
Andi berjalan mundur teratur. Matanya menatap awas ke arah seorang gadis—mungkin seumuran dengannya yang ada dihadapnya. Gadis itu terlihat normal. Sangat normal hingga Andi tidak sengaja melihat kearah kakinya yang ternyata tidak ada.
Dan... Andi ingat jelas jika gadis ini yang kemarin ada di didepan pintu rumah Rizal. Gadis itu terlihat terkekeh pelan saat melihat tingkah waspada Andi.
Whusshh
Gadis itu berpindah ke belakang Andi, membuatnya seketika terlonjak kaget dan menabrak tumpukan kardus yang entah sejak kapan ada disana.
“Jangan takut.. hihihi..”
Wajah Andi sudah sepenuhnya memucat. Otaknya menyuruhnya lari, tapi tubuhnya bahkan sama sekali tidak bergerak. Andi bisa saja berteriak, tapi dia tidak mau ambil resiko. Bisa saja para preman tadi masih didepan dan akan mendengar suara teriakan darinya. Hantu itu perlahan menjulurkan tangannya, berusaha menyentuh Andi membuatnya seketika memejamkan matanya.
Tangan pucat hantu bergerak semakin mendekatinya, Andi bisa merasakan jika suhu disekitarnya memanas. Dan saat jaraknya kurang dari lima senti, hantu itu tiba-tiba terpental. Membuat gelombang angin yang cukup besar, hingga beberapa kardus terlempar dari tempatnya.
Hantu itu menggerang marah. Wujudnya seketika berubah. Wajah yang tadinya terlihat putih pucat dan mulus menghilang begitu saja, terganti dengan wajah penuh amarah dan kebencian. Kepala hantu itu terlihat hancur separuh, bola matanya menggantung, darah juga mengaliri wajah hantu itu.
Hantu itu terdiam setelahnya. Wajahnya menghadap lurus kearah Andi, seolah-olah sedang menatap tajam kearahnya meski kenyataanya, bola mata hantu itu sudah tidak berada pada tempatnya.
Andi merasa mual seketika. Hantu itu tersenyum lebar, memperlihatkan robekan mulutnya yang cukup lebar. Dia terlihat mirip dengan Kuchisake Onna dari Legenda urband di jepang sekarang ini. Hantu itu kemudian tertawa cukup keras lalu dalam hitungan detik meluncur kearah Andi. Tapi sekali lagi, dia terpental. Bahkan sekarang dia seperti sedang menggeliat kepanasan.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan, Andi segera berlari keluar dari loteng. Masa bodo dengan para preman tadi. Setan yang tadi dia temui lebih menyeramkan.
Andi berlari terbirit-birit begitu kakinya menapak dilantai setelah perjuangannya menurunkan tangga loteng. Tangga itu sempat macet untuk sesaat. Gedoran dipintu tadi sudah berhenti, preman tadi mungkin sudah pergi. Tanpa pikir panjang Andi segera berlari kearah pintu, membukannya dengan terburu-buru sambil sesekali akan menoleh ke belakang. Memastikan hantu gila tadi tidak mengikutinya.
Saat pintu berhasil terbuka, Andi langsung melangkahkan kakiknya keluar, masih dengan kepala yang menoleh kearah belakang. Naas, didepan sana ternyata terdapat Rizal yang sepertinya baru saja kembali. Alhasil mereka berdua bertubrukan cukup keras. Andi terjatuh diatas badan Rizal, membuat keduanya sama-sama melotot. Rizal yang pertama kali sadar langsung mendorong kasar tubuh Andi di atasnya.
__ADS_1
“Anjir gue gak homo, gue gak homo” kalimat itu terlontar dari bibir Rizal berulangkali, membuat Andi seketika mendengus.
“Gue juga gak homo kali. Kalau pun gue homo, mana sudi gue homoan sama lo” decihnya.
Rizal kembali melotot. Sebuah geplakan mampir di kepala yang lebih muda. “Heh! Lambe!”
