
Jalur terowongan disamping kanan ternyata lebih jauh dari perkiraan Andi. Tapi setidaknya, disana terlihat lebih terang karena obor yang terpasang memiliki jarak yang dekat satu sama lain. Andi sama sekali belum menemukan pintu atau semacamnya di jalur yang satu ini.
Tringg tringg tringg
Tetapi suara besi beradu itu kembali terdengar. Memang terdengar jauh, tapi entah mengapa Andi malah merasa semakin dekat dengan sumber suara tersebut.
Andi kali ini berlalu saat suara itu terdengar semakin menjauh. Nafasnya sedikit tersengal, padahal baru beberapa menit dia berlari. Biasanya, dia sanggup berlari jauh dengan nafas yang tetap stabil, mengingat dulunya dia adalah atlet lari semasa SMA.
Akhirnya sebuah pintu terlihat. Tetapi pintu itu sepertinya tidak berada diujung terowongan karena sepertinya lorong tersebut masih sangat panjang.
Tringg tringg tringgg
Suara itu terdengar lagi dan sekarang terasa sangat jelas, membuat rasa penasaran Andi semakin membuncah.
Cklekkkk
Kriettt
Entah dorongan dari mana, tapi tangannya tanpa ragu langsung membuka pintu itu. Andi sedikit meruntuki perbuatannya itu. Bagaimana jika disana ada kepala melayang lagi? Bagaimana jika ada hal yang aneh lainnya? Andi menggelengkan kepalanya, menepis berbagai pemikiran random yang mampir di kepalanya. Ini hanya mimpi, dia hanya harus menemukan cara untuk keluar dari mimpi aneh ini.
“Hahahahhhahhhahhaa”
Suara tawa perempuan terdengar bergema di dalam terowongan itu. Entah dari mana asal suaranya tapi yang pasti, itu terdengar cukup dekat dengannya. Andi spontan mendongak keatas, tapi hanya ada kegelapan disana. Matanya bergulir ke sekeliling terowongan.
Wshusss
Hembusan angin mampir menghampiri kulit Andi hingga membuat bulu kuduknya berdiri. Tapi yang mengerikan, ada sesuatu terlihat merayap dibelakang Andi tanpa dia sadari.
“Hahahhahahaa”
__ADS_1
Tawa itu terdengar lagi. Andi menatap awas kesekitarnya, mengantisipasi hal-hal aneh yang mungkin akan terjadi beberapa detik lagi. Dia tidak melihat apapun, tapi dia merasa seperti sedang diawasi oleh sesuatu.
“Ini gue masuk aja kali ya?”
Andi kembali merangsek maju mendekati pintu tadi, setelah sebelumnya sempat berjalan menjauh beberapa langkah untuk mengecek keadaan sekitar. Tepat saat dirinya baru satu langkah maju memasuki pintu, sebuah tetesan air jatuh mengenai pipinya.
“Ini terowongannya bocor apa gimana dah? Tapi perasaan gak hujan”
Andi menyeka pelan jejak tetesan air yang mengenai pipinya, tapi tetesan itu malah semakin berjatuhan dari atas mengenai dirinya. Andi mendongakan kepalanya, dan itu adalah penyesalannya hari ini.
Clkakk
Sepertinya leher hantu itu baru saja patah. Melihat bagaimana kepala itu berputar seperti burung hantu dengan tatapan datar namun mengerikan yang dia layangkan. Tanpa pikir panjang, Andi segera berlari memasuki pintu itu dan menutupnya rapat-rapat. Meninggalkan hantu mirip sadako tadi yang tengah tertawa kencang membahana diluar pintu. Umm Andi, apa kamu lupa dengan kejadian dimimpi sebelumnya saat kamu masuk kedalam sebuah pintu dan menutupnya rapat-rapat?
“Ini kalo gue mimpi jatuh dari ketinggian kayaknya lebih bagus deh ya, daripada mimpi di terowongan gak jelas kaya gini”
Tringg tringg trinngg
Ah iya, Andi sampai melupakan tujuan awalnya memasuki ruangan itu karena sadako jadi-jadian tadi. Andi mulai berjalan mengikuti asal suara tadi. Dia sebenarnya merasa sedikit ngilu saat mendengar suara gesekan besi tersebut, tapi karena memang pada dasarnya dia sudah kepalang penasaran, jadi dia terus mendekatkan diri ke sumber suara itu. Lagi pula, dia sudah terlanjur masuk kedalam ruangan itu juga.
