The Grim Reaper

The Grim Reaper
Chapter 21


__ADS_3

Suasana rumah Desta sudah lebih kondusif setelah sebelumnya Desta diambil alih oleh Christ. Kejadian itu menjadi cukup menegangkan apalagi Desta diambil alih saat dirinya berada di lingkungan sekolah.


Andi yang pertama kali menemukan Desta, karena saat itu dirinya diminta untuk menjadi pembicara tentang motivasi berbinis bagi pelajar (Aku ingatkan kalau Andi adalah seorang pembinis muda yang cukup sukses, dan mengenai ayahnya yang sama sekali tidak mengetahui tentang bisnisnya itu karena dia menggunakan nama samaran dan sebisa mungkin berpenampilan biasa untuk menghindari kecurigaan). Andi yang saat itu hendak ke kamar mandi malah menemukan Desta yang tengah menyayat pergelangan tangannya sendiri. Self harm, bahkan dia hendak mengiris tepat di urat nadinya sendiri.


Andi yang panik langsung berlari kearahnya, kebetulan saat itu dirinya bertemu Alea yang memang berniat mengecek Desta karena sudah lebih dari sejam tidak kembali.


Alea kemudian memutuskan untuk membawa Desta ke UKS, walau Desta sempat memberontak. Desta akhirnya dibawa pulang oleh Alea setelah sebelumnya dibuatkan izin. Mereka diantar pulang oleh Andi.


“Makasih banyak ya kak, dan maaf ngerepotin” ucap Alea tulus. Dia tentu masih tahu tata krama saat telah menerima bantuan.


“Gak ngerepotin kok, tapi temen lo itu beneran gapapa kan?”


Alea memandang ragu kearah kamar Desta.


“Umm.. gue sebenernya gak yakin sih kak. Gue boleh minta bantuan lagi gak kak?” Permintaan dari Alea itu terucap dengan nada sungkan. Dia sudah banyak merepotkan orang didepannya itu.


Andi tampak terdiam sejenak, kemudian mengangguk mengiyakan.


“Gue bisa bantu apa?”


“Tolong jagain Desta bentar.. bisa gak? Gue mau manggil dokter pribadinya dulu”


Andi kembali mengangguk, ”Oke deh”


“Makasih banyak ya kak, makasih bangett”


Andi tersenyum. Alea kemudia bergegas keluar untuk menemui Dean karena nomormya sama sekali tidak bisa dihubungi.


****


Alea berlarian disepanjang lorong rumah sakit. Tujuannya? Tentu saja ruang kakak sepupunya.


Brakkk


Kosong. Dean tidak ada diruangannya. Alea menjambak rambutnya frustasi kemudian berpindah ke bagian resepsionis.


“Maaf, Kak Deannya kemana ya?” tanyanya begitu sampai di bagian resepsionis. Perduli setan kalau dia membuat si mbak-mbak resepsionisnya kaget. Keadaannya sedang genting.


“Dokter Dean? Tadi sepertinya keluar dan belum kembali sampai sekarang”


Alea menghela nafas kasar. Nama-nama hewan mulai dia absen satu persatu.


“Permisi”


Alea menoleh, dilihatnya seorang suster yang berdiri di sampinya. Alea hanya memandang bingung suster dihadapannya itu.

__ADS_1


“Mencari dokter Dean?”


Alea langsung mengangguk semangat. “Suster tau kak Dean kemana?”


Suster itu mengangguk. “Sekitar 45 menit yang lalu, dokter Dean mengatakan jika dia sedang mampir ke tempat temannya. Kantor detektiv bagian XA”


Mata Alea seketika berbinar. Tanpa menunggu lama, dia langsung memesan ojek online menuju kesana sebelum akhirnya beranjak pergi dari area rumah sakit. Tidak lupa juga ucapan terima kasih yang dia ucapkan dalam lima bahasa sekaligus, membuat suster tadi sedikit tertawa.


****


“LEPASSS!!! SAYA MAU MATII!! Saya..mau.. mati.. hikss”


Andi hanya memandang sendu kearah pintu kamar Desta yang sedikit terbuka. Teriakan dan tangisan Desta kembali mengingatkannya akan teriakan para korban tumbal ayahnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika Desta mempunyai masalah yang seberat itu. Tangan dan kaki Desta diikat, untuk menghindari kemungkinan self harm atau lainnya yang bisa membahayakan nyawa Desta.


Erangan dan isakan itu masih terus terdengar selama tigapuluh menit lamanya sebelum keheningan mengisi ruang kamar Desta. Andi yang merasa heran lantas sedikit lebih membuka pintu kamar Desta berniat memeriksa keadaannya. Tapi dia malah mendapati Desta yang terdiam dengan tatapan kebingungan.


“Desta?” panggilnya pelan. Yang dipanggil kemudian menoleh.


“Kak Andi... Kenapa tangan Nina diiket? Nina nakal ya?”


