
Kusambut kedatangan dua polisi selaku kawan Robby menurut pengakuan pria-pria abdi negara itu. Kulihat Jelita tampaknya dengan mudah bergaul dengan polisi-polisi tersebut tak terlihat canggung. Aku yang merasa jika Jelita lebih pas untuk menemani mereka, memilih untuk undur diri karena ingin memastikan Pelangi mandi dengan benar.
"Ya, Bu, gak papa," ucap salah satu polisi berkulit sawo matang saat kupamit dari kumpulan.
"Maaf ya. Saya masuk dulu. Jelita, tolong temani temen-temen Mas Robby ya," pintaku dengan senyum penuh maksud.
"Sip deh!" jawabnya dengan jempol.
Kakak perempuan Robby ikut masuk ke dalam bersama dengan Bapak. Suami Mbak Wiwit tetap bergabung bersama para polisi menemani Jelita entah mereka membicarakan apa, tapi terdengar seru. Sedang Bapak kembali menonton televisi seperti mencoba mengikuti perkembangan kasus yang sedang diselidiki polisi.
"Mandinya jangan lama-lama, nanti keriput kaya nenek-nekek," ujar Mbak Wiwit saat melihat Wita dan Pelangi asyik bermain air dengan bak mandi karet di halaman belakang.
"Baknya kurang gede nih, Tante. Bikin kolam renang aja," sahut Zacky protes karena kulihat dia tak bisa ikut masuk dalam bak sebab ukurannya yang sempit.
"Ya deh. Nanti Tante bilang sama Om ya untuk membuatkan kolam renang, atau ... kolam ikan?" jawabku.
"Hahaha, kok kolam ikan, Tante?" timpal Wita yang membuat Pelangi ikut tertawa entah dia paham atau tidak dengan yang kami ucapkan.
"Hati-hati mandinya. Awas kepleset. Licin air sabun. Ya udah, Ibu siapin pakaian ganti dulu ya. Jangan lama-lama, sebentar lagi Magrib," ucap Ibu Zacky dan Wita.
"Iya, Ibu," jawab keduanya dengan wajah masam.
Kuikut kembali masuk ke rumah dan langsung menuju kamar untuk menyiapkan pakaian kering bagi Pelangi. Ku juga membawa handuk, sisir, bedak dan minyak telon agar puteri kecilku tak kedinginan atau masuk angin. Kulihat anak-anak begitu senang bermain air. Aku yang sedang duduk diam di teras, sepertinya tanpa sadar membawa kenangan dalam lamunan ketika mulai bekerja kepada Aksara Roma. Pikiranku kembali ke beberapa tahun silam saat ku dipercaya oleh Aksara Roma untuk menuliskan novel yang akan ia cetak nantinya, meski ide itu murni dariku.
"Oke, saya sudah kembangkan kerangka dari sinopsis yang kamu berikan. Nantinya akan ada 35 episode dan novel ini benar-benar akan menjadi akhir kisah Roger. Saya bukan tipe orang yang suka membuat novel berseri karena akan membosankan," ucapnya.
"Baik, Tuan Aksara," jawabku sopan.
Beliau memberikan beberapa lembar kertas yang sudah disusun rapi menjadi seperti sebuah buku karena dijilid spiral. Ada kolom kosong sepertinya sengaja ia sertakan untuk menuliskan keterangan atau catatan khusus pada kerangka buatannya itu. Ia mengetiknya dalam lembar komputer lalu di-print. Kerangka cerita utama buatan Tuan Aksara dibagi menjadi 3 bagian utama. Awal, tengah dan akhir.
Kubaca dan kupelajari dengan teliti karena ini pertama kalinya aku terlibat langsung dalam penulisan sebuah novel, meski kata Tuan Aksara jika metode yang dilakukan tiap penulis berbeda-beda tergantung pengalaman dan kenyamanan orang tersebut berkreasi. Sejauh ini, cara kerja Tuan Aksara bisa kuiikuti dan secara tak langsung memberikanku pembelajaran dalam penulisan.
Pada bagian awal, Tuan Aksara menjabarkan dengan detail siapa saja tokoh-tokoh yang terlibat. Caranya memunculkan konflik, dan tindakan yang dilakukan karakter utama. Jujur, aku cukup kagum karena beliau dengan cekatan bisa mempelajari ide ceritaku bahkan dikembangkan menjadi lebih apik meski masih dalam bentuk kerangka. Di sini muncul rasa iri karena ide itu berasal dariku, tapi Tuan Aksara seperti lebih dominan seolah memang ia penciptanya.
