The Ghost Writer

The Ghost Writer
Menjadi Penulis Sepertinya


__ADS_3

Teringat akan kenangan masa lalu ternyata membuat senyumku terkembang. Aku yang malah tak jadi mengetik ide ceritaku, langsung tersadar ketika mendengar suara azan magrib berkumandang. Segera kutunaikan salat yang setelahnya ingin berkumpul bersama keluarga. Begitu aku keluar kamar usai melakukan tugasku, kulihat Pelangi tidur di atas sofa panjang dengan dot kosong berada di sampingnya.


Kulihat Robby sedang mengobrol dengan Bapak di karpet bawah sofa seperti menjaga Pelangi, tapi keduanya mengenakan sarung serta peci. Aku berpendapat jika keduanya usai menunaikan salat berjamaah. Sedang Agatha, masih terlihat sibuk dengan ponselnya.


"Mau dipesankan apa untuk makan malam?" tanyaku karena tak memasak.


"Fanny udah pesan katanya. Tinggal nunggu makanan dateng," jawab Robby.


"Wah ditraktir lagi nih. Makasih ya," ucapku dengan senyuman. Agatha tersenyum lebar memperlihatkan gigi putih rapinya. "Aku bawa masuk ke kamar ya, Pelangi. Kasihan, kayaknya capek banget," ucapku, dan Robby mengangguk.


Kugendong puteri kecilku yang tampak lelah karena ia tertidur pulas. Kucium kedua pipinya bergantian saat matanya masih terpejam. Sengaja tak kuselimuti karena tubuh Pelangi seperti lengket. Ingin kuganti pakaiannya, tapi takut membuatnya kaget dan malah rewel nantinya.


Jadi, kubiarkan dia tidur dengan lelap dan akan kuganti setelah kuselesai makan malam. Kutinggalkan kamar tanpa menutup pintu agar pergerakan Pelangi masih bisa kuawasi. Saat kuberjalan menuju meja makan, kudengar suara bel pintu berbunyi. Segera kumelangkah karena berpikir jika yang datang adalah pengantar makanan online.


CEKLEK!


"Dengan Mbak Agatha Fanny?" tanya pengirim makanan itu saat melihat layar ponsel. Benarkan tebakanku?


"Ya, Mas. Sudah dibayar belum?" tanyaku seraya menerima bungkusan yang ternyata cukup banyak itu.


"Udah, Mbak. Terima kasih ya," ucap si pengantar dan aku mengangguk lalu menutup pintu.


"Wah, udah dateng! Laper nih," seru Agatha langsung meletakkan ponsel dan berjalan ke wastafel.


Kuhanya tersenyum dan meminta Robby serta Bapak untuk ikut makan bersama. Dua pria itu beranjak dari dudukkan di atas karpet, tapi menyempatkan untuk merapikan alat salat mereka. Kubuka bungkusan itu dan ternyata, Agatha memesan setengah ekor ayam bakar dan setengah ekor ayam goreng kremes. Lalapan dan dua jenis sambal tersedia berikut nasi untuk porsi 5 orang.


"Banyak banget," ucapku.


"Laper gue," jawab Agatha yang dengan sigap mengambil piring.


Aku menahan senyum di mana Agatha memang orang yang cuek dan santai. Ia sudah menganggap rumahku seperti rumahnya walaupun ada Bapak mertua, tapi tampaknya Agatha yang lapar tak peduli dengan hal itu.


"Wah, ditraktir Fanny makan enak. Makasih ya, sering-sering loh," ujar Bapak yang membuat Agatha langsung memberikan jempolnya.


Kami berempat makan dengan lahap karena rasa si ayam sungguh lezat. Terlebih, masih hangat, empuk, dan ukurannya yang pas untuk perut. Kami menikmati makan malam dalam diam bahkan hampir tak ada pembicaraan. Sepertinya, kami berempat kelaparan karena tak ada hal yang diutarakan sama sekali. Namun setelahnya, Bapak mulai angkat bicara seraya menikmati teh hangat buatanku.


"Semoga Tuan Ningrat dan keluarganya gak ngusik kita lagi, amin," ucap beliau terlihat serius.

__ADS_1


"Amin," jawab kami bertiga serempak.


Saat rasa puas dan kenyang usai menyantap makan malam, tiba-tiba ponsel Agatha berdering. Ia melihat layar ponselnya dan segera berdiri.


"Eh, aku udah dijemput. Fanny pamit ya. Maaf, gak ikutan cuci piring," ucapnya meringis.


"Masa udah ditraktir masih diminta cuci piring. Makasih ya, hati-hati," ucapku.


Agatha bersalaman dengan Bapak dan Robby. Aku dan suami mengantarkan Agatha sampai ke pintu depan. Namun, mataku langsung melebar saat melihat Agatha dijemput oleh seorang pria yang tampak keren karena menggunakan motor sport berwarna hitam senada dengan pakaiannya. Aku tak mengenali pria itu karena wajahnya tertutup helm layaknya pembalap.


