The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 26


__ADS_3

Andi mengela nafas berat. Cerita yang ayahnya katakan tadi tidak masuk akal. Sangat-sangat tidak masuk akal. Bagaimana dia seolah diputar balikkan dengan fakta yang tadi ayahnya berikan. Ini benar-benar bisa membuatnya gila.


Pikirannya terasa buntu, sama sekali tidak bisa dia gunakan untuk berfikir jernih. Entah benar atau tidak, tapi cerita dari ayahnya tadi itu benar-benar berhasil membuatnya berada dalam tingkat keterkejutan tertingginya, membuatnya tubuhnya hanya bisa terdiam tanpa memberikan respon sama sekali.


“Ibu kamu dulu yang membuat perjajian dengan iblis. Ayah sendiri baru tau saat dia hampir sekarat karena jiwanya yang terus menerus diambil.”


Andi terdiam, berusaha menyembunyikan keterkejutan yang melanda dirinya saat ini. Ini semua diluar perkiraan dan pemikirannya selama ini.


“Dia pengen ngehancurin keluarga adiknya sendiri karena dulu, dia dijebak dan difitnah sampai diusir dari keluarga oma. Kematian keluarga om Brian itu bukan murni kecelakaan. Ada campur tangan iblis disana dan itu semua atas permintaan ibu kamu.”


Dada Andi terasa bergemuruh. Bagaimana mungkin ibunya—sosok yang selama ini dia kenal sebagai pribadi lemah lembut dan tidak pendendam bisa nekat melakukan perjanjian dengan iblis? Ingin sekali Andi berteriak didepan ayahnya itu, membantah semua cerita yang dia yakini sebagai karangan ayahnya semata. Yang dia tahu, kematian keluaga om Brian—adik dari ibunya itu karena kecelakaan beruntun yang melibatkan mereka. Namun Andi hanya diam, berusaha meredam segala amarahnya itu. Setidaknya sampai ayahnya itu menyelesaikan cerita karangannya.


“Om kamu itu pengen harta warisan milik oma sepenuhnya buat dia, sehingga om Brian nyari cara buat nyingkirin ibu kamu”


“Setiap perjanjian dengan iblis itu pasti ada syarat mutlak yang harus dipenuhi, dan syarat itu adalah ibu kamu harus mengorbankan jiwa anaknya untuk sang iblis. Tapi, dia gak mau ngorbanin kamu nak. Sebagai gantinya, dia akan menumbalkan satu jiwa manusia setiap bulannya pada tanggal tertentu.”


Ayah Andi terlihat menghela nafas pelan. Ekspresi wajahnya menyendu, membuat Andi semakin dibuat penasaran.


“Tapi ibu kamu ngelanggar syarat itu, dia gak mau lagi ngasih tumbal. Lucifer murka, ibu kamu dibantai di ruang bawah tanah. Ayah sendiri dibawa ke dalam ruang rahasia lain oleh ibumu, dan ayah pingsan waktu itu.”


Dahi Andi mengerit. Sungguh dia sama sekali tidak percaya dengan semua bualan ini. Tapi, dibanding menyela, dia malah semakin diam dan khidmat mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut beliau.


“Satu hal yang harua kamu tahu. Yang ada di ruang bawah tanah setiap terjadi penumbalan itu bukan ayah. Itu doppelganger yang dibuat oleh lucifer.”


Helaan kasar kembali terdengar. Apa selama ini dia sudah salah menilai ayahnya? Rasa bersalah masih menyelimuti hatinya sejak tadi. Walau dia sudah berkali-kali mensugesti dirinya jika itu hanya sebuah karangan, tapi hantinya sama sekali tidak bisa berhenti merasa bersalah. Matanya menerawang keatas, kembali mengingat potongan cerita yang ayahnya katakan tadi.


“A-ayah bercanda kan? Ibu gak mungkin kaya gitu, dan lagi kalo yang dirumah itu doppelganger, terus ayah selama ini dimana?”


Ayah Andi tampak tersenyum tipis yang lebih terlihat sepeti semyum miris.


“Ayah dibawa ke sebuah rumah yabg ada di pinggiran kota dani ayah sama sekali gak bisa pergi dari sana. Tempat itu agak terpencil dan ibu kamu ngasih salah satu penjagaannya supaya ayah gak bisa keluar dari daerah itu.”

__ADS_1


“Ibu kamu sebenernya pengen bawa kamu juga, tapi gak bisa. Kamu udah ditandai sama lucifer lebih dulu. Mungkin kamu udah tau kalo tato di tangan kamu itu sebagai tandanya.”


Andi mengangguk, memperhatikan tato tanduk iblis itu dengan seksama. Warna tato itu sudah sedikit memudar, membuat Andi sedikit terheran. Dia baru sadar jika warna tatonya itu sudah tidak secerah dulu.


“Tato ini... bisa ilang gak?”


Ayah andi kembali tersenyum tipis.


“Bisa. Tato itu bisa ilang tapi harus dipatahkan orang lain. Sayangnya, ayah gak bisa ngelakuin itu. Ikuti kata penjaga kamu, dia akan bantu kamu. Dan juga.... ayah juga bakal minta penjaga ayah buat bantu kamu. Doppelganger ayah itu masih ada dan dia masih memburu kamu. Ayah bakal bantu kamu sebisa ayah.”


Andi semakin terdiam. Meski masih meragukannya, tapi Andi sedikit banyak menjadi berharap agar bisa dengan segera menghapus tato iblis miliknya itu.


