The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 7


__ADS_3

Andi hari ini berkeliling untuk mencari unit Apartemen yang akan dia tinggali. Seharusnya sih bersama dengan Rizal, tapi urung ketika tiba-tiba seorang gadis menerobos masuk kamar Rizal dan menggeret bocah pirang itu untuk mengantarnya ke rumah sakit. Gadis itu benar-benar menggerikan. Dia bahkan sempat menjabaknya karena Rizal menolak mentah-mentah ajakan darinya.


Andi kembali menjalankan sepeda motor miliknya— ralat, milik Rizal untuk menuju ke gedung apartement yang selanjutnya. Ini sudah gedung ke... entahlah, Andi tidak menghitungnya. Mungkin yang keempat atau yang kelima, tapi belum ada satupun yang cocok dengan kriterianya.


Saat hampir sampai ditujuan, mendadak motor yang dikendarainya mati. Memaksa Andi untuk menepi sejenak dan memeriksa apa yang salah dengan motor itu. Bensin? Tidak mungkin, dia baru mengisi penuh siang tadi. Aki? Tidak juga. Kata Rizal, motor itu baru diganti akinya bulan lalu (walau Andi juga tidak yakin dengan ucapan Rizal). Andi menghela nafas kasar, dewi kesialan sudah bosan menggoda Rizal, dan sekarang malah berbalik mengerjainya. Beruntung, 5 meter diujung jalan ada sebuah bengkel yang beroperasi. Dengan berat hati akhirnya Andi mendorong motor itu ke arah bengkel.


Lima belas menit lamanya Andi mendorong motor itu sendirian. Sedikit banyak bersyukur karena yang dia bawa sekarang adalah motor matic biasa yang ukurannya kecil, buka moge seperti yang biasa dia bawa.


“Pak ini tolong dibenerin ya” pinta Andi kepada seorang laki-laki paruh baya yang berjaga disana.


“Oh iya. Kenapa ini mas?” tanya bapak itu ramah. Beliau juga dengan sigap membawa motor itu ke bengkel miliknya.


“Gak tau juga pak. Tiba-tiba mati”


Bapak itu mengangguk. Tangannya mulai mengambil beberapa peralatan yang sekiranya dibutuhkan saat perbaikan nanti.


“Pak, saya titip motornya dulu. Mau kesebrang bentaran”


Andi segera beranjak saat sudah mendapat anggukan. Langkahnya berjalan menuju sebuah minimarket yang berada di seberang jalan. Andi berniat membeli minum. Sejak berangkat siang tadi, mulutnya sama sekali belum disapa makanan dan minuman.


Andi segera menuju ke rak minuman, mengambil dua buah botol minuman isotonik dan juga dua bungkus roti ukuran sedang. Cukup untuk menganjal sedikit perut kosongnya. Andi beralih ke rak mie instant, mengambilnya beberapa bungkus kemudian berpindah ke rak bumbu-bumbu. Itung-itung, dia ingin membalas budi kepada teman pirangnya itu karena sudah mau menampungnya.


Setelah dirasa cukup, Andi bergegas menuju kasir. Meletakan semua barang belajaanya di meja kasir, kemudian mengeluarkan selembar uang seratus ribuan dari kantong jeans miliknya. Mata Andi berpendar kesegala arah sambil menunggu barang miliknya dihitung. Retinanya tak sengaja menangkap postur seorang laki-laki bertopi yang... seperti sedang mengawasinya.


“Barangnya, kak” suara kasir itu sedikit mengagetkannya. Andi dengan cepat mengambilnya lalu kembali ke bengkel. Laki-laki aneh tadi masih diam dikursi minimarket, tidak bergeser walau satu inci pun. Andi tidak ambil pusing. “ Perasaan gue aja kali ya?” Batinnya mencoba menyakinkan diri.


Motornya sepertinya sudah selesai diperbaiki. Bapak penjaga tadi sudah membereskan semua peralatannya.


“Udah pak? Yang rusak apanya ya pak?”


“Nah itu dia mas” jawaban itu membuat Andi mengangkat sebelah alisnya. Bingung.


“Saya juga bingung. Gak ada yang salah sama motornya.” Andi bertambah bingung. Maksudnya apa?

__ADS_1


“yaudahlah lah pak, berapa jadinya?”


