The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 20


__ADS_3

Seminggu belakangan ini publik digemparkan dengan berita penemuan mayat di sebuah rumah tua dekat perumahan XX. Kondisi mayat yang sangat mengerikan membuat masyarakat menjadi resah apalagi si pembunuh belum juga ditemukan.


Desta memandang jengah layar ponselnya. Dia sudah cukup kenyang melihat dan mendengar berita yang sama selama seminggu.


“Beritanya gak ada yang lain apa? Perasaan iniiiii terus yang dibahas”


Celetukan dari teman sebangkunya itu disetujui diam-diam oleh Desta. Alea terlihat dongkol. Entah itu di twitter, WhatsApp, instagram, google, bahkan youtube hanya membahas penemuan mayat itu.


“Eh, eh lo udah dengar belom Ta? Katanya mayat yang bikin heboh itu ternyata anak sini?” pertanyaan itu membuat Desta menoleh kearah Alea. Agaknya dia sedikit tertarik dengan pembahasan ini.


“Maksud lo? Yang meninggal itu murid sini gitu? Tau dari mana lo?”


“Lo masih inget Rizal gak? Temen yang gue ajak pas njenguk lo?” Desta mengangguk


Alea sedikit lebih mendekatkan diri kearah Desta, lantas mulai berbicara dengan suara lirih.


“Dia itu sebenernya detektiv yang nangani kasus ini. Kata dia sih, seragam yang dipake korban tuh ada logo sekolah kita”


Desta sedikit banyak terkejut mendengar penuturan dari Alea. Bukan terkejut karena mayat itu ternyata murid di SMA ini—walau itu juga membuatnya merasa kaget di awal, tetapi kaget karena Rizal ternyata seorang detektiv. Ya... kalian tahulah bagaimana peragai Rizal saat menjenguk Desta tempo waktu. Berebut tempat untuk duduk hingga mengumpat dalam bahasa asing (re: bahasa jawa). Sama sekali tidak memiliki vibe sebagai seorang detektiv.


“Ya terus gimana? Mayatnya usah di identifikasi belom? Kok belum ada beritanya?”


Tunggu, sejak kapan Adesta Herawati menjadi tukang kepo?


“Kata dia sih udah, tapi gak bakal di publish ke publik kayaknya”


Desta menganggukan pelan kepalanya. Sedikit kecewa mendengar informasi tadi, padahal dia sebenarnya cukup penasaran dengan identitas si korban itu.


“Eh Ta, kok gue jadi mikirnya kalo korban itu kak Azril ya?”


Desta mengangkat sebelah alisnya, “Kenapa lo mikir kaya gitu?”


“Ya gini deh, kak Azril kan sampai sekarang belum, ketemu terus si korban itu kata Rizal anak sekolah sini. Masuk akal gak sih?”


Desta sekali lagi menganggukan kepalanya. Memang terdengar masuk akal baginya, tapi dia berharap jika korban tersebut bukan kakak kelasnya.


*****


09.00

__ADS_1


Kantor detektiv bagian XA


Rizal tengah berkutat dengan sejumlah berkas laporan di mejanya. Tangannya sesekali akan memijat pelan pelipisnya.


“Beberapa saksi mengaku melihat ada orang berjubah yang pergi kesekitaran gang menuju rumah tua itu pak”


Laporan dari bawahannya itu semakin membuat kening Rizal mengkerut.


“Orang berjubah?”


Bawahannya itu mengangguk. ”Iya pak, jubah berwarna hitam. Tingginya sekitar 160 cm, perawakannya kecil”


“Bagaimana dengan wajahnya?”


“Tidak ada yang melihatnya pak”


Rizal mengangguk paham. Ini tidak akan mudah, apalagi cctv disekitar lokasi kejadian ternyata sedang rusak.


“Baiklah, kamu boleh pergi”


Bawahannya itu sedikit menunduk hormat sebelum akhirnya pergi dari ruangan itu. Tangannya bergerak mengambil sebuah map dari laci mejanya. Itu kertas hasil otopsi mayat korban. Hasil itu sebenarnya sudah keluar empat hari yang lalu—lebih cepat dari yang ditargetkan. Orang tua korban juga sudah diberitahu dan jasadnya juga sudah dimakamkan.


Ini sedikit lebih sulit. Sama sekali tidak ditemukan jejak pelaku, baik ditubuh korban maupun di lokasi kejadian. Benar-benar tidak ada sedikitpun. Sidik jari, rambut ataupun lainnya yang sekiranya bisa menjadi bukti, padahal sudah seminggu berlalu. Si pembunuh itu terlalu rapih dalam melakukan aksinya.


