
Rizal bersenandung pelan sambil terus melajukan motor miliknya, sedangkan Andi yang sedang dibonceng hanya diam mengamati keadaan sekitar. Sesuai janji Rizal kemarin, hari ini mereka berdua akan pergi ke apartemen yang dia rekomendasikan.
Andi sebenarnya merasa bosan. Selama dua jam lebih dalam perjalanan, mereka sama sekali tidak terlibat perbincangan karena mereka berdua tahu itu akan percuma. Keduanya sama-sama mendadak budeg ketika berada diatas motor terlebih lagi saat menggunakan helm. Jadi, untuk menghindari adanya ledakan amarah, mereka memilih untuk diam selama diperjalanan.
Tiga puluh menit kemudian, motor yang Rizal kendarai berhenti di tempat parkir sebuah gedung apartemen. Letak gedung itu agak jauh dari pusat kota, tetapi tidak sampai terpencil. Itu juga bukan gedung yang besar. Mungkin hanya terdiri dari tujuh lantai.
Andi mengekori Rizal yang sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan area parkir. Mereka berdua tidak langsung masuk kesana, tetapi berbelok menuju sebuah rumah yang terlihat berada tidak jauh dari gedung apartemen tersebut.
Si pemilik rumah terlihat sudah menanti mereka disana. Rizal dan si pemilik rumah itu terlihat berjabat tangan ala-ala.
“Ini yang mau beli?” Rizal mengangguk pelan. Tangannya bergerak mendorong pelan bahu Andi.
“Kenalin, gue Dafi. Mau liat-liat dulu?” kali ini Andi yang mengangguk.
Mereka bertiga kemudian berjalan memasuki area gedung itu. Sebenarnya, Andi merasa kurang nyaman dengan atmosfir di dalam gedung apartemen ini. Mereka terlalu banyak. Tapi ini sebenarnya cukup bagus untuk mengelabuhi para penjaga ayahnya.
Dafi menuntun mereka memasuki lift, menuju lantai tiga. Di lantai ini, Andi tidak merasa terlalu sesak. Jumlah mereka sudah berkurang, tapi tetap ada.
126
Itu nomor kamar yang mereka bertiga tuju. Ruangannya cukup luas untuk ditinggali oleh Andi seorang diri.
“Disini aman dari mereka gak?” Andi bertanya sambil terus melihat-lihat sekeliling unit apartement itu. Dafi yang paham maksud dari pertanyaan tersebut hanya mengangguk memyakinkan.
“Aman kok ini. Mereka biasanya gak berani masuk ke apartementnya sih. Paling kalo diluar gitu baru ada”
“Oke. kalau gitu gue ambil yang ini”
“Yaudah. Urusan administrasi gampanglah diurus nanti, sama gue langsung”
“Deal” Dafi dan Andi saling berjabat tangan.
“Jadi, lo mau mulai pindahan kapan?” kali ini Rizal yang bersuara setelah sekian lama hanya dia mengamati percakapan diantara Dafi dan Andi.
“Lo ngusir gue?”
Plaakk
__ADS_1
Sebuah geplakan mampir di lengan Andi.
“Ya enggak, kan gue mau bantuin ntar”
Andi membulatkan mulutnya. Mereka bertiga kemudian beranjak meninggalkan unit apartement itu, Andi bilang jika dia ingin segera mengurus segala administrasi pembelian apartement tersebut.
“BAJINGG”
Baru juga beberapa langkah mereka bertiga melangkahkan kaki meninggalkan unit apartement tadi, tetapi Andi sudah mengumpat saja. Usut punya usut, dia ternyata melihat errr... penampakan setan yang mirip dengan yang ada di mimpinya tadi malam. Si sadako jadi-jadian itu.
Dafi tertawa pelan melihat ekspresi kaget Andi dan juga Rizal yang ikut terkaget mendengar teriakan dari Andi.
“Oh hai miss. Mereka temanku jadi tolong jangan diganggu ya?”
Ajaib. Setan tadi langsung menghilang begitu Dafi menyelesaikan kalimatnya. Andi tercengang ditempat sedangkan Rizal hanya memandang bingung kearah Dafi.
“Lo ngomong sama siapa sih daf? Gak usah keikut Andi deh”
Dafi terkekeh pelan. Dia kembali menyuruh teman dan calon penghuni salah satu unit apartemennya itu untuk kembali berjalan.
**
**
Yha, Rizal tidak bergurau saat dia mengatakan jika dia adalah seorang detektif, bahkan Rizal adalah salah satu Detektif andalan kepolisian. Padahal seharusnya Rizal sedang berada dalam masa libur dan bebas tugas, tetapi sepertinya itu hanya ada di anggan-anggan sang detektif saja karena nyatanya, dia masih banyak mendapat panggilan kasus.
Andi memejamkan matanya. Dia hampir saja terlelap jika saja ponsel miliknya tidak berbunyi nyaring. Sebuah SMS masuk ke nomornya. Padahal, tidak biasanya ada SMS yang masuk ke ponsel miliknya.
Sisa pulsa kamu Rp. 0 segera isi ulang....
Andi membanting ponselnya ke kasur. SMS tidak bermutu ternyata. Andi akan memilih memejamkan matanya lagi jika saja Hantu disebelahnya itu tidak terus menerus menganggunya. Kadang meniup-niup tengkuknya, kadang menarik sebelah kakinya dan masih banyak lagi kejahilan si hantu yang membuag Andi merasa dongkol.
“Apaan sih?!!”
Untung saja hantu itu masih dalam mode baik, jadi dia tidak marah dan kembali ke wujud aslinya.
“Bangun”
__ADS_1
Nada bicara hantu itu mendadak datar.
“Ya ini gue udah bangun dari tadi!! Lo tuh ngapain sih gangguin gue mulu?”
Hantu itu tetap diam tak berekspresi. “Nina... ke hutann..”
“Hah? Lo ngomong apaan sih ****?! Gak jelas”
“Ke hutan dekat halte bis. Sekarang, jika kamu tidak ingin melihat mayat”
Andi yang masih tidak paham dengan maksud dari ucapan hantu tadi hanya bisa mengeryitkan dahinya. Matanya seolah sedang menuntut penjelasan yang lebih detail lagi. Tapi hantu tadi malah pergi menembus tembok. Gerututan seketika keluar dari mulut Andi.
“Dasar setan gak jelas”
Tangan Andi bergerak mengambil ponselnya yang sempat dia banting tadi. Dia kemudian men-dial nomor Rizal, bermaksud meminta bantuan kepadanya.
“Halo? Zal, tolongin gue dong.”
“Tolongin apa? Gue sibuk nih, besok gak bisa emang?”
Dapat Andi dengar suara grasak grusuk di seberang telepon.
“Gak, harus hari ini. Lo lagi nyari orang ilang kan? Kali aja ntar lo nemu petunjuk disana”
Andi tentu hanya mengarang kalimat tentang petunjuk orang hilang. Hal itu semata-mata hanya untuk membujuk teman lebih tau nya itu.
“Oke, ntar malem jam delapan gue dirumah. Ngak usah keluyuran lo”
Andi mengangguk malas, walau tahu jika hal itu tidak akan bisa dilihat oleh lawan bicaranya di seberang sana.
“Iye. Kalau perlu lo bawa pasukan deh, gak usah banyak-banyak tapi”
“Oke. Dah lah gue tutup. Masih banyak urusan gue”
Pip
Dan Andi harap, tidak akan ada hal yang aneh-aneh disana.
__ADS_1