The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 10


__ADS_3

Bel istirahat telah berbunyi lebih dari sepuluh menit yang lalu, tapi guru yang seharusnya mengajar masih betah berlama-lama berada didalam kelas. Korupsi waktu.


Desta menguap bosan, begitu juga beberapa murid lain yang ada di dalam kelas tersebut. Beberapa anak sudah mengangkat tangan, mencoba memberitahu guru tersayang mereka itu jika sekarang sudah memasuki jam istirahat. Namun beliau tetap acuh dan melanjutkan sesi berceritanya. Terkadang Desta merasa heran sendiri. Entah apa maksud dari para guru yang suka menceritakan kehidupan masa muda mereka dulu. Untuk motivasi kah? Atau hanya sekedar membandingkan pencapaian mereka saat muda dengan para muridnya?


Cerita itu terus berlanjut hingga sepuluh menit berikutnya. Sangat membosankan dan menjengkelkan tentu saja. Beberapa siswa mulai terang-terangan mengeluh walau dengan suara lirih. Beruntung, sebuah telefon dari ponsel sang guru berhasil mengusir beliau keluar dari kelas dengan sendirinya. Para murid bersorak gembira, mereka akhirnya bisa pergi kekantin—mengisi perut lapar masing-masing.


Alea disebelah Desta langsung berdiri dari kursinya. Padahal tadi dia masih tertidur, tapi begitu guru tersebut keluar, dia langsung terbangun. Ajaib.


“Kantin yok” ajak Alea semangat. Desta menggeleng pelan, tangannya menunjuk kearah kotak bekal yang memang sengaja dia bawa dari rumah.


“mau nitip gak?” Desta menggeleng pelan sambil membuka kotak bekal miliknya.


“Yaudah”


Alea berlalu keluar kelas, sedangkan Desta langsung menyantap makanannya dengan khidmat. Suasana kelas bisa dibilang cukup hening. Hanya ada beberapa murid yang membawa bekal seperti dirinya, rata-rata dari mereka adalah siswa yang malas jika harus bolak-balik naik turun tangga hanya untuk mengisi perut.


Desta sesekali akan mengedarkan pandangannya melihat sekeliling. Semua terlihat biasa saja hingga matanya menangkap sebuah tulisan di jendela paling pojok. Tidak terlalu jelas karena Desta memiliki sedikit masalah dengan penglihatannya. Karena kepalang penasaran, Desta akhirnya menutup kotak bekalnya itu kemudian berjalan ke arah jendela tadi.


Jendela tadi menghadap langsung kearah lapangan, sehingga dia bisa melihat beberapa siswa kelas sepuluh yang sepertinya tengah pemanasan dengan dibimbing oleh seorang guru.


Desta berjalan semakin mendekat kearah jendela, hingga tulisan tadi bisa dibaca olehnya. Tulisan itu ternyata hanya terdiri dari satu kata tetapi sudah lebih dari cukup untuk membuatnya bergidik ngeri.


Mati


Itu adalah kata yang tertulis di jendela. Warnanya merah pekat, seperti ditulis menggunakan darah menstruasi. Cipratan dari tinta tulisan itu juga melebar kemana-mana, menambah kesan menyeramkan yang ditimbulkan. Lamat Desta memandangi tulisan itu hingga tidak sadar jika tangannya ditarik mundur oleh seseorang.


Pranggg


Kaca jendela itu pecah. Sebuah bola menggelinding didekat pecahan kaca jendela tersebut. Desta menatap kosong kearah bola tadi, masih belum seratus persen memahami situasi yang ada.


“Ya ampunn, hampir aja”


Deata menoleh kesamping, Alea terlihat menghela nafas lega. Desta memandang bingung kearah teman sebangkunya itu, masih belum mengerti keadaan.

__ADS_1


“Lo hampir kena bola nyasar ******!!”


Desta masih terdiam, baru menyadari jika tadi dia memang hampir terkena bola itu. Dia juga baru sadar jika teman-teman sekelasnya berkumpul mengelilinginya, menatap dengan pandangan khawatir, kaget, dan beberapa ada juga yang merasa ngeri. Kaca jendela itu benar-benar hancur, serpihannya banyak berserakan dilantai.


Desta beralih menatap serpihan kaca dilantai. Dahinya berkerut heran. Kenapa tidak ada bekas warna merah pada kaca itu? Padahal tadi Desta melihat dengan jelas tulisan berwarna merah dijendela. Kenapa tidak ada bekasnya sedikitpun?


“Duduk dulu yuk? Gue tau lo masih kaget” suara Alea berhasil mengalihkan perhatiannya.


Desta menurut, membiarkan Alea menuntunnya untuk duduk kembali di kursinya, sedangkan teman-temannya yang mengelilinginya tadi sudah membubarkan diri. Beberapa ada yang dengan sigap membereskan kekacauan yang ada. Tentunya itu setelah diminta oleh Alea.


