
Brakkk
Semua orang yang berada di kantor kepolisian itu terlonjak kaget takkala pintu masuknya dibanting keras. Si pelaku pendobrakan hanya memasang tampang “bodo amat” miliknya lalu melenggang pergi menuju ruang interogasi tanpa menghiraukan kaca pintu kantor yang terlihat sedikit retak akibat ulah bar-bar nya itu.
“Bagaimana?” Rizal langsung bertanya pada seorang petugas yang berjaga begitu memasuki ruang interogasi.
“Pelaku masih di interogasi pak”
Rizal mengangguk paham. Detektiv itu lalu mengalihkan pandangannya pada layar monitor yang ada dihadapnya. Terlihat seorang polisi yang sedang menginterogasi seorang gadis yang diduga sebagai pelaku dari kasus pembunuhan yang sedang mereka tanggani. Rizal beberapa kali mengerutkan keningnya ketika melihat tingkah tidak biasa dari terduga pelaku selama acara pengiterogasian itu berlangsung.
“Hentikan interograsinya, suruh Zidan buat kesini sekarang juga”
Yang diperintah mengangguk patuh, kemudian memberitahu rekannya itu untuk menghentikan sesi wawancaranya bersama pelaku. Selang lima menit kemudian, polisi yang tadi bertugas sebagai penginterograsi memasuki ruang monitor.
“Gimana?”
Polisi yang baru memasuki ruangan itu mengangkat sebelah alisnya bingung.
“Apanya?”
“Tch, interogasinya lah”
“Ohh”
Polisi tadi langsung duduk disalah satu kursi setelah memberikan jawaban tidak bergunanya tadi, mengabaikan tatapan mematikan yang Rizal layangkan kepadanya.
Bukk
Sebuah buku melayang indah kearah kepala Zidan.
“Heh, jawab yang bener!”
“Adohh, gak sabaran banget sih. Bentaran dong, haus nih gue, dipikir ngewawancarai pelaku tuh gak butuh tenaga apa”
Rizal semakin melotot. Sudahlah, harga dirinya sebagai atasan memang sudah hilang. Mendengus kesal, Rizal kemudian mendudukan diri di kursi bersebelahan dengan polisi tadi.
Glukk glukk glukk
Zidan minum dengan amat sangat tidak santai. Agak jorok sebenarnya, apalagi airnya hingga menetes keluar dari mulutnya dan tentu saja air itu sudah tercampur dengan ludahnya.
“Njir, lo jadi polisi gak ada wibawanya sama sekali. Malu-maluin”
Yang dikatai melilirik sinis ke arah Rizal, tangannya kemudian bergerak mengambil sesuatu didalam saku celananya.
“Ngaca”
__ADS_1
“Bangsat”
Polisi yang satunya hanya tertawa selagi kedua orang itu adu mulut. Ya... hitung-hitung sebagai hiburan saat bekerja.
“Udahlah dan, lo juga pak bos. Berantemnya tunda dulu, kita lagi ada kasus nih”
Zidan mendengus kesal, tangannya melayangkan satu geplakan sayang dikepala atasannya itu sebagai penutup perkelahian mereka. Rizal melotot lagi, bola matanya bahkan seperti hampir keluar.
“Gue pecat juga lo lama-lama” dengus Rizal kesal.
Kedua orang anak buahnya itu tertawa renyah. Menjatuhkan harga diri dan wibawa atasannya itu memang sangat menyenangkan.
“Udah, udah. Balik ke masalah awal”
Suasana diruangan itu seketika berubah menjadi serius. Zidan selaku orang yang tadi bertugas mewawancarai pelaku kemudian menyondorkan laptop miliknya. Hasil wawancaranya dengan Desta.
“Ini cuma analisi awal sama dugaan tapi menurut gue, pelaku ini punya kaya semacam gangguan mental”
Rizal mengangguk paham. Matanya dengan jeli membaca deretan kata yang tersusun dilaptop tersebut. Gerakan matanya terhenti dibarisan terakhir hasil wawancara tersebut.
“Lo belum nanyain alesan dia bunuh?” Rizal menatap tajam kearah Zidan.
Bugg
“Hehehe bener juga, YA TAPI GAK USAH MUKUL PAKE BUKU JUGA KAMBINGG!”
“Hehehe”
“Hehehe”
Jihan menggelengkan kepalanya, berusaha menghentikan rekan dan atasannya yang hendak baku hantam itu.