“gak usah mas, lagian saya gak benerin apa-apa kok”


“Loh jangan gtu pak. Nih ya pak” Andi mengeluarkan uang limapuluh ribuan dari dalam celananya, menyondorkannya kehadapan si bapak tadi.


“E-eh? Gak usah mas” tangan bapak itu mensorong pelan uang yang Andi sondorkan.


“Gapapa pak. Biaya parkir itu, kan saya lama parkirnya. Udah ya pak saya duluan, makasih pak” Andi segera menaiki motor itu kemudian melajukannya meninggalkan bengkel. Sedangkan si bapak tadi masih melongo melihat kepergian Andi.


“Mana ada parkir dibengkel semahal ini” guman bapak itu pelan sambil melihat uang yang tadi diselipkan Andi di saku bajunya.


****


“Gila.. panas banget. Neraka lagi bocor apa gimana dah” Gerutu Andi pelan sesaat setelah menghempaskan tubuhnya kekasur dikamar Rizal (karena Andi masih menumpang disana).


Andi melepas jaket dan kaos yang dia kenakan. Benar-benar panas, apalagi kipas angin dikamar Rizal sedang rusak.


Tok tok tok


Terdengar suara ketukan dari pintu depan. Andi dengan malas melangkahkan kakinya keluar kamar, mengintip sejenak dari jendela samping untuk melihat siapa yang bertamu. Jika yang datang adalah gadis bar-bar yang tadi siang, maka Andi tidak akan segan-segan untuk menendangnya karena sudah menganggu waktu istirahatnya.


Tapi sayangnya, yang dia lihat justru dua orang berbadan kekar dengan tindik dan tato yang sangat banyak. Andi tercengang untuk sesaat. Ini si Rizal mau ditagih utang apa gimana?


Andi terdiam cukup lama. Otak kecilnya masih bimbang untuk sekedar membukakan pintu. Takut-takut jika preman itu memang suruhan rentenir yang dipekerjakan untuk menagih hutang. Bisa berwarna-warni nanti tubuhnya terkena hantaman tangan si preman.


TOK TOK TOK TOK


Ketukan itu semakin menggila. Andi segera berlari kekamar Rizal, mengabaikan ketukan itu lalu bersembunyi didalam lemari baju. Jantungnya berpacu cepat. Tangannya terburu-buru mengambil ponsel disaku celananya, kemudian men-dial nomor si pirang.


Nomor yang anda tuju—


Andi semakin panik. Sekali lagi mencoba menghubungi Rizal.

__ADS_1


“Halo Zal? Lo punya utang ke rentenir ya? Ngaku lo!! Didepan ada preman dua. Aduuh gimana ni ****, pada beringas semua itu!!”


“Heh Zaenab, kalo nelfon tuh salam dulu napa” Rizal disebrang telfon terdengar mendengus kesal.


“Halah biasanya juga lo yang langsung ngegas. Urgent ini urgent buruan balik kek lo” Andi semakin panik. Ketukan dipintu itu berubah menjadi gedoran keras.


“Lo tunggu situ”


“Buruann!!” Andi langsung menutup mulutnya. Bisa gawat kalau dia ketahuan.


“Iyeee gue kesana sekarang. Umpetan dulu lo!!”


“Ini gue ngumpet dimana dodol? Lemari lo sempit banget sialan. Remuk badan gue ini”


“Ditempat biasalah” Rizal disebrang sana terdengar seperti sedang berlari.


“Yang mana? Oohh loteng? Kalo ketahuan gimana markonah”


“Gak bakalll, udah gue kesitu dulu”


Pip


Telefon dimatikan sepihak, menyisakan Andi dengan segala umpatanya untuk si pirang.


Suara gedoran itu masih terdengar. Andi perlahan keluar dari lemari, menuju ke ruangan disebelah kamar Rizal. Perlahan dia menurunkan sebuah tangga yang tersembunyi di langit-langit ruangan tersebut, berusaha menaikinya tanpa menimbulkan suara yang berarti. Sedikit bernafas lega saat dia berhasil masuk keatas loteng tanpa ketahuan. Atau mungkin belum?


Andi menyenderkan punggungnya. Sedikit menggerutu. Harusnya tadi gue ambil baju dulu.


Mata tajam Andi kembali perbendar melihat-lihat loteng rumah itu. Tidak banyak berubah meski sudah hampir setahun lamanya dia tidak menginjakan kakinya ditempat itu.


“Kamu ngapain kesini”


Gubrakk

__ADS_1


__ADS_2