“Lagian lo udah kaya orang sinting. Lari-larian gak jelas, mana gak pake baju. Dah lah, daftar jadi gembel aja sana”
“mana ada gembel seganteng gue” ujar Andi menyombongkan diri.
“Gendeng. Wes lah mlebu sek ayo, ra sah kaya wong edan nang ngarep umah ku” (Sinting. Udah lah masuk dulu ayo, gak usah kaya orang gila didepan rumah gue)
Rizal melangkah masuk mendahului, sedangkan Andi masih diam didepan pintu. Kembali teringat dengan hantu yang dia temui di loteng tadi. Rizal menghentikan langkahnya saat sadar jika Andi tidak ikut masuk.
“Heh, lo ngapain bengong disitu?”
“Buruan njirr, gue kunciin baru tau rasa lo”
Andi buru-buru bangkit dari depan pintu, menyusul Rizal masuk kedalamnya. Berharap jika hantu tadi tidak akan menganggunya lagi.
****
“Bunda?” Desta terheran melihat ibunya yang hanya berdiri diam didepan pintu. “kenapa gak masuk?” ibu desta berdehem sebentar sebelum memasuki kamar rawat inap putrinya itu.
Jidat Desta berkerut, memperhatikan kedua mata ibunya yang terlihat sedikit bengkak “Loh, bunda habis nangis ya?”
__ADS_1
Yang ditanya menggeleng pelan. “Enggak kok” elaknya. Tanganya mengusak pelan rambut hitam Desta, sebuah senyum terbit diwajahnya yang memang sedikit terlihat kacau.
“Terus mata bunda kenapa? Ampe bengkak gini” Desta mengusap pelan kedua kelopak mata ibunya, tersirat nada kekhawatiran dari ucapannya, walau dia mengucapkannya dengan tenang bahkan cenderung datar.
“Oh, ini gara-gara kurang tidur aja kok, gapapa”
Desta menganguk pelan, mencoba untuk mempercayai jawaban sang ibu meskipun dia tidak yakin. Desta menggeser sedikit tubuhnya, memberi ruang agar ibunya bisa duduk di atas kasur pasienya itu.
“Duduk sini aja bun, pasti bunda capek kan?” sang ibu tersenyum, hatinya menghangat melihat tindakan putrinya itu. Beliau menolak, tidak mau Desta merasa kesempitan.
Desta memberengut, sedikit tidak suka. Tapi ibunya itu bersikeras jadi dia hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Krietttt
Pintu kamar mandi terbuka, menampilkan Alea yang baru dengan kedatangan tamu bulanannya. Itu bisa dilihat dari jaket yang dia ikat dipinggangnya, menutupi bagian yang terkena noda merah.
“Nyusahin aja, mana pake celana putih lagi. Anj—“ segala gerututan Alea terhenti saat sadar jika ibu Desta ternyata ada disana. Alea tersenyum malu karena kepergok hendak mengeluarkan kata-kata kasar.
“e-eh ada tante. Kapan nyampenya tan?” Alea merangsek maju, kemudian bersalaman dengan beliau.
“Ini baru aja nyampe, kamu udah lama disini?” Alea mengangguk pelan. “hehe iya tan”
Desta terkekeh kecil melihat Alea yang terlihat sedikit kikuk. Obralan antara Alea dan ibunya terus berlajut, membahas beberapa hal kecil karena memang pada dasarnya Alea sudah cukup akrab dengan ibunya, sedangkan Desta hanya diam menyimak sambil sesekali bersuara saat dilempari pertanyaan.
Mereka tertawa bersama, Alea membuat lelucon yang sebenarnya patut di pertanyakan dimana letak humornya. Receh. Tapi itu tidaklah masalah karena yang membuat mereka tertawa adalah ekspresi Alea saat membuat leluconnya. Benar-benar konyol.
__ADS_1
Obrolan diselingi lelucon dari Alea itu berlanjut. Desta masih tertawa pelan karena Alea, tapi tawa itu seketika terhenti saat dia tidak sengaja melihat kearah pintu. Christ berdiri disana, menyerigai lebar. Mulutnya membuat rangkaian kata tanpa suara.
“Permainan akan dimulai, sayang”