
Suara leguhan pelan terdengar dari kedua belah bibir Desta. Matanya terbuka perlahan. Dua orang lainnya yang ada di sana menghela nafas lega—terutama sang ibu.
“Apa ada yang sakit? Atau pusing?”
Desta menggeleng pelan. Dean—si pemberi pertanyaan mengangguk, tangannya bergerak untuk meresepkan beberapa obat dan vitamin untuk Desta minum.
“Nih, diminum ya? Cuma vitamin sama penurun panas kok. Kamu bisa bilang ke aku kalau ada sesuatu yang bikin kamu gak nyaman.”
Desta mengangguk pelan. Dean segera berpamitan setelah selesai dengan pemeriksaannya. Sang ibu bergerak untuk mengantarnya hingga ke pintu depan.
“Nak, apa ada yang salah lagi dengan Desta?” Dean mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.
“Tidak ada. Desta hanya demam biasa, penyebabnya kemungkinan karena dia terlalu shock akan sesuatu. Mungkin nanti ibu bisa tanyakan sendiri ke Desta”
Ibu Desta mengangguk. Kemudian kembali mengantarnya sampai didepan rumah.
Beberapa menit setelahnya, ibu Desta sudah kembali ke kamar putrinya itu. Dilihatnya jika Desta tengah melamun, memandang kosong kearah selimut yang dia pakai.
“Makan dulu yuk? Udah jam setengah delapan. Mau makan dibawah atau bunda bawain ke kamar?”
Desta menggeleng pelan. “Ntar aja ya bun? Sekalian nunggu ayah”
“Yaudah, tapi kamu ganti baju dulu ya? Gak usah mandi”
Desta mengangguk pelan. Dia baru teringat jika dirinya belum mandi. Mendadak, bayang-bayang gambaran kamar mandi penuh darah itu kembali terputar. Desta masih sedikit bergidik ketika melihatnya. Dia tidak suka melihat darah. Hanya tidak suka—semacam merasa tidak nyaman dan jijik ketika melihat darah yang bercecer, tapi tidak sampai mengalami phobia.
“Bun... coba bunda cek kamar mandi di kamar bunda”
Sang ibu menatap heran kearahnya. “emangnya kenapa?”
“Gapapa. Coba bunda cek dulu yaa? Pleasee”
Ela mengangguk kemudian beranjak untuk melihat Kamar mandinya sesuai keinginan anaknya itu. Sekitar lima menit kemudian, dia kembali ke kamar Desta.
__ADS_1
“Kamar mandi bunda gak ada apa-apa kok, bersih. Emangnya kenapa sih?”
Desta menggeleng pelan. “Tadi ada kecoa hehe”
Sang ibu mengangguk pelan. Dia tahu kok kalau putrinya itu sedang berbohong, tapi lebih baik dia diam dulu. Menunggu putrinya itu bercerita sendiri sepertinya lebih baik.
“Yaudah, ganti baju dulu sana. Ayah bentar lagi pulang, nanti kita makan bareng”
Desta tersenyum kecil kemudian mulai beranjak menuju lemari. Dia agak oleng saat berdiri. Pusing mulai menjalari kepalanya saat dia berdiri yang mana membuat ibunya itu agak mengkhawatirkannya.
“Pelan-pelan Destaa.. sini aja deh kamu, bunda ambilin kamu baju” Desta jelas menggeleng. Tidak mau membuat ibunya repot harus begini begitu padahal dia hanya demam biasa.
“Gak usah bun, ak—“
“Udah gak usah ngeyel. Itu juga kepala jangan gelenginnya jangan keceng-kenceng. Nanti copot”
Desta tergelak pelan. Ibunya ini memang terlalu berlebihan. Beliau beranjak menuju lemari, mengambil sepasang baju tidur kemudian memberikannya pada putrinya itu.
“Nih, bunda tunggu dibawah ya. Kalo masih pusing mending dikamar aja nanti bunda bawain makanan kesini”
Klekk
Pintu kamar Desta ditutup pelan. Desta segera berganti pakaian karena deru mobil ayahnya sudah terdengar diluar rumah.
**
Tringg tringg tringg
Suara besi yang saling beradu terdengar menyapa indra pendengaran Andi. Dirinya tersentak saat menyadari kalau dia berada didalam terowongan yang sama dengan yang ada dimimpi sebelumnya.
