
“Mas, kita perlu bicara” yang diajak bicara mengangguk pelan, mulai mengikuti langkah istrinya yang sudah lebih dulu berjalan.
Mereka berjalan menuju taman rumah sakit. Sepi, karena siang ini cukup terik. Orang-orang malas berkeliaran dan merelakan kulit mereka tersengat panasnya sinar matahari. Sang istri menuntun suaminya itu menuju ke salah satu bangku yang berada dibawah pohon, terhindar dari ganasnya panas matahari.
Mereka tidak langsung bicara, hanya duduk dan saling diam.
“sejak kapan... dia kembali?” Ela—sang istri bertanya memecah keheningan. Tangannya meremat ujung baju yang dia kenakan.
“Aku gak tahu pastinya. Tapi... kayaknya bukan Cuma Nina yang kembali. Dia juga kembali”
Tubuh sang istri menegang. Ingatannya akan kejadian tragis delapan tahun lalu kembali terbuka. Terputar dipikirannya, seperti sebuah film lama yang kembali ditayangkan.
“Mas.. gimana kalo dia berulah lagi? Aku takut..” nada bicaranya memelan. Ini buruk. Sangat buruk.
“Kita bakal tetep nyoba bantu Desta. Gimana pun juga, dia putri kita satu-satunya.”
Tangan Hendrik—ayah Desta berpindah, hinggap dibahu sempit sang istri. Mengelus pelan, bermaksud menenangkan kegundahan hati istrinya. Walau dirinya juga khawatir, tapi dia harus bisa berdiri tegak. Bermenit-menit kemudian hanya di isi keheningan. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, memikirkan segala kemungkinan dan skenario terburuk yang bisa datang kapan saja.
“Jujur ya mas, aku mulai capek. Kalo Christ dateng lagi, itu bakalan buruk banget bagi Desta. Gimana kalo.... Desta ngak sanggup nahan keberadaan dia?”
“Sstt jangan gitu. Kita bantu Desta semampu kita.” Membawa istrinya masuk kepelukannya, sekali menenangkannya dengan kata-kata penyemangat. Berharap jika optimisme istrinya akan kembali seperti dulu lagi.
“Kita doain juga ya? Semoga Desta cepat sembuh” Ela mengangguk. Senyum tipis terhias diwajahnya yang tetap cantik walau sudah menginjak usia empatpuluh tahunan. Mereka berdua kemudian beranjak pergi. Suaminya itu mengajak atau lebih tepatnya memaksa Ela untuk mengisi perut. Ya, sepertinya dia memang butuh sedikit nasi untuk tubuhnya yang terlampau stress itu.
****
Krieettt
Pintu kamar rawat desta dibuka pelan. Dua orang—laki-laki dan perempuan memasuki ruangan dengan nuansa putih itu pelan-pelan setelah mengetahui bahwa penghuni kamar itu sedang terlelap. Mereka berdua berjalan sesenyap mungkin, tanpa suara dan gerakan yang mungkin akan menimbulkan kegaduhan.
“Le, gue laper nihh” ujar si laki-laki pada temannya itu dan dibalas dengan pelototan mata.
__ADS_1
Yang satunya memilih acuh, tangannya menarik sebuah kursi yang berada paling dekat dengan jangkauan tangannya. Dia kemudian duduk disana dengan tenang. Pandangannya mengarah pada Desta yang masih tertidur pulas.
“Leleee.. gue keluar bentaran deh ya? Gak kasian lo ama cacing diperut gue? Udah pada gegulingan minta dikasih asupan!!”
Yang dipangil Alea mendengus kesal. Ditatapnya tajam teman laki-laki kekurangan lemak itu.
“Duduk atau gue hapus semua video ikeh-ikeh lo” Ancaman itu nyatanya berhasil membuatnya diam. Menggerutu pelan, dia kemudian ikut menarik sebuah kursi untuk dia duduki. Tapi memang dewi kesialan sedang senang menggodanya, laki-laki itu tidak sengaja menyenggol sebuah gelas di nakas dan—
Prrangg
Gelas itu pecah dilantai, membuat Alea seketika melotot ke arah nya.
“Rizall bisa hati-hati dikit gak sihh?!! Ini kita lagi jengukin orang sakit woy!” Alea berseru kesal. Namun, suaranya dia tahan agar tidak menganggu orang yang dia jenguk. Sebagai penggantinya, dia mencubiti tangan teman tidak bergunannya itu dengan sadis. Tapi, usahanya itu sepertinya percumah. Karena nyatanya, Desta sudah terbangun saat gelas itu dipecahkan oleh Rizal.
