
“Desta!!”
Yang dipanggil menoleh lalu tersenyum begitu menemukan eksistensi keberadaan orang yang memanggilnya. Melambaikan kecil tangannya, Desta kemudian berjalan kearah orang tadi memanggilnya.
“Nunggu lama?”
Yang ditanya menggeleng. “Baru setengah jam sih”
Desta mencebikan bibirnya. Tangannya bergerak menepuk pelan bahu pemuda itu.
“Ya itu termasuk lama kak Andiiiii” ucapnya gemas. Gemas ingin mencekik orang yang ada di hadapannya ini.
Andi tertawa pelan. Diserahkannya sebuah helm kearah Desta yang diterima kemudian diterima oleh yang lebih muda dengan senang hati.
“Berangkat sekarang?”
Desta memutar bola matanya malas. Ingin sekali dia melempar candaan “gak, tahun depan. Ya sekaranglah!” tapi urung. Dia sedang malas terlibat guyonan garing, jadi Desta hanya menganggukan kepalannya.
“Siap?” tanya Andi setelah memastikan jika penumpangnya itu sudah sepenuhnya naik keatas jok motor.
Desta dua kali menepuk pundak Andi sebagai kode untuk yang lebih tua kalau dia sudah siap. Motor yang Andi kendarai akhirnya melaju meninggalkan area sekolah Desta.
Ngomong-ngomong, itu benar-benar motor milik Andi bukan milik teman detektivnya itu. Dia membelinya sekitar enam hari yang lalu. Andi juga sudah pindah ke apartement barunya sekitar tiga minggu yang lalu, tepat setelah malam petualangannya dengan Rizal (Ingatkan tentang penemuan mayat yang Andi dan Rizal lakukan di sebuah rumah tua yang usang? Andi menyebut hal itu sebagai “petualangannya”).
“Ini kita langsung kesana? Gak mau beli apa dulu gitu?” kata Andi dengan sedikit berteriak. Mereka sedang diatas motor yang sedang melaju cukup kencang sekarang ini, ditambah lagi mereka berdua sama-sama menggunakan masker dan juga helm. Pendengaran mereka jadi sedikit terganggu atau dengan kata lain, mereka berdua sedang sama-sama sedang “budeg”.
“Hah?? Gimana kak?”
Andi memilih diam tanpa menjawab pertanyaan dari Desta, karena dia juga tidak terlalu jelas mendengar pertanyaan dari gadis diboncengannya itu. Tapi secara kebetulan, lampu merah dijalan itu menyala yang mana mengharuskan Andi menghentikan laju motornya. Andi lalu kembali mengulang pertanyaannya tadi.
“Ini kita mau langsung ke RS? Gak mampir beli apa dulu gitu?”
“Hmm.. gak usah deh kak, lagian dia juga belum bangun” ucap Desta sambil tersenyum tipis.
Andi hanya mengangguk paham tanpa memperpanjang obrolannya dengan Desta. Takut semakin memperburuk suasana hati gadis SMA ini. Umm... Apa kalian bertanya-tanya sejak kapan Andi dan Desta menjadi dekat? Biar sedikit kuceritakan.
Masih ingatkan jika Andi yang membantu Alea untuk menolong Desta yang saat itu sedang diambil alih? Alea waktu itu sudah meceritakan siapa yang menolongnya. Desta yang mengetahui hal itu kemudian meminta nomor kontak Andi dari Alea, berniat untuk berterimakasih secara langsung kepadanya.
Entah bagaimana cara Alea mendapat nomor telepon itu, aku tidak begitu tahu. Tapi kedekatan mereka berdua tidak dimulai dari sana. Kedekatanya justru dimulai ketika Andi menemukan Alea dalam keadaan hampir sekarat sedang tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Keadaanya sangat menakutkan, dengan luka tusukan dan bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Bibirnya memucat karena darahnya banyak yang keluar.
__ADS_1
Mengejutkan? Iya memang. Desta baru menerima kabar jika sahabatnya itu sedang sekarat keesokan harinya. Itu terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Alea koma, Andi yang merasa harus bertanggung jawab karena dialah orang yang pertama kali menemukan Alea kemudian datang hampir setiap harinya untuk menjenguknya—padahal dia sudah diminta untuk tidak melakukan hal itu, takut merepotkan kalau kata ibu Alea tapi Andi sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Desta juga melakukan hal yang sama sehingga keduanya kemudian menjadi akrab dengan sendirinya.