Ruangan itu terdiri atas banyak sekali pintu yang berjejer rapih di kanan dan kirinya. Mirip seperti susunan pintu di penjara. Andi terus berjalan lurus tanpa sedikitpun berniat untuk membuka salah satu dari sekian banyaknya pintu yang ada di sana.
Bunyi besi yang beradu itu masih terdengar dan membuat Andi memutuskan untuk mempercepat langkahnya. Di ujung ruangan, ada sebuah ruangan terpisah yang diterangi dengan cahaya dari lampu putih yang mulai pudar. Sangat berbeda dengan Keadaan sekitarnya yang diterangi oleh cahaya obor.
Seorang berjubah hitam terlihat sedang memaku sesuatu dengan menggunakan palu besi. Jadi bunyi peraduan dua besi tadi berasal darinya. Andi terheran begitu mengetahui asal suara itu. Bagaimana mungkin suara orang yang sedang memaku bisa sekeras itu bahkan terdengar hingga luar ruangan ini.
Andi memilih untuk tidak bersuara atau mendekat sedikitpun kearah orang berjubah itu. Dia masih ingat dengan jelas jika itu orang yang sama yang menggeret Nina masuk ke dalam kegelapan di mimpi sebelumnya. Tapi entah memang sedang sial atau orang itu terlalu peka, dia malah menoleh kearah Andi dengan palu yang masih terangkat di udara.
__ADS_1
Wajah orang itu tidak terlihat, tertutupi tudung yang dia kenakan. Tapi Andi masih bisa melihat dengan jelas serigai yang tercetak dibibir orang itu. Andi menelan ludahnya kasar. Palu itu bisa saja terlepar kearahnya kapan saja.
Andi berjalan mundur perlahan, mengantisipasi lemparan palu itu. Tapi, orang itu sama sekali tidak melemparkan palunya, malahan dia melanjutkan acara memakunya yang sempat tertunda beberapa detik.
Tringg tringg tringgg
Dia sedang memaku sebuah manekin yang dia gantung di dinding. Manekin itu dia paku dibagian tangan dan.. kepalanya. Andi kembali bergidik, membayangkan jika yang sedang dipaku itu adalah tubuhnya. "Amit-amit" Andi menggelengkan kepalanya, mengusir pikiran aneh yang dia punya.
“Giliranmu..”
Andi mematung. Orang berjubah itu berjalan mendekatinya dengan palu yang diangkat ke udara dan juga paku yang diarahkan ke dirinya.
“MATI hahahhaa”
Andi seketika berlari ketika orang aneh itu mulai berjalan kearahnya. Ini buruk, sangat buruk. Jangan sampai dia mati di mimpinya sendiri, yang ada nanti sukmanya tersesat dan tidak bisa kembali lagi ke raganya. Itu akan sama buruknya dengan ditumbalkan.
Drap drapp drapp
Mereka berkejaran di ruangan itu dengan orang berjubah itu yang terus tertawa. Gila. Andi serasa sedang dikejar oleh psikopat gila yang haus untuk membunuh. Andi mempercepat larinya saat pintu yang tadi dia masuki sudah terlihat didepan sana. Senyumnya mengembang saat tangannya berhasil mengapai kenop pintu. Dengan tergesa-gesa dia membuka pintu tersebut, sama sekali tidak memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi mengingat ini masih di dunia mimpinya.
“AaarhhggAaggghhhh”
Andi berteriak kencang sedetik setelah dia melangkahkan kakinya keluar dari pintu tadi. Dia terjatuh dari atas gedung berlantai sepuluh. Okay, dia tarik kembali ucapannya yang mengatakan kalau mimpi jatuh ketinggian lebih baik daripada mimpi diterowongan karena ini sama buruknya.
Andi memejamkan matanya saat dirasa tubuhnya akan menghantam tanah.
Bruukkk
“Anjerr, rusuh amat lo tidurnya”
__ADS_1