“Jangan ribut..” Suara pelan dari Desta langsung menghentikan acara penyiksaan yang dilakukan oleh Alea.
“E-eh? Lo kebangun ya? Sorry sorry. Ih gara-gara lo sih!!” Alea menghardik Rizal dengan tangannya. Tidak lupa sebuah tabokan sayang dia layangkan pada lengannya.
“itu.. anu.. gue minta maap ya? Hehe. Suerr gue gak sengaja tadi” Desta hanya tersenyum tipis dan mengangguk.
“Eh supardi, beresin juga sekalian. Kan lo yang mecahin” Alea berkata dengan dongkol. Juga sebuah toyoran yang dia hadiahkan untuk Rizal. Alea dan kekerasan dalam pertemanan adalah dua hal yang sulit dipisahkan.
“Om sama tante kemana? Katanya tadi ada disini”
Desta mengeryitkan keningnya heran. “Tadi ayah emang udah disini, tapi kalo bunda belum deh kayaknya”
“Loh, tasnya aja udah disini” Alea menunjuk sebuah tas dipojok nakas. Desta kembali terheran. Seingatnya tadi tidak ada tas disitu. Dia bahkan tidak ingat hal apa yang dilakukan sebelum dia tidur tadi.
“Mungkin dateng pas lo lagi tidur kali” ucap Rizal asal.
Desta mengangguk pelan. Membenarkan ucap Rizal. “Mungkin”
__ADS_1
“Eh Lea, lo... tahu gue disini dari siapa? Perasaan gue gak ngabarin elo deh..?” pertanyaan dari Desta itu membuat Alea mengusap tengkuknya pelan. “Dari kak Dean, hehe”
Desta menganggukan kepalanya kemudian terdiam setelahnya. Alea dan Rizal sedang sibuk berebut kursi. Ya bukan kursi sih yang sebenarnya direbutkan, tapi posisi kursinya. Kamar rawat Desta berada dilantai empat rumah sakit, dan kursi Rizal berada didekat jendela. Padahal dia sedikit takut ketinggian sedangkan jarak dari jendela sampai tanah bisa dikatakan termasuk tinggi. Berakhirlah dengan Rizal yang merusuhi Alea supaya bertukar posisi.
Desta hanya memandang datar kearah keduanya. Ruangan itu sebenarnya cukup luas, karena itu adalah ruangan VIP. Tapi kenapa dua orang berbeda gender itu masih berebut posisi duduk? Desta benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran keduannya.
“Lea, ngalah aja. Pindah ke sini, kan masih kosong” Tegur Deata pada keduannya. Jengah juga melihat mereka berdua terus berebut seperti itu selama bermenit-menit.
Alea memberengut tidak suka, namun tetap melangkahkan kakinya untuk berpindah ke samping kanan Desta yang memang masih kosong. Sedangkan Rizal berjengit senang. Merasa menang dari Alea yang biasa menyiksanya. Remaja berambut pirang itu lalu duduk dan mulai membuka ponsel miliknya.
Alea mendengus untuk kesekian kalinya. Dia memilih mengabaikan Rizal dan mulai berbincang-bincang dengan Desta.
Drttttt drtttt drtttttt
“lah si guguk gangu aja” Rizal menggerutu sebelum akhirnya mengangkat telfon itu.
Rizal menggerutkan dahinya ketika sudah mulai berbicara dengan orang yang menelfonnya. Sesekali umpatan kasar dalam bahasa jawa dia layangkan. Tapi raut wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran pada lawan bicaranya itu.
“Lo tunggu situ. Iyeee gue kesitu sekarangg. Umpetan dulu lo!! Ditempat biasa lah. Gak bakalll, udah gue kesitu dulu”
Rizal tergesa-gesa berlari kearah pintu keluar, dengan ponsel yang masih dia ampit diantara bahu dan telinganya. Sama sekali lupa untuk berpamitan.
Blamm
Pintu itu ditutup kasar. Desta menatap datar kearah pintu sedangkan Alea menepuk pelan dahinya sendiri.
“hehe maapin ya ta. Emang gtu dia. Anak nya emang rada gil—"
Krieett
Kepala Rizal mencuat dari luar pintu. “Eh, gue lupa pamitan. Duluann!!”
__ADS_1
Meninggalkan Desta dengan kekehan pelannya dan Alea yang menggelengkan kepalanya. Takjub karena bisa berteman dengan makhluk abstrak sejenis Rizal.