
Tak tak tak tak
Langkah kaki itu terdengar semakin mendekat membuat seorang pemuda berbalut seragam SMA yang yang tadinya tertunduk dalam-dalam seketika mengangkat kepalanya. Matanya menatap tajam kearah seseorang yang baru saja sampai dihadapannya.
“Owhh calm down baby. Aku hanya ingin menjengukmu” Orang baru sampai dihadapan Azril tadi terkekeh pelan.
“Lepasin gue bangsatt!!”
Biar ku gambarkan sekilas keadaan Azril si anggota Osis yang katanya populer ini. Tangan dan kaki terikat disebuah bangku, dengan beberapa luka lebam dan goresan disekujur tubuhnya. Apakah itu cukup? Oh iya, jangan lupakan juga tatapan tajamnya yang ditunjukkan untuk orang yang menyekapnya disini.
“By the way, do you need to see a doctor? Aku rasa tidak. Kamu terlihat senang disini”
Azril mendengus kesal. Dia benar-benar tidak menyangka kalau orang dihadapannya adalah orang yang sama dengan yang dia biasa temui di sekolah. Dia memakai jubah hitam yang membungkus seluruh tubuhnya ditambah lagi sebuah tudung yang menutupi sebagian wajahnya.
Tak tak tak
Orang tersebut mengelilingi kursi yang Azril tempati sambil tersenyum remeh. Azril hanya terdiam memandangi tingkah laku si penyekapnya itu.
“Le.pa.sin.gue” Azril berucap dengan penekanan disetiap suku katanya, namun lagi-lagi hal itu membuat orang berjubah tadi tertawa renyah.
“Kenapa? Bukannya kamu yang bawa aku ke sini? Harusnya kamu seneng kan? ckckck”
Azril mendengus. Tidak menyangka rencana yang sudah dia persiapkan matang-matang itu malah berbalik menyerang dirinya sendiri.
“Aku senang melihatmu disini, tapi rasanya terlalu membosankan jika melihatmu hanya duduk dan berdiam diri di sana. Bagaimana jika kita ubah sedikit posisimu?”
Orang tadi beranjak mengambil sarung tangan dari sebuah lemari dipojok kanan ruangan. Setelah selesai memakainya, dia lalu mengambil sebuah palu besi berserta sebuah kantong plastik kecil.
“Santai saja, ini tidak akan terlalu sakit”
Diambilnya sebuah paku dari kantong plastik tadi. Itu sebuah paku yang besar, mungkin itu paku yang biasa digunakan dalam pertukangan.
Tring tring tringg
Kedua benda dari besi tersebut saling diadu, membuat linu orang yang mendengarnya.
“Lo mau ngapain, hah!!?” Azril sedikit ketakutan. Nafasnya perlahan memburu, atmosfir ketegangan langsung terasa diruangan itu. Setidaknya itu untuk Azril sendiri karena orang dihadapannya ini malah seperti tertawa kegirangan.
Tring Tringg Tringg
“Ayo kita ubah posisimu”
Tranggg
__ADS_1
Paku dan palu tadi diletakan begitu saja di lantai. Orang berjubah itu mengambil sebuah suntikan di saku jubahnya. Entah suntikan itu berisi cairan apa, yang pasti itu bukanlah sesuatu yang bagus. Azril mencoba berontak saat orang tadi hendak menyuntikan cairan itu ke tubuhnya.
“Diamlah sebentar” Orang itu berucap datar sambil terus mencoba menyuntik Azril.
Berontak dalam keadaan terikat sangat tidak mudah. Dan ya, Azril akhirnya kalah. Cairan itu berhasil disuntikan dilengannya. Tidak ada hal aneh yang terjadi dengan tubuhnya setelah cairan tadi disuntikan. Lebih tepatnya belum, karena beberapa menit setelahnya, tubuh Azril mendadak lemas. Bahkan untuk sekedar mengangkat jari dan berbicara pun sulit. Orang berjubah tadi terkekeh pelan setelahnya.
“Bagaimana? Apa sudah bekerja? Aku rasa sudah. So, let's playing a game honey"
Orang berjubah itu mulai melepas satu per satu ikatan di tangan dan tubuh Azril kemudian menggeretnya sampai di dekat tembok. Tubuh Azril dihemparkan begitu saja.
