The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 25


__ADS_3

Mari kita beralih sejenak ke teman si pak detektiv.


Andi baru saja memasuki unit apartemennya. Badannya serasa remuk. Dia hanya terdiam setelah merebahkan tubuhnya yang lelah diatas kasur. Otaknya kembali memutar kejadian penangkapan Desta kemarin di rumah sakit. Yah... walaupun dia sudah tahu jika Desta itu sedikit "berbeda", tapi dia sama sekali tidak menyangka jika tindakan sesuatu itu akan sejauh ini. Dia juga tidak bisa berbuat banyak selain membantu memberitahu orang tua Desta jika anak mereka ditangkap polisi melalui sambungan telefon.


Omong-omong, Andi baru saja menyelesaikan sedikit masalah pada salah satu kafe miliknya. Sedikit kejadian tak masuk akal sering terjadi disana belakangan ini. Mungkin bisa dibilang sebagai kejadian supranatural. Dan lagi, dia tidak tahu harus bersyukur atau tidak karena setelahnya, kafenya itu malah menjadi semakin ramai. Diluar dugaan memang, bahkan kafenya itu sekarang malah lebih dikenal dengan sebutan “Kafe Hantu” karenanya.


Kelopak mata Andi memberat, alam mimpi sudah memanggilnya untuk ditemui, ditambah lagi udara dingin yang dihasilkan oleh Ac dikamarnya itu mampu membuat rasa kantuknya kian membesar. Tapi dia tidak jadi terlelap karena bunyi bel pintu rumahnya yang sangat berisik. Berdecak kesal, Andi kemudian bangun dari kasurnya yang tersayang. Langkahnya gontai, dia benar-benar lelah dan mengantuk tapi seseorang dibalik pintu itu semakin brutal menekan bel yang ada.


Dengan malas, Andi mulai menekan pin apartement miliknya sebelum alhirnya menarik knop dan membuka pintunya. Tapi sepertinya dia akan menyesal karena tidak mengecek terlebih dahulu siapa yang datang melalui intercom karena sekarang,


“A-ayah?”


Ayahnya sedang berdiri dihadapnnya dengan senyuman yang paling Andi benci. Andi benar-benar hanya bisa diam. Tubuhnya kaku, tidak bisa digerakan, seperti sedang membeku.


“Ayah boleh masuk?”


Andi seketika tersadar dari keterkejutannya, menatap was-was orang tuanya itu sebelum mengangguk kaku. Menggeser sedikit tubuhnya dari pintu untuk memberikan akses masuk kepada yang lebih tua.


Andi mempersilahkan ayahnya itu untuk duduk di sofa ruang tamunya, lalu bergegas pergi kedapur untuk mengambil minuman. Dia masih tau adab saat ada tamu yang datang mengunjunginya.


Atmosfir ketegangan masih menyelimuti diri Andi, apalagi ditambah keadaan ayahnya yang bisa dibilang cukup kacau membuat tanda tanya imajiner miliknya semakin besar.


“Gimana kabar kamu?”

__ADS_1


“B-baik yah”


Andi meruntuk dalam hati. Kenapa dia malah gagap begini?


Ayah Andi tersenyum hangat, senyum yang sebenarnya sangat Andi rindukan. Senyum yang sama sebelum ayahnya itu membuat perjanjian dengan lucifer.


“Ayah seneng kamu bisa keluar dari rumah”


Andi mengerutkan dahinya. Bukankah seharusnya ayahnya ini marah karena dia kabur?


“Kamu pinter juga milih apartementnya, ayah ikut seneng liatnya”


Kebingungannya semakin bertambah. Otak Pintar yang sayangnya kadang error milik Andi semakin berfikir keras untuk mengerti maksud dari ucapan orang tua kandungnya ini.


Lelaki yang berusia lebih dari setengah abad itu menghela nafas pelan. Raut wajahnya semakin serius, membuat nyali Andi sedikit terkikis.


“Itu alesan ayah dateng kesini. Ayah bakal jelasin semuannya, diam dan jangan dipotong. Dan.... ini bakal sulit buat dipercaya.”


****


Kantor Kepolisian


“bun...”

__ADS_1


Desta berujar lirih saat sudah sepenuhnya duduk dikursi. Dihadapnya, Ela dan Hendrik tampak tersenyum teduh seolah berkata bahwa semua akan baik-baik saja meski tanpa suara.


“Kamu gapapa kan nak?”


Desta tersenyum tipis. “Desta gapapa bun, yah”


Batin Ela mencelos melihat putrinya yang masih bisa tersenyum walau sedang berada di dalam masa sulitnya. Matanya berkaca-kaca, tapi sebisa mungkin dia tidak menangis. Dia harus kuat untuk menyakinkan Desta.


Desta kembali tersenyum tipis melihat ibunya yang berusaha mati-matian agar tidak menangis. “Bunda.... bunda jangan nangis. Aku gapapa kok”


Pecah sudah tangis yang sedari tadi Ela tahan. Desta kemudian berjalan mendekat kearah ibunya itu, memberikan sebuah pelukan untuk menyakinkan beliau jika dia baik-baik saja. Hendrik yang melihat interaksi antara istri dan anaknya itu secara otomatis tersenyum sebelum akhirnya ikut kedalam acara berpelukan mereka.


“Waktu Besuk sudah habis”


Suara dari petugah kepolisian yang berjaga itu seketika menghentikan acara berpelukan keluarga kecil itu. Lima belas menit berlalu sangat cepat. Desta bergerak mengusap air mata milik ibunya, sebelum akhirnya menghapus sisa air mata dipipinya sendiri.


“kamu gak usah khawatir, ayah sama bunda pasti bakal ngeluarin kamu”


Desta menganggukan kepalanya patuh setelah mendengar perkataan ayahnya itu, menyerahkan masalah itu sepenuhnya kepada mereka.


Ela dan hendrik dituntun untuk keluar, sedangkan Desta kembali digiring ke sel tahanan sementaranya.


Semuanya baru akan dimulai sekarang, kebenarnya secara perlahan akan terkuak dengan sendirinya.

__ADS_1


__ADS_2