“Ya tuhan, salah apa gue satu tim sama kalian berdua”
Rizal masih bersungut-sungut walau tidak benar-benar marah, hanya sedikit kesal dengan tingkah kurang ajar anak buahnya itu.
“Lo gimana Ji?”
“Hmm? Apanya?”
“Pengamatan lo lah! Yakali kancut lo”
“Heh! lambe” Jihan berujar sambil memukulkan sebuah buku ke mulut atasannya itu.
“Gue sependapat sama Zidan. Dia agak aneh, kadang nyolot banget, tapi selang beberapa menit jadi penakut banget. Mungkin semacam bipolar atau semacamnya, gue gak yakin”
__ADS_1
Rizal mengalihkan pandangannya kelayar monitor, mengamati gerak gerik Desta yang memang sedikit aneh. Dia seperti sedang berbicara sendiri.
“Keluarga pelaku udah ada yang dateng? Mungkin mereka bisa ditanya masalah ini”
“Udah, mereka lagi diruang tunggu”
Rizal mengangguk sekali lagi, “Biar gue yang nemui keluarga pelaku. Mungkin keluarganya tahu alesan kenapa dia agak aneh”
“Yaudah sono, pergi. Hush hush”
Rizal mendelik, kemudian berlalu begitu saja meninggalkan kedua bawahannya itu. Lelah dia memiliki bawahan yang kurang ajar. Untung dia sabar, untung dia tabah, kalau tidak mungkin sudah sejak lama mereka di coret dari daftar anak buahnya.
Jarak ruang tunggu dan ruang interograsi lumayan jauh, jadi butuh sekitar sepuluh menit bagi Rizal untuk sampai di ruang tunggu. Kantor terlihat sangat ramai hari ini, banyak sekali orang yang datang untuk melapor. Tadi Rizal sedikit curi-curi dengar saat melewati lorong. Biasalah, polisi wanita juga sering bergosip ria selagi bertugas. Kata mereka, sedang banyak sekali laporan orang hilang tanpa jejak. Rizal hanya mengedikan bahu saat mendengar kabar tadi. Bukannya tidak perduli atau apa, hanya saja itu bukan tugas dari timnya, dan dia sendiri sedang ada kasus. Dia hanya tidak mau menambah tingkat kestresan yang dia alami karena terlalu banyak kasus yang mampir di divisinya.
Mempercepat langkahnya, Rizal akhirnya sampai di ruang yang dituju. Terlihat dua orang—yang sepertinya pasangan suami istri itu tengah duduk dengan raut wajah cemas. Rizal perlahan mendekati keduannya.
“Keluarga dari saudara Adesta Herawati, benar?”
Kedua orang yang ada disana langsung berdiri, “B-benar, kami orang tuannya”
“Saya Rizal, yang sedang menanggani kasus dari anak anda”
Rizal mengulurkan tangannya, yang mana langsung di sambut oleh Hendrik—ayah Desta.
“Disini, saya hendak meminta persetujuan Kalian berdua untuk menjadi saksi atas kasus yang menyeret putri Anda. Bagaimana?”
“Ya, kami setuju” Jawab Hendrik langsung tanpa ragu-ragu.
Rizal tersenyum tipis.”Pelaku atau keluarga yang mewakili berhak menyewa pengacara dan melakukan pembelaan.”
Kedua orang tua Desta mengangguk paham, peragai mereka cukup tenang untuk ukuran orang tua yang anaknya baru saja terseret kasus pembunuhan.
“Sekarang, bisa ikut saya ke ruang interogasi? Kalian akan diwawancarai disana”
“Ta-tapi, apa saya boleh bertemu dengan putri saya?”
Rizal tersenyum menanggapi pertanyaan dari wanita paruh baya didepannya ini.
“Anda bisa menemuinya nanti setelah interogasinya selesai”
Hendrik mengelus pelan bahu sang istri, meyakinkan dia bahwa semua akan baik-baik saja.
“Bisakah kita pergi sekarang?”
Kedua orang tua Desta itu mengangguk, lalu mulai mengekor dibelakang Rizal menuju ruang interogasi. Entah bagaimana ini akan berlanjut, yang pasti kedua orang tua Desta berharap jika ini hanyalah kesalahpahaman belakang dan putri mereka bisa segera dibebaskan. Semoga.
__ADS_1