
“Tiga, dua, satu”
Klakk
Lampu ruangan itu dimatikan. Andi terlihat linglung dalam ruangan tersebut. Dia tahu ini hanya mimpi, tapi karena mimpi yang sebelumnya banyak yang menjadi kenyataan, Andi jadi sedikit was-was. Iya, sedikit banyak Andi sudah paham jika mimpi-mimpi anehnya itu kerap kali menjadi sebuah ramalan lalu berubah menjadi kenyataan setelahnya. Mimpi aneh terakhirnya terjadi dua minggu yang lalu, dimana dia melihat seorang gadis berwajah pucat tengah berdiri lesu di sebuah jalanan yang minim pencahayaan. Dan ramalan mimpi itu ternyata untuk Alea.
Andi masih bisa mencium bau obat-obatan khas kamar rawat pasien rumah sakit. Mungkin dia masih setengah sadar.
Ttakk
Lampu ruangan itu kembali menyala, tapi kali ini dengan setting tempat yang berbeda. Dia sedang berada di kafe miliknya, padahal sebelumnya dia berada di sebuah ruangan kosong. Andi sedang berdiri di meja kasir sekarang ini. Keadaan kafenya tidak jauh berbeda. Dari segi interior, tatanan kursi, letak kasir, dan sebagainya masih sama, hanya saja cat dindingnya berwarna hitam sedangkan di dunia nyata, cat dinding kafenya itu berwarna pastel.
Ada satu orang aneh yang tengah duduk di salah satu kursi yang berada di pojok kafe. Orang itu memakai jubah hitam dan hanya diam menunduk. Andi jelas sudah hafal dengan sosok orang berjubah itu karena dia selalu ada disetiap mimpi anehnya—kecuali mimpi tentang Alea dua minggu lalu karena mimpi itu sangatlah singkat sehingga Andi tidak terlalu jelas menangkap isi mimpinya itu.
Andi lalu berjalan menghampiri orang aneh tersebut, berlagak menjadi seorang karyawan kafe yang baik walau ini hanya sebuah mimpi.
“Maaf, mau pesan apa?” tanya Andi ramah saat sudah sampai di meja orang berjubah itu.
Tidak ada jawaban, dia masih menunduk. Di tangannya, terdapat sebuah buku note kecil yang setelah Andi telisik lebih dalam ternyata merupakan buku bertuliskan “666”. Benar-benar hanya ada angka “666” di semua lembar buku tersebut.
“Permisi? Anda mau pesan ap—“
Pertanyaan Andi terputus begitu orang aneh tadi mendongakan kepalanya. Andi tertegun sesaat, rasa terkejutnya begitu terasa. Orang aneh itu ternyata adalah dirinya sendiri, tapi dalam versi yang lebih..... menggerikan.
Andi refleks berjalan mundur setelah melihat wajah orang berjubah tadi, sedangkan yang membuatnya terkejut itu malah tersenyum miring.
“Kejutan” Ucap orang itu datar.
Okay, ini adalah mimpi aneh terburuk yang dia pernah alami. Melihat kloningannya sendiri yang tengah tersenyum miring itu cukup menakutkan. Ini seperti melihat sisi gelap dalam dirinya yang sudah lama terpendam.
Andi tetap fokus pada kloningannya ini. Dia sama sekali tidak bisa berpaling dari orang itu, fokusnya benar-benar terpusat pada objek didepannya. Orang berwajah mirip—atau mungkin orang itu memanglah Andi— tersebut bergerak menyingkap tudung jubahnya. Luka disekitar wajah dan kepalanya perlahan mulai terlihat. Robekan sepanjang lima sentimeter melintang di dahinya, telingannya sedikit terkoyak dan tentu saja ditambah dengan hiasan darah disekitar lukanya.
Andi menelan ludahnya gugup. Padangannya sekarang bisa dia alihkan sedikit untuk menatap keadaan di sekitarnya. Ini apartemen miliknya yang sudah didekorasi menjadi merah, dengan bau amis sebagai pengharum ruangannya. Kloningannya itu masih berdiri didepan Andi. Sebuah senyuman merekah dari kedua belah bibirnya.
“You’re the next”
Andi kembali berjalan mundur saat sosok berjubah itu mulai melangkah mendekatinya dengan sebuah pisau buah ditangannya. Entah kapan dan dimana dia mendapatkan pisau itu, tapi yang pasti sekarang Andi hanya bisa memutar otak agar terhindar dari pisau mungil tersebut.