Kembali ke masa sekarang, kedua anak adam itu sudah sampai dilorong rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan tanpa sepatah katapun. Mood Desta semakin memburuk setelah sampai dirumah sakit.
Mereka berdua langsung menuju kamar tempat Alea dirawat. Keadaan Alea masih sama seperti dua minggu yang lalu. Kepala dan beberapa bagian tubuh yang diperban, selang oksigen, dan beberapa alat medis terlihat masih menempel ditubuh Alea. Ibu Alea terlihat tertidur disamping tempat tidur anaknya itu.
Desta yang melihat pemandangan itu sedikit teremat hatinya. Pikirannya berkelana, jika dia yang ada diposisi Alea, apa ibunya juga akan bertindak seperti yang ibu Alea? Desta menggelengkan pelan “Desta!!”
Yang dipanggil menoleh lalu tersenyum begitu menemukan eksistensi keberadaan orang yang memanggilnya. Melambaikan kecil tangannya, Desta kemudian berjalan kearah orang tadi memanggilnya.
“Nunggu lama?”
Yang ditanya menggeleng. “Baru setengah jam sih”
Desta mencebikan bibirnya. Tangannya bergerak menepuk pelan bahu pemuda itu.
“Ya itu termasuk lama kak Andii” ucapnya gemas. Gemas ingin mencekik orang dihadapannya ini.
Andi tertawa pelan. Diserahkannya sebuah helm kearah Desta yang diterimanya dengan senang hati.
“Berangkat sekarang?”
Desta memutar bola matanya malas. Ingin sekali dia melempar candaan “gak, tahun depan. Ya sekaranglah!” tapi urung. Dia sedang malas terlibat guyonan garing, jadi Desta hanya menganggukan kepalannya.
Desta dua kali menepuk pundak Andi sebagai kode untuk yang lebih tua kalau dia sudah siap. Motor Andi akhirnya melaju meninggalkan area sekolah Desta. Ngomong-ngomong, itu benar-benar motor milik Andi. Dia membelinya sekitar enam hari yang lalu. Andi juga sudah pindah keapartemennya tiga minggu yang lalu, tepat setelah malam petualangannya dengan Rizal (Ingatkan tentang penemuan mayat yang Andi dan Rizal lakukan di sebuah rumah tua yang usang? Andi menyebut hal itu sebagai “petualangannya”).
“Ini kita langsung kesana? Gak mau beli apa dulu gitu?” kata Andi dengan sedikit berteriak. Mereka sedang diatas motor, ditambah lagi mereka berdua sama-sama menggunakan masker dan juga helm. Pendengaran mereka jadi sedikit terganggu atau dengan kata lain, mereka berdua sedang sama-sama sedang “budeg”.
“Hah?? Gimana kak?”
Andi memilih diam tanpa menjawab pertanyaan dari Desta, karena dia juga tidak terlalu jelas mendengar pertanyaan dari gadis diboncengannya itu. Tapi secara kebetulan, lampu merah dijalan itu menyala yang mana mengharuskan Andi menghentikan laju motornya. Andi lalu kembali mengulang pertanyaannya tadi.
“Ini kita mau langsung ke RS? Gak mampir beli apa dulu gitu?”
“Gak usah deh kak, lagian dia juga belum bangun” ucap Desta sambil tersenyum tipis.
Andi hanya mengangguk paham tanpa memperpanjang obrolannya dengan Desta. Takut semakin memperburuk suasana hati gadis SMA ini. Umm... Apa kalian bertanya-tanya sejak kapan Andi dan Desta dekat? Biar sedikit kuceritakan.
Masih ingatkan jika Andi yang membantu Alea menolong Desta yang sedang diambil alih? Alea waktu itu sudah meceritakan siapa yang menolongnya. Desta yang mengetahui hal itu kemudian meminta nomor kontak Andi dari Alea, berniat untuk berterimakasih secara langsung padanya. Entah bagaimana cara Alea mendapat nomor telepon itu, aku tidak begitu tahu. Tapi kedekatan mereka berdua tidak dimulai dari sana. Kedekatanya justru dimulai ketika Andi menemukan Alea dalam keadaan hampir sekarat sedang tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Keadaanya sangat menakutkan, dengan luka tusukan dan bekas pukulan benda tumpul di kepalanya. Bibirnya memucat karena darahnya banyak yang keluar.
