dengan nama itu, Pak?" tanyaku dengan jantung berdebar.
"Begini. Kemarin ada mas-mas yang sepertinya mendatangi beberapa kos dan juga kontrakan di sekitar. Dia tanya, apa ada penghuni bernama Alia Pitaloka? Saya yang lupa nama Mbak saat itu menggeleng tidak kenal. Namun, dia bilang. Jika ada nama itu diminta untuk menghubungi dia. Katanya, Alia Pitaloka itu kabur dari rumah dan mencuri barang. Malah katanya, Alia Pitaloka itu sakit jiwa jadi harus hati-hati," ucap Bapak itu yang spontan membuat mataku terbelalak lebar.
"Apa orang itu bernama Aksara Roma?" tanyaku langsung tersulut emosi. Bapak itu mengangguk.
Sungguh, aku tak habis pikir dengan jalan pikiran pria itu. Bisa-bisanya dia mengarang dengan begitu lincahnya bahkan seperti peribahasa lempar batu sembunyi tangan. Tuan Aksara sungguh keterlaluan. Dia penjahatnya, tapi malah aku yang disalahkan.
Tanpa basa-basi, aku langsung mengemasi barang dan pergi dari kosan itu. Aku tak peduli dengan apa yang akan dilakukan oleh Bapak tersebut. Aku berlari keluar dari rumah kos di malam gelap dan beruntung tak ketahuan. Sayangnya, nasib buruk masih berpihak padaku.
Charger ponselku tertinggal dan baterai tersisa 20% saja. Agatha tak bisa kuhubungi entah apa yang sedang terjadi padanya. Namun, kusempatkan untuk meninggalkan pesan tentang kondisiku saat ini di mana sebelumnya masih kututupi karena tak ingin melibatkannya. Hanya saja, aku yang sudah buntu akhirnya meminta bantuannya.
Selain itu, hanya Agatha yang kupercaya. Aku sengaja menghindari jalan raya karena khawatir bertemu lagi dengan Aksara Roma. Kupilih untuk melewati jalan kampung meski tak tahu ke mana tujuanku selanjutnya. Namun, aku harus pergi dari tempat itu.
Lama kumenyusuri jalanan berliku yang seperti tak berujung dan tak tahu sudah berada di mana, lagi-lagi hujan mengguyur. Aku berteduh di sebuah rumah yang bertuliskan 'Dijual' dan berada di pinggir jalan, tapi bukan jalan besar. Lebih seperti jalan alternatif. Aku nekat menyelinap masuk ke dalam meski seluruh pintu dan jendela terkunci. Beruntung, rumah besar itu memiliki pos penjaga dengan pintu tak dikunci. Akhirnya, aku berlindung di sana yang entah sudah berapa lama, tapi aku terkurung oleh rasa takutku sendiri.
Tiba-tiba, Bapak menghapus air matanya. Aku terkejut karena Bapak terlihat begitu sedih usai mendengarkanku bercerita. Aku langsung beranjak mengambil air untuk beliau dan juga Pelangi karena baru ingat jika puteri kecilku belum minum setelah menikmati puding.
"Keterlaluan, Aksara. Bisa-bisanya dia bersikap seperti itu. Lalu ... gimana nasibmu setelah itu, Al, sampai akhirnya kamu bertemu dengan Robby?" tanya Bapak menatapku lekat setelah bisa menenangkan hatinya.
"Ya, Pak. Alia kelaparan. Ponsel Alia mati. Uang Alia di dompet hanya tersisa 50 ribu. Tiap Alia mendengar ada penjual makanan lewat, Alia beli saja untuk mengganjal perut. Namun ternyata, uang itu tak cukup untuk membuat Alia bertahan lebih lama lagi sehingga kelaparan dan mulai merasakan sakit di perut. Sepertinya mag," jawabku yang membuat Bapak langsung memejamkan mata.
Jujur, aku tak tega untuk meneruskan cerita melihat Bapak tampaknya tertekan, padahal bukan beliau yang mengalaminya.
"Udah aja ya, Pak ceritanya," ucapku iba.
"Nggak, nggak. Bapak harus tau semuanya. Jangan ditutupi dan dipendam lagi. Kamu itu anak Bapak, dan Bapak gak mau hal buruk itu menimpa kamu lagi. Mulai sekarang, apa pun yang mengganggumu, cerita sama Bapak. Kalau takut Bapak panik dan semacamnya, cerita sama Robby, Jelita, atau siapapun di lingkup keluarga yang kamu percaya. Jangan menyakiti diri sendiri, Alia. Kami ini peduli dan sayang padamu," ucap Bapak terlihat seperti akan menangis lagi.
Aku mengangguk paham dan merasa bersyukur karena bertemu orang-orang baik ini. Bapak mengatur napasnya berulang kali dan seperti berusaha untuk tetap tegar mendengar lanjutan ceritaku. Beliau bahkan sampai tak sadar jika air putih yang diminumnya milik Pelangi. Namun, puteri kecilku hanya diam saja melihat sang kakek meminum jatahnya dan melanjutkan bermain.
"Lanjutkan, Al, lanjutkan," pinta beliau yang mulai tenang. Aku mengangguk pelan.
Aku yang saat itu terpuruk, takut, dan juga mulai merasakan sakit karena tubuh menggigil serta perut merasa nyeri, akhirnya nekat untuk keluar dari persembunyian. Aku sudah tak peduli jika ditemukan oleh Aksara. Lebih baik aku menjadi budaknya ketimbang hidup, tapi penuh dengan tekanan. Aku berjalan gontai di malam gelap menyusuri jalanan dengan maksud untuk mencari mesin ATM.