“Ini, buku ini milik ibu kamu. Dia bilang buat ngasih ke kamu kalo kamu udah cukup dewasa. Dan sekarang, ayah yakin kamu udah cukup dewasa buat ini.”


Sebuah buku dengan sampul berwarna coklat bergambar bloody rose Andi terima dari sang ayah. Buku ini terlihat sedikit usang, tapi keseluruhan fisik bukunya itu masih sangat bagus. Ayah Andi benar-benar menjaga buku peninggalan mendiang istrinya itu dengan sangat baik.


“Ayah Cuma bisa bantu kamu dari belakang nak, maaf karena ayah gak bisa ngelindungin kamu dari dulu.”


“Ayah gak bisa terlalu lama disini, terlalu bahaya buat kamu. Ayah bakal ada saat kamu butuh, gak usah khawatir. Kamu pasti bisa bebas dari tato terkutuk itu.”


Andi memandang nanar kearah ayahnya. Hatinya seketika diselimuti rasa bersalah yang amat sangat besar. Terlampau besar hingga menimbulkan rasa sakit direlung hatinya.


“Pakai kalung ini. Ini kalung milik ibumu jadi ayah mohon, jaga kalung ini baik-baik. Ayah harus pergi sekarang. Jaga diri baik-baik, ayah sayang kamu”


Ayah Andi kemudian berdiri, menatap tidak rela kearah putra semata wayangnya itu tapi dia harus segera pergi. Sebuah senyuman hangat dia tampilkan sebelum akhirnya berjalan menuju pintu keluar dan menghilang dibalik pintu dengan Andi yang hanya terdiam memandangi kepergian ayahnya.


“Hhh gue durhaka banget ya jadi anak” Andi bermolog sambil menatap kalung pemberian ayahnya itu.


Kalung itu terbuat dari emas putih dengan bandul kristal kecil yang menghiasinya. Sederhana, tapi terlihat sangat indah. Jika ditelisik lebih dalam, kristal itu memiliki ukiran namanya yang mana membuat Andi semakin terharu. Keraguan tentang cerita ayahnya itu sedikit banyak sudah mulai terkikis tergantikan keyakinan yang mulai tumbuh walaupun tidak seberapa.


Tangannya beralih mengambil buku coklat milik mendiang ibunya itu. Isi buku itu sebagian besar diisi dengan aksara jawa yang tentu saja tidak dimengerti oleh Andi. Dia tahu kalau ibunya itu sangat fasih berbahasa jawa, apalagi bahasa jawa krama inggil, tapi dia baru tahu jika ibunya itu juga sangat pandai menulis dalam aksara jawa.

__ADS_1


Isi buku itu juga diisi dengan bahasa jawa krama inggil, membuat kepala Andi rasanya mau pecah karena sama sekali tidak bisa mengerti maksud dari kalimat-kalimat yang dituliskan dibuku itu. Hampir saja dia membanting buku itu saking kesalnya.


“Sabar... sabar... gak boleh emosi... TAPI KOK YA NGESELIN AMJINK!!”


Nafas Andi memburu. Dia benar-benar kesal sekarang.


“Kenapa gue mendadak buta huruf gini astagaa! Tau gini dulu gue iyain aja pas oma ngajarin bahasa jawa.”


Andi terus menggerutu selama membuaka lembar demi lebar buku usang itu. “Gue butuh pencerahaaannn!!” ucapnya sambil berakting menangis. Lebay.


Ditengah-tengah keputusasaan dan drama alaynya, tiba-tiba sebuah bohlam lampu imajiner muncul diatas kepalanya.


“Apa gue kerumah oma aja ya? Sabilah nanti gue tanya ke beliau” Andi kemudian cengengesan.


Kalau boleh jujur, aku sebenarnya merasa sedikit takut pada Andi. Baru tadi dia menggeram putus asa, tapi lihatlah sekarang dia bahkan sudah bisa menampilkan deretan giginya—yang untungnya bagus itu. Aku jadi curiga dia mengidap bipolar atau semacamnya.


Andi terus membuka tiap lembar kertas yang terususun dibuku itu. Tulisan mendiang ibunya itu sangat cantik dan rapih, baik aksara jawa maupun huruf alpabethnya dan itu sepertinya sedikit menurun ke diri Andi.


Seluruh buku itu benar-benar berbahasa jawa kecuali satu halaman terakhirnya. Halaman terakhir buku itu diberi semacam penanda khusus, berisikan deretan kalimat berbahasa indonesia.


‘Putra Lucifer, datang dan meminta pertolongan kepada yang lebih berkuasa.


Putra Lucifer menjelma menjadi iblis, menumpahkan segala amarah, kepedihan, dan rasa benci kepada manusia.


Putra Lucifer memilih jalan kegelapan, datang untuk menantang mautnya sendiri, kemudian mati dijalan keabadian.


Jiwanya tak pernah tenang, terus berkeliaran mencari jasadnya yang ringkih dan membusuk.


Wahai sang kegelapan, beristirahatlah dengan tenang. Biarkan sang iblis menyanyikan lullaby untuk tidur abadimu. Lalu kebahagiaan akan datang bersama dengan kematian.’


Andi menaikan sebelah alisnya. Apa ini mantra? Atau hanya tulisan tak bermakna? Apapun itu, tapi Andi rasa itu bukanlah sesuatu yang bagus.

__ADS_1


__ADS_2