__ADS_1
Mengejutkan? Iya memang. Desta baru menerima kabar jika sahabatnya itu sedang sekarat keesokan harinya. Itu terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Alea koma, Andi yang merasa harus bertanggung jawab karena dialah orang yang pertama kali menemukan Alea kemudian datang hampir setiap harinya untuk menjenguknya—padahal dia sudah diminta untuk tidak melakukan hal itu, takut merepotkan kalau kata ibu Alea tapi Andi sama sekali tidak masalah dengan hal itu. Desta juga melakukan hal yang sama sehingga keduanya kemudian menjadi akrab dengan sendirinya.
Kembali ke masa sekarang, kedua anak adam itu sudah sampai dilorong rumah sakit. Keduanya berjalan beriringan tanpa sepatah katapun. Mood Desta semakin memburuk setelah sampai dirumah sakit.
Mereka berdua langsung menuju kamar tempat Alea dirawat. Keadaan Alea masih sama seperti dua minggu yang lalu. Kepala dan beberapa bagian tubuh yang diperban, selang oksigen, dan beberapa alat medis terlihat masih menempel ditubuh Alea. Ibu Alea terlihat tertidur disamping tempat tidur anaknya itu.
Desta yang melihat pemandangan itu sedikit teremat hatinya. Pikirannya berkelana, jika dia yang ada diposisi Alea, apa ibunya juga akan bertindak seperti ibu Alea? Desta menggelengkan pelan kepalanya, berusaha mengenyahkan pikiran ngawur yang hinggap dikepalanya.
Pakaian yang ibu Desta kenakan masih sama dengan kemarin malam, padahal sekarang sudah jam tiga sore membuat Desta menyimpulkna jika Ibu dari sahabatnya itu belum berbersih diri dan beristirahat.
“Bu, bangun” Desta berucap pelan sambil sedikit menguncang bahu wanita paruh baya itu.
Yang bahunya sedikit digoncang bangun beberapa saat setelahnya.
“E-eh? Ada kamu to, nak Andi juga. Sini-sini duduk dulu”
Yang diperintah menurut kemudian mulai mengambil kursi dan duduk disisi lain ranjang.
"Aduh maaf ya bu, kita gak bawa apa-apa"
Ucapan Desta barusan mengundang sebuah gelengan pelan dari ibu Alea.
"Gapapa, kalian dateng kesini aja ibu udah seneng banget. Seenggaknya ibu tahu kalau Alea punya orang-orang baik disekitarnya"
Desta tersenyum begitu pula Andi. Jawaban dari beliau membuat hati mereka menghangat.
“Ibu udah makan?” tanya Desta pelan. Desta memang sudah terbiasa memanggil beliau dengan sebutan “ibu”. Beliau sendiri yang menyuruhnya karena saking dekatnya persahabatan antara Desta dan Alea.
Ibu Alea tersenyum tipis lalu menggeleng. “Belum, nanti Alea gak ada yang nemenin kalo ibu keluar”
Desta mencelos, “Ibu pulang dulu aja ya? Biar Desta sama kak Andi yang jagain Alea.”
Ucapan dari Desta itu diangguki setuju oleh Andi.
“Kalian emang gak capek?” Desta mengeleng pelan.
“Ngak bu, mending ibu makan terus istirahat. Ibu pasti capek banget nemenin Lea seharian ini”
Setelah berfikir sebentar, ibu Alea akhirnya menangguk setuju. “Ibu titip Alea dulu ya”
__ADS_1
Desta dan Andi kompak menangguk sambil tersenyum, mengisyaratkan jika beliau tidak perlu khawatir karena mereka berdua bisa diandalkan. Wanita paruh baya yang menjabat sebagai ibu alea itu kemudian beranjak pergi, membiarkan sahabat dan penolong anaknya itu diam memandangi tubuhnya yang mulai menghilang dibalik pintu.