“Jatuh”
Ucapan itu menjadi kalimat terakhir yang Andi dengar sebelum dirinya terjatuh dari ketinggian.
******
__ADS_1
“kak, kak Andi, bangun”
Desta menggoncangkan pelan bahu Andi yang tengah tertidur di sofa. Desta sudah sedikit tahu tentang tabiat yang lebih tua. Kebo alias susah dibangunkan jika sudah terlelap ke alam mimpi.
“Kakak ganteng belum bangun?” tanya Nina pelan, takut membangunkan Andi padahal kan memang itu hal yang sedang Desta lakukan.
“Belum, mungkin kalo disiram pake air bisa bangun kali ya?” guman Desta.
Desta akhirnya berjalan mengambil sebotol air minum di nakas. Dia tuangkan sedikit air tersebut ketangannya kemudian bersiap untuk menyipratkan air itu ke wajah Andi jika saja Nina tidak tiba-tiba melayang dihadapan Andi. Hantu yang sudah sejak limabelas menit disana itu ribut mengelengkan kepalanya kesana-kemari sebagai tanda jika dia tidak suka cara yang Desta gunakan untuk membangunkan kakak gantengnya itu.
“Minggir dulu Nina”
Yang diperintah sekali lagi menggeleng. “Jangan disiram, kasian kakak ganteng nanti basah”
“Gak bakal sampai basah Nina, Cuma dikit ini”
“Gak boleh!”
“Ninaaaa”
“Gak bolehhhhh!!”
“Mingg—“
“Lo ngomong sama siapa?”
“Akhirnya bangun juga. Kebo banget sih kak”
Andi terkekeh kecil dengan kesadaran yang baru terkumpul setengahnya. Kata maaf terucap pelan dari mulutnya. Desta mendengus, kemudian menyondorkan sebuah plastik berisikan dua buah roti dan sekotak susu coklat.
“Makan dulu kak”
Sondoran plastik itu diterima dengan senang hati oleh Andi.
“Makasih ya”
Desta mengangguk kemudian duduk disamping Andi dan mulai berkutat dengan ponsel miliknya.
“Lo udah makan?”
“Udah”
Hening. Desta yang masih sibuk dengan gawai miliknya dan Andi yang masih mengunyah roti dimulutnya.
__ADS_1
“Eh, tadi lo ngomong siapa?” tanya Andi setelah beberapa menit hanya diisi keheningan.
“Ohh, sama Nina”
Andi mengangguk kemudian lanjut memakan sisa roti di tangannya. Andi sudah tahu kok siapa Nina sebenarnya, baik dari sudut pandang Desta maupun sudut pandang Alea dan Dean.
“Btw, kak” Desta berbalik menghadap kearah Andi.
“Apa?”
“Itu ilernya bersihin dulu”
Sialan.
Andi hanya tersenyum masam dengan sorot mata datar. Tangannya bergerak mengusap-usap sekitaran mulutnya.
“Tapi boong”
Percayalah bahwa sekarang Andi ingin sekali menjorokkan gadis disampingnya ini. Desta ternyata memiliki sisi“receh” juga.
“Makasih” ujar Andi datar. Desta disebelahnya terkikik pelan, cukup puas karena bisa mengerjai yang lebih tua.
“Canda doang elah kak, mukanya biasa aja dong”
“Hmm” balas Andi dongkol sambil terus menguyah roti dimulutnya.
Keadaan hening kembali tercipta. Desta kembali sibuk dengan ponselnya, Andi yang penasaran kemudian mencoba mengintip.
“Kata saksi: Pelaku menggunakan jubah hitam
Kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini semakin meresahkan masyarakat. Beberapa orang menyebut pelaku dengan sebutan “The Grim Reaper” karena penampilannya yang mengunakan jubah hitam dan tudung menyerupai sosok penjemput kematian dari inggris yang muncul sejak abad ke-15. Polisi masih terus—"
Cklekk
Pintu kamar rawat inap itu dibuka, menampilkan tiga orang polisi berseragam lengkap tengah membawa borgol.
Desta segera menutup ponsel miliknya, menatap bingung kearah anggota kepolisian itu.
“Selamat sore, dengan saudara Adesta Herawati?”
Desta mengerutkan dahinya heran. Apa gerangan yang membuat para polisi ini mencari dirinya?
“Ya, saya sendiri”
__ADS_1
“Anda kami tahan atas tuduhan pembunuhan berencana”
Desta mematung ditempat. Apalagi ini?