__ADS_1
Dari sana aku merasa minder dan dendamku mulai sedikit menyurut saat menyadari perbedaan keahlian seorang penulis profesional dengan amatiran. Kerangka saja sudah berhasil membuatku kagum, apalagi jika sudah dibuat kisah dengan aksi-aksi menegangkan yang dicetak nantinya. Aku khawatir tulisanku nanti tak sesuai dengan permintaan Tuan Aksara. Malah, aku berpikir untuk menyerah karena tiba-tiba saja semangatku surut.
"Alia, Al? Hoi, kok ngalamun sih?" panggil seseorang yang suaranya begitu jelas terdengar.
Praktis, aku langsung menaikkan pandangan saat kudapati Tuan Aksara berdiri di depanku seraya memegang sebuah cangkir yang kuduga berisi kopi hitam yang biasa ia nikmati tiap pagi sebelum bekerja.
"Oh, enggak, Tuan. Cuma ... lagi mikir tentang mengembangkan kerangka buatan Tuan. Bagus ya, rapi, detail. Alia bisa gak ya buat cerita bagus dari runtutan kerangka ini. Takut mengecewakan," ucapku jujur.
Aku yang tertunduk tak bisa melihat ekspresi dari Tuan Aksara, tapi kulihat beliau melangkah menuju ke meja kerjanya. Kulirik dalam diam saat beliau menyeruput kopi hitam tersebut lalu meletakkannya di sisi sebelah kanan tempat biasanya. Ya, aku juga ikut mengamati kebiasaan Tuan Aksara selama bekerja dengannya.
"Coba aja dulu semampumu. Saya juga penasaran dan ingin lihat. Tulis aja pakai pulpen. Yang penting, tulisanmu terbaca. File aslinya sudah saya kirim ke email kamu, cek aja. Kalau sudah yakin dengan yang kamu tuliskan di kertas itu, salin ke lembar komputer dan email balik ke saya," pintanya.
Aku mengangguk pelan. Kuambil pulpen dari kotak penyimpanan meski tinta itu belum menodai kertas putih dalam genggaman. Aku masih membaca dengan saksama tiap tulisan tercetak tinta mesin printer pada kolom di sisi kiri tersebut. Di mana kolom sisi kanan masih kosong tempat aku akan menuliskan pengembangan ceritaku nanti.
Pada bagian tengah, berisi detail tindakan karakter terhadap masalah yang dihadapi. Biasanya melibatkan banyak peran pembantu. Di sini Tuan Aksara sudah menuliskan siapa saja tokoh-tokoh itu berikut karakternya. Luar biasa, sungguh detail dan sudah dirinci dengan baik.
Lalu, bagian akhir merupakan solusi atau konsekuensi dari semua tindakan yang sudah diambil. Kulihat Tuan Aksara mengambil kisah happy ending karena tokoh tersebut sudah banyak menderita sejak awal kemunculannya. Secara garis besar, apa yang dipecah oleh Tuan Aksara sudah sesuai alur cerita yang kubuat. Ada rasa senang karena ia tak mengubah alur yang sudah kuciptakan, malah kurasa beliau membuatnya menjadi sempurna dengan tokoh-tokoh baru yang bermunculan berikut karakter mereka yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Perlahan, semangatku menjadi memuncak lagi untuk segera mengembangkan ide itu.
Aku mencoba meringkas ide-ide tiap adegan, dialog, dan juga latar dengan secermat mungkin agar kisah itu tak melebar, bertele-tele, dan berkesan pemborosan kata. Siapa sangka, untuk membuat poin-poin tiap episode itu menguras waktu dan juga pikiranku. Otakku terasa panas begitupula mata saat imajinasi bercampur dengan referensi yang kucari melalui internet untuk menguatkan sebuah kejadian.
"Alia," panggilnya yang membuatku tersentak karena kaget.
"Oh, Nyonya. Ya, gimana?" tanyaku langsung menatapnya lekat.
"Aksara ke mana?" tanyanya dengan wajah jutek.
