
Esok harinya, Robby membawa kabar jika jenazah Tuan Aksara siap dimakamkan. Permaisuri dan dua anaknya yang sudah kembali dari luar negeri akan ikut hadir. Namun, Permaisuri meminta agar jenazah Aksara dimakamkan di halaman belakang rumahnya sebagai pengingat. Malah, Permaisuri juga mengatakan jika ia meninggal suatu saat nanti, ia ingin dimakamkan di samping mantan suami. Ternyata, dua anak Aksara juga memiliki permintaan yang sama. Jujur, aku cukup terkejut dengan hal ini, tapi juga terharu karena rasa kekeluargaan mereka yang begitu kental meski gosip tak sedap melanda keluarga itu.
Agatha membantu untuk membersihkan nama Aksara berikut keluarga kecilnya dengan menginformasikan tentang pemakaman itu melalui berita televisi di stasiun yang menaunginya. Siapa sangka, kehadiranku ternyata memberikan respon positif bagi beberapa orang yang dulunya membenci Aksara. Aku bahkan diwawancarai oleh Agatha untuk memperkuat dukungan positif yang diharapkan oleh keluarga Permaisuri.
"Terlepas dari perbuatannya yang saat itu cukup membuatku trauma, tapi sesungguhnya, Tuan Aksara memberikan banyak ilmu terutama dalam hal penulisan. Beliau sudah seperti guru untukku. Mungkin sudah takdir Tuhan dan memang beginilah jalannya meski beresiko. Namun, baik aku pribadi ataupun Tuan Aksara, kami berdua sudah mendapatkan pelajaran penting dari kejadian di masa lalu," ucapku mengutarakan perasaan yang sebenarnya.
Kulihat wajah sendu dari Permaisuri dan dua anak dari almarhum Tuan Aksara ketika mereka mendengarkan pengakuanku. Semoga ucapanku tak menyakiti hati mereka yang sedang dirundung duka. Hanya saja, komentar negatif masih saja dilontarkan oleh masyarakat karena saat prosesi pemakaman, keluarga Ningrat tak ada yang hadir. Desas desus kembali terdengar dan hal itu membuat aku ikut merasa gerah, terlebih Permaisuri.
"Bapak sedang tak enak badan, begitu pula saudara saudari lainnya yang notabene mereka sekarang berada di luar negeri. Saya memaklumi hal itu. Yang terpenting, saya, dan anak-anak bisa berkumpul untuk melakukan penghormatan terakhir bagi Aksara. Bagi seluruh warga Indonesia, saya selalu isteri Aksara memohon maaf yang sebesar-besarnya jikalau di masa lalu, suami saya pernah melakukan kesalahan dan membuat yang bersangkutan tersinggung. Saya mewakili almarhum, memohon maaf pada semuanya. Terima kasih," ucap Permaisuri yang didampingi dua anaknya saat diwawancarai oleh pihak media lain ketika diketahui jika Tuan Ningrat dan anggota keluarga besarnya tak datang ketika pemakaman dilangsungkan.
Semenjak kedatangan dua polisi kawan Robby yang diminta untuk mengamankanku dari segala bentuk ancaman atau tindak kejahatan, awalnya aku yang was-was akhirnya bisa bernapas lega. Bahkan, usaha Jelita untuk bisa dekat dengan salah satu kawan polisi Robby tampaknya membuahkan hasil. Meski Jelita dan si polisi muda itu tak mengaku pada Robby, tapi Jelita jujur padaku jika ia dan polisi berambut cepak itu pacaran. Hanya saja, mereka menunggu waktu yang tepat di mana polisi itu berniat untuk menikahi Jelita. Namun, mengingat Robby orang yang cukup kolot dengan laki-laki dan jodoh adik perempuannya, membuat pasangan itu tak ingin gegabah. Dan aku sebagai ipar, hanya bisa mendoakan.
"Kamu gak jujur sama Bapak dan Mbak Wiwit?" tanyaku saat kami berdua berada di kamar.
Hari ini adalah waktu yang dinantikan oleh para Sahabat Pena untuk mengikuti Jumpa Fans di salah satu hotel wilayah Jakarta.
"Kan kita kenalnya juga baru beberapa hari. Jelita juga heran kok bisa cepet gitu jatuh cintanya. Biasanya, gak pernah loh, Kak," jawabnya berbisik takut ketahuan.
Aku hanya terkekeh pelan karena tak paham dengan perasaan itu. Pelangi terpaksa kutinggal di rumah bersama sanak saudara yang berkunjung. Namun kali ini, Bapak ikut serta ditemani Jelita. Pacar polisinya juga ikut bertugas untuk mengamankan acara seperti permintaan pihak manajemen. Robby ikut mendampingiku mengingat para pria berpakaian hitam yang mengendarai motor saat itu belum ditemukan dan ditangkap. Robby yang sangat ingin menyeret nama Tuan Ningrat terlihat berusaha keras agar bisa mendekatinya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju lokasi acara jumpa fans.
"Oh, jadi kamu udah cek CCTV jalanan yang dilalui oleh mobil Agatha sampai ke pos polisi waktu itu ya? Terus, bisa disenggol gak si Tuan Ningrat itu?" tanya Bapak yang duduk di bangku tengah bersama Jelita, dan aku di dudukkan depan menggunakan mobil pribadi Robby.
