
Kususul Pelangi ke ruang makan dan menikmati sajian yang sudah dihidangkan oleh keluarga Robby usai menjalani salat Magrib.
Ternyata, Pelangi sudah selesai makan terlebih dahulu dan kini sedang asyik bermain balok-balok plastik entah apa yang ingin dibuatnya, tapi tampak serius.
Siapa sangka, masakan para Bude dan Bibi lezat meskipun tak bisa disejajarkan dengan restoran bintang lima.
Aku duduk berjejer dengan para Bude, Bibi, Pakde, Om, dan juga Ayah mertua di kursi bermeja persegi panjang. Sedang Robby, entah suamiku itu berada di mana.
"Alia. Tadi Bibi denger dari Robby. Katanya mantan bosmu yang jahat itu datengin ya ke acara jumpa fans. Kamu yakin dia gak bakal jahat lagi sama kamu?" tanya Bibi dari keluarga almarhum Ibu Robby.
"Kita harus selalu berpikir positif, Bi. Alia yakin Tuan Aksara sudah berubah," jawabku tenang seraya memegang sendok di tangan kanan.
"Namun, kamu harus tetap waspada. Bude aja sampai sekarang masih benci banget sama dia kalau inget kejadian waktu itu. Beruntung kamu selamat. Tega banget cuma karena takut rahasianya ke bongkar mau bunuh kamu. Lagian mau terkenal kok pakai cara curang. Dihukumlah sama Allah biar kapok," ucap Bude dari keluarga almarhum Ibu Robby terlihat marah karena matanya sampai melotot.
"Sudah, sudah. Yang berlalu biarkan berlalu. Alia yang jadi korban aja memaafkan kok kalian yang gregetan loh, tapi Bapak juga sempet marah sama si Aksara itu. Keterlaluan memang," sahut Bapak yang awalnya berbicara bijak malah berakhir dengan kekesalan juga. Aku hanya bisa tersenyum tipis.
Namun, setelah kupikir-pikir, perbuatan Tuan Aksara saat ingin melenyapkanku memang sempat membuat trauma.
Aku bersembunyi karena ketakutan. Tak berani bertemu orang karena khawatir jika yang bersangkutan adalah suruhannya.
Aku sampai hampir mati kelaparan dan terpuruk dalam kesendirian karena tak berani menampakkan diri setelah 1 minggu bersembunyi. Hingga akhirnya, aku bertemu Robby.
"Nak Alia. Eh, itu dimakan jangan bengong. Keburu dingin lho," ucap Bapak mertua yang membuyarkan ingatan masa laluku.
Aku yang kepergok hanya bisa tersenyum lalu mengangguk pelan. Kusuapi mulutku dengan opor ayam yang kutambah sambal goreng hati karena rasa dua masakan itu jika dicampur sungguh membangkitkan selera.
Usai makan, keluarga besar Robby pamit pulang. Tentu saja rasa sedih kembali menghampiriku. Namun ternyata, Bapak masih ingin tinggal karena kangen dengan Pelangi yang lucu.
Aku pun tak keberatan, malah merasa senang karena rumah tak sepi. Biasanya, hanya ada aku, Robby, Pelangi dan Bibi yang membantu membereskan rumah. Dengan adanya Bapak, suasana kekeluargaan kembali kurasakan.
"Bye, Pelangi! Tante nanti dateng lagi jemput Eyang kakung ya. Muach!" seru Jelita dari dudukkan depan saat jendela mobil diturunkan.
"Bye, Tante bawel," jawab Robby dengan sindiran.
"Awas ya. Punya Abang satu aja ngeselin sumpah!" gerutu Jelita, tapi Robby mengabaikannya.
__ADS_1
Satu per satu, halaman rumahku yang tadinya penuh dengan mobil dan motor menjadi lenggang. Tersisa mobil kami saja dan juga sebuah sepeda motor matic milikku.
"Mas," panggilku seraya mendekati Robby. "Aku mau ngetik dulu ya. Nitip Pelangi bentar gak papa kan?" pintaku tak enak hati karena Robby terlihat letih.
"Wah, dapet ide baru? Boleh dong. Jangan lama-lama ya," jawabnya dengan senyuman seraya menggendong Pelangi.
Aku mengangguk lalu segera masuk ke dalam. Saat kulihat ke kamar, ternyata Bapak sudah merebahkan diri di kasur tampak tertidur pulas.
Aku yang awalnya ingin mengetik dengan mesin tik mengurungkan niat dan menggantinya menggunakan laptop.
Segera kududuk di kursi kerja dan membuka lembar kerja pada sebuah software untuk menulis. Ya, produk buatan Microsoft Office banyak membantu khususnya Word.
Kumulai memberikan judul dan langsung kuatur pada bagian utama dengan memilih menu Heading 1. Selanjutnya pada sub judul seperti blurb, sinopsis, nama-nama tokoh, setting lokasi, dan sebagainya, aku memilih Heading 3. Kemudian untuk judul episode aku memilih Heading 2. Tak lupa ku-watermark sebagai tanda jika tulisan itu asli milikku.