Agatha terlihat riang saat pria itu memberikan helm padanya. Agatha segera mengenakan lalu membonceng. Bahkan ia tak sungkan untuk memeluk perut pria itu dari belakang.


"Bye!" seru Agatha seraya melambaikan tangan ketika motor tersebut melaju meninggalkan rumahku. Kumenoleh ke arah Robby dan suamiku hanya tersenyum tipis.


"Pacarnya?" tanyaku menebak.


"Iya kali. Nanti juga dia cerita, tunggu aja. Gak usah bikin gosip," ujar Robby, tapi membuatku memonyongkan bibir.


Kami kembali ke meja makan di mana Bapak masih terlihat betah di sana. Kucuci peralatan makan yang kotor usai kami menyantap hidangan ayam untuk makan malam. Namun, saat aku akan beranjak untuk kembali ke kamar, Bapak memintaku untuk kembali duduk. Aku yang bingung hanya bisa menurut.


"Kamu masih punya hutang cerita lho sama Bapak. Lanjutin dulu," pintanya yang membuatku terkejut termasuk Robby.


"Sebelum ketemu kamu. Bapak penasaran sama kisah Alia. Bapak sebagai fans nomor satu, kudu tahu dengan cerita masa lalu idola. Jadi, gimana-gimana? Lanjutin aja terserah dari yang mana. Bapak lagi mau diceritain. Anggap aja dongeng sebelum tidur," pinta beliau dengan wajah terkembang.


Namun, Robby malah tertawa. Mungkin menganggap permintaan ayahnya lucu. Sedang Bapak mertua melirik sadis anak lelakinya yang mungkin berkesan mengolok.


"Pergi sana. Jagain Pelangi. Kamu gak usah ikutan denger," ucap Bapak mengusir Robby.


"Loh, Robby gak bilang apa-apa loh," ucapnya membela diri.


"Sana, sana. Kamu mandi atau ngapain kek yang penting gak usah ikut dengerin," tegas Bapak yang tampaknya bersungguh-sungguh mengusir Robby.


Aku menahan senyum dan suamiku hanya bisa menggaruk kepalanya seraya beranjak dari dudukkan. Robby tampaknya pasrah diusir oleh sang Ayah mungkin karena menyinggung perasaannya. Kulihat wajah Bapak yang berubah masam tak berbinar lagi. Hal itu membuatku berpikir keras tentang apa yang seharusnya kuceritakan. Namun, aku teringat akan lamunanku tadi tentang tawaran Agatha.


"Gimana kalau cerita saat Alia akhirnya mutusin untuk mencoba keluar dari bayang-bayang Aksara Roma? Maksudnya ... ketika Alia menerima tawaran Agatha untuk menjadi penulis sungguhan layaknya Aksara Roma, bukan ghost writer lagi?" tawarku.


Siapa sangka, Bapak menyambutnya dengan antusias yang tinggi. Bisa kulihat wajahnya yang kembali ceria dan seperti tak sabar mendengar kisahku.

__ADS_1


Saat itu. Usai Agatha memberikan penawaran agar aku menjadi penulis sesungguhnya seperti Aksara Roma, malam itu juga, kukerjakan ide ceritaku untuk pengajuan novel ke penerbit. Kuhabiskan sepanjang malam untuk menyusun sinopsis, kerangka cerita, penentuan tokoh, setting lokasi, dan hal penting lainnya. Namun, aku yang selalu kesulitan membuat judul, sengaja tak menuliskannya dulu dan hanya memberikan tanda * pada bagian atas lembar kerja komputer.


Aku langsung mengetikkannya di laptop. Aku akhirnya memiliki benda itu hasil dari pekerjaan sebagai ghost writer Aksara Roma. Kali ini, sebuah gaya baru dari cerita action yang coba kuambil mengenai dunia fantasi. Jujur, sudah lama aku ingin menuliskan genre itu, tapi ragu karena kurangnya referensi.


Namun, selama aku bekerja pada Aksara Roma dan rumahnya terdapat banyak buku, aku diizinkan membawa beberapa novel karya penulis luar negeri yang mengambil genre tersebut. Contohnya seperti novel Harry Potter. Tuan Aksara bahkan memiliki series lengkapnya. Bagiku itu sungguh luar biasa.


Aku menghabiskan banyak waktu di rumah untuk membaca. Begitu selesai dengan satu buku, kulanjutkan dengan buku lainnya. Bahkan, saat aku memiliki uang lebih, aku ikut membeli buku dari penulis luar karena penasaran dengan pengemasan cerita mereka dalam sebuah novel fiksi. Ternyata, hal itu memberikan dampak pada penulisanku.