Andi sebenernya cukup terkejut melihat perubahan pada diri Desta, tapi keterkejutannya dia kesampingkan lebih dahulu. Langkahnya dibawa mendekat kearah Desta yang sekarang sedang diambil alih oleh Nina. Perlahan dia melepas ikatan ditubuh gadis itu, lalu mengajaknya untuk ke ruang tengah. Orang tua Desta sedang tidak ada dirumah. Kata Alea, orang tua Desta sedang berada ada urusan bisnis.


“Nina duduk sini bentar ya? Gue bikinin teh sebentar”


Nina mengangguk, kemudian duduk tenang di ruang tengah sedangkan Andi bergegas menuju dapur untuk membuatkan teh. Omong-omong, dirinya sudah diberitahu letak dapur, kamar mandi, kotak obat, dan lain-lain oleh Alea. Berjaga-jaga jika diperlukan.


“Makasih kak” ucap Nina ceria.


Andi mengangguk dan tersenyum tipis. Masih tersisa sedikit rasa terkejut di diri Andi. Perubahan Desta dari seperti orang putus asa akan hidupnya menjadi sosok Nina yang menggemaskan seperti anak-anak itu sangat signifikan.


“Kak Andi ngapain disini? Kak Andi temenya kak Desta juga ya? Kok tangan Nina ada perbannya?”


Pertanyaan beruntun dari yang lebih muda membuat Andi sedikit tersenyum. Dia baru saja akan membalasnya, tapi terpotong saat Alea bergerak memasuki rumah dengan diikuti dengan seorang berpakaian dokter dibelakangnya.


“Maaf ya kak, gue lama. Nih curut satu susah banget dicari”


Dean melotot, sedangkan Andi hanya tertawa pelan. Alea sangat receh ternyata. Sedangkan Nina hanya memandang bingung kearah mereka bertiga.


“Nah, karena lo udah dateng jadi gue mau pamit. Ada urusan”


Alea mengangguk singkat. “Makasih bangett ya kak, dan maaf gue ngerepotin lo banyak”


Andi tersenyum.”Gapapa kali. Udah ya gue duluan. Dah Nina, kakak pergi dulu ya”


Nina mengangguk sambil tersenyum kecil sedangkan Alea melotot. Baru sadar dengan kehadiran tubuh Desta.

__ADS_1


Sepeninggalan Andi, Dean mulai menjalankan tugasnya, ditemani Alea yang masih setia duduk disamping teman sebangkunya itu.


“Hai, nama kamu siapa?”


“Nina, om”


“Pftt—“


Sial, Alea hampir saja tertawa keras saat mendengar jawaban polos dari Desta. Dean memandang tajam kearah sepupunya itu, menyuruhnya untuk diam. Selama tiga tahun menjadi dokter pribadi Desta, baru kali ini dia bertemu langsung dengan Nina. Dan dia sama sekali tidak tahu jika itu akan cukup menyebalkan.


“Panggil kak aja ya? Nina umurnya berapa?”


“Delapan tahun, Om”


Dean menghela nafas pelan. Sedangkan Alea sudah tertawa sambil berguling-guling tanpa suara. Hhh apa Dean terlihat setua itu?


“Nina tahu nama aku gak?”


Nina mengangguk. “Kak Dean kan? Temennya Kak Desta. Kalau kakak yang gila itu... siapa ya? Nina lupa.”


Giliran Dean yang menahan tawa. Alea sedikit mendengus, tapi masih berusaha tetap tersenyum walau dalam hati dia sudah sangat ingin menjitak kepala Desta.


“Ohh iya, kak Alea kan? Yang waktu itu ketemu dipasar malam”


Alea sedikit mengerutkan keningnya. Jadi yang waktu itu dia temui itu Nina?


“Nina, kakak mau ngomong bentar sama kak Desta. Boleh gak?”


Nina menganggukan kepalanya pelan. “Boleh, tapi kak Destanya lagi tidur. Kasian kak Desta, tadi dia sedih”


“hmm? Sedih kenapa?”


“Gak tau... tadi Nina mau nanya, tapi keburu diambil kak cecil”


Dean baru akan mengajukan pertanyaan lagi, tapi tidak jadi karena tubuh Desta yang tiba-tiba seperti tersentak ringan.


“Dean? Lea? Kalian ngapain disini? Gue kenapa?”


Pertanyaan itu membuat kedua orang disana menghela nafas lega. Desta kembali.


“Lo diambil lagi. Tuh kelakuan yang ngambil badan lo” Alea berucap sambil menunjuk tangan kiri Desta.


“Gapapa kok. Kamu butuh istirahat tapi. Jangan terlalu terbawa perasaan, nanti kamu gampang diambil alih”


Desta mengangguk walau sedikit kebingungan. Matanya menatap Alea meninta penjelasan.

__ADS_1


“Ntar gue jelasin. Istirahat dulu sana”


Desta hanya mengangguk kemudian beranjak menuju kamarnya, sedangkan Alea dan Dean tetap di ruang tengah. Yha.. mereka membiarkan Desta beristirahat setelah drama pengambilan alih tubuh tadi.


__ADS_2