"He?" jawabku seraya menoleh ke arah meja beliau. Baru kusadari ternyata Tuan Aksara tak ada di sana entah sejak kapan. Aku malah jadi bingung sendiri karena tak melihat kepergiannya. Pandanganku kembali pada Nyonya Permaisuri yang menatapku tajam. "Saya ... tidak tahu. Maaf," jawabku jujur dengan jantung berdebar kencang.
"Kamu dari tadi duduk di sini, deket pintu, dan gak nyadar kalau suamiku pergi? Kamu serius sekali sepertinya mengerjakan tugas dari Aksara sampai aku panggil kamu aja juga harus berulang kali?" ucapnya ketus.
"Maaf," jawabku lagi langsung menundukkan wajah.
Entah apa yang Nyonya Permaisuri pikirkan, tapi ia mengetuk kertas dengan ujung telunjuk ke atas kertas yang berisi tulisanku untuk merampungkan kerangka cerita Tuan Aksara. Kunaikkan pandangan dan kembali menatap Nyonya Permaisuri yang menyipitkan mata.
__ADS_1
"Pulang. Sudah mau magrib. Besok lagi dilanjutkan. Mending kamu fotokopi dulu kerjaan itu takut nanti ilang kertasnya atau rusak. Bisa-bisa nangis bombai kamu," ucapnya yang membuatku langsung berdiri.
Namun tiba-tiba, "Eh?"
"Itu karena kamu kelamaan duduk. Peredaran darah kamu gak lancar. Kamu gak punya jam tangan detektor ya? Beli sana buat alarm kamu. Kalau kamu sakit, aku yang repot. Jangan nyusahin orang!" ucap Permaisuri dengan intonasi tinggi.
Aku hampir saja jatuh saat berdiri. Untung saja dengan sigap kulangsung berpegangan pada tembok untuk menahan tubuh. Kutarik napas dalam dan mengedipkan mata berulang kali agar kesadaranku kembali. Namun, saat aku mulai sehat, wajah angker Permaisuri yang kudapat.
Apes, batinku kala itu. Kusegera beranjak menuju mesin fotokopi yang tersedia di ruang kerja Tuan Aksara. Meskipun hati ini kesal karena selau dimarahi olehnya, tapi apa yang diucapkan oleh Permaisuri ada benarnya. Hanya saja, cara penyampaian yang membuat hati ini kesal ingin mencabik-cabik wajah cantiknya.
Kutoleh ke belakang dan kulihat Nyonya Permaisuri masih menatapku tajam dengan dua tangan menyilang depan dada. Tak mau cari masalah, kuletakkan lembar asli ke meja Tuan Aksara meski belum kuselesaikan karena jam kerjaku sudah habis. Kusimpan fotokopian di laci mejaku yang akan kuteruskan esok hari.
"Selamat sore, Nyonya. Alia pamit pulang dulu," ucapku sopan seraya mengambil tas dengan tubuh membungkuk sedikit.
"Hem," jawabnya singkat dan masih menatapku tajam.
Segera kupergi meninggalkan rumah mewah itu menuju ke rumah. Saat kusedang berjalan menyusuri jalanan komplek, tiba-tiba ....
"Ah!" kejutku saat cipratan air mengenai wajah.
"Hahahahaha!" tawa Wita, Zacky dan juga Pelangi.
Aku yang baru sadar dari lamunan langsung tersenyum geli seraya menghapus air di wajah dengan tangan.
"Tante ngalamun ya? Awas kesambet setan loh! Mau magrib!" seru Zacky yang kuyakini jika wajahku merah padam karena malu.
"Udah yuk. Kaya mau hujan nih, langitnya mendung. Nanti masuk angin loh," ajakku.
Wita mengangguk seraya mengajak Pelangi keluar dari bak. Handuk untuk Wita dan Zacky sudah disediakan di sebelah kududuk entah sejak kapan benda itu ada di sana. Sepertinya, aku benar-benar terlarut dalam kenangan masa lalu hingga tak menyadari kejadian apa pun di depanku tadi. Ya Allah, untung gak kesambet setan betulan, batinku bernapas lega.
***
__ADS_1
Bismilah mulai nyicil lagi biar cepet tamat di akhir September nanti. Amin❤️Tengkiyuw tips koinnya💋Maksud hati ingin crazy up untuk nutup bolong. Cuma kok kayaknya gak mungkin karena bolongnya banyak. Kwkwkw. Jangan lupa like ditiap epsnya ya. Tengkiyuw lele padamu😘