Desta kembali merasakan perih di area lututnya saat dirinya mulai berjalan. Desta secara spontan menghentikan langkahnya. Dia melihat kebawah dan benar saja. Luka dilututnya itu kembali terbuka. Alea yang mengikuti arah pandangan temannya itu berseru heboh.


“E-eh gue narik lo kekencengan ya? Aduhh itu ada darahnya lagi, uks aja ayo lahh”


Desta terkekeh pelan. “Gue gapapa. Gak usah alay”


Alea mendengus tidak suka. Dia kan hanya khawatir, kenapa pula dia dikatai alay?


“Gak usah batu. Ayo ke Uks aja, biar gak infeksi itu”


“Sembarang!! Ngapain bolos orang abis ini jamkos”


Desta hanya menganggukan kepala. Pantas Alea tidak heboh. Benar juga, Desta baru ingat jika guru itu sudah memberitahu bahwa dirinya tidak bisa mengajar karena sedang ada dinas diluar kota selama sebulan dan hanya memberikan sebuah tugas dengan deadline sebulan.


Alea kembali menuntun Desta untuk berjalan keluar kelas. Kali ini lebih pelan dari yang sebelumnya—karena sebelumnya, Alea lebih terlihat seperti sedang menggeret seekor kambing alih-alih manusia.


Tetapi belum juga keduanya mencapai pintu keluar, seorang siswa dengan pakaian olah raga memasuki kelas mereka dengan keringat yang mengucur membasahi dahinya.


“Cari siapa?” ini Rista, si ketua kelas yang bertanya. Siswa tersebut terlihat sedikit kikuk.


“Anu itu kak, disuruh ngambil bola.. sama mau ganti rugi kaca jendelanya”


“OHH JADI LO YANG NGELEMPAR BOLANYA?!! MINTA MAAF LO SAMA TEMEN GUE, HAMPIR KENA DIA NJIRR”

__ADS_1


Alea secara tiba-tiba maju sambil menarik baju siwa tadi. Memang berbakat menjadi preman.


Semua orang yang ada di kelas itu sontak saja kaget dengan perlakuan Alea yang bisa dibilang terlalu berlebihan.


“Lea.. udah ih. Bikin malu aja sih lo” Desta Akhirnya maju menengahi mereka, dibantu dengan Rista yang mengamankan siswa tadi.


Siswa itu menampilkan raut wajah bersalah dan... mungkin sedikit takut dengan Alea yang sangat bar-bar itu. “S-siapa yang hampir kena?”


“Nih si Desta” Alea mendorong pelan bahu Desta, membuat si empunya mendengus.


“M-maaf kak, gak sengaja..” siswa itu menunduk.


“Minta maaf nya yang bener. Yang ikhlas, bisa?” Alea dengan nada juteknya menatap tajam kearah adik kelasnya itu.


“Lea...” Alea mendengus. Masih kesal dengan siswa itu. Heran, padahal yang hampir kena siapa yang marah siapa.


“Gapapa kok, lagian gak ampe kena juga. Tapi kalo urusan kaca, kamu mending tanya ke bu Ratmi. Di Bk”


Siswa itu mengangguk pelan. “Itu...kaki kakak luka gara-gara bola aku ya? Aku anterin ke Uks ya kak?”


Alea hendak bersuara, bermaksud menolak tawaran Adek tingkatnya itu tapi ternyata Desta sudah lebih dulu menolak dengan halus tawaran itu.


“Gak usah, gapapa. Kamu balik aja sana, masih pelajaran pak Yanto kan? Nanti diomelin lagi”


Siswa tersebut mengangguk, meminta maaf sekali lagi lalu tersenyum dan berpamitan pergi. Alea melotot kearah Desta. Bisa-bisa dia membiarkannya pergi dengan mudah. Hell, padahal Alea sudah menggulung lengan bajunya—bersiap menghajar adek kelas yang dia anggap kurang sopan itu.


“Ta... kok dibiarin pergi sihh?? Gue kan—“


“Udah diem. Bu Ratna udah dateng” tunjuk Desta kearah pintu kelas sambil berjalan kearah bangkunya.


Alea menoleh kearah yang ditunjuk Desta. Disana, seorang wanita paruh baya dengan lipstick merah menyala tengah berdiri sambil menenteng tas dan sebuah penggaris besi. Alea bergegas duduk dibangkunya sambil menampilkan senyum lima jari miliknya.


“Baiklah anak-anak!! Keluarkan buku paket masing-masing, kerjakan tugas halaman 70-75. Sekarang!!”

__ADS_1


Dan teriakan dari bu Ratna dibalas dengan gerututan semua murid dikelas tersebut. Yahh.. setidaknya tragedi bola nyasar tadi sudah terlupakan.


__ADS_2