“Kenapa tubuhmu itu sangat berat huh? Tapi sepertinya bukan kamu yang berat, tapi tubuh ini saja yang terlalu lemah”
Dia berbalik kemudian kembali mengambil paku dan palu yang tadi dia jatuhkan.
“Berdiri”
Azril hanya memandang sayu kearah orang itu. Hey, dia bahkan sudah tidak mampu untuk sekedar bicara. Tenaganya seperti disedot habis.
“Ohh iya aku lupa. Kamu bahkan sudah tidak bisa menggerakan jarimu hmm?” Orang itu menyerigai.
“Hhh baiklah. Sepertinya aku harus membantumu”
Orang berjubah itu mengangkat tangan sebelah kiri Azril untuk diletakan ditembok.
Ttakk
Ttakk
Telapak tangan Azril dipaku ditembok. Darah segar seketika mengucur membasahi tembok yang dipaku tadi. Azril hanya bisa menggerang, berusaha mati-matian menahan rasa sakit yang mulai menyergap tangannya. Orang itu terlihat tersenyum puas.
“Bagaimana? Cukup bagus bukan?”
Orang berjubah itu kembali mengambil sebelah tangan Azril, melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada tangan kiri Azril dan ruangan itu kemudian dipenuhi oleh suara erangan Azril.
“Kaki? Sepertinya tidak perlu”
Azril hanya diam sambil terus meringis. Bibirnya sedikit memucat, darahnya keluar cukup banyak. Orang itu bergerak mengambil sebuah tali kemudian diikatkan ke kedua kaki milik Azril.
“Sekarang, ayo kita ke permainan yang sebenarnya.”
Sebuah pisau kecil di keluarkan dari saku jubahnya. Pisau itu tidak terlihat terlalu tajam, tapi tetap saja itu pisau kan?
“Hahaha. Santai saja, jangan terlalu tegang begitu... Ini hanya pisau buah sayang. Don’t be afraid”
__ADS_1
Tak tak tak
Langkah kaki yang berjubah itu entah mengapa terasa seperti slow-motion dimata Azril, membuatnya merasakan ketengangan berkali-kali lipat lebih banyak.
Jlebb
Satu tusukan orang berjubah itu layangkan ke perut Azril, membuatnya seketika muntah darah.
Jlebb
Tusukan kedua diarahkan ke perut Azril lagi.
“Jadi, berapa kali pisau ini harus merobek kulitmu? Lima kali? Sepuluh? Atau lima belas? Sepertinya sepuluh tusukan akan bagus untukmu.”
Jlebb
Jlebb
Jlebb
Jlebb
Keadaan disana sangat mengerikan. Cairan merah pekat itu sudah membasahi seluruh pakaian Azril dan juga mengotori lantai tempatnya berdiri. Azril juga berulang kali memuntahkan darah dari mulutnya, yang mana membuat orang berjubah tadi tertawa nyaring.
Jlebb
Jlebb
Tusukan ke sembilan dan sepuluh dilayangkan kearah dada Azril. Tepat di jantungnya. Azril meregang nyawa saat itu juga, membuat orang berjubah tadi seketika mendengus.
“Lemah”
Orang itu beralih ke lengan Azril, mengukir sebuah lambang bintang disana dengan pisau yang dia bawa.
“Aku sebenarnya ingin memenggal kepalamu, tapi sepertinya para anjing itu akan segera datang mencarimu. Jadi, sampai jumpa lagi. Semoga aku bisa melihatmu lagi, dipemakaman”
Orang berjubah itu membereskan semua peralatan membunuhnya, kemudian dia masukannya kedalam sebuah tas kain dan membawanya pergi bersama. Orang itu menoleh sekali lagi ke arah mayat korbannya, memastikan jika dia sudah benar-benar mati dan juga memastikan tidak ada satupun jejaknya yang tersisa.
Orang berjubah itu keluar dari ruangan itu dengan sebuah tawa yang mengalun pelan dari bibirnya. Cukup senang akhirnya dapat membunuh kembali setelah sekian lama.
Kriettt
Brakk
__ADS_1
Pintu itu ditutup cukup kasar. Tidak lupa juga dia kunci dengan rantai besi yang dia pasang melintang untuk menutupi akses masuk kedalamnya. Serigai tipis dia sunggingkan sebagai penutup acara bersenang-senangnya hari ini. Mungkin besok-besok dia bisa menemukan mainan yang lebih menyenangkan.