
“Mau kemana lo?”
“Keluar bentar ada urusan”
Andi menganggukan kepalanya, membiarkan Rizal berlalu keluar dari rumah tanpa berminat untuk bertanya lagi. Pandangannya kembali terfokus pada layar gawai miliknya. Jarinya bergerak lincah, mencari situs yang sekiranya bisa membantunya menentukan apartement yang akan dia tinggali nantinya.
“Kalo disini nanti gampang ketahuan, yang ini udah bagus sih tapi mahal banget??” Andi terus berceloteh seorang diri, mengomentari spesifikasi apartement yang ditampilkan dibeberapa situs.
Andi akhirnya menyerah, tidak ada satupun yang sesuai untuknya. Ponselnya di letakan begitu saja dimeja, tanpa mengindahkan peringatan jika ponselnya itu sudah mulai kehabisan daya. Tangannya bergerak mengambil semacam buntelan kecil yang berada disaku celananya.
Itu adalah jimat penutupnya. Fungsinya? Tentu saja agar dia tidak bisa dilacak oleh ayahnya. Ingat jika Andi diincar untuk di jadikan tumbal? Nah, jimat ini digunakan untuk menghilangkan jejak-jejak keberadaanya agar para setan suruhan ayahnya itu tidak bisa menemukannya. Andi membuat jimat itu sendiri, berbekal petunjuk yang dia dapatkan dari kitab kuno milik mendiang ibunya. Jimat itu sendiri berisi sepuluh helai rambut, lima potong kuku anak-anak, dan beras putih yang telah disiram menggunakan darah ayam. Dan jimat itu cukup berhasil karena sampai sekarang, dia sama sekali belum bertemu dengan setan milik ayahnya.
Menurut buku itu, jimat itu hanya dapat digunakan selama sebulan dan setelahnya harus segera dibuang jika tidak ingin ada sesuatu yang mengikuti. Andi termangu menatap jimat ditangannya itu. Sudah seminggu lebih dia kabur dari rumahnya, menumpang hidup dirumah sahabatnya, dan kesulitan mencari tempat tinggal yang tepat.
Sebenarnya, Andi tidak terlalu mempermasalahkan soal harga karena nyatanya, dia memiliki cafe yang bahkan sudah memiliki cabang dibeberapa tempat—tanpa sepengetahuan ayahnya tentu saja. Dia hanya khawatir jika anak buah ayahnya, baik mahkhuk halus maupun mahkluk kasar bisa menemukan keberadaanya. Dia sudah berjanji dengan mendiang ibunya untuk bertahan hidup sekuat yang dia bisa. Dan juga, Andi tidak ingin hidupnya berakhir mengenaskan seperti ibunya dulu.
Andi memijat keningnya pelan, berusaha menghilangkan rasa nyeri yang timbul dikepalanya. Dia ingat dengan jelas bagaimana ibunya itu berteriak kesetanan saat dahulu ayahnya dengan tega mengikatnya di batu persembahan yang berada di ruang bawah tanah rumahnya. Andi yang saat itu masih berusia sembilan tahun berhasil menyelinap masuk kedalam ruang terkutuk itu, menyaksikan dengan kepalanya sendiri bagaimana wajah ibunya yang kesakitan saat ada sesuatu yang merasukinya. Melihat bagaimana bola mata ibunya berbalik hingga hanya menampilkan warna putihnya saja, dan yang paling menakutkan adalah melihat bagaimana ayahnya sendiri menusukan sebilah pedang ke jantung ibunya.
Andi kecil hanya bisa terdiam ketakutan ditempat persembunyiannya, membekap mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar keluar. Andi memberanikan diri mengintip kembali saat suara teriakan sang ibu sudah tidak terdengar lagi. Tetapi penyesalan seketika melanda dirinya takkala matanya berhasil mengintip keluar.
Sang ayah, sedang menadahi darah ibunya kemudian meminumnya dengan rakus. Perasaan mual seketika menghinggapi dirinya, membuatnya memilih berlari keluar dari tempat itu.