Contoh penyusunan dalam penulisan naskah di Word.
Semua menu yang sudah terbentuk itu akan saling terhubung. Dengan sekali klik, aku akan masuk ke halaman yang kubutuhkan.
Terkadang aku menggunakan CTRL+F jika ingin mencari sebuah kalimat atau kata di mana aku sedikit lupa letak pasti dari sebuah kejadian yang pernah aku tuliskan sebelumnya untuk menghindari plot hole.
Setelah semua bahan mentah aku masukkan dalam menu-menu yang sudah disesuaikan, kumulai membuat beberapa judul episode dengan menuliskan sedikit inti penting dari kisah novel nanti agar tak melebar.
Malam yang hening, perut yang kenyang, dan hati yang tenang karena Pelangi ada yang menjaga, membuatku dengan lincah mengetikkan ide gilaku dalam lembar kerja itu.
Sangat kusyukuri, aku termasuk orang yang mudah mendapatkan ide. Hal apa pun yang tertangkap oleh mataku dan menarik perhatian, bisa menjadi sebuah bahan cerita.
Model gampangnya aku pernah membuat sebuah episode yang bercerita tentang sepatu. Hanya karena aku melihat Robby tak sengaja menjatuhkan salah satu sepatu pantofel yang sudah terpasang di kaki kanannya ketika akan masuk ke mobil.
Ukuran sepatu yang masih terlalu besar membuat sepatu itu terlepas dari kaki sang pemilik.
Robby yang awalnya ingin pamer sepatu baru kepada kawan-kawannya mengurungkan niat dan mengganti dengan sepatu lama. Aku hanya terkekeh saat melihat hal konyol itu.
__ADS_1
Sedang yang kutuang dalam kisah novel aksi lagaku kala itu kurang lebih seperti ini. Tokoh tersebut kehilangan sepatunya saat aksi penyelamatan terjadi menggunakan mobil.
Orang tua yang harus diselamatkan itu harus dipindahkan dari satu mobil ke mobil lainnya melalui jendela tengah disaat dua kendaraan itu melaju kencang.
Hal itu dilakukan karena sebuah bus besar tepat berada di depan dan siap menghantam dua mobil tersebut dengan kecepatan tinggi.
Jalan yang sempit dan tak bisa keluar dari jalur aspal, membuat dua mobil itu nekat melakukan adu nyali dengan bus besar tersebut. Si orang tua panik dan menjatuhkan sepatunya ke aspal ketika berhasil masuk ke mobil lain.
Adegan menegangkan terjadi dengan ledakan, baku tembak dan teknik khusus diterapkan baik dari pihak lawan atau pun jagoannya, ternyata memberikan kesan sendiri bagi para pembaca.
Sebenarnya, masih banyak lagi hal-hal sepele yang tertangkap mataku. Kukembangkan dan kuolah hingga menjadi sebuah sisipan pada kisah yang kutulis tanpa melenceng dari alur.
Namun seketika, aku terhenyak saat teringat akan niatan untuk menuliskan kisah hidupku. Sayangnya, mengingat Tuan Aksara Roma sudah memiliki niat baik untuk berubah, rasanya terlalu kejam bagiku jika untuk mencari ketenaran dari malapetaka seseorang.
Tuan Aksara Roma sampai nekat menemuiku untuk meminta maaf. Aku sudah memaafkannya bahkan disaksikan oleh banyak orang.
Aku juga memberikannya kesempatan untuk memperbaiki keadaan dengan alternatif hidup lain tanpa harus menjadi penulis lagi.
Kuberanjak dari kursi lalu kudatangi mesin ketikku yang masih berada dalam kotak penyimpanan.
Semua kertas yang sudah tercetak akan kisah lama kelam kugenggam dan kubaca dengan saksama sebelum kuputuskan.
Dan akhirnya, aku sudah yakin dengan pilihanku. Kudatangi mesin penghancur kertas yang membuat lembaran-lembaran itu menjadi seperti mi.
Kumasukkan satu per satu tiap lembar yang sudah kuketikkan ke mesin tersebut. Awalnya terasa sayang, tapi ini sudah kuputuskan.
Hingga akhirnya semua lembaran itu sudah menjadi potongan kertas yang rapi dan kumasukkan dalam tas plastik atau orang Indonesia biasa menyebutnya kresek.
Biasanya, kertas-kertas itu akan kuberikan kepada Bibi yang membereskan rumah. Ia memiliki warung yang dikelola oleh anak dan menantunya.
Aku pernah melihat Bibi menggunakan kertas-kertas itu sebagai alas untuk meletakkan telur-telur agar tak pecah saat dibeli oleh pelanggan ketika kuberkunjung di warungnya.
Yah, siapa sangka barang bekas yang bagiku sudah tidak berguna bisa dimanfaatkan dengan baik oleh orang lain.
***
__ADS_1
Semua ilustrasi milik pribadi Lelevil Lelesan pada karya novel The Red Lips Final.
masih eps bonus dari jeng Alia ya. makasih lele padamu😍 panjang naskah 1242 jadi bonus 242 kata ya😘