Andi mencoba untuk menenangkan diri. "Ini hanya mimpi, ini hanya mimpi, ini hanya mimpi". Kalimat itu berulang kali dia rapalkan sebagai penenang. Bagaimanapun, mimpi yang sebelumnya sangatlah tidak menyenangkan dan dia berharap di mimpi kali ini, tidak ada hal-hal aneh yang terjadi.
Tringg tringg tringg
__ADS_1
Sayangnya, suara itu terdengar lagi hingga mengundang rasa penasaran di diri Andi. Pikirannya menyuruhnya untuk diam ditempat, tapi tubuhnya itu sudah terlanjur bergerak mengikuti rasa penasarannya.
Tring trinng tringg
Kenapa suara itu semakin terdengar jauh? Apa Andi salah mengambil jalan? Andi memilih berbalik arah, mencoba mencari suara itu ke sisi lain terowongan. Obor-obor dari bambu menjadi satu-satunya sumber cahaya yang ada disana. Memang benar suara itu menjadi terdengar menjadi semakin dekat, tetapi ternyata Andi menuju ke ujung terowongan. Dan itu hanya jalan buntu. Ujung terowongan itu adalah sebuah tembok kokoh dari batu yang tersusun rapih. Dinding batu itu berhiaskan berlumut dan lembab. Lama Andi berdiri disana, mengamati detail setiap sisi temboknya, namun tidak ada apapun yang dia dapatkan.
Andi kemudian berbalik, berjalan meninggalkan tembok itu. Semakin menjauhi sumber suara besi tersebut. Semakin jauh langkah Andi dari tembok tersebut, semakin jarang juga jarak antar obor yang terpasang. Hawa disini dingin, berbeda dengan hawa yang dia rasakan di mimpi sebelumnya.
Tuk tuk tuk
Suara langkah kakinya memecah kesunyian yang ada. Hingga dirinya tiba di pertigaan terowongan. Andi memutuskan untuk mengambil jalur sebelah kiri, menyusurinya perlahan dengan kesunyian sebagai teman perjalannannya.
Sampai diujung terowongan, Andi melihat dua buah pintu yang saling berjajar. Satu pintu dari besi sedangkan yang lainnya terbuat dari kayu. Andi sebenarnya enggan untuk membuka salah satu pintu tersebut, mengingat dimimpi sebelumnya dia bertemu dengan kepala melayang gila yang melilitnya. Tapi sekali lagi, rasa penasarannya telah mengalahkan rasa takut. Dia perlahan membuka pintu dari besi terlebih dahulu.
Kosong. Hanya ada kegelapan didalamnya, tapi suara erangan kesakitan, rintihan dan teriakan minta tolong terdengar begitu jelas dari dalam sana. Andi buru-buru menutup pintu itu. Jantungnya berdetak tak normal. Suara itu sangat menyeramkan. Rasanya seperti sedang melihat sebuah pembataian sacara langsung walau nyatanya dia hanya mendengar suaranya saja.
Andi beralih menuju pintu kayu. Tangannya memegang kenop pintunya, tapi dia sama sekali tidak membukanya. Keberaniannya sudah tidak sebanyak tadi.
*Ckekk
Kriett*
Pintu itu akhirnya dia buka juga. Didalamnya hanya ada sebuah ruang kecil dengan beberapa obor yang terpasang di dindingnya, seolah sedang menyoroti seorang pemuda yang terikat di sebuah kursi dengan luka gores disekujur tubuhnya. Dan jika Andi lebih jeli, dia bisa melihat jika kaki pemuda itu di paku dilantai tempatnya berpijak. Pemuda itu terlihat mengenaskan, bibirnya mengucapkan kalimat tanpa suara.
“Tolong... hutan... paku... mati..”
Andi tidak dapat menangkap jelas gerakan mulut pemuda itu. Hanya beberapa kosa kata yang berhasil dia pahami karena keadaan sekitar yang remang-remang.
“*Tolong... aku...”
BRAKKKK*
Pintu itu secara tiba-tiba menutup sendiri. Andi yang panik kemudian menggedor-gedor pintu tersebut. Menabrakan tubuhnya sendiri ke arah pintu, bermaksud menobraknya. Beberapa kali dia mencoba, tapi pintu itu sama sekali tidak terbuka sampai Andi teringat jika ini hanyalah mimpi.
__ADS_1
Andi mengusak rambutnya kasar kemudian beranjak pergi dari sana. Dia harus mengecek jalur terowongan yang satunya, berharap untuk segera menemukan cara untuk keluar dari mimpi ini. Tapi, memilih untuk pergi ke sana sepertinya bukan pilihan yang bagus Andi.
Sesuatu sudah mu menunggu disana.