Sedang dua polisi yang bertugas mengawal kami menggunakan sepeda motor di depan dan belakang.
"Itulah masalahnya, Pak. CCTV tak menangkap pergerakan mobil Agatha saat keluar dari rumah Tuan Ningrat. Mobilnya baru tertangkap kamera ketika memasuki jalan raya. Kita udah sepakat agar tak menyebut nama keluarga Ningrat karena akan berimbas pada penyelidikan berkepanjangan terutama media. Bukan bermaksud menutupi, hanya saja Robby berpikir jika ini urusan keluarga. Selain itu, Permaisuri juga tak ingin mengadukan ayahnya. Kerusakan mobil Agatha juga telah diganti rugi oleh Permaisuri. Mobil lamanya dijual dan ia ganti mobil baru," jawab Robby yang membuatku melongo karena baru mengetahui hal itu.
"Serius, Mas?" tanyaku terheran-heran, dan Robby mengangguk membenarkan.
"Iya sih. Apalagi kalau kasusnya menyangkut keluarga. Masa aib diumbar, kan malu. Bener, Kak, gak usah jujur-jujur amat sama kantor meski kamu polisi. Tau sendiri masyarakat kita kaum demen nyinyir masalah orang. Kasian anak-anak almarhum nanti idupnya gak tenang. Udah gitu, Tuan Ningrat juga mempekerjakan banyak orang. Kalo sampai bangkrut karena masalah ini kasian para pekerjanya," sahut Jelita memaparkan pemikirannya.
Entah kenapa hatiku jadi tak tenang. Padahal sebenarnya kasus ini sepele. Namun, aku percaya pada suamiku karena ia lebih paham untuk menuntaskan kasus seperti ini. Akhirnya perjalanan kami berakhir di sebuah hotel yang berada di Jakarta Selatan.
Hotel bintang 5 kawasan Thamrin menjadi tempat diadakannya acara jumpa fans Sahabat Pena. Jelita dan Bapak mertua terlihat begitu antusias. Mereka berdua bahkan ikut duduk di bangku tamu undangan seraya membawa bukuku untuk meminta tanda tangan, foto bersama, dan cap bibir merekah. Jujur, aku malah jadi malu karena Bapak satu-satunya fans laki-laki dan sudah berumur di ruangan itu.
Lucunya, aku melihat Bapak seperti menjadi pusat perhatian para fans lainnya. Bapak terlihat seru saat mengobrol dengan para sahabat Pena yang duduk di sekitarnya. Ternyata, hal itu juga menarik perhatian pihak manajemen dan Agatha.
"Hahaha, jujur, Al. Mertuamu memang is the best! Kalah pamor itu Joe Taslim sama dia," ucap Agatha saat melihat gerak-gerik Bapak dari kamera pengawas yang kami saksikan di balik panggung.
__ADS_1
"Wah, jangan salah. Bapak antusias banget sejak kemarin malam. Gue dipaksa anterin dia ke tukang pangkas rambut biar keliatan keren. Sampai beli parfum dan juga minta sepatunya disemir demi datang ke acara ini. Sebagai anaknya, gue juga ikut kaget karena Bapak gak pernah kaya gini sebelumnya! Hahaha!" sahut Robby menimpali.
Semua orang terlihat terhibur dengan sikap Bapak yang memang kuakui cukup unik. Namun entah kenapa, hatiku merasa sangat terharu karena memiliki mertua yang begitu menyayangiku seperti anak kandungnya. Bisa kurasakan air mata ini menetes karena bahagia. Dan ternyata, Robby menyadarinya.
"Yah, ada yang nangis," ucapnya saat tiba-tiba memelukku.
Kusambut pelukannya dan kubenamkan wajah yang berlinang air mata di perutnya karena dalam posisi duduk. Robby lalu memberikan tisu agar riasanku tak rusak. Kulihat orang-orang tersenyum seperti ikut bahagia.
"Hei! Bang Joe Taslim udah datang. Semuanya bersiap!" seru Aris selaku dari pihak manajemen menginformasikan.
Aku bergegas merapikan pakaian dan riasan. Agatha menyambut kedatangan Bang Joe berikut lainnya yang ikut menyalami. Aku disalami olehnya dan kali ini, Bang Joe membawa serta keluarga. Jujur, aku sangat senang karena ini pertama kalinya bertemu isteri dan anaknya yang ternyata sangat ramah bahkan mereka langsung mengajak foto bersama.
"Yuk," ajak Agatha di mana Shanty si artis cantik kembali menjadi pembawa acara untuk acara jumpa pada hari itu.
"Oke!" jawabku dengan senyuman, siap untuk menyapa para Sahabat Pena.
***
Bismilah semoga TGW bisa tamat bulan ini sesuai jadwal. Diperkirakan TGW sehari up 2x dan King D cukup sekali aja ya. Cuma mungkin jumlah kata King D lebih banyak karena lele padetin. Itu aja infonya karena lele kudu beneran fokus agar segera tamat sebelum lahiran. Doain lele selalu sehat ya. Amin. Tengkiyuw LAP❤️
__ADS_1