Andi sebenarnya juga tidak luput dari pemeriksaan para polisi. Bagaimanapun, dialah orang yang menuntun para polisi menuju tempat kejadian perkara. Bisa saja kan kalau Andi yang membunuh? Tuduhan itu tidak dilayangkan tanpa dasar. Pasalnya, jawaban yang diberikan oleh Andi saat di introgasi sangatlah tidak jelas dan valid. Dia menjawab jika dia dituntun oleh dua hantu kembar yang menjadi penunjuk jalannyan. Karena jawaban itu pula, Andi sempat dikira memiliki sedikit gangguan kejiwaan. Tapi itu semua berhasil dibantah olehnya setelah melewati tes kejiwaan kecil-kecilan di kantor polisi tersebut. Rizal bahkan sempat tertawa terbahak-bahak saat Andi dikira gila oleh para bawahannya, yang mana mengundang sebuah geplakan untuk mampir di kepalanya. Pelakunya? Tentu saja Andi. Siapa lagi yang berani main tangan dengan si detektiv yang cukup disegani itu selain Andi dan Alea.


Kasus ini memang akan lebih menyulitkan karena kurangnya bukti yang ada. Tapi mungkin, laporan kesaksian tadi bisa menjadi sebuah titik terang dalam kasus ini. Setidaknya, ciri-ciri pelaku sudah dia dapat walaupun hanya sedikit.


Kriettt


Pintu ruangan itu terbuka. Sosok Dean muncul dari balik pintu setelah sebelumnya dipersilahkan untuk masuk oleh si pemilik ruangan.


“Wettss ada apa nih kesini?”


Dean tersenyum tipis. Peragai Dean itu lebih kalem.


“Mampir bentar. Kebetulan tadi lewat, nih buat lo”


Dean memberikan sebotol kopi dingin kearah Rizal yang diterima dengan sumringah oleh yang di sondori.

__ADS_1


“Thanks ya” ucapnya sebelum mulai membuka tutup botol kopi tersebut.


“Tumben lo bisa pake acara mampir segala. Gak sibuk apa? Biasanya juga lo ada pasien 24/7” Dean tertawa pelan menanggapi omongan dari Rizal itu.


“Bukannya lo ya yang sibuk, pak detektiv?”


Keduannya lalu tertawa bersama. Sekali lagi, aku sama sekali tidak tahu dimana letak humornya. Mungkin kalian bisa memberitahuku? Ya.. seperti di film dora the explore.


“Gue denger-denger, lo yang nanggangin kasus pembuhan yang lagi heboh semingguan ini?” Rizal menjawab pertanyaan dari Dean dengan anggukan singkat.


“Bukannya lo lagi nangganin kasus pembunuhan juga ya? Yang sebelum ini tapi”


Rizal menaikan alis kirinya. “Yang mana?”


Dean berdecak pelan, “Yang waktu itu lo bilang pas ke ruangan gue”


Rizal terdiam sebentar, mencoba mengingat kembali kasus yang dimaksud psikiater muda dihadapnya ini.


“Oohh yang itu? Dipindahin ke tim lain. Punya gue diganti, disuruh cari kasus penculikan anak. Tapi baru juga setengah petunjuk gue temuin, eh udah diganti lagi sama pak kumis.


“Pak kumis?” tanya Dean bingung.


“Atasan gue”


“Anjirrr”


Nah kan. Sekalem-kalemnya seorang Dean, tetap tidak akan lepas dari kata umpatan dan kebobrokan apalagi jika sudah bersama dengan Rizal. Keduannya lalu tertawa terbahak-bahak, menertawakan inside jokes mereka buat.


“Eh tapi serius, itu pembunuhnya bukan orang yang sama?”


“Gak tau juga gue. Belum jelas, sama-sama minim bukti”


Dean mengangguk paham. Keduannya lalu terdiam untuk sesaat, menikmati kopi di botol masing-masing sebelum akhirnya kembali terlibat dalam perbincangan random.


Brakk


Gebrakan pintu itu seketika menganggetkan kedua orang pemuda dengan profesi yang berbeda itu. Seorang gadis berseragam SMA datang dengan nafas terengah-engah.


“Kak Dean, mending lo ikut gue sekarang. Dia ambil alih Desta lagi”

__ADS_1


__ADS_2