Kata Tuan Aksara, bahasa yang kugunakan sudah seperti terjemahan. Katanya, itu cukup bagus karena bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk novel terbitannya. Kuterus membaca sebagai pengisi waktu bosan. Istilah buku adalah jendela dunia, bagiku itu benar adanya. Aku mendapatkan banyak ilmu dari buku-buku yang kubaca.


"Oh, jadi novel yang kamu bilang genre fantasi itu, yang dicetak pertama kali, adalah novel pertama yang kamu ajukan ke penerbit dibantu sama Fanny?" tanya Bapak usai mendengar kubercerita. Aku mengangguk. "Pantes. Waktu itu Bapak baca dikira novel terjemahan dari luar negeri. Bapak 'kan memang suka baca, tapi lebih ke majalah, koran, dan buku agama, gak pernah baca novel. Saat Robby bawa buku itu, Bapak penasaran karena sampulnya keren. Bapak coba baca dan ternyata memang bagus. Bapak merasa berada di dunia lain," ucap beliau mengemukakan pendapatnya.


"Makanya Alia heran. Kok Bapak bisa paham ya dengan kisah di cerita Alia. Padahal banyak yang bilang rumit," tanyaku penasaran.


"Rumit memang, tapi jadi seru. Jadi serius bacanya karena penasaran. Selain itu, setting-nya juga di Indonesia. Bapak mudah membayangkannya. Mungkin kalau kamu nulisnya di luar negeri ya Bapak gak nyambung wong belum pernah ke sana," jawab beliau yang membuatku mengangguk paham. "Hanya saja, saat cetakan kedua dan ketiga, sudah bukan fantasi lagi, tapi ke aksi laga. Terus udah pakai model si Joe Taslim itu. Bener 'kan ya?" sambungnya, dan aku mengangguk membenarkan.


"Menurut Bapak, seru yang fantasi atau aksi laga?" tanyaku penasaran.


"Sama aja, semuanya seru. Bapak siap menunggu kejutan lainnya. Yang penting, jangan nulis novel horor atau setan-setan gitu. Gak yakin jantung Bapak kuat kalau tiba-tiba kaget pas baca ngebayangin setannya keluar dari novel," ucap Bapak yang membuatku spontan tertawa.


"Hehe, Bapak takut hantu ternyata," sahut seseorang yang suaranya tiba-tiba terdengar di belakangku. Robby tersenyum lebar dan terlihat semakin tampan. Aku bisa mencium bau wangi ketika ia berjalan mendekat. Lelakiku terlihat segar dengan rambut sedikit basah yang kuyakini dia baru selesai mandi. "Aku udah mandiin Pelangi lho. Dia tadi bangun, jadi sekalian," imbuhnya.


"Kamu mandi sama Pelangi? Ish! Nanti anak kita gede sebelum waktunya!" pekikku melotot, tapi Robby malah tertawa.


"Aku udah mandi duluan, Sayang. Pas lagi pakai baju, Pelangi bangun. Ya udah aku mandiin sekalian. Bukan kita mandi bareng satu bak gitu. Ih, pikiranmu. Kenapa, cemburu ya? Salah sendiri diajak mandi bareng gak mau," ledeknya.


Spontan tanganku meluncur menepuk lengannya. Robby malah terkekeh, dan Bapak ikut tersenyum.


"Aduh, kalian bikin Bapak ngiri. Sayang Ibu udah gak ada. Ya udah, istirahat. Bapak juga mulai ngantuk. Nunggu isya terus mau tidur. Lanjut besok lagi ya ceritanya. Bapak masih penasaran, terutama saat bukumu akhirnya ketemu dan kamu diburu sama Aksara. Yang bagian itu jangan lupa ya," ucap beliau, dan aku mengangguk dengan senyuman.


Robby yang berdiri di sampingku tiba-tiba merangkul. Aku segera berdiri dan berjalan bersamanya menuju kamar. Kulihat Pelangi sedang asyik bermain di atas kasur. Robby benar-benar ceroboh. Untung saja Pelangi tak jatuh saat ditinggal.


"Eh, anak Mama udah bangun. Makan dulu baru bobo lagi ya," ajakku, dan Pelangi mengangguk dengan wajah lugunya.


Robby mengatakan jika ia saja yang menyiapkan makanan untuk Pelangi. Aku diminta menemaninya bermain. Robby membuatkan bubur instan yang ditambah beberapa lauk buatan kakaknya sebelum pulang tadi untuk makan malam Pelangi.


"Pelangi mau disuapin Papa atau Mama?" tanya Robby dengan mangkuk berisi bubur hangat buatannya.

__ADS_1


"Papa," jawabnya imut.


Aku cemberut karena Pelangi lebih memilih ayahnya ketimbang ibunya. Namun, puteri kecilku tak mau rugi. Ia disuapi sang Ayah, tapi tetap mengajakku bermain. Malam itu, suasana hangat menyelimuti kamar kami hingga akhirnya kami bertiga tidur bersama dalam satu kasur melepaskan rasa letih.


__ADS_2