Andi menghela nafas kasar. Ingatan itu tentu tidak menyenangkan baginya. Tapi sekali lagi, dia sama sekali tidak ingin menjadi tumbal seperti ibunya. Entah sudah berapa banyak orang yang sudah dijadikan tumbal, Andi tidak tahu pasti. Tapi jelasnya, pada malam-malam tertentu di setiap bulannya, Andi akan mendengar suara teriakan samar dari orang yang kemungkinan menjadi tumbal untuk sesuatu yang ayahnya agungkan itu.
“Andai dulu gue gak jadi pengecut, apa mungkin ibu masih ada sekarang?”
“Jelasnya engak, hihii. Kamu bakal ikut mati kalau kamu keluar di malam itu.. hihihhii”
“Tapi seenggaknya gue—“ ucapan Andi terhenti. Bukankah dia hanya sendirian dirumah? Lalu siapa yang baru saja menjawabnya?
__ADS_1
“ANJERRRR!!”
Andi terlonjak kaget saat dirinya menoleh kesamping. Hantu itu lagi.
“Jangan takuttt~ hihiii”
Andi mencoba untuk tenang. Tarik nafas.. buang... tarik nafas... buang... dia terus mencoba menenangkan dirinya sendiri.
“L-lo sebenernya siapa? Kenapa ngikutin gue terus?”
Hantu itu tersenyum lebar, sedikit membuat Andi bergidik. Itu terlalu lebar.
“Aku?”
Andi mengangguk. Rasa takutnya sudah sedikit berkurang.
“Aku bukan siapa-siapa hihihiii. Aku Cuma mau bantu kamu.. tapi kakek itu gak ngebolehin. Malah kemarin kembaranku dia bakar waktu diloteng..”
“Aku bisa bantu kamu.. tapi kamu juga harus bantu aku”
Dahi Andi berkerut heran. “Bantuan? Kenapa kita harus saling tolong?”
“Kamu kenal Des— Nina kan? Hihihii... kamu harus bantu dia. Kalau enggak, nanti bakal ada banyak mayat.. hihiii. Nanti aku bantu kamu biar gak ketahuan sama setan jelek itu..”
“Mayat? Mayat apa—“
Klekkk
“Ndi? Lo ngomong sama siapa?” Rizal berdiri dihadapan Andi, sepertinya dia baru saja kembali.
__ADS_1
“Enggak. Gue lagi ngelatih akting aja”
Rizal menggelengkan pelan kepalanya. “Tadi pas dijalan, gue gak sengaja ketemu temen lama. Nah dia tahu tuh unit apartemen kaya yang lo mau”
“Seriusan? Dimana?”
“Ada lah. Besok deh lo gue anterin kesana” Andi mengangguk setuju.
“Harga?”
“Aman lah. Lo tuh kaya padahal, masa mau beli apart aja masih mikir-mikir harga?”
Andi hanya tertawa menanggapi pertanyaan itu. Mereka berdua akhirnya memilih menonton tv, mengomentari tiap adegan yang ada didalam film yang sedang ditayangkan oleh salah satu stasiun tv ternama. Mirip sekali dengan komentator sepak bola yang berisik.
“Eh, lo tadi pergi kemana dah? Cepet banget perasaan” pertanyaan random itu terlontar begitu saja dari mulut Andi.
“Biasa, ngurusin laporan. Kasus anak SMA. Hngg nyusahin emang. Ganggu liburan gue banget”
Andi terkekeh pelan mendengarnya. “emang orang modelan kaya lo bisa nangganin kasus? apa gak malah ancur tuh kasus?”
Rizal mendengus pelan. Tangannya bergerak mengambil kartu identitasnya di saku jaket, menunjukan kartu itu tepat didepan wajah Andi.
“Gue detektif kalo lo lupa”
"Yaudah. Itu kartunya biasa aja dong. gak usah deket-deket muka gue."
"Btw, gaya lo kaya jamet disitu anjay. Eh? gue lupa. Lo kan emang jametnya wong jawa wkwk"
plakk
__ADS_1
"Temen gak ada akhlak lo emang"
Keduanya kemudian tertawa bersama. Saling menertawakan ejekan yang dilemparkan oleh masing-masing dari mereka. Yha.. silahkan tertawa selagi kalian bisa. Karena kurang dari sebulan kedepan, kalian akan dihadapkan pada situasi yang rumit. Berdoa saja semoga kalian siap menghadapi situasi tersebut.