Namun, beberapa tempat yang berhasil kudatangi ternyata tutup karena jadi satu dengan mini market. Ingin rasanya aku membeli makanan-makanan yang tampak lezat untuk disantap saat menyusuri jalanan, tapi aku tak memiliki uang tunai dan tak bisa transfer karena ponselku mati. Otakku terlalu lelah berpikir dan perutku juga terlalu sakit untuk diajak bertahan lebih lama lagi. Aku sampai jalan membungkuk memegangi perutku yang terasa melilit hingga tiba-tiba, aku ambruk di depan sebuah mobil yang terparkir di pinggir trotoar.
Aku jatuh di kap mesin sedan itu. Siapa sangka, aku yang sudah serasa mau mati masih mendapatkan pertolongan dari Tuhan. Saat itulah aku bertemu dengannya. Ya, Robby menemukanku.
__ADS_1
"Mbak! Mbak!" teriak seorang lelaki yang berjalan mendekati saat tubuhku tak lagi bisa bergerak meski dalam posisi seperti orang salat sedang rukuk.
Wajah pria itu tampak samar karena malam gelap, dan juga badanku yang sakit. Namun, aku masih bisa merasakan ketika tubuhku dibopong dan dibawa masuk ke mobil. Aku yang sudah pasrah dengan takdirku rela dengan akhir dari hidupku. Namun, siapa sangka.
Saat aku membuka mata di mana kuyakin jika pingsan usai bertemu sosok pria tak kukenal kala itu, tubuhku merasa lebih baik. Ternyata pria tampan yang menolongku membawa ke rumah sakit. Namun, mataku langsung terkunci pada tas, ponsel, dompet dan juga buku yang diletakkan di meja samping ia duduk. Robby sedang menelepon seseorang dan hal itu membuatku panik seketika.
"Agh!" erangku saat menyadari jika jarum infus menusuk lengan.
Kepalaku langsung pusing karena mendadak ingin duduk. Pria tampan yang memakai jaket kulit hitam itu langsung mendatangi dan merebahkanku perlahan.
"Pelan-pelan, Mbak. Jangan banyak bergerak dulu. Anda harus banyak istirahat," ucapnya terlihat cemas, tapi aku lebih cemas jika ia menghubungi Aksara Roma dan memberitahu keberadaanku.
Entah kenapa, aku yang merasa sedikit lebih baik, mengurungkan niat untuk memasrahkan diri pada mantan bos gilaku itu. Kutatap wajah Robby dalam di mana saat itu kepercayaanku luntur pada siapapun yang tak kukenal, meski Robby selalu menunjukkan senyum menawan.
"Kau siapa?" tanyaku lugas.
"Saya Robby Purnama. Saya seorang polisi. Saat saya menemukan Mbak, tampaknya Mbak sedang sakit parah. Jadi, saya bawa ke rumah sakit terdekat. Mbak tak sadarkan diri dua hari. Namun, kata dokter, Mbak akan baik-baik saja, hanya butuh istirahat yang cukup," jawab Robby. Aku masih diam menatapnya lekat.
"Siapa yang Anda hubungi tadi?" tanyaku penuh rasa curiga.
"Oh, Kepala polisi di kesatuan saya. Namun, saya dan teman-teman memanggil beliau dengan sebutan Komandan. Biar seragam, dan memang Bapak yang meminta. Memang kenapa, Mbak Alia?" tanya pria dengan rambut hitam berkilau itu lekat.
"Kau tahu namaku. Apa kau menyelidiki siapa aku selama pingsan?" tanyaku langsung menginterogasi karena pria di depanku ini adalah polisi. Percuma berbasa-basi dengannya. Pria berkumis tipis itu tersenyum, ia mengangguk.
"Saya harus tahu siapa yang saya tolong. Apa keterlibatannya dan bagaimana tindakan saya selanjutnya untuk menanganinya. Anda ... penulis novel ya? Saya tahu dari buku dalam tas Anda. Selain itu, nama Anda tampaknya tak asing. Jadi, saya mencari melalui internet. Ternyata, Anda baru saja menerbitkan buku. Malah, saya sudah membelinya untuk memastikan jika karya tersebut memang Anda penulisnya. Wah, saya sungguh tak menyangka akan bertemu penulis terkenal," ucapnya terkesan memuji, tapi hatiku yang sudah membatu karena hilangnya kepercayaan tak menanggapi pujian tersebut.
"Lalu selanjutnya apa? Saya akan mengganti biaya pengobatan selama di sini," tanyaku tegas.
Polisi itu sepertinya paham jika sikapku berkesan ketus.
"Kalau Anda sendiri, apa yang akan dilakukan selanjutnya?" tanyanya malah balik bertanya.
"Berhubung Anda polisi, saya ingin melaporkan sebuah kasus yang melibatkan diri saya dan pria bernama Aksara Roma," jawabku serius. Praktis, kening pria di depanku berkerut.
"Tentang apa?" tanyanya tampak penasaran.
"Sebaiknya Anda rekam. Keterangan selanjutnya bisa dilakukan saat di kantor polisi. Untuk sekarang, akan saya ceritakan kenapa seorang Alia Pitaloka bisa berakhir di mobil Anda dan rumah sakit," jawabku.
Robby mengangguk dan segera mengeluarkan ponselnya. Ia menggunakan fitur rekam dari benda warna hitam itu. Ia lalu meletakkan benda persegi panjang tersebut di samping kasur atas meja.
"Silakan," ucapnya, dan aku mengangguk pelan.
__ADS_1